Aji Peringan Tubuh Zaman Now

1181 Words
  “Ku, kuda?” Saking kagetnya, Alma sampai mengulang.   “Iya, dengan jalan seluas ini, tidak ada kuda. Hanya mo ... (Adjie berusaha mengingat) mobil saja yang ada!”   Sopir di depan berusaha menahan tawa. Tapi dia sudah mendapat pesan dari Indro, bahwa dia tak perlu mendengar apapun ucapan Adjie, kecuali dia siap menjawab semua pertanyaan lelaki itu.   “Tidak usah dipikir, Din,” kata Alma di belakang Udin, si sopir utusan ayahnya. “Dia sedang tidak beres sejak semalam.”   Udin terkekeh. “Biasa mbak kalau baru menikah itu, macam-macam efeknya.”   “Efek apaan?”   “Barangkali, Mas Agam ini grogi Mbak!”   “Adjie!” terdengar Adjie menukas.   “I, iya Tuan Adjie, maafkan saya salah sebut,”   Alma mendengus. Sebaiknya dia tidak usah menjelaskan apapun, pada siapapun. Tadi pagi dia mengecek ponsel. Di grup WA keluarga, ramai kerabat menggodanya.   Dengan tak luput mengirimkan foto dan video drama akad nikah. Alma tak hendak merespon semuanya, atau keluar dari grup.   Inge ibunya sudah membrifingnya kemarin. Abaikan semua medsos, hapus semua pesan.   Tidak usah buka berita di internet. Indro akan mengatasi semua berita miring dan akan mengeluarkan dana taktis berapapun itu, untuk mencegah video itu menyebar lebih luas.    Jadi tugas Alma, cukup berperan sebagai seorang istri yang mendukung suaminya, sepenuhnya. Penuh cinta di depan publik, tapi di dalam rumah terserah mau apa.   Yang penting publik tahu, bahwa pernikahan Alma dan Adjie adalah pernikahan ideal keluarga Indro Kusumo, konglomerat paling dermawan di kota ini. Keluarga terhormat yang tidak menilai orang dari strata sosial.   Terbukti, Alma menikah dengan Adjie, seorang yatim piatu, penjual ikan filet online sederhana. Lelaki yang gigih dan berkarakter dan menjadi harapan Indro Kusumo untuk menjalankan perusahaan Alma.   “Ada sungai, Alma. Aku mau mandi di situ!” teriak Adjie tiba-tiba sembari menunjuk sungai sepanjang jalan protokol yang bening dan bersih.    “Nanti bisa mandi di kantor,” ucap Alma datar, meski dia tahu sopir di depan membekap mulutnya. Pasti dia mengira, pengantin ini tak sempat mandi pagi setelah melalui malam pertama.   Alma memegang rambutnya yang masih basah. Dia tak pernah keluar rumah dengan rambut basah. Maklum rambutnya tebal, sehingga untuk mengeringkannya dengan cepat harus memakai hair dryier. Tapi, hal itu akan membuat mereka lama sampai di kantor. Dan Alma tidak ingin membuat ayahnya menunggu di hari pertama.   ***    Mereka berdua memasuki kantor dari pintu utama. Adjie terheran dengan pintu tembus pandang yang terbuka sendiri ketika dia dan Alma berdiri di depannya. Begitu dia masuk, ada suara mendengung di sebelah kanan.   “Alma, sepertinya ada anjing dan kucing bertengkar di sini,” tanya Adjie sembari menoleh ke segala arah mencari sumber suara. Pegawai lain yang juga baru datang tertawa melihat tingkah Adjie. Dia mendekati seorang office boy yang sedang mengoperasikan mesin penyedot debu.    Adjie berjongkok di dekatnya, mendengarkan dengan seksama suara yang dihasilkannya.   “Dia dibuat gila dalam semalam,” ucap salah seorang pegawai sembari melirik Alma. Alma berusaha tidak peduli, tapi dia menunggu Adjie memeriksa mesin penyedot debu itu, sembari melipat tangan. Menatapnya tak mengerti, kenapa nasibnya begitu sial menikah dengan Agam yang menjadi amnesia dan berubah menjadi Adjie.   Tiba-tiba dia teringat, betapa Agam sebelum menikahinya jauh lebih baik dari Adjie. Lelaki itu selalu sopan dan menganguk padanya bila mengantar pesanan ikan ibunya. Tapi Agam yang sekarang mengaku sebagai Adjie, telah mempermalukannya sejak mereka akan menikah.    Sabar, Alma. Ingat pesan Inge. Kamu harus menjadi istri yang bisa dibanggakan di depan publik. Setia dan penuh cinta pada suami, akan membuat orang lain meyakini bahwa keluarga Kusumo selalu menjadi contoh keluarga ideal. Masalah pernikahan bisa diatur, selama tidak ada orang yang mengintip ke dalam rumah dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.   “Sudah kuduga, makanya tidak ada yang mau kawin sama wanita pincang.”   “Ups, bisa jadi gila dalam semalam.”   “Eh, ada yang sudah lihat video drama pernikahan ala korea?”   Alma menarik napas panjang, berusaha mengindahkan semua ucapan membully yang memanaskan telinga. Kata Inge, hates akan melakukan apa saja untuk membuat citra keluarga Kusumo jatuh. Jadi, karena saat ini Alma sedang menjadi sorotan karena baru menikah, Alma harus bisa menjaga kehormatan.    Alma mendekati Adjie lalu menarik tangannya lembut. “Ayo sayang, kita harus segera menemui Ayah.”   Adjie menurut saja ketika Alma membawanya menuju lift. Ada beberapa orang di dalam lift dengan satu dinding terbuat dari kaca itu. Alma mulai merasa was-was ketika lift mulai bergerak dan Adjie menempelkan wajahnya di dinding kaca. Orang-orang di lift mulai mengamati tingkah Adjie yang tampak tidak wajar. Dengan kostum jas yang membuat dirinya tampak keren, ternyata perilakunya tak ubahnya seperti orang tak berpendidikan.   “Alma, ayahmu benar-benar hebat. Ilmu kanuragannya tak tertandingi.”   Semua orang di dalam lift menoleh pada mereka berdua. Alma berusaha mengembang senyum ramah, meski dadanya serasa dicubit-cubit. Sabar, sabar, sabar. Jangan sampai ada orang mengambil video atau gambar mereka dan menguploadnya di medsos. Indro Kusumo masih punya banyak pekerjaan lain yang lebih penting, selain membungkam media   “Ilmu kanuragan apa sih, Sayang?” tanya Alma sembari menarik tangan Adjie dan menariknya agar menjauh dari dinding kaca. Tapi lelaki itu menahan tangannya, hingga dia tetap menempel wajah di dinding kaca dan melihat lift membawanya semakin ke atas. Seperti cicak yang khawatir jatuh, tangannya semakin lengket di dinding. Alma yang berusaha melepas tangan Adjie dari dinding pun akhirnya menyerah.   “Orang-orang di bawah sana semakin kecil terlihat, menjadi sebesar semut,” ucap Adjie. Alma hanya mengangguk mengiyakan. Percuma menjelaskan, akan menambah panjang cerita.   “Ini bukan ilmu peringan tubuh. Tapi ilmu peringan kamar. Sehingga semua orang bisa terbang, meski tidak punya ilmu peringan tubuh. Berapa lama ayahmu bersemedi untuk mendapatkan ilmu ini, Alma? Aku harus belajar padanya. Di Nilamsuryo, tidak ada yang punya ilmu seperti ini.”   Orang-orang mulai tertawa mendengar Adjie yang semakin ngelantur. Salah seorang pegawai beringsut mendekati Alma.   “Alma, main berapa ronde semalam sampai dia lupa diri kayak gitu?”   “Aih, rambut basah tumben. Habis kehujanan atau …”   “Bagi resepnya dong, pasti bisa bikin suamiku tidak hanya tergila-gila, tapi jadi gila beneran.”   Pintu lift terbuka, dan para pegawai itu pun keluar sembari cekikikan. Adjie hendak mengikuti mereka, tapi Alma sudah menarik kerah bajunya, lalu menekan tombol lift menuju lantai teratas gedung ini.    “Kita terbang makin tinggi, Alma?”   Alma mendorong Adjie ke dinding lift, lalu mendelik ke arah suaminya itu sembari menunjuk hidungnya.   “Dengar Adjie, aku sudah cukup bersabar sejak tadi. Semua orang menertawakan kita, karena ulahmu. Kau punya dendam apa padaku sampai begitu tega mempermalukan aku, hah? Kamu memang jahat.”   Adjie mengerut kening tak mengerti. “Kamu kenapa marah?”   “Tidak ada ilmu kanuragan seperti yang kau bilang, kamu hanya mengarang untuk mempermalukan aku, kan?”   Adjie menggeleng tak mengerti. “Ini adalah ilmu kanuragan terhebat yang pernah kulihat, Alma. Aku harus mempelajarinya.”   Alma mengangguk-angguk marah. “Oke, kau mau tahu ilmu kanuragan yang lebih hebat lagi dari ini?”   Adjie mengangguk cepat. Dari dulu dia tidak pernah mempelajari ilmu kanuragan selain memasak di dapur kerajaan. Ternyata ilmu kanuragan asyik juga.    Pintu lift terbuka. Alma segera keluar sembari menyeret tangan Adjie, menuju pintu keluar gedung. Menuju atap gedung, tempat helikopter Indro Kusumo diparkir.      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD