Alma tidak mempersilakan wanita itu untuk duduk, jadi mereka berbicara dalam keadaan berdiri saling menatap satu dengan yang lain.
Sementara Adjie memilih untuk duduk di kursi yang ada di teras.
Ia sudah janji untuk tidak bicara sehingga ia duduk dan menyimak percakapan Alma dan tamunya.
Wanita yang ditanya malah berjalan maju mendekati Alma yang refleks bergerak mundur karena tidak ingin kecipratan cairan merah yang sedang dimakan oleh tamunya.
Si wanita mendekat untuk berbisik, “Apa saya harus bicara di depan pria itu?”
Wanita itu sambil mendongakkan dagunya sehingga Alma juga ikut menoleh karena bahasa tubuh tamunya, dan berhenti pada sosok suaminya, Adjie.
“Tidak masalah, dia suami saya.”
“Kalau begitu, saya datang karena pria itu. Namanya Agam, bukan?” balas sang tamu sambil menunjuk pada Adjie.
“Benar sekali. Dari mana Ibu kenal dia?”
“Dia pedagang ikan di pasar yang saya awasi. Saya punya banyak nasabah di sana?”
“Nasabah? Apa Ibu kerja di bank pemerintah atau salah satu lembaga keuangan negara?”
Sambil bicara Alma seperti tersenyum sinis karena tidak percaya kalau seorang petugas bank berpenampilan dengan gigi merah seperti wanita ini.
“Saya tidak perlu kerja di institusi elit itu untuk meminjamkan uang saya pribadi. Suami Ibu, Agam telah berutang pada saya. Waktu bayar sudah jatuh tempo!”
Tak disangka, perempuan itu teryata datang hendak menagih utangnya Agam.
Wanita itu sangat tegas menjawab sambil bercekak pinggang. Tak lupa ia lemparkan lirikan pada pria yang ia kira adalah Agam.
Pemilik uang itu juga sudah tidak terlalu ingat dengan paras almarhum Agam sehingga ia ikut saja percaya kalau Adjie adalah Agam yang ia cari.
Pria yang datang padanya beberapa bulan yang lalu untuk buka pinjaman demi menikah. Entah benar atau tidak, si wanita tidak begitu pasti.
“Apa? Agam berhutang duit pada Ibu?” tanya Alma sekali lagi untuk memastikan apa yang barusan ia dengar.
Suaranya yang agak meninggi membuat Adjie merubah posisi duduknya. Tadinya ia sangat rapi tetapi sekarang, ia jongkok di atas kursi.
Karena diminta diam maka Adjie benar-benar tidak keluarkan satu kata pun.
Sedang Alma sesekali menatap kea rah Adjie karena ia sangat kesal. Alma tidak tahu harus bicara apa dengan wanita yang datang menagih uangnya.
Ia sama sekali tidak ingin keluarkan uangnya untuk membayar utang Agam. Alma pusing harus menanggapi seperti apa permintaan tamunya.
Alma memandang wanita bergigi merah itu dengan kesal lalu berjalan menghampiri Adjie.
Alma berkata, “Perempuan ini datang untuk menagih hutang padamu, ayo segera dibayar!”
Suara Alma tidak terlalu pelan tapi juga sepertinya susah untuk didengar oleh sang tamu.
Adjie belum menjawab. Ia bungkam.
“Jawab, aku! Kenapa diam?” lanjut Alma tak sabar dengan keheningan di antara mereka. seolah-olah ia diabaikan.
Adjie menunjuk hidungnya dengan ujung jarinya masih tidak mengeluarkan satu kata pun. Matanya yang membesar dengan manatap lurus pada wajah Alma.
“Aku bicara sama kamu!” tambah Alma sangat kesal.
“Aku bukannya disuruh diam?” sahut Agam agak berbisik.
Alma menepuk dahinya. Ia sendiri yang buat ultimatum itu untuk suaminya dan sekarang senjata makan tuan. Suaminya itu masih terus menunjukkan ekspresi tak berdosanya.
“Boleh sama aku saja, tapi tidak dengan yang lain,” balas Alma setelah bersusah payah menetralisir emosinya. Darahnya sudah mengalir deras hingga ke ubun-ubun. Sungguh butuh banyak kesabaran untuk berhadapan dengan suaminya.
“Aku tak kenal dia!” ketus Adjie menelengkan kepalanya sedikit untuk melihat wanita yang dari tadi berdiri sambil mengunyah.
Posisi Alma berdiri menghalangi pandangannya.
Alma ikut menoleh ke belakang sebentar terus berbicara lagi dengan Adjie. Kali ini suaranya ia naikkan nadanya karena ia ingin Adjie tidak lari dari tanggung jawab.
“Ibu itu datang karena kamu pernah pinjam uang padanya. Kamu harus tanggung jawab untuk bayar.”
Tak disangka, Adjie juga menjawab dengan suara yang tidak pelan, “Aku tidak kenal dengannya. Harusnya ia menagih pada Agam, bukan padaku. Aku baru bertemu dengannya hari ini.”
Wajah Alma memerah. Ia jadi bingung sekarang.
Sementara, jawaban Adjie jelas buat perempuan menginang sirih marah besar dan balas berteriak.
“Eh, jangan mangkir. Kamu pasti pura-pura gila agar bisa bebas dari hutang-hutangmu? Enak saja kamu menolak untuk bayar. Totalnya sepuluh juta rupiah!” teriak si wanita sambil menunjuk-nunjuk ke arah Adjie.
Alma menatap tamunya dan dari ekpresinya, memang wanita itu serius.
Ia akhirnya menatap suaminya sekali lagi. “Agam, uang itu jumlahnya sangat banyak. Kamu harus bisa membayar kembali. Kalau dia lapor polisi bagaimana?”
“Baik! Kalau memang kamu mau aku yang bayar padahal aku tidak pernah berutang pada siapa pun. Aku akan bayar dengan tubuhku, karena aku tidak punya uang.”
Adjie sudah turun dari kursi dan berdiri. Ia hendak menghampiri wanita yang datang itu untuk menawarkan cara bayar non tunai.
Alma tentu saja gelagapan dengan jawaban Adjie.
“Agam! Kamu mau buat apa?” sanggah Alma dengan mata membeliak.
“Aku tidak pernah berutang padanya. Aku tidak bisa bayar apa pun. Jadi, biar aku ikut saja sebagai b***k wanita itu.”
Adjie sambil menunjuk pada wanita di belakang Alma.
Alma memejamkan matanya sesaat dan menarik napasnya beberapa kali. Rasanya, dadanya akan meledak karena gejolak emosi yang campur aduk.
Ingin marah tapi pada siapa. Ingin menangis tapi masih ada masalah yang harus ia selesaikan sekarang juga.
Alma membuka matanya.
“Duduk! Aku bilang duduk dan diam!” bentak Alma pada Adjie.
Pria itu akhirnya ikut saja perintah Alma. Ia kembali pada mode duduk dan ekspresinya di awal.
Dalam diam Adjie membatin. Apa sebenarnya yang diinginkan orang-orang di zaman ini. Mereka semua aneh. Terlalu memaksakan kehendak. Aku tidak berutang tapi asal menuduh. Aku punya banyak kekayaan di kerajaanku, untuk apa aku meminjam uang pada orang lain? Memalukan nama kerajaan saja.
Sikap Adjie yang cuek buat Alma mengalah.
Alma mendekati perempuan itu lalu berkata, “Berapa semua hutangnya, Agam?”
“Perlu Ibu ketahui, laki-laki yang bernama Agam ini banyak hutangnya! Dia bahkan pinjam pada beberapa pedagang, yang kalau dijumlahkan semuanya bisa mencapai ratusan juta.”
“Dia suami saya. Berapa semua hutangnya pada Ibu saja. Saya akan bayar sekarang.”
“Nah, itu baru benar. Tidak banyak, hanya 10 juta saja seperti yang saya bilang tadi.”
“Dolar atau rupiah?”
Si Ibu mendelik. “Eh, Non, pertanyaan macam apa itu? Apa dipikir saya ini bule?”
“Jawab saja! Dolar atau rupiah?” tekan Alma.
“Rupiah!”
“Tunggu di sini!”
Alma menarik tangan Adjie untuk ikut dengannya. Alma pikir, lebih baik pria itu di kamar saja agar tidak merusak pikiran orang lain di sekitarnya.
“Hei, kenapa kamu bawa Agam ke dalam!” tanya Ibu bersirih itu.
“Ini privasi saya. Ibu cukup tunggu di sini,” Suara Alma terdengar bergetar. Dia menahan marah.