Ikan Beracun

1071 Words
  Tidur itu masih lelap. Mungkin, pasutri ini kelelahan dengan prosesi pernikahan kemarin, jadi mereka tak sadar jika akhirnya tidur berdua di malam pertama mereka.   Alma, yang kelelahan akibat diurut kakinya oleh Adjie terlentang di sofa. Sementara Adjie tidur terduduk di ujung Sofa, dengan kepala yang bertaut dengan sang istri.   Sesekali, Adjie tanpa sadar mengusap-usap puncak kepala Alma, pertanda sayang. Dan Alma tampak menggurat senyum.   Hingga pagi akhirnya menjelang. Suara ayam berkokok terdengar sangat panjang dan berulang-ulang.   Sayup-sayup suara itu masuk ke gendang telinga Alma yang masih belum sepenuhnya bangun dari tidur. Di alam setengah sadarnya, dia mereka-reka siapa yang punya ayam berleher panjang hingga bisa berkokok tanpa henti.    Mana kokoknya sama, berulang-ulang. Dan semakin lama suara ayam itu serasa begitu dekat di telinganya, seolah ayam itu berdiri di sebelah kepalanya, sengaja hendak membangunkannya.   Kukuruyuuuk!   Alma membuka mata, mendapati lampu yang terang benderang. Di sebelah kepala kirinya, ayam itu masih berkokok.   Alma menoleh dan mendapati ponselnya menjeritkan alarm ayam berkokok yang berulang-ulang tanpa henti. Dengan kesal dia meraih ponselnya, lalu menekan tombol off.   Seingatnya, bukan suara ayam berkokok sebagai alarm ponsel, tapi kucing mengeong. Pasti ada yang mengganti, mungkin para keponakan yang kemarin meminjam ponselnya untuk main games.   Alma perlahan hendak bangkit dari tidur. Namun dia berdecak, karena view yang ia lihat bukanlah kamar tidurnya, melainkan seperti ... ruang kelurga.   “Astaga!” Alma mulai panik, karena yang disadarinya ternyata dia tertidur  di sofa tuang tengah.   Alma mencoba bangkit. Namun gerakannya tertahan, karena ada yang menindih rambutnya.   Ketika menoleh ke kanan, dia terkejut bukan kepalang melihat sebuah kepala bersebelahan dengannya, tidur menindih rambut panjangnya.    Itu kepala Adjie, suami yang kemarin menikahinya. Suami yang memperlihatkan rangkaian bulu mata panjang dan lentik. Dan ia yakin, jika suaminya ini dipakaikan kerudung, akan terlihat sangat cantik.   “Apa yang kulakukan! Kenapa celengan ayam amnesia ini ada di sebelahku!”   Alma spontan memeriksa, apakah dia dalam kondisi berbaju atau tidak. Barangkali semalam dia khilaf, lalu nganu-nganu dengan lelaki menyebalkan ini.   Alma menarik napas lega. Aman, dia masih dalam posisi baju lengkap. Demikian juga dengan Adjie yang tampak berpakaian penuh.   “Hiiiii …. Pergi!” teriak Alma sembari mendorong kepala Adjie menjauh darinya. Sontak Adjie terjengkang ke lantai dan seketika bangun dan duduk dengan kesadaran yang belum penuh.   “Kamu ngapain tidur dekat aku?” sergah Alma kesal, sembari mengibas-ngibas rambutnya. “Pasti rambutku basah kena jigong kamu ini!”   Alma bangkit dari sofa dengan kesal dan masuk ke kamar mandi. Sebagian rambutnya terasa begitu lengket, sudah pasti terkena jigong Adjie. Heran, bisa-bisanya lelaki itu tidur menjajari kepalanya, pasti dia punya itikad hendak berbuat sesuatu padanya.   “Ah, benarkah aku tidak ngapa-ngapain? Jangan-jangan semalam …”   Alma meraba sekujur badannya sekali lagi, dan mendapati dia masih berpakaian lengkap. Seketika dia bernapas lega, karena semalam Adjie tidak berbuat apa-apa. Hanya menandai rambutnya dengan jigong.   Benar-benar menjengkelkan. Alma bergegas membilas rambutnya di wastafel.   Terdengar ketukan di pintu, lalu daun pintu sedikit terbuka. Wajah amburadul Adjie muncul dari balik daun pintu, menatap cermin besar di depan wastafel tempat Alma mencuci rambut.   “Mau apa lagi kau? Lihat, jigongmu seliter sendiri di rambutku! Hih!”   Adjie hanya terdiam melihat Alma membilas rambutnya berkali-kali di wastafel. “Kenapa tidak keramas saja? Sekalian dikasih ramuan biar tidak bau jigongku.”   “Ramuan?”   “Maksudnya, Sampo!”   “Oh, nama ramuan rambut itu sampo? Ya, kamu pakai sampo saja!”   Alma mendelik. “Baru nyadar ya kalau jigongmu bau!”   Adjie nyengir, sembari garuk-garuk kepala. Membuat rambutnya semakin berantakan dan Alma semakin kesal melihatnya dari pantulan cermin. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.   “Hei, kau harus ke kantor sekarang juga. Ayah tidak suka siapapun datang terlambat, termasuk kau!”   “Apa? Kantor? Maksudmu istana kerja ayah?”   Alma hendak menepuk jidat. Istana pale lu peyang! Tapi, dia sudah begitu malas berdebat.   Alma meraih handuk yang tergantung di dinding. Sepertinya dia memang harus keramas karena rambutnya sudah kadung basah. “Iya, temui Pak Indro, ayahku. Kau sudah harus mulai bekerja hari ini.”   Alma tidak mendapat respon dari Adjie. Rupanya, Adjie sudah tidak mengintip  dari balik pintu kamar mandi.   Alma membuka pintu kamar mandi lebar-lebar, dan mendapati Adjie malah asyik mengamati ikan di aquarium, yang terletak antara kamar mandi dan dapur. Di situ memang ada aquarium besar dan berisi beberapa ikan mas koki.   Melihat Adjie tidak segera bergegas menuruti perintahnya untuk segera ke kantor, Alma semakin kesal. Sepasang mata lelaki itu mengamati setiap ikan yang berenang di dalam aqurium dengan tatapan tak mengerti.    “Ini seperti kolam tapi kok tembus pandang? Jadi aku bisa melihat ikan-ikannya. Ikan apa ini?”   “Ikan gabus!” kata Alma.   “Mana mungkin ikan gabus. Aku tahu jenis ikan itu, Adinda. Jangan coba menipuku!”   Alma sudah menduga Adjie pasti menanyakan nama ikan yang dilihatnya. Dia pasti berpura-pura amnesia lagi. Entah apa yang direncanakan Adjie dengan pura-pura amnesianya, yang jelas semua drama ini seolah tidak direncanakan.   Alami dan spontan. Seperti seorang artis yang sangat pandai berakting, sehingga orang lain mengira nyata adanya.   Dan hal itu membuat Alma jengkel bukan main.   “Jangan bilang kau amnesia, Adjie.”   Adjie mengangkat kepalanya, hingga tatapannya beradu dengan Alma yang berdiri di seberang aquarium. “Memangnya ikan ini bisa dimakan? Setahuku semua ikan bisa dimakan? Kau meletakkannya di dekat dapur, biar tinggal ambil dan dibakar? Tapi ikan ini terlalu kecil dan terlalu bagus untuk dibakar. Lihat, mulutnya itu, sepertinya dia selalu …”   “Itu ikan piranha!” bentak Alma kesal.   “Piranha? Aku baru tahu ada nama ikan sebagus itu.”   Alma berkacak pinggang sembari menghela napas dalam-dalam. Sepertinya, dia harus punya stock kesabaran segudang menghadapi Adjie.   Lelaki ini tidak i***t, tampak jelas dari matanya yang selalu bersinar bila menatapnya. Tapi pertanyaannya tentang ikan dan aquarium pagi ini benar-benar sudah membuatnya mual, mulas, pusing dan kembung.   “Dengar Adjie. Kolam ini adalah kolam beracun. Ikan di dalamnya adalah ikan piranha yang bisa memakan apa saja yang kau masukkan ke dalamnya. Kau masukkan tanganmu ke dalam kolam ini, maka dia akan memakan habis tanganmu. Sebaiknya, kau ingat itu baik-baik.”   Adjie tidak menangguk tanda mengerti, tapi semakin heran melihat ikan comel di depannya ternyata ikan yang mengerikan. Sementara Alma tersenyum-senyum berusaha berakting sabar.   Dia tidak ingin suatu hari nanti, Adjie tiba-tiba memanen ikan di aquariumnya dan membakarnya untuk makan malam. Dari tatapan pertamanya tadi sudah kelihatan kalau dia penggemar ikan bakar.   “Katamu tadi, ini kolam beracun, tapi ikan piranha-nya kok tidak keracunan?” tanya Adjie.   “A, apa?” Alma terbengong, terkena skak!    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD