Spek Bidadara

1091 Words
“Pangeraaaaan!”   Sesosok kasim berlarian, mengejar Angkie, yang baru selesai menghadap Raja Sri Jayanaga. Membuat Angkie harus melambatkan langkahnya.   “Ada apa?” kata Angkie tanpa menoleh.   Sang kasim segera berlari hingga berada di depan Angkie, lalu bersimpuh. “Ampun, sungguh ampun, jika saya lancang, Pangeran. Ini ... soal dayang Sruti,”   Kasim itu bernapas tak karuan.   “Wahai kasim! Apa pantas kamu bernapas tersengal-sengaln begitu di hadapan pangeran?” Murka Adjie.   “Ampun pangeran, kan saya sudah mohon ampun,” Kasim sedikit kurang ajar ini membuat Angkie makin kesal.   “Apa kata-kata itu? Terdengar seperti membela diri, kamu! Jangan karena kita cukup dekat, maka kamu seenaknya saja!” Suara Adjie diatur sewibawa mungkin, membuat kasim dengan terusan berwarna coklat ini ketakutan.   “A, aampun Tuan. Saya ingin mengabarkan terkait Dayang Sruti,”   “Katakanlah! Ada apa dengan dayang pengasuh Pangeran Adjie ini?” titah Angkie.   “Dia ... menyebarkan gosip!”   Angkie menunggu kata-kata Kasim ini, yang sepertinya sengaja membuat suasana sedikit lebay.   “Dayang Sruti berbicara kepada orang-orang, bahwa Pangeran Adjie masih hidup,” kata kasim dengan tangan yang sedikit melentik.   “Masih hidup? Bagaimana dia bisa tahu? Apa dia menyembunyikan Pangeran Adjie?” selidik Angkie.   “Tidak, Tuan. Tapi ... dia berkata Pangeran Adjie datang dalam mimpinya. Pangeran Adjie tersenyum bahagia dan berkata pada Dayang Sruti, agar perempuan ini tidak perlu mencemaskan Adjie!”   “Hanya mimpi?”   “Iya, Tuan, Hanya mimpi. Dan anehnya, maaf nih, Paduka Pangeran ...”   “Maaf kenapa?” cecar Angkie.   “Maafnya, karena banyak orang-orang istana percaya. Dan ... berita ini sudah menyebar ke rakyat biasa!”   Angkie tertawa, demikian pula dengan sang kasim. Membuat Adjie melototkan matanya.   “Siapa yang menyuruhmu tertawa, Kasim!” sergak Angkie.   “Ampun, Pangeran. Bukankah slogan pangeran sendiri, yang mengatakan tertawalah sebelum tertawa itu dilarang!”   “Diam!” Angkie murka. Dia menggertak, dengan pura-pura hendak menarik pedangnya.   Kasim itu segera pucat pasi. Dia ingin mengutuki Angkie sebagai lelaki tidak konsisten dengan ucapan, namun apalah dia yang hanya kasta rendahan.   “Kau harusnya tahu, bahwa itu aku lontarkan hanya sebagai pemanis saja. Kau tidak pantas tertawa bersamaku,” Angkie begitu pongah.   “Ba, baiklah, Pangeran!”   “Katakan! Apa yang dikatakan oleh Dayang Sruti, kenapa kamu begitu cemas, tadi! Jika itu hanya mimpi, sekalipun banyak orang-orang percaya, itu tidak akan berarti apa-apa, tanpa ada wujud Pangeran Adjie!”   “Justru ini membahayakan Tuan Pangeran!”   “Apa? Katakan cepat, apa yang membahayakan!”   Kasim itu mendongakkan kepala. Dengan mata memutar, sedikit ganjen, dia berkata dramatis. “Kata Dayang Sruti ... Pangeran Adjie sudah menikah dengan putri kerajaan lain, yang cantik rupawan, dalam mimpinya!”   “Sudah menikah?” Angkie terperanjat luar biasa. Namun, sedetik kemudian dia tertawa lagi. “ah, apa yang harus aku cemaskan? Itu kan hanya dalam mimpi saja!”   “Masalahnya, banyak yang akhirnya bercerita, bahwa dengan putri yang cantik itu, kemungkinan Adjie akan mendapatkan keturunan pewaris tahta!”   “Jadi, jika aku bunuh Adjie, maka sejatinya masih ada pewaris tahta, yaitu anaknya Adjie!” teriak Angkie gusar, membuat sang kasim kepercayaan gemetar.   Tentu saja, Angkie tidak memberitahu pada kasim ini, bahwa dia yang menghabisi Adjie. Mulut kasim yang terlalu slebor, membuat Angkie khawatir jika kasim ini berkicau.   “Halah, itu hanya mimpi!” kata Angkie berusaha menghibur diri.   “Tapi, orang sering percaya dengan bunga tidur itu, Tuan Pangeran,” Kasim mengompori.   Ini sama saja membakar sekam di musim kemarau. Tekad Angkie untuk mencari Adjie semakin kuat: Hidup atau mati.   Hal ini sama seperti yang dialami Alma pada masa kini. Perempuan itu masih saja celingukan mencari Adjie. Asumsinya, jika Adjie tidak keluar lewat lobi, maka lelaki ini masih berada di dalam gedung puluhan tingkat ini.   Alma mengambil ponselnya. Dia hendak menghubungi Adjie.   “Sialan! Aku tidak menyimpan nomor Si b******k ini!” kesal Alma. Alma mengeluarkan napasnya dari mulut, pertanda gusar.   Dia mencoba menelepon Inge, ibunya, yang sudah pasti punya nomor Adjie a.k.a Agam yang menjadi seller ikan fillet langganan mereka.   Zonk! Nomor Inge tidak aktif.   “Kamu di mana, semprul! Kalau ketemu, habis kamu sama aku! Tidak, tenanglah, aku tidak marah, asal kamu tidak kabur,” Alma mulai menceracau, karena panik.   Ternyata, Alma memang harus lebih hati-hati dengan kata-katanya. Ia resah mencari Adjie yang juga sedang kelimpungan menuruti perintah dari Alma.   Ternyata Adjie benar-benar mencari Mbah Gugel, akibat dia tidak tahu apa itu ponsel, dan Alma menyuruhnya bertanya pada Mbah gugel.   “Ah, harusnya aku tadi bertanya pada Adinda Alma ini, bagaimana rupa Mbah Gugel? Bagaimana pula perawakannya. Apakah dia tampan dan perawakan tinggi besar? Atau seperti mbah-mbah, yang tubuhnya sudah mulai bongkok?”   Adjie menemui semua orang yang ada di perusahaan ayahnya Indro yang bisa ia temui. Sialnya, Adjie bertanya apa mereka mengetahui di mana mbah gugel berada.   Semua karena Alma minta Adjie untuk mencari mbah gugel dan bertanya apa pun yang ia tidak tahu.   Sudah bisa ditebak seperti apa nasibnya Adjie.   “Permisi Pak, kenal dengan mbah gugel?” tanya Adjie pada salah satu pegawai yang sedang sibuk di dekat mesin fotokopi.   Dia tidak memperhatikan, jika yang bertanya adalah suami dari anak bos mereka. Lagipula, sekalipun memperhatikan, pria anti gosip ini tak akan tahu, karena dia tidak diundang ke resepsi Indro, karena hanya pekerja paruh waktu saja.   Pria itu tidak ingin diganggu karena takut salah hitung halaman yang sedang ia perbanyak. Dengan ketus ia menjawab, “Enggak tahu. Cari saja di dapur!”   “Apa Mbah Gugel ini tukang masak, Pak?” tanya Adjie seraya mengerjap-ngerjapkan matanya.   “Meneketehe (mana aku tahu!)”   “Mantera? Apa kita harus menyebut mantera, supaya Mbah Gugel bisa ditemukan?”   “Aduh, rempong amat dah kamu jadi orang. Jangan ngeprank begitu, aku lagi sibuk! Gak kenal juga! Sana-sana! Cari di dapur!” teriak lelaki itu.   Rempong? Ngeprank? Sungguh Adjie jadi merasa bodoh.   Dia berpikir keras, kenapa pada kitab pelajaran, yang diajarkan para gurunya, tidak ada kata rempong?   “Sepertinya, para guruku harus menambah kata-kata kerajaan lain dalam pelajaranku. Ini agar aku tidak terlihat bodoh, karena tidak tahu apa itu rempong? Apakah itu sejenis rempah-rempah?” Adjie bermonolog dengan kerasnya.   “Lho? Owemji, Om-nya masih ada di sini! Sana pergi! Jangan ganggu aku! Nah kan bener ... aku salah fotokopi. Woi, pergi sana!”     Adjie menuruti dan pergi ke dapur dan ada beberapa pegawai di sana. Campuran pria dan wanita.   “Permisi, saya bisa minta bantuan?” kata Adjie dengan suara bariton yang begitu indah.   Para perempuan melirik. Mereka terpesona dengan tampilan Adjie.   ‘Cowok cakep ini siapa, ya? Pakai jas mahal lagi? Pasti itu KW!’   “Apa dia spek bidadara?”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD