Sana Sini Mencari Adjie

1137 Words
  “A, Agam, maksudku ... Adjie! Ka, kamu di mana?” Alma mulai cemas.   Dia pegangi dadanya. Adrenalinnya terpacu, seiring dengan kakinya yang gemetar hebat.   “Ja, jangan, lelaki pura-pura gila itu ka, kabur!” Alma merasa lemah. Dia menutup mulutnya.   Rasanya, dia hendak berteriak histeris. Alma masih setengah berlari mencari-cari Adjie. Dengan tangan gemetar dia tekan tombol masuk lift, lalu menekan tombol lobi.   Setelah sampai di sana, dia dengan tergesa bergerak menuju pintu keluar lobi. Bayangan Adjie kabur terbayang.   “Aku hanya memarahimu sedikit, Adjie! Kenapa kamu tersinggung? Aduh bagaimana ini? Apa kata orang-orang nanti, kalau sampai mereka tahu aku ditinggalkan pada hari kedua pernikahan kami!”   Alma mengacak-acak rambutnya. Sampai dua perempuan berjalan masuk ke lobi, bergegas Alma memanggilnya.   “Anya, Sonia!” panggil Alma.   “Bu Alma, kok perginya terburu-buru begitu?”   Alma yang sejatinya agak ketus, malas berbincang. “Lihat suamiku, nggak?”   “Pak Agam?”   “Bukan, namanya Adjie!” sela Alma.   “Oh, iya, lupa ... lelaki itu pura-pura lupa ingatan kan ya, Bu,” celetuk perempuan bernama Anya, yang langsung dibekap mulutnya oleh Sonia.   “Hush! Anya! Lambemu kok mleber (bibirmu kok melebar) banget sih?”   “Ya, maaf. Kan emang iya!” ketus Anya, seakan tak bersalah.   Alma hanya diam saja. Sungguh, itu terasa menjengkolkan baginnya.   Dia tandai Anya, sebagai salah satu karyawan yang mungkin ia pecat, suatu saat nanti.   “Hati-hati Anya, nanti kamu ditandai Bu Alma,” bisik Sonia.   “Biarin saja! Lagipula, pewaris perusahaan ini bukan dia, kan? Soalnya, katanya suaminya amnesia, gara-gara menikah dengan dia!”   Begitu lemas ujaran Anya, sampai Sonia menutup mulut perempuan ini kembali.   “Ma, maaf Bu Alma, kami tidak melihat Pak Adjie. Tadi, pas kami di luar loby, kami juga tidak melihatnya,” kata Sonia sopan.   “Baiklah, terima kasih, ya!” kata Alma.   “Baik, Bu!” kata Sonia.   “Dan kau Anya ....”   Kedua perempuan itu menghentikan langkahnya.   “Sebaiknya, kamu terus berdoa agar aku tidak menjadi pimpinan perusahaan ini. Jika tidak, kamu orang pertama yang saya pecat,” ancam Alma seraya menjauh dari kedua perempuan ini.   “Tuh, kan, apa aku bilang Alma! Jaga lisanmu!”   Sayup-sayup, masih terdengar suara Sonia menasihati Alma.   “Bodo amat, Sonia! Perempuan pincang itu sekali-kali harus diberi pelajaran. Biasanya, dia jutek! Lagipula, Pak Indro aku yakin tidak akan menjadikan menantu barunya sebagai pimpinan. Kan, menantunya itu gila!”   Alma mengepalkan tangan. Sungguh, ia tak menyangka berita ini begitu cepat beredar.   “Kamu di mana Adjie? Kalau sampai ketemu, kamu akan aku beri pelajaran!”    Alma belum lepas dari kedongkolannya dan sekarang pria yang sudah sah jadi suaminya itu, telah menghilang entah ke mana.   Alma lama-lama bisa ikutan gila dengan kelakuan Adjie a.k.a Agam.   Ia bergegas mencari suaminya itu agar tidak sampai terlanjur melakukan hal lainnya yang akan semakin mempermalukan dirinya.   Cukup sudah kejadian ikan piranha dan ponsel yang dikira buku mantera berwarna pink jadi bahan gunjingan staf satu perusahaan.     Sementara itu, di kerajaan Nilamsuryo, Paduka Sri Jayanaga tampak terbaring di kasur bulu angsa kualitas premium. Tubuhnya masih lemah., sepeninggal putra pewaris kerajaannya: Adjie Pangestu.   “Paduka Ayahanda, Pangeran Angkie menghadap!” Terdengar suara macho menggelegar.   “Masuklah!” kata Raja Nilamsuryo ini.   Lelaki setinggi seratus delapan puluh centimeter, yang termasuk lelaki yang tinggi pada jamannya ini, melangkah memasuki kamar raja dengan langkah tegap.   Sorot matanya tajam, meskipun sejatinya lelaki ini sedikit cemas. Angkie tahu, ayahnya ini akan bertanya kembali perihal anak dari ratu sah alias Adjie Terkutuk itu.   “Apa kamu sudah ketemukan Adjie berada?” tanya Paduka Sri Jayanaga. Walaupun tubuhnya sakit, namun dia masih berusaha kuat.   “Ayahanda, ayahanda sedang sakit. Mohon tidak usah membahas hal tersebut,” Angkie mencoba tarik ulur.   “Kamu tidak perlu menasihatiku. Jika aku butuh masukan soal sakit, Tabib Hudo lebih pantas kupanggil ke sini ketimbang kamu!” sindir raja telak.   “Maafkan hamba, Ayahanda. Saya hanya cemas dengan kesehatan Ayahanda ....”   “Kamu tahu, kenapa aku bisa sakit begini?” potong raja.   Angkie hanya tertegun. Tak hendak mengangguk.   [Bahkan, ketika sudah mati saja, pangeran kemayu-kemayuan begitu masih saja merepotkan!]   “Itu karena kamu tidak becus menjaga Adjie, saat berburu, makanya dia hilang!” lanjut Raja murka.   Angkie menahan diri! Sejatinya, dia hendak berteriak sekerasnya, kenapa ayahnya begitu perhatian pada pangeran tak kompeten itu?   Adjie Pangestu itu kerjanya hanya bisa memasak, dan sedikit punya ilmu memijat, sungguh tidak kompeten sebagai pangeran. Dia, sebagai lelaki gagah, yang sehari-hari berlatih perang, jauh lebih baik.   “Ayahanda, maafkan ananda! Tapi ... Pangeran Adjie sendiri yang memisahkan diri dari pasukan berburu, sehingga dia tersesat dan disantap hewan hutan!” Angkie membela diri.   “Kalau begitu, mana buktinya? Bahkan sekedar jasadnya pun kau tak temukan!”   “Ayahanda, maafkan ananda, jikalau lancang. Saya sudah mengerahkan pasukan untuk mencarinya. Sungguhlah, tiada mungkin kamu membelah tiap-tiap perut harimau yang kami temui, sekedar memastikan apakah ada jasad Pangeran Putra Mahkota di sana!”   “Maka demikian, aku tak bisa mengangkatmu menjadi Raja,” Kata-kata Sri Jayanaga menggelegar.   “A, apa?” Angkie mendesis, untuk kemudian diam.   “Jika kau tak menemukan jasadnya, maka dia belum mati. Jika demikian, maka harus ditunggu, sampai hitungan lima puluh purnama, baru kunyatakan Pangeran Adjie bisa disebut benar-benar hilang,”   Angkie mengepalkan tangan. Berarti, dia harus menunggu lima puluh purnama, sebelum menjadi raja.   “Dan ... jika dia muncul di hadapanku, maka hal pertama yang aku tanya adalah: apakah kamu berbuat makar pada kerajaan, dengan berniat menghabisinya,” kata Raja Sri Jayanaga tajam.   “Hanya karena kamu pandai beladiri dan strategi perang, bukan berarti kamu bisa melenyapkan darah dagingku, bukan?” ketus Raja Sri Jayanaga.   Angkie benar-benar kecewa dengan Raja dari Nilamsuryo ini. Jika Adjie adalah anaknya, lantas dia siapa? Sekalipun dia anak dari selir, tetap mengalir darah yang terhormat itu pada dirinya.   “Tidak mungkin saya berbuat seperti itu, Ayahanda. Ayahanda juga sudah melakukan investigasi, dan menyidik semua orang yang terlibat dalam perburuan itu. Mereka semua mengatakan kalau saya tidak terlibat!” kata Angkie dengan kepala tertunduk.   Dia pandangi ayahnya ini. Ingin sekali dia sekalian mengkudeta raja yang lebih menyayangi Adjie ini. Namun, sepertinya belum saatnya.   Para pejabat kepercayaan Raja Sri Jayanga terlalu kuat. Akan sangat berbahaya baginya, jika berani mengkudeta. Bisa-bisa dia terbuang seumur hidup sebagai b***k pekerja, sebelum akhirnya dipenggal.   “Ayahanda, akan saya temukan Pangeran Adjie untuk Ayanhanda! Saya akan buktikan, bahwa saya benar-benar tidak terlibat!” kata Angkie bersungguh-sungguh.   [Mana mungkin! Jika aku temukan dia, maka akan aku jadikan ia santapan buaya, kusisakan sedikit pakaian dan bagian dirinya untuk Raja! Lelaki itu tak boleh berbicara kepadamu, wahai Raja d***u, bahwasanya aku yang terlibat dalam upaya menggulingkannya!]   “Baiklah, cari dia!” kata Sri Jayanaga.   “Ayahanda, Maaf. Bagaimana jika dia sudah meninggal?” Angkie berharap, dia tak perlu menemukan Adjie hidup-hidup, sehingga harus melempar lelaki itu pada buaya.   “Cari dia!” Tidak ada jawaban dari Raja, hanya perintah. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD