“s**t!” maki Jacq.
“Jorok!” tuduh Shawn ilfeel melihat masakan di kuali yang sekarang tercampur dengan liur Jacq.
“Apa yang dia lakukan di kantor?” tanya Jacq panik sambil mematikan kompor dan langsung duduk di depan Shawn.
“Tentu saja dia mencarimu. Apa lagi? Apa kau tahu kalau dia adik ipar Pak Garry?” tanya Shawn dan wajah Jacq langsung pias.
“Bagaimana mungkin kau melewatkan hal sepenting ini saat mencari tahu tentang Albert Hartanto?” tanya Shawn sambil menggelengkan kepala. Dari reaksi Jacq, jelas wanita itu tidak tahu hal ini sama sekali.
“Aku, kan, hanya mencari tahu tentang dia seorang, tidak ada urusan dengan semua anggota keluarganya. Aku hanya tahu tentang keluarga intinya, kedua orang tua dan kedua kakak perempuannya. Mana aku cari tahu siapa suami-suami kakaknya itu. Aku kan bukan sedang mencari suami, hingga harus mencari tahu bibit bebet bobotnya!” Jacq membela diri. Karena fokusnya saat itu hanyalah Karen dan Albert, dia tidak peduli pada keluarga pria itu.
“Lagian, untuk apa sih, dia mencariku!” seru Jacq kesal.
“Kau pikir dia akan melepaskanmu begitu saja?” cemooh Shawn.
“Lah, kemaren dia gak ngehalangin kita pergi, kenapa dendamnya malah setelahnya!” oceh Jacq.
“Dendam?” Shawn mengerutkan alis karena bingung.
“Saat itu saja dia bersikap baik dan perhatian, eh ujung-ujungnya masih marah juga. Dasar plin plan!” Jacq masih terus mengeluarkan unek-uneknya.
“Kau pikir dia mencarimu karena dia marah padamu?” tanya Shawn yang langsung tertawa saat mendengarkan ocehan konyol Jacq.
“Memang apa lagi? Pasti dia masih marah karena merasa dibodohi. Cuma saja berasa gak relanya telat,” masih saja Jacq merepet karena merasa sangat kesal.
“Kau tidak berpikir kalau dia mencarimu karena hal lain?” tanya Shawn penasaran. Sebelumnya dia tahu kalau Jacq ini bukan orang yang peka, tapi ternyata dia salah, Jacq itu sama sekali tidak peka. Padahal, dia sendiri bisa merasakan sesuatu dari pandangan Albert pada Jacq, sebelum mereka berpisah lebih dari seminggu yang lalu.
“Kalau bukan untuk balas dendam, untuk apa lagi?” tanya Jacq yang merasa Shawn sepertinya mengetahui sesuatu.
“Di kepalamu itu hanya ada balas dendam. Kurasa dia datang mencarimu karena suka padamu,” ledek Shawn dan reaksi Jacq, dia melihat Shawn seakan ada tanduk keluar dari kepala sahabatnya itu.
“Kau terlalu banyak menemani Chelly nonton drama murahan,” cemooh Jacq menertawakan analisis Shawn.
“Kita lihat saja nanti,” kata Shawn sambil menggelengkan kepalanya. Dia sudah memberitahu Jacq, jika wanita itu mengabaikannya, ya sudah.
Lagipula, seperti perkata si Bos dan juga hasil penyelidikan Jacq sendiri, Albert Hartanto adalah orang yang baik. Mungkin Jacq memang memerlukan pria baik dan sabar seperti Albert. Pria itu mungkin bisa mengobati hati Jacq yang penuh luka.
***
Sudah dua minggu lagi berlalu dan Albert masih belum bisa menemukan sedikitpun jejak Jacqueline Miquel dan hal itu membuat Albert frustasi.
Ini adalah hal yang normal terjadi, pada saat kita menginginkan sesuatu tapi tidak bisa mendapatkannya, ada sebuah perasaan tidak terima, yang malah membuat kita semakin menginginkannya hal itu. Belum lagi, wanita itu masih sering mengganggunya dalam mimpinya, yang membuatnya bangun dalam keadaan sangat menginginkan wanita itu. Walau hanya samar-samar, tapi dia masih bisa mengingat sebagian dari percintaannya dengan Jacq.
Sebenarnya dia sudah berusaha menanamkan dalam pikirannya kalau Jacq pasti akan aman selama wanita itu ada dalam perlindungan Volle dan dia tidak perlu mencari wanita itu, tapi dia tetap tidak bisa merasa tenang, dia merasa harus melihat wanita itu secara langsung agar dirinya tenang, setidaknya satu kali lagi saja.
Belum lagi, dia tetap khawatir kalau wanita itu hamil. Jika Tuhan berkehendak, maka tidak ada mustahil, secara mereka melakukannya banyak kali malam itu.
Melihat wanita itu yang sudah mempersiapkan segalanya, dari pil kb hingga obat pencegah kehamilan, dia khawatir Jacq akan menggugurkan janinnya jika memang wanita itu hamil. Rasanya tidak mungkin Jacq tiba-tiba muncul di depannya dan minta pertanggung jawaban.
Memikirkan seorang bayi tidak berdosa yang mungkin akan digugurkan, membuatnya sangat panik.
Tidak bisa! Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, anaknya tidak boleh digugurkan!
Dia harus menemukan Jacq dan memastikan hal itu!
Semakin dia berpikir, semakin dia tidak tidak bisa berhenti khawatir dan pada akhirnya dia memutuskan untuk meminta bantuan pada Morin. Setidaknya dia harus bertemu satu kali lagi dengan Jacq dan melihat kondisi gadis itu baik-baik saja dan tidak hamil, baru dia bisa merasa tenang.
Ya, betul. Sebagai pria yang bertanggung jawab, dia harus menyelesaikan urusan hingga ke akarnya. Dia harus bertemu dengan Jacq dan berbicara baik-baik dengan wanita itu, juga memastikan gadis itu dalam kondisi baik dan tidak hamil, sekalian memastikan kalau Karen dan Ibunya tidak bisa mencelakai Jacq, memastikan kalau Jacq tidak kekurangan apapun, memastikan … pokoknya memastikan semuanya!
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Reno mengetuk pintu ruangannya, lalu membukakan pintu sambil memberitahu kalau Sissy dan Morin datang. Untungnya kedua wanita itu datang disaat Albert tidak memiliki janji saat ini.
Sissy mendekat pada Albert sambil menggendong putra blasterannya yang luar biasa tampan.
“Ayo, sapa Uncle Al,” perintah Sissy pada putranya.
“Hai, Uncle Al,” sapa Jordan yang baru berusia hampir tiga tahun itu.
“Hai jagoan, baru dari mana kamu?” tanya Albert sambil mencubit gemas pipi keponakan tampannya.
“Eh, jangan cubit-cubit anakku!” tolak Sissy yang dengan cepat menepis tangan Albert.
“Pelit amat!” dumel Albert. Dia lalu menoleh pada Ibu hamil yang melambai padanya, wanita itu sudah duduk dengan nyaman di sofanya, tanpa ijin tentunya. Kedua putranya ikut duduk di sebelah sang Ibu. Tiba-tiba bayangan Jacq dengan perut buncit berputar di kepalanya.
“Albert!” panggil Sissy mengguncang tubuh adiknya yang terlihat menatap Morin dengan ekspresi aneh.
“Apa, sih,” dumel Albert karena keberisikan Sissy.
“Aku memanggilmu dari tadi. Mengapa juga kau melihat Morin seperti itu?” tanya Sissy.
“Morin, kandunganmu itu sudah berapa bulan?” tanya Albert penasaran.
“Empat. Kenapa? Sudah mau punya anak juga?” tanya Morin iseng.
“Apa hamil itu merepotkan?” tanya Albert lagi, yang langsung membuat dua wanita itu menatapnya curiga.
“Sampai kehamilanku yang ketiga ini, sih, aku tidak ada keluhan serius kecuali saat perutku sudah besar, karena jadi mudah lelah,” jawab Morin yang semakin curiga, apalagi reaksi Albert setelahnya adalah manggut-manggut seakan perkataannya adalah informasi yang penting.
“Kalau saat kau hamil Jordan dulu gimana, Kak?” tanya Albert serius dan Sissy yang terlalu terkejut tidak bisa memikirkan apapun selain menjawab pertanyaan adiknya itu.
“Aku tidak ada masalah saat hamil Jordan,” jawab Sissy dan Albert kembali manggut-manggut lagi, yang membuat Sissy mengerutkan alis semakin dalam.
“Yang kehamilannya sulit itu Lisa. Tiga bulan pertama dia selalu memuntahkan semua makanan yang masuk ke mulutnya, setelah lewat bulan ketiga, dia baru bisa makan lagi, tapi di bulan ke tujuh, dia harus bedrest karena dia tidak sengaja terpeleset di kamar mandi, lalu pendarahan. Dua bulan dia lewati diatas ranjang agar bayi kembarnya bisa dilahirkan dengan selamat,” kata Morin bercerita sambil memperhatikan ekspresi wajah Albert yang terlihat pucat.
“La-lalu, bagaimana kondisi Lisa dan anaknya setelahnya?” tanya Albert panik. Dia tidak tahu menahu tentang kehamilan sahabat Kakaknya itu karena saat itu dia masih kuliah di London.
Sissy tidak menjawab pertanyaan Albert, tapi langsung menoleh pada Morin karena merasa curiga dengan adiknya yang tiba-tiba ngerempongin soal masa kehamilan wanita, bahkan mengkhawatirkan kehamilan orang yang sudah lewat.
Bukan bininya, bukan anaknya, kenapa dia yang panik?
“Dia ngehamilin anak orang, kali,” kata Morin sambil meringis. Apalagi coba yang bisa membuat seorang laki-laki tiba-tiba rempong tentang kehamilan orang lain, selain karena pasangannya sedang hamil? Dia memang sengaja menceritakan soal kehamilan Lisa untuk melihat reaksi Albert, dan hasilnya sesuai dugaan.
Perkataan Morin tentu saja membuat Sissy kembali menoleh pada Albert dengan wajah marah.
“Wanita mana yang kau hamilin?!” tuduh Sissy.
***