Adjie yang sudah merasa stabil pun mulai melepaskan pelukannya. Terduduk dan memeriksa keadaan Mareta. “Kamu tidak apa-apa?” tanyanya masih dengan meneliti tiap inci tubuh Mareta.
Mata Mareta sudah berair, dia merasa ketakutan sampai tubuhnya masih bergetar hebat. Di dalam pikirannya, dia hampir saja bertemu malaikat maut karena dia melihat jelas steger itu siap menimpa tubuhnya.
“Apa ada yang sakit?” tanya Adjie kembali.
Di sisi semakin banyak orang yang berkerumun dan memastikan keduanya selamat.
Mareta menggeleng, masih dengan perasaan terkejutnya, dia bahkan tak bisa bergerak barang sedikit saja. Yang ada di pikirannya saat ini adalah rasa takut. Dia lupa akan tujuannya berada di sini dan malah berada tepat di dalam pelukan seorang Agam, adik iparnya.
“Ayo bangun.” Adjie mengulurkan tangannya, membantu Mareta bangun.
Mareta mulai sadar dengan keadaannya. Dia yang merasa canggung pun memilih menutupinya. Dia bahkan masih keheranan, bagaimana dan dari mana Adjie datang? Kenapa pria itu bisa tiba-tiba menyelamatkannya? Apakah memang pria itu memiliki keahlian yang tak dimiliki orang lain?
Semuanya menjadi pertanyaan untuknya, sebelum pada akhirnya dia mendorong Adjie untuk menjauh.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya seseorang yang berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Dia sudah pucat pasi mendengar ada kejadian tak menyenangkan di area tanggung jawabnya. Ya, pria itu manajer sarana prasarana yang memang sedang melakukan renovasi.
“Ibu Mareta tidak apa-apa?” tanyanya dengan was-was. Bahkan dia juga terkejut dengan kehadiran menantu Presiden Direktur yang menjabat di perusahaannya.
‘Mampuslah aku! Bisa dipecat dan dipenjara kalau begini,’ resah batinnya. Jelas-jelas dia merasa gelisah dan was-was kalau sampai terjadi apa-apa dengan dua orang penting.
Mareta yang kesal langsung menyemprot pria yang memiliki rambut hitam bercampur uban itu. “Kau?! Siapa yang bertanggung jawab di sini? Saya hampir kehilangan nyawa saya tahu!” semburnya dengan emosi meledak-ledak.
Perempuan dengan pakaian mahal bermerk Gucci itu sudah berkacak pinggang, matanya yang mengenakan eyeliner hitam dan eyeshadow gelap menambah kesan seram saat melotot. Bibirnya berkedut mengerut dan hidungnya kembang kempis membuat si manajer semakin ciut. Tangannya sudah menangkup di perut dan menunduk berusaha untuk meminta maaf.
Adjie yang merasa kasihan karena pria itu dimarahi Mareta pun segera melerai. “Sudahlah, memang ini musibah, kamu tak bisa memarahinya begitu,” selanya.
Mareta menoleh, menatap kesal pada Adjie. Dia gugup namun akhirnya menuduh Adjie juga.
Dia mendorong d**a Adjie menjauh, “jauh-jauh dariku! Kau?! Kau pasti sedang modus kan? Kamu ingin pegang-pegang saya kan?!” tuduhnya.
Adjie merasa semakin aneh, kenapa juga dirinya dibilang ingin menyentuh wanita itu? Bahkan menyentuh Alma saja dia tak berani, apa lagi manusia jelmaan macan yang berdiri di depannya ini? Bisa kena cakar.
“Lho? Saya hanya berminat menolong kamu. Kalau tadi tidak segera kutolong, kamu pasti celaka di sana.” Adjie merasa tak terima dengan tuduhan itu.
Adjie merasa kesal, dia yang harusnya mendapatkan terima kasih karena sudah menolong kok malah jadi kena semburan lahar tuduhan begitu. Adjie heran dengan sikap manusia di era ini.
“Halah! Jangan banyak alasan!”
Alma berusaha bergegas turun, dia berdiri jauh dari Adjie dan Mareta, namun bisa mendengar jela bagaimana Mareta menuduh pria yang berstatus menjadi suaminya itu.
“Dasar kamu laki-laki kegatelan! Bisa-bisanya grepe-grepe di tempat umum!” Masih saja Mareta menuduh Adjie tanpa bukti.
Para karyawan pun segera menyingkir, merasa kalau mereka juga nantinya malah kena amukan si siluman macan. Bahkan mereka sudah berbisik-bisik dengan jelas dan bisa didengarkan oleh Alma.
Alma sendiri merasa kesal dengan Mareta yang marah-marah. Sepertinya urat malu yang dimiliki olehnya sudah putus dan tercecer.
Mareta yang melihat Alma pun, segera menyeret Adjie. “Kau ikut aku! Kamu juga!” Mareta beralih melirik Alma.
Alma sampai harus ikut menyusul. Dia tak mau ada keributan karena ini.
Dia yang sudah kepalang malu dengan tingkah Adjie tanpa ada keributan saja sudah mati-matian menahan rasa kesal dan emosi. Sekarang dia juga terseret masalah karena Adjie.
Adjie sendiri masih bingung, dia benar-benar mempertanyakan kenapa Mareta masih saja sewot padanya.
Tanpa ada ampun, Mareta menyeret Adjie sampai ke dalam lift. Alma juga ikut masuk, dia juga ingin sekali membalas ucapan Mareta yang terdengar merendahkan dirinya itu.
Mareta mendorong Adjie di depan Alma, dengan sinisnya dia berkata, “Kau? Kalau kau punya suami, urusi suamimu ini! Bisa-bisanya menggodaku!” sentaknya.
Alma mencoba menjaga keseimbangan tubuhnya. Adjie pun berdiri di depan Mareta. “Hei, saya tak menggodamu, Kakak Ipar! Saya hanya mencoba menolongmu!” kilahnya, merasa tuduhan Mareta benar-benar tak berdasar.
“Oh, kamu hanya modus saja! Berpura-pura menolong padahal tangannya gerayangan! Dasar kucing garong! Mana ada maling mau ngaku!” ketus Mareta masih berapi-api ingin merendahkan Adjie.
“Saya tidak seperti itu!” Adjie masih juga menyangkal, dia benar-benar tak mau dituduh melakukan hal tercela. Di kerajaan saja dia tak pernah berkata kasar, apa lagi sampai tangannya gatel seperti itu. Sungguh tak mungkin dan tak ada adab baginya.
Mareta menatap tajam Alma, dia kembali berucap, “Oh ya? Apa kau kurang servis dari istrimu ini? Padahal kalian ini baru saja menikah, kau kurang belaian sampai-sampai mencari-cari kesempatan?” Dia menyindir Alma.
Alma ikut merasa gondok dengan pernyataan Mareta. Apa-apaan itu?
“Wanita difabel sepertimu bisa-bisa mencari pria b******k dan dijadikan suami sih?!”
Entah apa niat Mareta sampai-sampai menghina Alma dan juga Adjie secara bersamaan. Adjie bersiap menyangkal tuduhan itu, mulutnya sudah terbuka namun sudah keduluan dengan Alma yang menyangkal ucapan Mareta.
“Apa? Suami b******k? Kau ini buta ya? Padahal tiap bulan kau perawatan mata?” Amarah Alma mulai terpicu.
“Apa hubungannya dengan tingkah tidak sopan suami tukang ikanmu ini, hah!”
“Jangan sebut dia tidak sopan! Jelas-jelas Agam menolongmu dari bahaya, tapi kau menuduhnya ingin modus padamu? Aku sudah menyaksikannya dari tadi.”
“Kau ... berani membantahku?” Mareta tak percaya!
“Ini bukan soal bantah membantah! Apa minus mu bertambah? Perlu kubelikan kacamata untuk mu?” desis Alma, melemparkan jawaban telak.
Di luar dugaan, Alma membela Adjie. Menentang semua ucapan omong kosong Mareta padanya.
“Aku tak pernah menemukan pria sebaik Agam. Hatinya polos, tak seperti hatimu yang hitam penuh kebusukan. Sampai-sampai orang berniat menolong malah dituduh seperti menjadi penjahat yang tak dimaafkan.”
Mareta mematung, dia kehilangan kata-kata saat Alma membalas hinaannya. Tatapan tajam Alma yang tak kenal takut membuat otaknya mendadak konslet.
Adjie sendiri terperangah mendengarnya, apa dia tak salah dengar? Alma sedang membelanya.
“Seharusnya kau biarkan saja Mareta tertimpa, biar otaknya sedikit benar.” Alma masih saja tak mengalihkan pandangannya.
“Hei, Pincang!” Mareta menghentakkan stilletonya.
“Hei juga, nenek sihir! Bisa-bisanya menuduh suamiku melakukan hal tercela. Jika dia seperti itu, untuk apa aku menikahinya? Atau jangan-jangan … ada sesuatu yang kau tutup-tutupi ya?” Alma masih saja mencecar Mareta tanpa ampun. Dia tak membiarkan orang lain berani merendahkan dirinya.