“Apa jangan-jangan air beracun itu menyebabkan ikan-ikan ini matanya bengkak?” tanya Adjie polos, seraya menunjuk masta ikan mas koki yang memang bengkak dari sananya.
“Ya, makanya kamu jangan dekat-dekat kolam itu, ya! Aku khawatir, uap airnya nanti membuatmu punya mata yang bengkak juga!” sentil Alma, sengaja menyebut akuarium sebagai kolam.
Jika dia menyebut akuarium, maka akan panjang dunia persilatan. Adjie akan mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan, yang sudah pasti membuat darah tinggi perempuan ini naik drastis.
“Lihat Alma! Ternyata ada naga merah kecil yang bergerak-gerak mengeluarkan gelembung napas!” Seperti diduga, Adjie kembali bertingkah.
“Itu hanya mainan akuarium, eh, kolam, Adjiiiie! Stupid person!”
“O ho ho, tapi dia bisa bergerak, ya. Kalian memanterai dengan sihir apa, sampai mainan itu bisa bergerak dan menghasilkan gelembung napas bagi semesta?” Adjie mengerjap-ngerjapkan sepasang bola matanya yang indah.
“A, apa?”
Alma menghentak kaki dengan kesal, merasa percuma berdebat dengan Adjie. Dia bergegas masuk ke dalam kamar. Mengambil baju, jas dan celana buat Adjie.
Kemarin ayahnya sudah menyediakan baju untuk hari pertama Adjie masuk kantor. Alma membentang baju, jas dan celana hadiah ayahnya untuk Adjie.
Sejenak dia mendecih, tidak yakin Adjie pantas memakai jas sekeren ini. Dia lebih cocok pakai kaos oblong dengan sarung dan peci yang miring.
“Hadeh, apa cocok lelaki ini memakai jas seperti ini? Dia kan pangeran kodok. Bagaimana jika kuambilkan daun pisang saja sebagai pakaiannya?” Alma mulai mengatai Adjie.
Rasanya, tenggorokannya seperti bergondok, karena dongkol pada Adjie yang masih saja pura-pura lupa dengan semua hal. Lagaknya, lelaki itu merasa seperti orang terpandang pada sebuah kerajaan.
Tapi, Alma tentu tak bisa membantah keinginan Pak Indro, ayahnya. Sekalipun dia sangat ingin membuat Adjie mengenakan pakaian daun, namun Indro pasti sangat murka dan kehilangan muka, lalu menuduhnya ikut-ikutan gila.
Dia lalu lalu kembali ke dapur dan melempar semua baju itu ke arah Adjie. Dillihatnya Adjie masih saja menghitung jumlah ikan mas koki di aquarium.
Adjie yang tidak siap, tampak kewalahan menerima lemparan baju dari Alma.
“Adinda Alma, tidak pantas kamu melempar baju demikian ke wajahku! Ingat! Suamimu ini seorang pangeran!” kata Adjie gemas.
[Iya, pangeran kodok, kamu!]
“Nih, pakai semua.”
“Tidak!” Adjie melipat kedua tangannya dengan wajah mendongak ke atas. Pantang baginya dilempar baju oleh seorang perempuan, sementara dia merasa tidak berbuat kasar apapun.
“Pakai!” teriak Alma kesal.
Dan tidak ada jawaban lagi dari Adjie. Dia hanya diam, menahan amarah.
Terpaksalah, Alma yang harus mengalah. Bagaimanapun, dia harus membuat Adjie tepat waktu datang ke kantor Ayahnya.
“Adjie ...,”
“Kakanda! Coba biasakan panggil dengan Kakanda,” kata Adjie ketus.
Alma terperangah. Sumpah demi apa, kata itu begitu ajaib bagi dirinya, seakan-akan lelaki bersamanya ini adalah pria ghaib, yang entah dari kerajaan mana asalnya.
“Udah deh, tidak usah lebay begitu. Kakanda-kakanda, apaan sih, itu!” protes Alma.
Dan pangeran itu pun kembali mengeluarkan protesnya dalam bentuk diam. Masih melipat kedua tangan, seraya menatap Alma tajam.
“Oke! Fine! I am surrender! Kakanda, Kangmas, Suamiku tersayang: Adjie, sudilah kiranya Kakanda untuk memakai baju ini.”
“Tapi, aku … belum mandi,” protes Adjie sembari mengendus-endus badannya sendiri. Sementara baju dari Alma menguarkan aroma harum.
Baguslah dia nyadar kalau bau, batin Alma.
“Tidak usah mandi. Karena aku mau keramas gara-gara jigong kamu ini! Aku selesai mandi, kamu sudah harus pakai semua baju itu.”
Alma tak peduli Adjie akan bau atau tampak bulukan dengan baju jas dari ayahnya. Yang jelas, mereka berdua sudah harus berada di kantor dalam waktu setengah jam. Tidak ada waktu untuk berdandan.
Keramas dengan rambut panjang memang memakan waktu. Apalagi sembari mengomel panjang lebar, karena Alma merasa bau jigong Adjie tak kunjung hilang dari rambutnya, meski dia sudah memakai banyak sampoo.
Berkali-kali dia bergidik membayangkan setiap lendir kental berbusa dari mulut Adjie mengalir perlahan menggenangi rambutnya. Dan dia tidur dengan kepala bertaut dengan lelaki itu.
Sekelebat bayangan muncul. Alma memegang-megang puncak kepalanya. Rasanya, ada yang masygul.
Dia merasa, semalam saat tertidur, Adjie mengusap-usap kepalanya dengan lembut. Mungkinkah itu?
“Awas kau nanti malam!” maki Alma. Dia harus membalas perbuatan Adjie pada rambutnya.
Tanpa sempat mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, Alma bergegas memakai pakaian kerjanya. Dia tidak punya waktu untuk berdandan selain memakai bedak tipis. Biarlah, nanti di kantor ayahnya bisa pinjam make up pada pegawai ayahnya.
“Adjie, kamu sudah belum?” teriak Alma dari dalam kamarnya, sembari mencari-cari di mana tas tangannya berada.
“Aku tidak bisa memasang talinya.” Suara Adjie masih berasal dari dapur. Dia pasti masih menghitung ikan mas koki sembari memakai baju.
Alma yang sudah menemukan tas kerjanya, menyandangnya lalu bergegas menuju dapur.
“Tali? Tali apa? Masa pakai baju saja amnesia juga,” gerutu Alma.
Begitu sampai di dapur, Alma dibuat tertegun melihat Adjie yang sudah berhasil memakai jas. Jas mahal itu tampak begitu pas di badan Adjie yang memang gagah, membuatnya tampak keren meski tidak mandi.
[Gila! Suami aku ternyata ganteng banget. Apa di kerajaan antah berantahnya dia juga seganteng ini dengan baju kerajaannya? Pasti banyak dayang yang jatuh ke pelukannya!]
“Kenapa kau memandangku seperti itu, Adinda? Apa aku tampak gagah rupawan di matamu?” tanya Adjie congkak.
“Ap-pa … kau bilang ta-di?” tanya Alma tergeragap ketika pandangan mereka saling bertaut. Ada yang berdesir halus di dadanya, membuatnya terpaku di depan dapur.
Adjie mengangkat dasi dan menyodorkannya ke arah Alma. “Ini! Tali berwarna kelam baja (warna iron grey) cara pakainya bagaimana, Adinda?”
Alma meraih dasi itu, lalu mengalungkannya di leher Adjie. Sejenak dia merasa agak kikuk berdiri begitu dekat dengan Adjie dan lelaki itu menatapnya tak berkedip.
“Sini aku pakaikan!”
Hidung Adjie bergerak-gerak, mengendus udara. Matanya terpejam seolah menikmati. “Kamu harum.”
Alma merasa mukanya memerah, tapi dia menyangkal kalau Adjie telah membuatnya tersipu. “Tentu saja, aku harus menghabiskan satu botol sampoo karena jigongmu!”
Seorang sopir datang menjemput Alma dan Adjie. Sopir utusan Indro itu sengaja dikirim Indro agar anak dan menantunya tidak terlambat datang ke kantor. Meski baru menikah dan melewati malam pertama, Indro tidak ingin berlama-lama membuat anak dan menantunya berbulan madu.
Karena dia juga tidak yakin, anak dan menantunya berbulan madu. Inge bilang, bahwa Alma harus bisa menjaga diri dari lelaki i***t macam Agam. Pernikahannya adalah pertaruhan nama baik ayahnya di depan publik.
Perjalanan menuju perusahaan tempat Adjie akan bekerja menjadi sebuah perjalanan menyebalkan. Alma menahan diri, melihat Adjie yang benar-benar seperti anak gunung turun ke kota.
“Wwuah, Alma, kenapa begitu banyak benteng di kerajaanmu ini. Bahkan, bentengnya berwarna-warni.”
“Wwuah, kalian membuat patung sangat besar! Dan ... itu apa? Kenapa seperti ada kubah emas di sana?”
“Alma, apa nama tanaman itu? Pucuk daunnya berwarna merah, sungguh indah!”
Sejak keluar rumah, Adjie melongok ke luar jendela, berkali-kali mengucap kata takjub melihat setiap gedung yang menjulang tinggi. Juga kendaraan-kendaraan yang lewat.
“Aku sama sekali tidak melihat kuda,” ucapnya.
“What?” Alma terperangah.