Mereka menatap Adjie dengan penuh tanda tanya. Meski para kaum hawa terpesona dengan tubuh atletis Adjie dalam diam.
Mereka menggangguk. Tanda bagi Adjie untuk melontarkan rasa ingin tahunya.
“Saya ingin bertemu dengan mbah gugel. Apa bisa tunjukkan pada saya di mana orangnya?”
“Nisanak, Kisanak, apa dia dayang? Atau kasim? Bisa pertemukan saya dengan Mbah Gugel?” kata Adjie berharap.
Salah satu pegawai yang sedang minum langsung kesedak dan menyemburkan minumannya.
“Anjriit! Cowok masa lalu datang ke sini! Ternyata, cakep-cakep gila, uhuuk!” Lelaki yang tersedak itu mencoba berbicara terbata.
Sontak yang lain ikut tertawa mendengar pertanyaan dari Adjie dan kelakuan temannya yang kaget.
Salah satu dari mereka menjawab, “Jauh, orangnya tidak ada di sini. Butuh naik pesawat terbang untuk berjumpa dengan orangnya.”
“Naik pesawat? Istri saya punya ....”
Adjie tampak berpikir keras.
“Ya, ya, saya ingat! Istri saya punya helikopter! Apa itu sama dengan pesawat!”
“Anjaaay! Astaganaga! Mbang, ada pasien RSJ ini, Mbang!”
“Gak ngurus! Sana! Kamu balikkin ke RSJ, Tom. Kamu kan mantan pasien sana juga, kan, Tom!” Lelaki yang dipanggil Mbang alias Bambang tampak cekikikan.
“Aseem! Masak aku disamakan dengan orang gila!”
“Maaf, di mana saya bisa naik pesawat di sini!” tanya Adjie.
“Duh gustiiii! Bodo ah, sana-sana, orang gila!” usir para karyawan di dapur.
Pegawai lainnya yang kasihan melihat Adjie yang terlihat bingung, akhirnya mencoba untuk membantu dengan jujur, “Mbah gugel itu ada di dalam sini.”
Pegawai wanita tersebut menggoyangkan ponselnya yang kali ini casingnya berwarna putih.
“Orang sebesar itu ada di dalam benda sekecil itu? Mustahil!” sambut Adjie merasa telah dipermainkan. Pria itu melengos lalu berpindah ke tempat lain.
Sementara semua pegawai yang di dapur semakin terbahak-bahak tak terkecuali gadis tadi yang berniat membantu Adjie.
Setelah tawanya reda ia sempat comel, “Orang itu sudah gila. Di jaman semodern ini masih tidak tahu apa itu mbah gugel.”
“Tampangnya memang terlihat bloon tadi,” balas salah satu teman prianya.
“Siapa sebenarnya, dia?” tanya pegawai yang lainnya.
“Entahlah. Sepertinya orang baru. Belum pernah aku lihat di perusahaan selama tiga tahun bekerja di sini.”
Mereka sibuk menggunjingkan Adjie yang sudah berpindah ke ruangan lain.
Kali ini Adjie mendekati office boy yang sedang merapikan ruang rapat. Naasnya, office boy ini adalah lelaki rantau nun jauh dari Jakarta, di sebuah pedalaman Sumatera, yang nasib baik memiliki teman orang rantauan sukses, yang mengajaknya mengadu nasib di ibukota.
“Permisi, apa Anda kenal dengan mbah gugel?”
“Gugel? Tak tahu saya. Saya kenal mang Karno dan Jeng Trisna yang di kantin sana. Coba tanya ke yang lain.”
Adjie masih tidak puas. Kalau sampai ia tidak berjumpa dengan mbah gugel, pasti istrinya akan marah besar padanya.
“Mbah ... kumohon, hadirlah! Adindaku Alma menyuruh aku bertanya padamu. Sebagai suami, aku ingin menurutinya, untuk membahagiakannya.
Ia menghampiri tiga orang staf program yang terlihat sedang bicara serius.
“Apa salah satu dari kalian kenal mbah gugel?”
“Mbah gugel? Lha ini, aku lagi masuk ke mbah gugel!” kata seorang staf.
Adjie kebingungan. Masuk ke Mbah Gugel? Apa orang yang barusan menjawab ini makhluk astral, bukan manusia. Kenapa bisa masuk ke jasad Mbah gugel.
“Oh, jadi kamu mbah gugel, dan sekarang kamu sedang dikuasai roh jahat ini? Hei kisanak, keluarlah kamu dari jasad Mbah Gugel!”
“Hah? Dia kira aku jin pengkolan?” Lelaki yang berkata bahwa dia sedang searching itu spontan kebingungan.
Bertepatan dengan datangnya Alma yang langsung menarik tangan Adjie agar ikut dengannya.
Alma mendengar pertanyaan Adjie pada pegawai papanya itu dan wajahnya seperti udang rebus.
“Astaga, maaf, Bu, ini suami Bu Alma?”
“Maaf, Bu, kami tidak tahu. Maklum, pada resepsi Ibu, kami tidak diundang,”
Alma sejatinya hendak ketus. Namun, berhubung malu, dia berusaha melunak.
“Iya, maaf ya. Undangan untuk karyawan, rencananya, akan diundang pada saat open house bulan depan.”
“Baik, Bu. Suaminya tadi ... kok, tanya Mbak Gugel ya, Bu?”
“Iya, maaf, ya, semuanya. Suami saya lagi sosial eksperimen, soalnya ...” kata Alma kecut.
“Oooh apa dia aktor, Bu?”
“Selebgram?”
Alma tak menjawab lagi. Dia segera menarik tubuh Adjie.
Ia sungguh malu dan tak tahu harus bicara apa pada suaminya yang terus saja menjatuhkan nama baiknya.
“Hei, pelan-pelan istriku. Kamu mau bawa aku ke mana?” protes Adjie yang ditarik dengan kasar oleh Alma.
Wanita itu merasa kalau ia sudah lakukan yang terbaik untuk Adjie tapi pria itu tetap tidak membantunya tampil cemerlang di depan semua orang.
Alma benar-benar kewalahan dengan sikap Adjie. Ingin ia berteriak sekencang-kencangnya dan melampiaskan kekesalannya pada suaminya itu.
“Masuk mobil. Kita pulang!” hardik Alma.
Pintu mobil sudah Alma buka dan menunggu pria ini masuk ke dalam.
Alma sudah duduk di bagian jok sopir tapi ia menatap suaminya. Dia malas menyetir, rasanya hendak tidur saja.
Hari ini dia begitu malang. Ayahnya, yang ia tahu masih haus kekuasaan, enggan berbagi kekuasaan dengan Adjie, dengan alasan gila.
Lalu, dia dipermalukan Mareta dan Denis, karena Adjie tak tahu ponsel. Terakhir, suaminya ini malah menuruti kata-katanya untuknya mencari Mbah Gugel. Lengkap sudah malunya!
“Gantian, kamu yang menyetir!” kata Alma tapi cenderung perintah bukan negosiasi.
“Apa itu menyetir? Aku tidak tahu caranya menyetir,” balas Adjie dengan ekspresi tak pahamnya.
Jawaban yang sungguh di luar dugaan dari Alma. Rasanya Alma ingin mengambil palu dan mengetok tempurung kepala suaminya, agar isinya bisa sedikit encer.
Semua hal tidak ia mengerti dan ia selalu muncul dengan pertanyaan atas apa yang Alma ingin dia lakukan.
“Kamu ituuu .... apa yang kamu tahu, hah! Masak menyetir saja tidak bisa!”
“Menyetir itu berarti menunggangi kuda besi ... eh, namanya mobil, ya?” tanya Adjie.
Alma memegangi kepalanya. “Iya! Kamu bisa menyetir, tidak, hah!” tanya Alma lagi.
“Maafkan aku, Adinda. Aku tidak bisa. Tapi, suamimu ini ahli dalam berkuda!”
“Bodo!”
“Hei, itu adalah keahlian yang sangat hebat. Mengendarai kuda khusus kerajaan ....”
“Bodooo amat! Udah, diam, kamu!” kata Alma kesal.
Alma semakin masygul. Dengan sangat terpaksa, Alma akhirnya menyetir, seperti yang ia lakukan saat pergi ke kantor Indro.
Suara berdenging mesin mobil terdengar dan Adjie langsung mengambil kuda-kuda, lalu mengatakan, “Awas, ada musuh! Saatnya untuk keluarkan jurus teriakan kuntilanak.”
“Apaan, sih, Adjie. Kok norak banget begitu!”
Alma membanting setir ke kanan, lalu mengerem mendadak, hingga Adjie nyaris tersungkur menyeruduk dashboard. Untung, Alma memakaikannya sabuk pengaman.
“Alma, ternyata mobil kamu ini tidak jinak-jinak, juga!”
“Dia bukan kuda, Bambaang!” kata Alma kesal.
“Namaku Adjie, bukan Bambang!” balas Adjie.
“Terserah elu, Celengan Ayam!” sengit Alma.