“Sebentar, ayo makan siang dulu. Papa lapar,” ujar Indro saat sekretarisnya mengantarkan makanan pesanannya.
Sementara Alma tak habis pikir, ayahnya jago sekali mengalihkan topik pembicaraan.
Akhirnya yang terjadi adalah Alma dan Dennis bermain ponsel pintar miliknya. Sementara Adjie masih diam saja, bingung apa yang akan dia lakukan sekarang. Sungguh aneh manusia zaman ini, kenapa tak saling mengobrol?
Padahal bisa saja mereka membicarakan perkembangan kerajaan mereka bukan?
Adjie merasa sedikit mengantuk, karena dia memang benar-benar kehilangan banyak tenaga. Sampai tak sengaja dia menguap. “Hoaaamm!!!”
Rasanya sangat lega ketika mulutnya bahkan bisa terbuka lebar, namun matanya semakin berat saja sampai dia hampir tak bisa menahannya.
Indro yang melihatnya tertawa, melihat sang menantu yang begitu polos.
“Hahaha, sepertinya kamu memang bosan duduk dengan kami ya?” Ucapannya seolah sedang menyindir kedua anaknya.
“Ya, sedikit.” Bahkan Adjie terlalu jujur. Dia memang bosan duduk dan hanya melihat apa yang sedang orang-orang di sekelilingnya lakukan.
“Kamu butuh kopi sepertinya.” Indro kembali berucap, baru setelahnya melahap makanannya.
“Pa, apa Papa tidak bisa serius sekarang?” sentak Alma yang merasa tak tahan dengan kelakuan Indro.
“Alma, pesankan dia kopi. Bilang pada sekretaris papa,” perintah sang ayah.
Alma merotasikan manik matanya yang berlapis lensa abu. Kalau dibilang, Adjie bahkan tak percaya ada manusia memiliki manik mata berubah-ubah seperti Alma ini.
Masih dengan wajah sinisnya, namun pada akhirnya Alma menuruti Ayahnya. Meminta sekretaris ayahnya untuk menyiapkan minuman.
dia berjalan menuju meja ayahnya, menekan interkom untuk berbicara dengan sekretaris ayahnya. “Buatkan kopi untuk suami saya,” perintahnya dengan arogan.
Saat Indro baru saja mengelap mulutnya, Alma kembali menodong. “Jadi, apa yang akan Papa berikan pada Agam?”
Mendengar pernyataan Alma membuat Indro terkekeh, dia benar-benar sudah bisa menebak apa yang akan diucapkan oleh putrinya itu. Sementara matanya masih memandangi Adjie yang masih diam dengan pandangan yang tak paham.
Di luar dugaan, Indro malah berpanjang-panjang tali kelambu kalau bisa diartikan banyak basi-basi busuknya.
“Ehm, memang Papa berkata begitu ya?” tanyanya pada Alma.
Alma sendiri mengernyit bingung, dia sampai melipat dahinya, sungguh tak memahami kenapa Indro berlagak tak tahu.
“Papa tidak ikut-ikutan gila seperti Agam kan?” tebaknya.
Mendadak semua orang yang ada di sana diam. Sontak Indro tertawa menggelegar, “hahaha! Hahaha! Alma, kamu mau jadi pemain sirkus ya? Kok bisa-bisanya kamu melawak begitu, hahaha.”
Alma semakin kaget, Adjie pun melirik pada Indro dan Dennis melihat pada Indro bingung. Ayah mereka sedang kenapa?
“Pa, aku serius!” tegas Alma.
“Pa, yang benar bukan pemain sirkus, tapi pelawak,” koreksi Dennis setengah menggeleng, keheranan bukan main.
“Ah, ya, ya.”
Indro berdeham, guna meredam tawanya sendiri. Dia sudah melihat kedua anaknya dan juga menantunya benar-benar menatapnya serius.
“Ehem! Ya, Papa menjanjikan jabatan istimewa untuk Agam kok,” jawabnya diplomatis.
Dennis terkejut, dia sampai tersedak ludahnya sendiri. “Huk! Uhuk! Uhuk!” Rasanya seperti benar-benar sedang ditiupkan air di kerongkongan, jalur pernapasannya.
Alma sendiri, matanya membulat, menganga tak percaya. “Benar Pa? Betul?!” tanyanya bersemangat.
Indro mengangguk, tapi pandangannya kini tertuju pada Adjie yang diam, tak paham apa yang dimaksud ucapan manusia-manusia berbeda zaman itu.
“Memang Papa akan memberikannya pada Agam, kalau Agam menikah denganmu, Alma. Tapi ….” Mendadak semua membisu.
Alma yang gugup mendengar kelanjutannya, Dennis yang masih tak percaya kalau Ayahnya sendiri akan memberikannya pada adiknya dan juga Adjie masih gagal paham. “Tapi, dengan catatan Agam dalam kondisi sehat jasmani dan rohaninya.”
Alma seketika pucat pasi, darahnya tersirap pada satu titik. Dadanya bergemuruh dan kini dia memandangi Adjie. Dia ketakutan. Kalau-kalau keputusan Indro ini membuat Adjie menceraikannya secara instant.
Semua diam, masih tak ada satu kata pun yang menimpali ucapan Indro. Alma sendiri masih diam karena ketakutan itu, masa iya dia harus cerai di usia pernikahannya yang baru beberapa hari sihi?! mau digosipkan seperti apa lagi dirinya nanti.
Adjie masih tak paham, apa sih yang sebenarnya jadi pembicaraan di sini? Jabatan istimewa bagaimana? Apa dia akan menjadi raja selanjutnya? Atau menjadi putra mahkota dadakan? Atau menjadi penasihat kerajaan?
Adjie masih bengong sendiri, menatap bingung ketiga orang yang matanya tertuju kepadanya. Sungguh dia ak mengerti pembicaraan keluarga aneh ini.
“Apa itu … Papa menganggap Agam gila?” katanya masih memandang sinis sang ayah.
Indro menggeleng, lantas menatap Dennis. “Bukan kata Papa, tapi Kakakmu yang bilang begitu.”
Alma menatap Dennis saat itu juga. Dia seolah siap mencabik-cabik Dennis saat itu juga.
Lantas dia berjalan mendekati Dennis yang masih berusaha tenang meskipun dia tahu kalau adiknya ini bisa berkelakuan kejam tanpa pandang bulu.
“Coba, katakan lagi apa yang kamu bilang, Kak?” tanyanya.
Adjie masih duduk diam, menikmati seduhan kopi dari sekretaris ayah mertuanya itu. Hanya dia seorang yang tak tegang uratnya, malah asyik dengan minuman pekat berwarna hitam itu. Menikmati rasa pahit manisnya.
“Ya, dia kan gila. Kamu harusnya tahu itu bukan? Masa iya kamu sebagai istrinya tidak sadar sih? Tingkah dia soal aquarium, saat nikah dan juga sekarang? Itu indikasi menunjukkan dia tidak wa-ras.” Dennis masih duduk dengan santainya.
Alma semakin maju, dia benar-benar berang dengan segala pemikiran kakaknya. “Aku baru sadar, barangkali yang dimaksud tak waras itu seharusnya kamu,” desisnya, matanya memicing membangun permusuhan antar saudara.
Kali ini Dennis yang mulai nampak urat-urat di wajahnya. Dia benar-benar sangat kentara siap dijatuhkan. Dennis lantas berdiri, kali ini dia melebihi tingginya Alma yang memakai heels.
“Kamu sedang menuduhku kalau aku gila, Alma?” desis Dennis.
Alma masih diam. Diam-diam memupuk rasa marahnya kepada Dennis.
“Benar bukan? Kamu memang wanita keren, Alma. Bisa buat Agam jadi gila sekejap mata. Kamu pakai susuk tipe apa?” ejeknya.
“Kau?! Dia tidak gila! Kamu hanya mengarang, tak terima kalau Papa memberikan sebagian perusahaan padaku,” balasnya arogan.
“Oiya? Kamu mau buktinya? Agam tiba-tiba minta dipanggil Adjie, mengaku kalau itu bukan Agam? Apa namanya kalau bukan gila?”
Mendengar pernyataan Dennis, Adjie merespon. “Aku memang bukan Agam, sudah aku sering bilang kalau aku ini Adjie kok.”
Di pertengahan percekcokan kakak dan adik itu, semakin bertambah panas saat Mareta datang.
“Kau tidak bisa bilang dia gila, Kak!” jerit Alma merasa lelah dengan kelakuan kakaknya sendiri.
Mareta yang tadi sempat kalah dengan Alma, kini ikut menyalakan kompor untuk menambah panas konflik kakak beradik itu.
“Kurasa memang Agam gila,” ucapnya.
“Kenapa kamu ikut menuduh hah?” Alma semakin tak terima.
“Tidak menuduh. Biar kuperlihatkan.”
Mareta mengeluarkan ponselnya, dia menghampiri Adjie dan bertanya, “kamu tahu ini benda apa?”