Alma pun mengambil alih, “serius kamu bertanya itu?” tanyanya.
“Ya, tentu saja.”
“Cih! Itu adalah--”
“Bukan kamu yang menjawab, tapi suamimu,” potong Mareta dengan memandang Alma puas.
Alma benar-benar mati kutu, dia ingin menampar pipi Mareta yang menggunakan perona kalau bisa. Sayangnya, dia tak bisa melakukannya karena saat ini mereka bersama Indro.
“Bagaimana Gam? Kamu tahu apa ini?” Mareta kembali bertanya sambil mengangkat ponsel miliknya.
Adjie bingung, dia tentu tak tahu benda apa yang sering dipakai manusia di zaman ini. Seharusnya mereka memberi tahu bukannya malah bertanya.
“Euhm … itu? Mungkin itu adalah buku berisi mantra, kalian selalu saja melihat itu dan memakainya. Sungguh, buku mantra merah muda itu cantik sekali,” jawabnya penuh ketulusan.
“Hahaha!”
Tawa menggelegar berasal dari Mareta dan Dennis begitu pecah, mereka puas dengan jawaban yang diberikan Adjie. Memandangi Alma penuh rasa menang.
“Lihat bukan? Apa namanya kalau tidak gila? Dia bahkan semakin tinggi khayalannya. Bisa-bisanya ini dibilang buku mantra. Jangan-jangan suamimu ini anak dukun?” ejek Mareta masih puas merasa menang dari Alma.
Indro juga terkejut mendengarnya, dia bahkan ikut terkekeh, merasa senang melihat bagaimana tingkah polos menantunya itu benar-benar menghiburnya karena berarti dia memang tak arus berbagi kekuasaan dan harta untuk saat ini. Katakan saja dia memang masih haus akan semua itu, namun dia tetap berpura-pura prihatin.
Alma masih diam, merasa marah dipermalukan seperti saat ini. Indro benar-benar berterima kasih karena Agam sakit, ah sepertinya memang takdir terlalu beruntung untuknya bukan?
“Ehem, jadi Alma, sepertinya memang itu yang terjadi pada Agam. Jangan kamu marahi dia hanya karena dia belum sehat sepenuhnya,” hibur Indro masih berusaha untuk tak tertawa di depan putrinya.
Alma benar-benar mati kutu. Tak bisa berkutik lagi karena memang Adjie agak gila pemikirannya.
“Kamu harus menyembuhkan dulu suamimu, mungkin dia … amnesia atau pura-pura tak waras saja, baru Papa akan memberikan cabang perusahaan produksi pakaian kita yang ada di Bandung atau mungkin memang Papa akan menjadikan Agam sebagai dewan direksu di perusahaan induk,” tutur Indro.
Mata Mareta dan Dennis sama-sama terbelalak mendengar pernyataan Indro. Orang gila itu akan diberikan perusahaan besar? Bahkan dia tak punya gelar apa-apa namun akan diberikan sebuah cabang perusahaan?
Alma menarik lurus bibirnya, merasa marah dengan penuturan Indro. Itu semua tak ada dalam kesepakatan sebelum dia menikah.
Wajahnya panas bukan main, sementara darahnya sudah mengalir, mengumpul di kepalanya membawa bara panas. Pemikirannya tentu tak terima, hatinya diliputi marah karena merasa dibohongi oleh ayahnya sendiri.
Alma bangkit.
Brak!!!
Dia menggebrak meja sekuat tenaga. “Apa Papa benar-benar akan melakukan itu?! Bahkan Papa sendiri sudah menjanjikannya sampai aku mau menikah?!” sentak Alma dengan napas memburu.
Adjie terperanjat, dia sampai memandangi Alma penuh rasa takut. Marahnya Alma belum pernah dia lihat sebelumnya.
Semuanya diam, mencoba untuk antisipasi atas respon yang Alma berikan. Sementara Mareta diam-diam menyeringai puas. Tentu saja dia harus menjatuhkan Alma, dia juga harus mendapatkan bagian dari perusahaan Indro.
“Alma tenanglah dulu, ini hanya sementara sampai kondisi suamimu membaik,” hibur Indro.
“Kau seharusnya sadar, tak bisa menagih itu saat ini! Kamu terlalu tamak, Alma!” sentak Mareta, dia tak mau kalau sampai Indro berubah pikiran karena kemarahan Alma.
“Kau?!” Tangan Alma terangkat, telunjuknya menuding Mareta penuh rasa marah. Seolah-olah hanya dengan satu jari saja Alma bisa membuat Mareta jatuh seketika.
“Apa?! Kau sendiri yang menyanggupinya bukan? Seharusnya kau cek dulu kondisi kejiwaan Agam saat menerima syarat untuk menikahinya! Kau terlalu bodoh!” cecar Mareta masih menyudutkan Alma.
Adjie bingung, kenapa sekarang keluarga ini malah berdebat panjang.
Dia ikut berdiri, menyentuh bahu Alma. Niatnya adalah membuat wanita itu tenang terlebih dulu.
“Alma, sebaiknya kamu tenang dulu,” ucapnya lembut.
Alma berbalik, membentak Adjie sekuat tenaganya. “Diam kamu! Ini semua gara-gara kamu!”
Alma benar-benar sudah marah besar dengan keadaan yang kini malah menyudutkannya. Dadanya sampai naik turun, merasakan ketidak adilan yang menyudutkannya sampai sejauh ini. Kondisinya ditekan habis-habisan di dalam keluarganya sendiri.
Dia berbalik, keluar dari ruangan Indro. Dia benar-benar muak.
Adjie berusaha mengejarnya, tak ada kata pamit lagi kepada orang-orang di sana. Dia panik kalau-kalau Alma berbuat yang tidak-tidak.
“Alma,” panggilnya.
Ketiga orang lainnya hanya diam, menyimpan sendiri respon puas di dalam hati mereka masing-masing karena Alma sudah pergi.
Setengah berlari, Adjie mengejar Alma yang mendadak bisa seribu langkah begitu.
“Alma, tunggu Alma,” sergah Adjie sambil menarik tangan Alma, berusaha menghentikan langkah kaki wanita itu.
Beruntungnya, lorong lantai dewan direksi selalu sepi. Setidaknya itu melindungi Alma dari kesaksian para karyawan.
Alma yang berbalik melihat Adjie pun merasa muak. Dia menyentak tangan Adjie sampai terlepas lantas berbalik, tak mau sama sekali menatap Adjie.
“Kenapa kamu marah, Al?” tanya Adjie kebingungan.
Sementara Alma yang masih marah besar tentu saja merasa begitu kesal. Dia benar-benar sadar, kalau Adjie memanglah manusia bodoh!
Adjie menghadang Alma, berdiri tepat di hadapan wnaita itu.
“Alma, sekarang apa lagi salahku?” tanya Adjie merasa frustrasi.
“Kau--kau! Kau benar-benar jahat kepadaku!” bentak Alma sampai matanya berkaca-kaca, dia tak kuat menahan rasa marah d hatinya.
Tangannya sudah memukuli d**a Adjie sekuat tenaga, sedikit terasa sakit, namun Adjie hanya diam. Membiarkan Alma terus memukulinya sampai puas. Tubuhnya bahkan ikut terdorong karena pukulan Alma.
“Kau jahat Sialaan!” Kembali Alma memaki, menyumpah serapah suaminya sendiri.
“Alma, mereka bertanya benda itu, tentu saja aku tidak tahu. Kamu tak pernah memberitahuku soal itu,” tutur Adjie berusaha mencoba menjelaskan secara rasional.
“Aku benar-benar tidak tahu benda apa yang dipegang oleh Mareta tadi,” sambung Adjie.
Ingin rasanya Alma memukul kepala Adjie jika bisa, nyatanya dia kepalang kesal dan marah. Yang ada kepalanya serasa hampir pecah, tangannya bahkan sampai bergetar, ingin melampiaskan semua rasa marah karena dia tak mendapatkan apa yang sudah diinginkannya.
Alma yang semakin dibuat eneg saat melihat wajah Adjie pun berbalik, menghindari mata pria itu.
Alma membentak Adji kembali, “kamu kenapa tidak cari di Gugel sih?! kalau tidak tahu itu apa!” bentaknya menggebu-gebu.
Adjie diam, Alma juga ikut diam meskipun masih terdengar napasnya yang terengah-engah. Udara di sana terasa begitu banyak, hampa seolah-olah hanya dia saja yang ada di sana.
Suasana hening, tak ada sahutan dan pembelaan sama sekali. Ke mana Adjie?
Dia yang kesal pada akhirnya berbalik, matanya menatap sekelilingnya. Seharusnya di depannya ada Adjie, ke mana pria itu?!
“Adjie! Ke mana kamu?!” sentak Alma berusaha mencari Adjie di area pandangannya. Namun … kosong!