Terbang Bagai Kelalawar

1109 Words
   “Alma, Pantry itu ....”   “Hissssh!”   Alma meliuk-liukkan telunjuk kanannya bak ular, isyarat agar Adjie diam. Sorot matanya bagai ular weling yang tenang, namun siap mematuk Adjie dengan bisanya yang beracun.   “Aku kan hanya tanya, kalau ....”   “Hisssh! Sudah cukup! Demi Tuhan, sabar Alma, sabaarrr!” Alma menghibur dirinya sendiri. Rasa-rasanya, dia kalut setengah mati.   Baru saja dia darah tinggi, gegara lelaki ini mengatakan ikan-ikan mas koki di akuarium besar Indro hidup di kolam beracun, kini Adjie hendak bertanya pantry!   “Kau ingin bertanya tentang pantry itu apa, iya betul?” tanya Alma dengan bersungut-sungut.   “Iya, Dinda, Pan ....”   “Aku tak akan menjawab. Kamu tunggu di sini, aku tidak mau mendengar ocehan kamu lagi. Paham!”   Adjie berdehem. Sorot matanya tajam. Alma, sekalipun dari kaum bangsawan berdarah super biru sekalipun, dia rasa tak pantas membentak-bentaknya.   Dia ini pangeran kerajaan Nilamsuryo. Di tempatnya, semua orang tunduk padanya. Jika dia bingung, ada belasan dayang yang bisa ia tanya. Penasihat kerajaan pun senantiasa mengajarinya dengan welas asih.   Tapi, ini ... Alma, baru dua hari menikah sudah berani membentaknya. Bukan sekali, tapi selama dua hari ini dia terus-terusan dibentak, tanpa ia tahu salahnya apa? TERLALU!   “Kamu tidak usah melihatku dengan pandangan melotot seperti itu! Sumpah demi apa, aku akan balas melotot juga!” Alma geram.   “Kamu istriku!”   “Damn! Yeah, kamu suamiku! Apa? Kamu mau bilang seharusnya aku menghormatimu, hah! Ya! Sekalipun pernikahan pura-pura, aku akan menghormatimu, jika kamu berhenti amnesia!”   “Dinda, jaga lisanmu! Pernikahan tidak pantas disebut sebagai pura-pura. Pantang bagi pangeran untuk menikah seperti itu.”   “Diaaaam!” Alma gusar bukan kepalang. Rambut-rambutnya sampai tanpa sadar teracak bak baru bangun tidur.   “Tunggu di sini! Tidak usah banyak cingcong lagi!”   Alma segera berbalik, dengan kaki pincangnya dia bergegas keluar dari ruangan itu. Lalu, menuju ke pantry. Ya, dia butuh air dingin, untuk menyejukkan otak yang panas oleh kelakuan suaminya.   Dan Adjie kali terpatung. Dia kebingungan, kenapa Alma terus-terusan senewen.   “Apa karena semalam tidak kukasih jatah, ya? Lha, kan dia sendiri yang menolak jatah dariku. Kenapa sekarang malah uring-uringan?” monolog Adjie.   Dia sendiri kali ini menurut. Diam menunggu di ruangan yang hanya ada dia seorang.   Alma masih memijat keningnya yang pusing tujuh keliling usai menghadapi Adjie. Adjie memang pria unik sampai-sampai berhasil menjatuhkan harga diri dan wibawanya di depan kakaknya yang senang mengejeknya itu.   Dia tahu, Dennis pasti tidak merekam kelakuan Adjie. Dan pria kebanyakan gaya itu, sudah pasti juga mengirim rekaman itu kepada Mareta.   Dia berjalan menuju dapur. Segera mencari air dingin dan menuangkannya ke dalam gelas dan menenggaknya sampai habis.    Rasa dingin mengalir di tenggorokannya sampai ke perutnya. Dingin yang mampu membuat jantungnya terhempas hebat dan amarahnya sedikit reda.   Alma segera keluar dari dapur, dan kembali menemui Adjie. Dia sudah masuk ke dalam ruangan dan melihat Adjie duduk sambil menatap jendela yang ke arah bawah.   Alma ikut berdiri di samping Adjie, menikmati pemandangan kegiatan di kantor Ayahnya. Namun, dari lantai tiga itu, dia bisa melihat sebagian lobby lantai dasar, yang sedang direnovasi.   Dia melirik Adjie. Lelaki ini, jika kalem, cukup membuatnya nyaman.   Wajah Adjie yang adem, dengan bola mata mengerjap-ngerjap polos berhasil memetakan sunggingan senyum pada Alma. Dia taruh air dingin di meja, tepat menghadap Adjie, seraya pura-pura memandangi lobby lantai dasar.   Adjie tahu, itu air dingin. Dari gelas kaca bening, yang tiba-tiba buram, karena embun air yang menggiurkan. Kemarin, dia sempat mencicipinya dari kulkas, dan melonjak keheranan. Air ini begitu dingin.   “A, apa ini buatku, Dinda?” tanya Adjie lembut.   Duh, jantung Alma rasanya cenat cenut. Ditanya begitu, dia hendak membalas dengan ujaran manis.   Namun, Alma khawatir jika Adjie nanti besar kepala, lalu bertanya macam-macam hal aneh setelahnya. Jadi, dia memilih pura-pura tidak mendengar.   Adjie menahan diri. Pikiran Alma tidak meleset.   Sejatinya, lelaki ini menanyakan apa nama dari ‘steger’? apa topi (helm) yang dipakai oleh pekerja di lobby? Termasuk mencari tahu display tulisan tentang budaya kerja yang terpampang di sebuah sisi dinding loby. Kenapa tulisan itu bisa berlari-lari?   “Punyaku, ya, Dik?” Adjie kembali bertanya, makin lunak, makin lembut. Dan Alma tetap tegar untuk tidak merespon.   Adjie pun berusaha maklum. Dia tahu, istri cantiknya ini sedang marah. Jadi, dia mengambil sendiri air minum itu, tanpa menunggu pernyataan Alma bahwa itu adalah miliknya.   Glek, gleeek!   Adjie meminumnya dengan rakus. Namun, bunyi glek yang ditimbulkan olehnya terdengar sangat seksi. Memaksa Alma untuk meliriknya.   ‘Tidak usah begitu juga kali minumnya! Kamu mau menggoda aku?’ Batin Alma senewen.   Dan seorang perempuan dengan blazer mahal terlihat memasuki lobby. Perempuan cantik, perawatan, dan ber-make up tebal dengan stiletto merah yang cetar.   Matanya terus mengikuti sosok wanita yang masuk ke dalam gedung, melangkah dengan congkaknya. Ah, Mareta.   Dia terus mengikuti ke mana Mareta melangkah. Naasnya, dia juga melihat seorang pekerja terpeleset dari atas steger. Steger siap oleng menimpa Mareta.   Entah dari mana Adjie bisa secepat itu membuka pintu sampai melompat dari border lantai tiga, yang jelas Alma melihatnya tapi tak bisa mencerna pergerakan Adjie yang secepat kilat.   Adjie menahan napasnya, segera menggunakan tenaga dalamnya untuk meringankan tubuhnya, melesat cepat untuk menyelamatkan Mareta.   Wusss!!!   Bak elang yang mengepakkan sayapnya, Adjie mlompat dengan ringannya. Membuat semua orang memandang ke arahnya, ternganga dan terbelalak. Terutama Alma yang menjerit terkejut.   “Agam!!! Awaasss!” teriaknya dan berdiri menempel di pagar pembatas.   Sratt! Brug!   Adjie meraih tubuh Mareta, mereka berguling di lantai demi menghindari benda yang siap menimpa tubuh wanita itu.   Tubuh bergetar Mareta masih berada di dalam kungkungan Adjie. Pria itu masih melingkarkan tangannya guna melindungi tubuh Mareta.   BRAK!   Suara steger yang menubruk lantai benar-benar terdengar kencang dan nyaring. Mareta dan Adjie sama-sama menutup matanya, merasa tubuh mereka spontan bereaksi saat berada dalma bahaya.   Alma bahkan terbelalak melihatnya. Otaknya masih loading, memproses apa yang sedang terjadi sebenarnya.   Dimulai dengan Adjie yang mendadak menghilang dari pandangannya, melompat dan terbang seperti si tupai terbang, dan meraih Mareta serta merta memeluknya sampai mereka terjatuh bersama-sama di lantai.   Tidak mungkin itu dilakukan oleh manusia biasa, sepertinya. Apa benar Agam ini lelaki masa lalu, seperti dalam film-film silat kolosal yang ia lihat? Yang bisa terbang seenak jidat, seraya tangannya mengeluarkan sinar yang menerpa musuh mereka.   Begitu juga orang-orang yang ikut melihatnya, beberapa mulai membentuk kerumunan melingkar, melihat kondisi Adjie dan juga Mareta. Para pekerja pun ikut bengong, menyaksikan aksi manusia yang mendadak menjadi superman dan menjadi pahlawan di sana.   “Apa tadi lakinya Bu Alma ini terbang, macam supermen?” bisik seorang pekerja pada temannya.   “Tidak tahu, juga! Kejadiannya begitu cepat. Tadi kulihat, dia masih ada di lantai tiga, menatap kita dari jendela. Jangan-jangan, dia bukan supermen, tapi spaidermen!”   “Coba periksa, apa di ujung telapak tangannya ada benang laba-laba!”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD