“Woah, istanamu tinggi sekali, Adinda Alma. Maaf, maksudku istana ayahanda. Untuk istana setinggi ini, apa batu-batunya direkatkan dengan putih telur juga?”
Alma melongo gusar.
“Woah, aku bisa melihat langit sedekat ini. Di kerajaanku, aku harus naik bukit dulu, baru bisa menatap langit secara dekat ....”
Adjie menghentikan lisannya, ketika dia melihat helikopter. Ya, dia dan Alma akan menaiki benda itu untuk menuju kantor cabang ayahnya.
“Adinda, apa itu? Benda itu seperti ... ikan, tapi terbuat dari besi!” tanya Adjie.
“Berhentilah bertanya yang aneh-aneh, kamu mau melihat wajahku tenggelam dalam tanah?!” Alma menggeram kesal bukan main.
Racauan Agam yang mengaku menjadi Adjie itu benar-benar tak bisa dibilang waras. Semua pertanyaan sungguh tak waras.
“Kau? Kau bisa begitu? Melepas wajahmu ke tanah?” Agam kini berbalik, menatap penuh rasa tak percaya perempuan yang mendelik tajam padanya itu.
“Tak pernah kah kamu belajar bahasa indonesia? Ini kiasan Agam! Oh my god, help me now!” desis Alma seraya keluar dari lift dan menyeret Agam keluar.
Dia berjalan di samping Agam, padahal dia inginnya segera berjalan mendahului pria yang baru saja semalam menjadi suaminya itu.
Tak bisa dibayangkan bagaimana dirinya akan menjadi istri selama berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan jika yang dihadapinya adalah pria tak waras seperti Agam ini. Mengoceh terlalu banyak hal-hal aneh seperti anak kecil yang masih ingin tahu hal-hal baru.
“Wow! Adinda, kita ini di mana?” Adjie masih saja bertanya ketika mereka sudah ada di rooftop, bagian teratas gedung tanpa atap karena memang sudah atapnya yang mereka injak.
Adjie terpukau melihat sekelilingnya. Dia benar-benar memasuki dunia baru yang bahkan berbeda 180 derajat saat ini.
Matanya terbelalak, mulutnya setengah terbuka bak ikan koi yang sedang bernapas di dalam air. Dia berlari menuju sisi gedung, mencondongkan tubuhnya agar matanya bisa melihat ke bawah.
“Alma! Ini tinggi sekali! Kita bahkan tak perlu mengeluarkan banyak tenaga demi ke atas begini?! Dunia ini terlalu ajaib!” serunya masih kegirangan!
Alma merotasikan maniknya, benar-benar dirinya menghadapi anak lima tahun sekarang!
Bahkan anak buah Ayahnya pun ternganga, keheranan mendapati bahwa menantu dari atasannya itu sungguh aneh.
Dengan kaki yang terseok-seok, wanita itu menghampiri suaminya. Ingin sekali dia membentaknya, atau bila perlu mengusirnya. Sayangnya dia tak bisa melakukannya! Sialan sekali dirinya!
Terkena takdir sial yang mana lagi dia saat ini.
“Woah! Tinggi sekali!” Masih saja Adjie mengaguminya.
Alma benar-benar tak habis pikir, jiwa pria yang dikenalnya itu apakah tertukar betulan, amnesia mendadak atau memang … kerasukan?!
“Kau benar-benar membuatku malu Adjie! Hentikan tingkahmu itu! Kita perlu segera pergi!” Ajak Alma menyeret Adjie, berusaha membuat sosok itu menghentikan kekonyolannya.
“Apanya yang malu? Aku benar-benar baru pertama kali melihatnya Alma.”
Bahkan meski Adjie mengucapkan kepolosannya pun, Alma tak percaya. Dia berbalik, sedikit mencondongkan tubuhnya.
Mulutnya berada tak jauh dari telinga Adjie lantas berbisik, “hentikan kegilaanmu! Aku sudah cukup gila memutuskan untuk menikahi pria tak tahu diri sepertimu ini!”
Adjie terdiam. Dia tak habis pikir, kenapa istrinya ini suka marah-marah? Kata dayangnya dulu, perempuan suka marah-marah kalau lagi ‘dapet’.
“Adjie! Jangan pura-pura gila! Biarkan aku merasa normal untuk sesaat. Kau mau menikahi wanita pincang ini demi mendapatkan perusahaan bukan? Kalau begitu berkacalah! Jangan menjatuhkan harga diriku!” Alma menuturkan ucapannya penuh penekanan.
Adjie dibuat bingung namun … merasa bersalah. Dia benar-benar tak tahu harus bagaimana bersikap.
Dilabeli tak tahu diri, nyatanya dia bahkan tak tahu kenapa bisa berada di dunia yang aneh untuknya itu.
“Maaf, akan aku coba tahan.” Dia mencoba untuk memperbaiki sikapnya, mencoba melindungi martabat wanita yang memiliki kasta tinggi itu.
“Bagus, sadar diri dari sekarang.”
Alma segera menjauh, dia membetulkan tatanan rambutnya dan berbalik. Melihat para bodyguard yang merasa ingin tahu dengan apa yang tengah dibicarakan oleh mereka itu.
Seharusnya Adjie tahu diri, ah bukan tapi Agam. Ah sudahlah! Dia tak tahu siapa yang ada di dalam tubuh pria itu, yang jelas keduanya menyebalkan!
Dia menikahi wanita yang memiliki keluarga kaya sepertinya, meskipun dia memiliki kaki pincang dan harus berjalan pengkor, namun dia cantik! Tubuhnya molek nan mulus, uang pun dia memilikinya.
Lalu kenapa Adjie mempermalukannya?! Rasanya dia ingin memaki takdirnya saat ini, menghujaminya dengan sumpah serapah dari mulutnya.
Alma mulai duduk di dalam helikopter. Diikuti Adjie yang berusaha mengunci mulutnya. Padahal dia memang begitu ingin bertanya ini itu.
Terlebih saat dirinya dipakaikan benda aneh di telinganya, sama seperti orang lain yang berada di dalam ruangan aneh yang betul-betul dia tak tahu benda apa lagi ini.
Adjie semakin tegang saat suara mesin menderu kencang. Jantungnya merosot seketika, benar-benar tak bisa dibilang baik-baik saja. Detaknya hebat dan jantungnya seolah siap meledak bagai bom saat benda itu kini terangkat.
Adjie memejamkan matanya, tangannya tak sengaja meraih tangan Alma dan menggenggamnya erat, membuat Alma tersentak. Dia melihat Adjie yang duduk di sampingnya begitu bersikap aneh dengan wajah tegangnya.
Apa sebegitu menakutkannya kah menaiki benda ini?
Alma merasa bahwa pegangan Adjie semakin kencang. Dia menghela napasnya dan merasa kasihan saat melihat wajah Adjie yang semakin pucat pasi itu.
“Bukalah matamu. Kau tak akan jatuh,” seru Alma.
Adjie masih diam saja, tak mau membuka matanya sama sekali. Jelas-jelas dia sedang terbang dengan mesin berderu hebat dan bukan dari tenaganya, bagaimana jika mereka terjatuh?
“Ck! Kau ini, katro sekali. Buka matamu dulu.” Alma menahan diri untuk tak memaksa namun dia merasa begitu kesal saat Adjie tak mengikuti apa yang diucapkannya.
“Sebentar! Sebentar!” Adjie masih saja meremas tangan Alma, dia benar-benar merasa takut.
Keajaiban yang membuat dirinya menjadi begitu gemetar hebat. Merasakan kalau energi dan kekuatan yang dimilikinya tak mampu melawan alat-alat di dunia ini.
Dengan menahan napas akhirnya dia membuka matanya. Dia terbelalak saat melihat ketinggian dan apa yang ada di bawahnya.
Ilmu apa lagi ini?!
Dia ingin bertanya namun tadi sudah mendapatkan ancaman dari Alma, istri Agam.
“Kau baru pertama kali terbang?” tanya Alma.
Dia berusaha mengalihkan pikiran Adjie, tak mau tangannya menjadi korban tentu saja.
“Aku tentu saja tak bisa terbang, ilmuku belum setinggi itu,” desah Aji.
Ingin sekali rasanya Alma menggetok kepala Adjie. Bawahan Ayahnya yang mendengarkan percakapan mereka pun sampai terkikik geli. Jelas saja, mereka akan memandang dari mana Agam berasal sampai-sampai belajar terbang itu?
Alien? Atau makhluk siluman yang tengah menyamar? Atau memang gila. Ya, alasan paling akurat adalah gila.
Sepanjang perjalanan, dengan wajah pucat pasinya, Adjie masih memandangi arah bawah. Dia masih berpikir, sejauh mana kekuatan di dunia ini, sampai bisa membawa mereka terbang, nanti apa lagi yang akan Alma tunjukkan?
Pertanyaan yang ada di pikirannya pun bahkan menjadi begitu bertambah banyak seiring dengan kejadian-kejadian yang dilaluinya.
Tak sampai 30 menit mereka akan sampai di gedung perusahaan Ayah Alma yang kesekian. Entah berapa perusahaan yang dimiliki oleh keluarga istrinya, yang jelas Adjie saja tak tahu arti perusahaan.
Yang dia tahu, itu adalah istana di mana banyak orang mengabdi pada keluarga Alma, menjadi bawahan di kerajaan Alma.
Perlahan helikopter turun di landasan yang tepatnya berada di atas gedung cabang perusahaan.