BAB 8: TITIK TERANG

1365 Words
“Shawn!” seru Albert. “Albert Hartanto?!” hampir saja Shawn menjeritkan nama pria itu karena terlalu terkejut. Tentu saja itu karena dia tidak pernah berpikir akan menemukan pria itu di dalam ruang kerja Bosnya. “Dimana Jacq?” tanya Albert. “Bapak mencari Jacq?” tanya Shawn waspada sambil melirik pada Garry. Dia pikir Albert berhasil menemukan jejak Jacq dan datang kesini mencarinya. Mampus! “Ya, dimana dia?” tanya Albert lagi sambil celingukan, berharap menemukan Jacq masuk ke ruangan Garry juga. Padahal belum tentu Jacq bekerja di kantor ini juga. “Untuk apa Bapak mencari Jacq?” tanya Shawn. “Ada yang ingin kubicarakan dengannya. Apa dia ada diluar?” tanya Albert yang langsung keluar dan melihat ke sekeliling, mencari keberadaan Jacq. Disaat dia melakukan hal itu, Shawn menoleh pada Garry dengan tatapan bertanya dan Garry menggeleng, karenanya Shawn bisa bernafas lega. Dia melirik pria yang akhirnya masuk lagi ke dalam ruangan, yang dia bisa perkirakan kenapa mencari Jacq. Pesona Jacq sangat sulit dilewatkan pria manapun, kecuali dirinya yang sudah menganggap wanita itu sebagai adiknya sendiri. Di kantor ini saja Jacq menjadi primadona walaupun tubuhnya penuh tato, bicaranya kasar dan blak-blakan. Kecantikan, tubuh seksi, dan sikap cuek wanita yang selalu menggunakan tank top dan jeans belel itu, seakan menghipnotis para pria dengan pesonanya itu. Itu hanya para pria yang melihat dan sedikit berinteraksi dengan Jacq yang memang suka malas ngantor, loh, apalagi Albert Hartanto yang pernah memiliki Jacq walau hanya semalam, bahkan mendapatkan kehormatan untuk menjadi yang pertama memiliki Jacq? Jadi dia tidak heran kalau pria itu akan mencari Jacq. “Dimana Jacq?” ulang Albert yang tidak berhasil menemukan Jacq di depan, pada Shawn yang menatap Albert dengan waswas. Pasti pria ini sudah mencari Jacq kemana-mana! “Bapak mencari Jacq?” tanya Shawn waspada sambil melirik pada Garry. Dia pikir Albert berhasil menemukan jejak Jacq dan datang kesini mencarinya. Mampus! “Ya, dimana dia?” tanya Albert lagi sambil celingukan, berharap Jacq masuk ke ruangan Garry juga. Padahal belum tentu Jacq bekerja di kantor ini juga. “Untuk apa Bapak mencari Jacq?” tanya Shawn. “Ada yang ingin kubicarakan dengannya. Apa dia ada diluar?” tanya Albert yang langsung keluar dan melihat ke sekeliling, mencari keberadaan Jacq. Disaat dia melakukan hal itu, Shawn menoleh pada Garry dengan tatapan bertanya dan Garry menggeleng, karenanya Shawn bisa bernafas lega. Dia melirik pria yang akhirnya masuk lagi ke dalam ruangan, yang dia bisa perkirakan kenapa mencari Jacq. Pesona Jacq sangat sulit dilewatkan pria manapun, kecuali dirinya yang sudah menganggap wanita itu sebagai adiknya sendiri. Di kantor ini saja Jacq menjadi primadona walaupun tubuhnya penuh tato, bicaranya kasar dan blak-blakan. Kecantikan, tubuh seksi, dan sikap cuek wanita yang selalu menggunakan tank top dan jeans belel itu, seakan menghipnotis para pria dengan pesonanya itu. Itu hanya para pria yang melihat dan sedikit berinteraksi dengan Jacq yang memang suka malas ngantor, loh, apalagi Albert Hartanto yang pernah memiliki Jacq walau hanya semalam, bahkan mendapatkan kehormatan untuk menjadi yang pertama memiliki Jacq? Jadi dia tidak heran kalau pria itu akan mencari Jacq. “Dimana Jacq?” tanya Albert yang tidak berhasil menemukan Jacq di depan, jadi dia kembali pada Shawn. “Aku tidak tahu,” jawab Shawn. “Kau pasti tahu dimana Jacq!” tuntut Albert kesal. Orang yang berada disisi Jacq saat wanita itu menjalankan rencana licik diluar nurul wanita itu, pasti tahu dimana wanita itu. “Walau tahu, aku tidak bisa memberitahu Anda jika Jacq tidak ingin bertemu dengan Anda,” jawab Shawn sopan. Dia menemukan pria ini di ruangan Bosnya dan dia tahu pria di depannya ini berkuasa, lagipula dia juga sebelumnya tidak memiliki masalah dengan pria ini, jadi dia akan bersikap sopan sebisanya. “Jangan memaksanya, Albert, dia tidak akan mengatakan Jacq ada dimana. Kau tahu siapa yang bisa kau cari untuk bisa bertemu dengan Jacq,” kata Garry menengahi, namun membuat Shawn semakin waswas. “Haruskah dia?” tanya Albert yang menoleh kembali pada Garry dengan wajah tidak rela. Tepatnya, tidak rela ditimpuk masalah lagi oleh Morin. “Hanya dia yang bisa,” kekeh Garry. “Aku akan menimbang kerugiannya dulu. Aku kembali dulu saja,” pamit Albert lesu. “Aku pasti akan bisa menemukannya!” kata Albert kesal sambil berjalan melewati Shawn yang sudah deg-degan karena percakapan Albert dengan Bosnya barusan. “B-Bos?” panggil Shawn pada Garry yang tersenyum miring setelah Albert keluar dari ruangan itu. Sejak Albert mengatakan kalau adik iparnya itu mengkhawatirkan Jacq, dia sudah menduga kalau Albert tertarik pada Jacq, ditambah antusiasnya Albert saat melihat Shawn, dia yakin akan dugaannya yang sebelumnya. “Tutup pintunya!” kata Garry yang tahu kalau Shawn mau membahas tentang Jacq dan Albert. “Tenanglah, Albert tidak akan menyakiti Jacq,” kata Garry setelah Shawn menutup pintu. “Bukan itu masalahnya. Jacq sudah tidak ingin bertemu dengan Pak Albert lagi. Tolong Anda tidak memberitahunya dimana kami tinggal,” kata Shawn. “Bukan aku yang berhak memberitahunya informasi tentang Jacq,” kata Garry dan Shawn semakin waswas. Dari perkataan Bosnya, sepertinya Albert Hartanto mengenal Morin Hartadi. “Tapi tadi Anda mengatakan pada Pak Albert kalau ada yang bisa memberitahunya keberadaan Jacq,” pancing Shawn. “Ya. Dia mengenal orang yang bisa membawanya pada Jacq. Itu kalau dia berani mengambil resikonya.” kekeh Garry yang yakin kalau Morin dan Sissy pasti akan ikut campur jika kedua wanita itu sampai tahu. Jika Albert benar-benar mencari Morin, berarti adik iparnya itu serius pada Jacq. Jacq ini wanita yang menarik dan istrinya yang menggemaskan itu pasti juga akan menyukainya. “Albert adalah pria yang baik. Dia pasti akan menjaga Jacq dengan baik,” kata Garry memberi tahu Shawn agar pria itu tidak khawatir. Walau Shawn tidak mengatakan apapun, tapi terlihat kepanikan di wajahnya. “Saya tahu kalau Pak Albert adalah orang yang memiliki perilaku dan kepribadian baik. Tapi bagi Jacq, pria itu terlalu lemah untuknya,” kata Shawn memberitahu. Dia sudah melihat cara Albert memperlakukan Jacq kemarin. Pria itu bisa mengatur emosinya dengan baik. Pria itu tetap memperlakukan Jacq dengan baik setelah tahu Jacq memanipulasinya. Benar-benar pria baik yang sangat jarang bisa ditemukan, tapi pria itu bukan tipe Jacq. “Albert bukan orang yang lemah, setidaknya dia memiliki level yang sama dengan kalian di bidang beladiri. Dia juga pintar mengelola perusahaan, dia tidak suka main wanita, tidak minum, tidak judi, tidak merokok. Apa lagi yang dicari wanita?” tanya Garry. “Tapi dia mudah dibohongi,” kata Shawn memberitahu. “Pertemuan mereka adalah saat Jacq menyelamatkan Pak Albert dari jebakan pernikahan.” lanjut Shawn saat dia melihat ekspresi bertanya di wajah bosnya. “Jadi, Jacq menggagalkan misi seorang wanita untuk menjebak Albert menikahinya?” tanya Garry yang langsung tertawa. Menurutnya, Jacq menyelamatkan wanita bodoh itu. Jika sampai wanita itu berhasil menjebak Albert dan memaksa Albert menikahinya, hidup wanita itu pasti akan berada di neraka yang diciptakan oleh Morin dan Sissy. Mereka boleh menjebak orang, tapi orang lain tidak boleh menjebak mereka dan orang-orang tersayang mereka, kecuali memang yang dijebak tidak keberatan. Itu adalah hukum pasti yang dianut oleh Morin dan istrinya. “Ya, dan sepertinya, Pak Albert malah tertarik pada Jacq, tapi Jacq sudah bilang kalau dia tidak mau bertemu dengan Pak Albert lagi,” jawab Shawn yang tidak mengerti mengapa Garry tertawa. “A-anu, itu, apa Pak Albert itu teman Pak Garry?” tanya Shawn mencari informasi. “Dia adik iparku,” jawab Garry yang membuat wajah Shawn langsung pias dan Garry kembali tertawa. Shawn sungguh kebingungan. Jacq mengagumi bos mereka ini, wanita itu sering memuji Garry. Ganteng pol, otak encer, lihai, bisa menggunakan berbagai senjata, dan selalu bisa menemukan solusi dari tiap masalah. Dia tidak jelas tingkat kekaguman Jacq sudah masuk ke kategori cinta atau belum pada bos mereka ini. Dan sekarang, Pak Albert adalah adik ipar si Bos! *** Saat shawn sampai apartemen, Jacq sedang memasak makan malam. “Kau tidak bilang akan datang? Mau ikut makan?” tanya Jacq. “Tidak. Aku ada janji makan malam dengan Chelly. Ada yang harus kuberitahu padamu,” kata Shawn sambil menghempaskan bokongnya di kursi makan. “Hm,” Jacq hanya bergumam sambil mencicipi masakannya. “Albert Hartanto tadi datang ke kantor,” kata Shawn dan Jacq menyemburkan makanan yang baru saja sampai di lidahnya itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD