Apakah ada orang yang melindungi Jacq? Mungkinkah karena itu juga, Karen dan Ibunya tidak berhasil membunuh Jacq, karena Jacq sangat pintar menyembunyikan diri dan ada yang melindunginya.
Albert akhirnya memutuskan untuk pulang, tidak lupa dia membawa jaket milik Jacq, siapa tahu nanti mereka bertemu lagi dan dia bisa mengembalikan jaket ini pada Jacq. Dia cukup senang dengan pemikiran kalau mereka akan bertemu lagi.
Setelah berjalan beberapa langkah, dia kembali ke ranjang dan melepas sprei dari ranjang, sepertinya dia tidak rela bekas kebersamaannya dengan Jacq semalam hilang begitu saja. Jadi dia melipat dengan rapi sprei itu dan juga membawanya bersama jaket kulit Jacq. setelahnya, dia menghubungi Rino, asistennya, dan meminta asistennya itu untuk mencari tahu tentang Jacqueline Miquel.
Di tempat parkir hotel, Jacq sedang menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang depan dan Shawn sedang mengemudikan mobil untuk keluar dari parkiran hotel.
“Apa dia menyakitimu?” tanya Shawn sambil melirik Jacq yang meringis sambil menghela nafas, karena dia sudah tidak perlu berpura-pura tenang dan kuat lagi.
“Selain karena terlalu bersemangat dan nafsu yang tidak ada habisnya karena efek obat itu, kurasa dia tidak berniat menyakitiku. Mungkin Karen itu hyperseks, aku tidak tahu berapa banyak dosis yang dia berikan pada Albert, tapi yang pasti, aku baru bisa tidur saat matahari sudah muncul.” jawab Jacq dan Shawn melotot mendengar penuturannya.
“Ka-kalian melakukannya sepanjang malam sampai pagi?” tanya Shawn ngeri. Dia dan pacarnya saja paling melakukannya satu hingga paling banyak tiga kali dalam semalam, itu saja sudah membuatnya lemas luar biasa. Lah ini, dia meninggalkan Jacq itu di jam sembilan malam, jadi mereka terus bermesraan selama itu? Banyak sekali tenaga Albert Hartanto!
“Ya ada jeda sesekali, tapi tiap kali aku sudah mau tidur, tiba-tiba dia memelukku lagi dan kembali memulai sesi selanjutnya!” keluh Jacq dan Shawn hanya bisa menertawakan hal itu.
“Jadi bagaimana rasanya malam pertama?” Shawn menggoda Jacq.
“Nightmare!” jawab Jacq kesal.
“Kau tidak ingin lagi? Kau sudah buka segel, jadi kurasa kau sudah boleh bermain-main dengan pria-pria tampan lainnya. Kau pasti bisa menikmatinya nanti,” Shawn masih terus menggoda Jacq.
“Idih, malas. Nanti kena penyakit kelamin lagi, najis!” tolak Jacq.
“Lah, kau juga tidak tahu pasti apakah Albert Hartanto itu benar-benar bersih,” ledek Shawn.
“Setidaknya dia terlihat sebagai anak baik-baik dan sepanjang aku perhatikan beberapa waktu ini, dia tidak pernah cekin dimana-mana. Setiap kali pulang kantor, dia selalu pulang ke rumah,” jawab Jacq yang memang sudah memantau pergerakkan Albert sejak lama, tapi tidak seintens setelah dia mengetahui rencana Karen.
Saat mengetahui rencana Karen dan mulai membuat rencananya sendiri, dia memang memperhatikan kehidupan pribadi Albert. Jika dia merasa pria itu mungkin bisa membawa penyakit, dia pasti akan membayar p*****r untuk menggantikannya semalam.
Tapi hasil dari pengamatannya, dia malah kagum dengan pribadi Albert Hartanto yang memang baik hati dan tidak terlihat pernah bergelut dengan dunia malam yang kotor, jikapun dia pergi ke klub malam, hanya untuk bertemu dengan teman-temannya ataupun urusan bisnis, pria itu tidak menyentuh wanita penghibur sama sekali, walau hanya sekedar melirik genit.
Saking penasarannya, dia menarik mundur pengamatannya hingga beberapa bulan sebelumnya dan tetap tidak menemukan hal yang membuatnya meragukan kepribadian baik pria itu dan membuatnya semakin yakin untuk membantu pria itu agar tidak masuk dalam jebakan Karen.
Dia mengumpankan dirinya sendiri, karena dia menganggap Albert sebenarnya juga tidak mau menyentuh p*****r. Dia tidak mengatakan kalau Albert itu segitu polosnya, pria itu kuliah di Inggris, tidak mungkin tidak pernah menyentuh wanita, tapi setidaknya, yang dia tiduri mungkin hanyalah pacar-pacarnya, jadi bukan tipe yang jajan sembarangan.
Karena dia memanfaatkan pria itu untuk tujuannya sendiri, dia juga membayarnya dengan pantas, agar tidak ada hutang diantara mereka di masa depan. Tubuhnya yang sebelumnya belum pernah dijamah pria manapun seharusnya cukup untuk membayar pemanfaatan yang dia lakukan.
Lagian, memang akan lebih memuaskan dirinya kalau Karen tahu dialah yang tidur dengan Albert. Jadi ini semua sepadan dengan hasil yang dia dapatkan, Karen pasti menangis darah karena pria yang dicintainya tidur dengan musuhnya. Ditambah, pria tercintanya itu juga membencinya karena dia ketahuan ingin menjebak pria itu!
Jacq tertawa puas saat memikirkan pembalasan dendamnya yang berhasil dengan sempurna. Shawn dan menyetir di sebelahnya hanya melirik sekilas pada wanita yang telah menjadi sahabatnya lebih dari lima tahun itu. Dia membenci Karen dan Ibunya sebesar Jacq membenci dua orang yang telah menghancurkan keluarga sahabatnya itu, dan merebut harta yang seharusnya adalah milik Jacq.
***
Di kediaman Miquel, Karen yang baru tiba di rumah langsung mengamuk seperti orang gila. Dia berteriak memaki Jacqueline dan melempar semua barang yang ada di meja untuk melampiaskan kemarahannya yang sudah ditahannya sejak tadi.
“Karen, jaga sikapmu!” omel Ratna saat masuk ke ruang tamu yang seperti baru diterjang tornado itu.
“Wanita itu muncul dan menghancurkan rencanaku, Ma!” amuk Karen yang sudah berlinang air mata. Sakit hati dan kebenciannya pada Jacqueline semakin besar. Jacqueline merebut orang-orang yang dicintainya, dulu Ayahnya, sekarang Albert!
“Wanita siapa? Tenangkan dirimu dan ceritakan pada Mama. Mama akan membereskan semuanya untukmu,” tanya Ratna bingung.
“Jacqueline, Ma. Wanita itu tiba-tiba muncul semalam di kamar hotel saat aku sudah hampir berhasil menjebak Albert. Dia muncul dan mengikatku, lalu membuatku mendengarkan mereka b******a sepanjang malam. Aku benci dia, Ma. Aku benci sekali padanya!” adu Karen sambil memeluk Ratna.
“Ja-jacqueline? Jacqueline adik tirimu?” tanya Ratna terkejut.
“Dia bukan adikku, dia adalah jalang yang ingin merebut semua milikku. Dia harus mati, Ma! Bunuh dia. Bunuh dia, Ma! Dia telah membuat Albert membenciku!” tangis Karen semakin pilu.
Dia jatuh cinta pada Albert sejak pertama kali mereka diperkenalkan beberapa tahun silam. Selama bertahun-tahun dia berusaha menarik perhatian pria itu tapi pria itu hanya menganggapnya sebagai teman.
Dia mulai khawatir saat Ratna mengatakan kalau Maya, Ibu Albert sepertinya sedang mencarikan wanita untuk menjadi pasangan Albert, setelah Albert putus dari pacarnya, enam bulan yang lalu. Ratna sudah berusaha membantunya dan membujuk Maya untuk menjodohkannya lagi dengan Karen, tapi Albert menolak.
Dia sangat mencintai Albert dan karenanya, dia mencari cara untuk mengikat Albert padanya, dia tidak mau Albert menikahi wanita lain. Tapi rencana yang sudah dia siapkan selama berbulan-bulan, dihancurkan begitu saja oleh Jacqueline yang tiba-tiba muncul setelah sekian lama menghilang dari hidup mereka.
“Tenanglah, sayang. Sekarang dia sudah keluar dari persembunyiannya, jadi kita bisa segera melenyapkannya agar harta keluarga Miquel dan Papamu menjadi milik kita sepenuhnya.” kata Ratna menenangkan putrinya.
***
Hal pertama yang dilakukan Albert setelah sampai di ruang kantornya di haru senin adalah memanggil Reno, asistennya.
"Cari tahu tentang seorang wanita yang bernama Jacqueline Miquel, putri Thomas Miquel!" perintah Albert.
"Baik, Pak," jawab Reno.
Sejak Jacq meninggalkannya kemarin siang, dia tidak bisa berhenti memikirkan wanita itu. Dia merasa tidak tenang kalau dia tidak tahu dimana Jacq berada, sedangkan Karen mengatakan kalau wanita jahat itu akan membunuh Jacq.
Menurut perhitungannya dari usia pernikahan Thomas Miquel dan Suyanti Clair, usia Jacqueline tidak mungkin lebih dari dua puluh satu tahun. Mungkin gadis itu masih kuliah, tapi sudah berulang kali harus menyelamatkan diri dari pembunuh yang dikirim oleh Karen dan Ibunya.
Semakin dia memikirkan Jacq, dia semakin kasihan padanya. Gadis seusianya harusnya sedang menikmati hidup, tapi Jacq malah hidup dalam bayangan kematian yang megejarnya. Dari pertengkaran kemarin, dia sudah bisa mengambil kesimpulan kalau Ratna Sari dan Karen ingin membunuh Jacq agar bisa menguasai harta Thomas Miquel.
Tanpa dia sadari, dia sudah tidak marah lagi pada Jacq. Yang dipikirkannya sekarang hanyalah bagaimana cara melindungi gadis itu dari Karen dan Ibunya?
Tentu saja semua ini baru bisa dia lakukan setelah dia berhasil menemukan gadis itu!
***