Adjie jadi Bucin

1142 Words
  “Kita mau ke mana?” tanya Adjie berjalan mengikuti langkah Alma yang bergegas.   Alma menjelitkan matanya. Dan Adjie membalasnya tanpa dosa, seolah lelaki ini tidak ada salahnya.   “Kamu itu! Pinter bener main playing victim-nya!” Alma mengeluarkan unek-unek.   “Play apa?” Adjie gelagapan. Dia kesulitan dengan istilah Alma.   “Oh Tuhan!” Alma mengusal-usal rambutnya dengan gemas. Dia lupa, kalau lelaki di sebelahnya ini nyaris tak berotak.   “Rambut kamu bagus, dan wangi,” puji Adjie.   Woah, woaah, playing victimnya oke banget! Sudah tidak mau membayar hutang, menyuruh Alma membayar, eh kini tanpa merasa bersalah malah muji-muji rambut!   “Tidak usah menyasar-nyasar rambut saya bagus! Ya, iyalah, bagus! Orang ini dirawat dengan sampo Perancis, terus sebulan sekali aku hair treatment!” gerutu Alma penat.   “Ehem, kamu pakai apa tadi, Dinda? Kalau begitu, kuperintahkan nanti senja, kamu melumuri rambutku supaya indah seperti rambutmu!” kata Adjie.   Alma memutar bola matanya secara malas. ‘Apa kata lu dah, Celengan Ayam!’   Alma menapaki jalan ke kamarnya! Dia rasakan, setelah dipijat Adjie tempo lalu, memang jalannya tidak terlalu memincang.   “Dinda, mau ke mana?”   “Ke kamar. Tidak usah keluar. Aku mau bayar utang kamu dulu pada wanita tadi. Tasku ada di kamar.”   “Itu hutangnya Agam, bukan hutangku!” kata Adjie sewot.   YA KAMU ITU AGAM, DODOL! Alma benar-benar darah tinggi. Jadi, dia memilih diam saja.   “Kenapa Agam bisa berutang banyak sekali seperti itu?” tanya Adjie dengan polosnya. Ia seperti tidak paham kalau sedang membicarakan diri sendiri.   Alma tidak tanggapi apa yang suaminya tanyakan. Ia sendiri masih takjub dengan info dari perempuan tadi kalau untuk menikahi Alma, Agam berhutang ratusan juta pada beberapa orang pedagang.   Lebih takjub lagi, ketika Adjie a.k.a Agam dengan santainya berkata tidak punya uang untuk membayar. Lalu, dengan berseloroh hendak membayar dengan tubuhnya.   Ow, wadidaw. Dalam bayangan Alma, lelaki ini hendak menjadi lelaki bayaran. Ternyata ... dia salah paham. Adjie hendak menjadi b***k perempuan ini alias babu.   “Mau ke mana?” tanya Alma, ketika Adjie hendak nyelongsor keluar mengikutinya.   “Mengikutimu,” kata Adjie seraya tersenyum, memperlihatkan rangkaian giginya yang teramat rapih.   [Gak mempan!]   Alma mengacungkan telunjuknya menuju ke dalam kamar. “Masuk kamu!”   “Adinda, beraninya kamu menyuruh suamimu seperti itu. Kamu tahu aku ini pangeran dari ....”   “MASUK, Kubilang!”   Alma minta Adjie untuk tidak keluar dari kamar dan ia akan segera kembali.   Adjie pun bersungut-sungut menuruti perempuan ini. Entahlah, hanya dengan Alma, Adjie mau mengalah pada perempuan.   Dia tidak pernah mengalami pertengkaran dengan perempuan juga, sebenarnya. Para dayang yang mengurusnya, mana berani menentang, ketika dia bertitah.   Ia segera membawa amplop coklat berisi senilai hutang Agam untuk diberikan pada wanita yang menginang sirih tadi.   Begitu Alma sampai di depan, tempat wanita itu berdiri sudah penuh dengan bercak merah.   “E he he, kotor ya, sofanya! Aduh, ini kapur dan sirih ini kurang ajar. Kok, bisa bercak di sofa, sih!”   Alma melongo. Wanita penginang sirih ini sungguh ajaib. Bukannya menyalahkan diri sendiri yang jorok, malah sirihnya yang disalahin.   “Saya ambilkan tisu, ya!” kata perempuan penginang sirih ini, seraya mengelap-elap percikan merah di sofa itu.   Alma bergidik jijik dan berencana segera meninggalkan wanita itu begitu uangnya ia serahkan.   “Tunggu dulu, Ibu ....”   “Alma! Nama saya Alma,”   “Iya, tunggu dulu, Bu Alma. Saya mau bernegosiasi, sebentar!”   Wanita itu menahan Alma untuk pergi. Mau tak mau, Alma duduk, berhadapan dengan perempuan ini.   “Ehem, begini ..., setelah saya pikir-pikir, saya tidak butuh-butuh banget dengan uang sepuluh juta,”   Jawaban wanita ini mengagetkan Alma. Tadi saja, wanita ini marah-marah, kenapa sekarang seperti horang kaya, yang tak butuh uang?   “Ma, maksud Anda?” cerna Alma.   Perempuan ini menggeserkan amplop itu, “Terimalah! Saya tidak membutuhkannya.”   “Hah?” Alma melongo.   “Saya pikir, saya lebih butuh b***k, ketimbang uang,”   Alma mengepalkan tangan. Pahamlah, ia, kenapa perempuan penginang sirih ini agak sedikit lenjeh ngomongnya. Ternyata, ada udang dibalik bakwan.   “Berhubung Agam tadi bersedia menjadi b***k saya, maka saya hendak membawa Agam pulang!”   [Lalu kau bisa mencoba tenaganya untuk kebutuhan lahir dan kebutuhan batinmu? Oh, tidak bisa dibiarkan!]   “Tidak bisa!” teriak Alma tegas.   Perempuan itu melepas cincin berliannya. Lalu, mengeluarkan segepok uang dari tasnya.   “Ini cincin berlian asli. Nilainya lima puluh lima juta!”   “Hei! Anda salah menilai saya! Saya tidak butuh itu!”   “Ah, baiklah! Sebentar, sebentar, ada uang biru buatmu!” Wanita berdaun sirih itu menyerahakan tasnya, yang berisi uang.   “Ini ada lima belas juta, buat DP! Tenang saja, aku menjadikannya b***k selama setengah tahun saja!”   “Go! Pergi!” Alma akhirnya murka.   “Sudahlah, Jeng! Tidak ada salahnya dia menjadi bucinku! Nanti setelah setengah tahun, dia paham kok, soal masalah pegang memegang!” rayu wanita bersirih.   “Pintu luar tepat di belakang Anda. Sekarang keluar!” kata Alma.   Wanita itu pamit dengan senyum kecut. Di saat yang sama, Alma langsung memanggil pelayan untuk membersihkan area di mana wanita tadi berdiri.   Alma kembali ke kamar untuk bicara dengan Adjie.   “Apa benar kamu berhutang sampai ratusan juta saat ingin menikah denganku, Agam?”   Suara Alma yang cenderung ketus itu membuat konsentrasi Adjie yang sedang melihat layar televisi di kamar, terpecah.   “Apa aku ini mirip dengan Agam?” tanya Adjie dengan wajah bloon. Mulutnya setengah terbuka.   “Kamu menikah denganku yang artinya aku istri dari Agam. Kenapa kamu bisa lupa dengan identitasmu sendiri?”   “Tolong jelaskan, Agam itu profesinya sebagai apa?”   Alma mempoutkan bibirnya sekaligus mendelik. Ia tidak menyangka dapat pertanyaan balasan yang bodoh seperti barusan.   Alma yang setengah malas akhirnya menjawab, “Hei mister pura-pura amnesia, kamu itu adalah pedagang ikan di pasar modern.”   “Oh, makanya wanita yang datang tadi itu, juga dari pasar. Baiklah! Aku minta ijin istriku, besok aku akan berdagang ikan juga sama seperti Agam.”   “Kalau kamu ke pasar, maka kamu akan jumpa dengan orang-orang yang meminjamkan uang padamu.”   “Aku butuh bekerja untuk bisa bayar semua hutang Agam, kalau begitu.”   Dari sekian interaksi mereka sepanjang hari, akhirnya Alma bisa mendapatkan sisi positif dari Adjie. Bahwa ia manusia yang butuh bekerja untuk bisa menghidupi dirinya terutama membayar hutangnya.   Alma lantas mengatakan pada Adjie, “Aku akan bantu bayar semua hutang-hutang itu, sekalipun harus menggadaikan beberapa aset, asalkan kamu jangan sesegera mungkin berpisah denganku. Setidaknya beri tempo enam bulan. Setelah itu, kamu boleh meninggalkan aku.”   Adjie menarik tangan Alma untuk duduk denganya di kursi. Dari tadi wanita itu berbicara sambil berdiri.   “Aku akan selalu setia pada satu perempuan saja yang telah aku jadikan istri. Di kerajaanku, tidak ada pria yang menikah dengan dua wanita. Aku juga akan lakukan hal yang sama, yaitu hanya punya satu istri saja.”   Adjie bicara sambil memegang telapak tangan Alma.   Ada desir hangat dalam diri Alma karena sentuhan Adjie. Entah kenapa, matanya berkaca-kaca. Terharu.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD