BAB 4: SILUMAN ULAR

1282 Words
“Kau masih perawan?” tuntut Albert walau nada suaranya bertanya. Dia masih terus memperhatikan wajah wanita itu yang tadi terlihat sangat cantik saat tertawa. “Kau menanyakan itu, setelah membuatku tidak tidur sepanjang malam untuk melayani nafsumu itu?” tanya Jacq yang kali ini memang heran dengan pertanyaan bodoh dari pria yang menjamahnya semalaman sampai membuatnya hampir mati kelelahan. “Eh, maksudku, sebelumnya, kau masih perawan,” Albert memperbaiki pertanyaannya dan Jacq kembali tertawa. “Jangan berpikir untuk menjadi pahlawan kesiangan dengan berniat bertanggung jawab. Aku tidak ingin suami lemah sepertimu yang mudah dimanipulasi dan dijebak,” ejek Jacq sambil menghentakkan tangannya dengan kasar agar terlepas dari pegangan Albert yang terlihat terkejut karena perkataannya. Dia lalu berjalan ke pintu dan membuka pintu itu tanpa menoleh sedikitpun pada Albert. Entah tebakannya barusan itu benar atau salah, tapi berdasarkan informasi yang dia dapatkan, Albert Hartanto adalah pria baik yang bertanggung jawab. “Kenapa ponselmu mati? Wanita itu bisa membuatku gila dengan reogkannya!” omel Shawn yang perlu beberapa kali kembali menyumpal mulut Karen yang entah bagaimana wanita itu bisa membuang sumpalan mulutnya dan mulai memaki dan mengancamnya. “Sepertinya baterainya habis.” jawab Jacq sambil mengeluarkan ponselnya dari saku dan berjalan keluar kamar. Shawn mengikuti Jacq tanpa memperdulikan banyaknya bekas percintaan yang terlihat di bagian atas tubuh Jacq yang tidak tertutupi tank top wanita itu. Albert yang penasaran setelah mendengar percakapan Jacq dan Shawn, diam-diam mengikuti Jacq masuk ke kamar sebelah. Jacq mendekati Karen dan melepaskan sapu tangan yang menyumpal mulut Karen. “Aku akan membunuhmu, Jacqueline!” marah Karen penuh dendam. Kemarahannya seakan dibakar lagi dengan rasa cemburu saat dia melihat tubuh saudara tirinya itu, yang penuh dengan bekas percintaan wanita itu dengan Albert. “Teruslah bermimpi. Kau dan Ibumu sudah mencoba berulang kali dan tidak pernah berhasil,” ejek Jacq. “Kau hanya sedang beruntung, pada akhirnya kau juga akan mati!” desis Karen penuh dendam. “Tentu saja semua orang pada akhirnya akan mati. Oh, iya, bagaimana rasanya semalaman mendengar desahan dan erangan pria tercintamu itu di pelukanku? Apa kau perlu rekaman videonya? Dia sangat panas di ranjang,” tanya Jacq. “Dasar p*****r!” maki Karen. “Hus, jangan memanggil ibumu. Dia tidak ada disini,” ejek Jacq lagi. “Sialan kau. Aku akan membunuhmu!” jerit Karen yang berusaha menarik tubuhnya untuk menyeruduk Jacq, namun tubuhnya terpental karena tendangan wanita itu. Dia menjerit saat tubuhnya menabrak sudut ranjang karena tendangan Jacqueline. “Aku akan memberitahumu yang kau lewatkan semalam, pria itu sangat nikmat dan memuaskan di ranjang. Obatmu membuat daya tahannya seperti kuda jantan. Berapa ronde, ya, semalam? Aku bahkan sampai tidak bisa menghitungnya,” kekeh Jacq yang masih terus mengejek Karen. Yang memerah malah wajah Albert yang masih berdiri di dekat pintu. Apakah seorang wanita bisa mengatakan kalimat m***m semacam ini? “Dasar p*****r murahan?” amuk Karen yang sudah bangun lagi dan masih berusaha menyerang Jacqueline. “Sekarang kau memanggil dirimu sendiri? Siapa yang memasukkan obat perangsang ke minuman Albert? Inilah yang terjadi saat p*****r mengajarkan putrinya cara mencari suami dengan melacurkan diri. Hanya tahu cara kotor dan busuk untuk menjebak laki-laki. Sayang sekali obat yang kau minum untuk menyuburkan kandunganmu itu jadi tidak berguna, kecuali kalau kau bisa menjebak pria itu sekali lagi, itu juga kalau dia masih mau berada di dekat wanita busuk sepertimu,” kata Jacq menertawakan gagalnya rencana Karen dan wajah wanita itu seketika pucat. Dia tidak menyangka kalau Jacqueline mengetahui semua rencananya. “Kau pikir aku tidak tahu kalau dua minggu yang lalu, kau pergi ke Dokter kandungan untuk minta vitamin penyubur kandungan agar mudah hamil? Kau terlalu tidak berhati-hati, Karen,” ejek Jacq lagi saat melihat wajah terkejut Karen. “Berbanggalah akan kemenangan kecilmu ini. Harta keluarga Miquel tetap akan menjadi milikku dan Mama, kau tidak akan bisa mengambilnya. Kau tidak akan pernah bisa melengserkan Ibuku dari posisinya sekarang!” desis Karen membalas mengejek. “Kau yakin? Sekarang saja aku dengan mudah bisa menghancurkan rencanamu ini. Kita lihat saja, berapa lama parasit macam kalian bisa terus menggerogoti harta keluargaku,” balas Jacq. Kali ini sudah tidak ada senyum di wajah Jacq. Pembahasan tentang harta keluarganya yang dirampas oleh simpanan Ayahnya dan saudari tirinya ini, yang juga telah menyebabkan Ibunya meninggal, telah meninggalkan luka yang begitu besar di hatinya! “Jangan mimpi. Ayah sudah koma sejak kau pergi dan semua harta keluarga Miquel sudah dipegang Ibuku. Setelah ini, Ibu pasti tidak akan gagal membunuhmu. Jadi percuma saja kau melakukan pembalasan remeh seperti ini,” kata Karen sombong. “Kurasa kehilangan suami potensial yang kau cintai bertahun-tahun bukan hal kecil. Kalau tidak, kau tidak akan semarah ini,” balas Jacq. “Pada akhirnya aku pasti bisa mendapatkan Albert, itu hanya soal waktu.” kata Karen masih dengan kesombongannya. Dia tahu, Jacqueline tidak akan membunuhnya, hanya inilah yang bisa dilakukan saudari tirinya itu padanya. “Jangan harap aku mau menikah dengan wanita mengerikan seperti dirimu!” kata Albert yang akhirnya menunjukkan keberadaannya. Dia merasa sudah cukup mendengar perseteruan kedua wanita ini dan sudah dapat memperkirakan penyebabnya. Kedua wanita ini adalah saudara tiri yang memperebutkan harta keluarga. Sebenarnya tadi dia sudah berniat pergi dari sini, tapi dia kemudian mendengar perkataan Karen barusan, yang membuatnya harus menegaskan pada wanita iblis itu untuk tidak berharap pada dirinya lagi. Karen adalah wanita paling mengerikan yang pernah dia temui! “Albert!” seru Karen panik. “I-ini tidak seperti yang kau dengar. Dia yang menjebakku,” kata Karen berkilah di depan pria yang sangat dia cintai. “Hahaha … Kau dengar itu? dia menyebutmu wanita mengerikan,” ejek Jacq menertawakan Karen yang menggeram marah. “Buka ikatannya!” kata Jacq pada Shawn dan pria itu melakukan apa yang dikatakan Jacq. Begitu tali itu terlepas dari tubuhnya, Karen langsung berlari ke arah Albert, yang dengan cepat menggeser tubuhnya agar berada di belakang Jacq. Dia tidak mau disentuh Karen sama sekali, dia sangat jijik dengan wanita itu! “Ternyata kau masih merindukanku,” kata Jacq sambil membalik tubuhnya dan memeluk Albert. Dia sudah memperkirakan apa yang akan dilakukan Karen, karenanya dia sengaja membuat wanita itu semakin sakit hati. Ini baru awalnya, lihat saja nanti dia akan membuat Ibu dan anak itu lebih menderita lagi! “Lepaskan, Albert, jalang!” maki Karen menyerang Jacq. Jacq baru saja berniat memukul Karen tapi ternyata Albert balas memeluk tubuh Jacq dan menariknya untuk bergeser, sehingga pukulan Karen gagal mengenai tubuh Jacq. “Pergi, Karen. Jangan pernah muncul di depanku lagi!” marah Albert. “A-Albert,” Karen yang terkejut karena suara kasar Albert, langsung mengeluarkan air matanya. Wajah cantiknya sekarang terlihat begitu sedih. “Ah, pahlawanku menolongku dari siluman ular,” kata Jacq rendah dan manis sambil mencium pipi Albert, tidak memperdulikan tubuh pria di pelukannya yang tiba-tiba menegang. Dua pria disana bergidik mendengar suara manja Jacq. Shawn bergidik karena merasa jijik dengan sikap genit Jacq, sedangkan Albert bergidik karena tubuhnya merespon keintiman mereka. Aroma tubuh Jacq dan suara serak bernada rendah itu, mengingatkannya pada desahan wanita itu malam tadi. “Pergilah, Karen. Aku akan menuntutmu jika kau masih berada disini!” ancam Albert. “Ki-kita akan bicarakan ini nanti, setelah kau lebih tenang. Aku bisa menjelaskan tentang semua ini,” kata Karen. Dia tidak bisa mengambil resiko membuat Albert lebih marah lagi dan benar-benar menuntunya, hal itu akan mempermalukannya. Dia mengambil tasnya dan keluar dari ruangan itu sambil melirik penuh kebencian pada Jacq yang sedang memeluk pria yang dicintainya itu, sambil menyandarkan kepala di bahu Albert dan menatapnya penuh ejekan. Dia pasti akan membunuh Jacqueline! Jacq langsung melepaskan pelukannya pada Albert saat mendengar suara pintu tertutup. Albert terpaku saat dia merasa kehilangan karena wanita dipelukannya pergi begitu saja. Dia melihat Jacq berniat meninggalkannya begitu saja, jadi dia kembali mencekal tangan wanita itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD