“Mengapa kau harus melibatkanku ke dalam perseteruanmu dengan Karen?” tanya Albert menuntut. Dia memang harus diberi penghargaan atas kesabaran dan ketenangan dirinya, padahal dia sebenarnya sangat marah karena telah diperdaya dua wanita yang berseteru!
“Bukankah kau seharusnya berterima kasih padaku? Jika aku tidak membantumu, bulan depan kau akan harus menikahi Karen. Belum lagi, kau akan punya anak dari siluman ular yang akan diajari untuk menjadi sama sepertinya,” jawab Jacq.
“Kau bisa memberitahuku saja dari sebelumnya. Tapi kau juga sengaja menggunakan aku untuk membalaskan dendam pribadimu!” tuduh Albert. Mendengar Jacq menyebutkan siluman ular, membuatnya jadi sulit mempertahankan kemarahannya, karena dia langsung teringat pada sebutan Kakaknya dan teman-temannya itu untuk wanita-wanita yang mengganggu pria mereka. Sedikit berbeda tapi selalu ada ularnya.
“Memang. Jadi, kau memang hanya punya dua pilihan, tidur denganku atau tidur dengan Karen. Jika kau menyesali yang semalam, belum terlambat untuk memperbaikinya, kau tinggal mengejar Karen dan meminta wanita itu ngangkang, kuyakin dia dengan senang hati memuaskanmu,” ejek Jacq.
“Kau wanita. Bagaimana kau bisa mengatakan kalimat seperti itu?!” kata Albert syok saat mendengar perkataan v****r Jacq. sejak tadi kalimat yang keluar dari bibir Jacq itu kasar dan v****r.
“Ya, Tuhan. Kau benar-benar anak baik-baik, ya? Apa kau tidak pernah mendengar wanita mengumpat dan berkata kasar sebelumnya?” tanya Jacq sambil tertawa, menertawakan kepolosan Albert.
Albert memang anak baik dan selalu mencari pergaulan yang baik juga. Bukannya dia tidak pernah dengar perkataan v****r dari wanita, tapi memang dia tidak pernah dengar hal itu diarahkan padanya secara langsung padanya oleh teman wanitanya, biasanya hanya wanita malam dan p*****r yang menggodanya dengan berkata seperti itu di depannya.
“Kurasa tindakanku sangat tepat untuk menyelamatkanmu dari siluman ular seperti Karen, Karen tidak pantas mendapatkan pria baik sepertimu, nanti malah dia menularkan penyakit padamu. Sudahlah, lain kali berhati-hatilah, banyak wanita yang berkedok lugu dan lemah lembut tapi ternyata mereka adalah siluman ular sejenis Karen. Selamat tinggal, semoga kita tidak bertemu lagi!” kata Jacq sambil menghentakkan tangannya lagi agar terlepas dari cekalan Albert dan memang terlepas.
Dia memang sudah mencari tahu tentang Albert Hartanto sejak dia tahu Karen menyukai pria ini. Dari informasi yang berhasil dia kumpulkan, Albert Hartanto adalah pria tampan yang pintar dan baik hati, ditambah kekayaan keluarganya dan Albert merupakan pewaris keluarga Hartanto, membuat Albert menjadi most wanted di kalangan atas, apalagi usia pria itu memang sudah cocok untuk menikah.
“Bagaimana kalau kau hamil?” tanya Albert yang dengan cepat kembali mencekal tangan Jacq. Ada rasa tidak rela di hatinya saat melihat wanita itu ingin pergi meninggalkannya begitu saja.
“Tidak akan. Saat Karen minum obat penyubur kandungan, aku minum pil kb, dan lagi, aku juga sudah menyiapkan obat pencegah kehamilan …” Jacq terdiam sebentar saat teringat obat pencegah kehamilan yang dia titipkan pada Shawn dan seharusnya dia minum sekarang.
Albert terkejut saat mendengar penuturan Jacq yang benar-benar sudah menyiapkan diri agar tidak hamil, tapi dia merasa wanita itu belum selesai bicara, jadi dia menunggu wanita itu menyelesaikan kalimatnya. Namun bukannya melanjutkan perkataannya, wanita itu malah memanggil temannya.
“Shawn!” panggil Jacq dan pria itu yang sejak tadi menyimak pembicaraan Jacq dan Albert, tahu mengapa dirinya dipanggil, jadi dia mendekat dan menyerahkan sebuah obat yang sudah dibuka kemasannya. Jacq langsung mengambil obat itu dan minum air yang diserahkan Shawn setelahnya. Dia melakukan itu dengan sebelah tangannya, karena tangan satunya masih dipegang Albert.
“Apa yang kau minum?” tanya Albert.
“Obat pencegah kehamilan,” jawab Jacq yang kembali menghentakkan tangannya, lalu menghindar saat Albert ingin kembali mencekal tangannya.
“Dengarkan baik-baik, ya. Sebelumnya aku sudah minum pil KB, sekarang aku minum obat pencegah kehamilan. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan yang tidak perlu. Bye!” pamit Jacq yang langsung berbalik.
Langkahnya terhenti saat tiba-tiba sebuah jaket bomber disampirkan di bahunya. Sebelumnya dia berpikir kalau Albert masih ingin menahannya disana dan dia sudah bersiap untuk memukul pria berisik itu, tapi ternyata pria itu hanya menyampirkan jaket di bahunya.
“Pakai ini untuk menutupi tubuhmu,” kata Albert.
Jacq melihat ke jaket yang disampirkan di bahunya dan tersenyum karena perhatian Albert. Pria itu bahkan mengkhawatirkan orang-orang diluar sana nanti menatap dia seakan dia p*****r yang baru dipakai, karena begitu banyak bekas cinta di tubuhnya. Dia baru teringat pada jaketnya yang tertinggal di kamar sebelah, tapi ya sudah tidak apa, jaket ini juga bagus.
“Terima kasih,” kata Jacq.
“Sama-sama. Hati-hati di jalan. Kau tahu dimana kau mencariku jika kau butuh bantuan …” perkataan Albert terputus saat Jacq tiba-tiba berbalik dan menciumnya, dan sekali lagi, tubuhnya kembali membeku.
Jacq memilih untuk mencium Albert untuk menghentikan perkataan pria itu. Dikarenakan pria itu sangat perhatian padanya, jadi dia mengurungkan niat untuk memukul pria itu, yang sebenarnya juga bukan ingin menahannya, hanya mengkhawatirkannya. Manis sekali!
“Kau sangat cerewet. Aku sangat bisa menjaga diriku sendiri, dan kau, jaga saja dirimu sendiri dari para siluman ular itu. Bye,” kata Jacq sambil mengedipkan sebelah matanya genit. Setelahnya, dia berbalik dan berjalan pergi tanpa ragu dan tidak menoleh sekalipun ke belakang.
“Percayalah, kau sangat beruntung karena Jacq menyelamatkanmu dari wanita jahat itu, bahkan kau adalah pria pertama yang dia ijinkan untuk menyentuhnya,” kata Shawn pada Albert sebelum dia mengejar Jacq.
Albert hanya diam memperhatikan kedua orang yang akhirnya menghilang dari pandangannya. Setelahnya, dia keluar dari kamar itu dan kembali ke kamar sebelah untuk mengambil barang-barangnya.
Perkataan Jacq barusan sudah menjelaskan kalau wanita itu tidak berniat menuntut pertanggungjawaban darinya, bahkan sikap wanita itu menjelaskan dengan sangat kalau wanita itu tidak ingin bertemu dengannya lagi. Seharusnya dia senang, tapi mengapa hatinya malah merasa tidak rela?
Albert kembali duduk di ranjang, dimana masih terlihat bercak darah perawan wanita yang bernama Jacqueline atau Jacq itu. Matanya lalu menangkap sebuah jaket kulit di atas nakas. Dia mengambil jaket itu dan terdengar suara barang jatuh dan dia melihat sebuah kamera kecil.
Dia ingat kalau itu adalah kamera rahasia yang ditemukan Jacq semalam, kamera yang sebelumnya akan digunakan Karen untuk merekam percintaan mereka dan mengancamnya untuk menikahinya.
Dia tidak menyangka Karen yang selalu terlihat baik dan lemah lembut itu ternyata begitu mengerikan. Sepertinya wanita itu sangat pintar bersandiwara, hingga bisa menipunya bertahun-tahun.
Dia mengenal wanita itu beberapa tahun silam waktu kembali ke Jakarta saat libur kuliahnya. Saat itu usia Karen baru delapan belas tahun dan awalnya Ibunya ingin menjodohkannya dengan wanita itu, tapi dia menolak, karena dia tidak merasakan apapun saat bersama wanita itu, jadi dia hanya berniat berteman dengan Karen.
Orang tuanya tidak pernah memaksa dia untuk menikah karena bisnis. Mereka menikah karena saling mencintai, dan kedua Kakak perempuannya pernah juga dijodohkan dan keduanya tidak bahagia dengan perjodohan itu, hingga akhirnya mereka menemukan pria yang mereka cintai dan hidup bahagia sampai sekarang.
Melihat kedua Kakaknya yang bahagia dan saling mencintai dengan pasangannya masing-masing, membuatnya juga ingin menikah karena cinta. Mungkin cinta itu akan sulit ditemukan, tapi jika kedua Kakaknya dan beberapa temannya bisa menemukannya, semoga saja dia juga cukup beruntung untuk bisa menemukan wanitanya, wanita yang dia cintai dan mencintainya dengan tulus.
Apa yang terjadi semalam adalah diluar prediksinya karena dia tidak berpikir kalau Karen bisa selicik itu. Dia sudah sering menghindar dari berbagai jebakan para wanita licik, namun Karen yang selama ini selalu menampilkan kesan wanita baik-baik dan lugu, membuatnya tidak mewaspadai wanita itu.
Topeng wanita itu terbuka saat ada Jacq. tidak ada lagi wajah lemah lembut dan lugu, adanya wajah jahat dan kejam. Bahkan wanita itu mengakui kalau dia sudah pernah mencoba untuk membunuh Jacq. Mengerikan sekali mendengar gadis berusia dua puluh tahun lebih sedikit sudah merencanakan pembunuhan terhadap saudarinya selama bertahun-tahun!
Dia lalu membuang kamera di tangannya itu ke lantai dan menginjaknya hingga rusak. Sedangkan, jaket yang berada di tangannya, dia juga sudah ingat kalau jaket ini adalah milik Jacq. Dia menghidu jaket itu dan bisa mencium aroma tubuh Jacq dari sana. Dia menghela nafas berat, lalu mengembalikan jaket itu ke meja dan duduk di ranjang.
Dia mengeluarkan ponselnya dan mencari tahu tentang Thomas Miquel di laman pencarian. Dia menemukan kalau sebelum menikah dengan Ratna Sari, Thomas Miquel pernah menikah dengan Suyanti Clair dan mereka memiliki seorang putri yang bernama Jacqueline Miquel.
Dia mengerutkan alis saat tidak mendapatkan informasi apapun tentang Jacqueline di laman pencarian. Tidak ada rekam jejak wanita itu sama sekali, kecuali kalau Jacq adalah anak sah dari Thomas Miquel dan Suyanti Clair yang menikah dua puluh dua tahun silam.
Hal ini membuatnya sangat penasaran. Tidak mungkin tidak ada data sama sekali tentang wanita itu, kecuali ada yang menyembunyikannya.
Apakah ada orang yang melindungi Jacq?
***
.