Perempuan Pink

1103 Words
Seruan Adjie menunjukkan kalau ia sangat kolokan. Persis tarzan masuk kota. Tidak tahu dan paham dengan apa yang ada di sekitar mereka.   Terus bertanya dan menjawab sesuatu seperti orang bodoh yang tak punya akal.   “Kuntilanak gundulmu!” sambar Alma sarkas. Ia jadi berpikir kalau suaminya sedang kesurupan karena sejak tadi, pembicaraan mereka tidak nyambung.   Sepertinya Alma berbicara, berpikir dan berjalan sendiri saja padahal Adjie ada di sampingnya.   “Pasang sabuk pengamannya!” seru Alma lagi sambil mulai menginjak pedal gas dan mobil bergerak.   Adjie sedang terheran-heran melihat mereka akhirnya bergerak.   Ia menatap ke luar lalu ke kaki Alma lalu keluar lagi, persis orang yang kolot. Belum pernah melihat orang menyetir dan bingung dengan mobil yang mulai bergerak.   “Agam! Pasang sabuk pengamannya!” kata Alma lagi karena Adjie seperti tidak menghiraukan perkataannya.   Adjie tersentak mendengar nama panggilannya disebut.   “Apa yang dipasang? Di mana?”   Satu lagi kebodohan hakiki yang Adjie tunjukkan. Ia memang tidak punya benda sejenis mobil di kerajaannya sehingga ia tidak paham dengan asesoris di dalamnya.   Alma menanti dan Adjie ternyata juga kebingungan memasang sabuk pengaman.   Sambil berdecih kesal, Alma menepikan mobilnya.   “Mengapa aku bisa punya suami yang lupa ingatan seperti ini,” gerutu Alma yang masih jelas didengarkan oleh Adjie.   Dengan agak kasar, Alma lalu mencondongkan badannya dan memasangkan sabuk pengaman untuk Adjie.   Tak sengaja, tangannya menyentuh perut Adjie yang roti sobek dan kotak-kotaknya sangat menonjol terasa. Membuat desiran dalam hatinya.   [Untung suami pencitraanku ini cakep. Meskipun, sepertinya lupa menaruh otak di mana. Jadinya, tidak tahu apa-apa.]   ‘Kekar juga otot perutnya,’ batin Alma karena sentuhan sesaat tadi.   Tapi ia cepat enyahkan pikirannya dan kembali pada posisi awal untuk bisa lanjutkan perjalanan mereka.   “Itu yang namanya sabuk pengaman, jangan sampai lupa lagi,” kata Alma berusaha untuk mencairkan suasana di antara mereka.   “Aku akan ingat,” sahut Adjie menggaruk-garuk kepalanya.   “Jangan hanya berjanji saja. Terlalu banyak diumbar lalu lupa untuk lakukan.”   “Aku masih belum bertemu dengan mbah gugel. Mungkin, ia tidak ada di kantor papa kamu tetapi di rumah kita.”   Oh, No!   Oh, No!   Oh, No no no!   “Astaga, Agam, maksudku Adjie, Gugel itu bukan manusia?” teriak Alma kesal.   Bertepatan dengan ada kendaraan di depannya yang berjalan seperti siput, Alma membunyikan klakson mobil panjang berkali-kali untuk mengeluarkan energi negatif dalam dirinya, karena kalimat tak masuk akal yang keluar dari mulut Agam.   Lain halnya dengan Adjie yang terlonjak dari duduknya mendengar bunyi klakson yang memekakkan telinganya.    “Alma, mobil ini bisa bersuara seperti bunyi terompah. Tidak, seperti suara gajah yang mengamuk!” kata Adjie heboh.   ‘Tuhan, jika Adjie terus begini, lama-lama aku bisa gila sepertinya!’   Alma memandang suaminya ini prihatin. Dengan gemas, Alma bunyikan lagi klaksonnya.   Ini membuat Adjie panik. Baginya, suara lesatan anak panah bahkan tidak seribut bunyi yang ia dengarkan saat ini.   Ia menutup kedua telingannya rapat-rapat sampai suara klakson hilang.   “Itu seperti serangan dari musuh. Kita harus tetap waspada,” ujar Adjie setelah ia turunkan tangannya.   Ia menatap Alma tetapi wanitanya itu sedang konsentrasi ke depan.   “Agam, kamu salah makan apa?”   “Tidak ada. Saya makan apa pun yang kamu berikan. Bahkan, saya bukan hanya bisa makan. Saya juga bisa masak, nanti saya tunjukkan padamu.”   “Gak perlu!” kata Alma ketus.   Adjie menghela napas. Sorot matanya sedih, membuat Alma senewen.   “Kenapa lagi kamu? Mau bikin ulah apa lagi? Kok wajahnya sedih begitu?”   Adjie menatap Alma penuh makna.   “Tidak usah menatap begitu!” Alma jadi salah tingkah. “Katakan, kamu mau bikin ulah apa lagi?”   “A, apa di kerajaanmu, seorang pria yang memasak juga disebut sebagai kemayu?” tanya Adjie lirih.   Alma tak langsung menjawab, melainkan menekan sebuah klakson panjang bagi seorang pengendara mobil, yang seenaknya saja menyalip.   Adjie salah sangka. Dikiranya, bunyi klakson itu pertanda Alma mengiyakan.   “Kenapa, di kerajaanmu, lelaki yang memasak disebut benc ... maksudku disebut kelainan, begitu?” tanya Alma. Meskipun pertanyaan Adjie terbilang konyol untuk saat ini, dia ladeni juga, saking sudah stressnya.   “Iya, mereka katakan itu tidak normal. Wandu (sebutan untuk transgender)!”   “Apa tuh?” Alma tidak mengerti.   “Lelaki yang menyerupai perempuan,” jelas Adjie, membuat Alma terbahak-bahak.   Adjie tersenyum sumringah. Akhirnya setelah seharian Alma darah tinggi, akhirnya perempuan berambut smoothing panjang ini bisa tertawa.   “Hei, jangan-jangan kau mengiraku lelaki seperti itu? Aku ini tulen, Adinda!” kata Adjie serius.   Alma tertawa lagi. “Tuhaaannn, ampuni aku Tuhan. Apa salah dan dosaku? Laki kok gini amat, yak?”   “Ah, ternyata di kerajaanmu sama, ya! Lelaki yang memasak, akan dilecehkan!”   “Tidak!” tegas Alma.   Kali ini dia putar lagu dari mobilnya. Instrumentalia saja.   “Tidak usah tanya, kenapa benda ini bisa memainkan musik, please! Aku sudah lelah! Nikmati saja!”   Alma segera menyela, sebelum Adjie yang kepo bertanya kenapa mobil bisa mengeluarkan musik. Atau parahnya ... kenapa kentut mobil begitu indah dan panjang? Oh, itu lebih absurd lagi.   “Di kerajaanku, Lelaki yang pintar masak itu romantis. Bahkan, chef terkenal banyak sekali yang lelaki,” kata Alma.   “Chef?”   Alma mendengus. Mulai, deh, Adjie bikin bete.   “Chef itu koki!” jelas Alma.   “Ko ... ki?”   “Oalah, Adjie, kamu dari kerajaan mana, sih! Sumpah, deh, nyebelin banget. Chef itu bahasa kerennya tukang masak!”   Sejenak Alma mendengar O panjang dari Adjie. Dia menghela napas, seraya sekarang berpikir bahwa dia mulai gila. Dia terbawa cara bicara Adjie yang selalu mengaku berasal dari kerajaan.   “Nilamsuryo,” kata Adjie.   Alma mengernyitkan dahi. Nilamsuryo? Apa itu?   “Adinda bertanya berasal dari kerajaan mana aku, kan? Aku adalah pewaris tahta Nilamsuryo!” jelas Adjie.   Alma diam. Dia mencoba berpikir keras, apakah benar ada kerajaan bernama demikian. Dia hanya mengenal Majapahit, Sriwijaya, dan kerajaan besar lainnya.   “Aku tidak pernah mengenal kerajaan itu,” desis Alma.   “Be, benarkah? Apakah kerajaanku tidak terkenal di kerajaanmu?”   “Aku tidak mengenalnya,” kata Alma.   “Apa kamu serius, Adinda?”   “Oke, fine! Aku akan mencarinya di Mbah Gugel,”   “Apa Mbah Gugel mengetahui kerajaanku?” tanya Adjie semangat.   “Shut up! Diamlah!” kata Alma kesal.   Dan sejenak perempuan ini melirik ke Adjie. Ada binar kecewa dalam mata lelaki ini.   “Baiklah, besok aku akan mengajakmu ke kerajaanku!” kata Adjie bertekad.   “Emang kamu tahu jalan pulang ke kerajaanmu?” Alma langsung nyolot.   “Tidak!” kata Adjie santuy, yang membuat darah tinggi Alma naik kembali.   Alma membuka pintu jendela kaca. Dan tepat di lampu merah, dia berhenti.   “Hai cowooook,” teriak para cabe-cabean terasa mengusik.   “Alma! Lihat! Perempuan-perempuan itu memiliki rambut berwarna merah muda! Mereka dari kerajaan mana?”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD