Selesai menjadi pemenang dalam acara salip menyalip kendaraan secara tiba-tiba tadi, Alya, Ricky dan Terry sampai di tempat tujuan.
Dufan alias Dunia Fantasi adalah tempat wisata hiburan yang terletak di Jakarta Utara. Ini bukan pertama kali mereka bertiga menginjakan kaki di tempat ini.
Meski, Alya, Terry, Ricky dan Nina berasal dari keluarga yang berkecukupan, isi kantong mereka semasa SMA tentu saja tidak melebihi standar uang jajan Internasional pada jamannya.
Terry keluar dari mobil menggenakan kaca mata hitam, karena matahari mulai meninggi dan amat terik. Semakin lama, Jakarta semakin panas. Mereka bertiga melangkah dan menjadi pusat perhatian. Agaknya nama Terryandi Agustira sudah mulai banyak dikenal oleh orang. Alya sebagai gadis cantik yang di apit dua orang pria tampan itu juga tak kalah menarik perhatian dan membuat iri.
"Jadi apa yang bakal kita coba duluan nih?" tanya Terry begitu sampai di dalam. Semua wahana yang tampak seru sudah menunggu di depan mata.
"Kora-kora dulu yuk!" ujar Alya dengan semangat.
Kora-kora adalah sebuah jenis wahana permainan yang berdasarkan pada kapal pembajak, yang terdiri dari sebuah gondola berbangku terbuka yang berayun ke depan juga belakang. Biasanya, sensasi yang terasa adalah, jantungmu seperti tertinggal di atas, saat kapal terjun mengayun ke bawah.
Wajah Ricky langsung memias. Sama seperti jaman dahulu kala, Ricky memang senang menghabiskan waktu bersama kawan-kawannya. Tapi untuk yang satu ini, agaknya dia harus berkata 'tidak'. Meski dia mungkin adalah anggota yang paling tengil, Ricky justru bisa di bilang paling penakut.
"No ... no, gue nunggu kalian di gerai makanan itu aja. Laper!" Ricky berseru, sembari menunjuk pada salah satu gerai makanan kecil yang tak jauh dari tempat mereka berpijak.
Tentu saja, lapar bukanlah alasan yang tepat. Ricky, sudah biasa menemani kawannya tanpa ikut bermain. Namun, alasan sebenarnya adalah ...
"Lo masih takut aja nih? yaelah. Udah jadi orang Bandung, kirain nggak cemen lagi," ledek Alya dengan puas.
"Tolong dicatet. Ini bukan takut ya! gue cuma masih sayang sama nyawa. Udah ya, bye. Ajak gue kalau kalian mau naik gajah aja nanti."
Ricky berlalu meninggalkan mereka berdua. Alya tampak agak kecewa, dan Terry tidak suka itu. Terry kemudian merangkul bahu Alya, lalu mengajak gadis itu mengantri. Karena wahana tersebut, ternyata cukup banyak peminatnya.
"Ready girls?" tanya Terry begitu duduk berdampingan dengan Alya di atas kapal.
"Ready lah!" jawab Alya dengan semangat.
Awal pergerakan yang lamban, belum ada teriakan yang berarti. Hanya ringisan kecil dari rasa takut yang mulai menjalar.
Tanpa sadar Alya menggengam tangan Terry saat ayunan kapal mulai makin terasa kencang. Teriakan histeris mulai terdengar dari segala arah, begitu pula gadis itu.
Namun yang terjadi pada Terry justru berbeda. Di kala pengunjung lain yang ikut bersama mereka tengah merasakan jantungnya tertinggal di atas, Terry justru terpaku pada Alya.
Gadis itu sedang menikmati kebebasannya. Sementara Terry berfokus pada setiap helai rambut Alya yang beterbangan tertiup angin. Menyenangkan rasanya, bisa melihat seseorang yang berarti dalam hidupmu tersenyum, bahkan tertawa lepas bersama denganmu.
Semua rasa ini mendadak hadir lagi setelah sekian lama. Khayalannya akan kehidupan bersama Alya muncul di saat yang tidak tepat.
Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini tidak benar! Ia tidak boleh berfikir macam-macam. Ini hanya sebuah liburan. Liburan yang sialnya justru membuatnya bernostalgia pada masa lalu.
"Alya bukan milikmu lagi Ter. Berhentilah mengkhayal," perintahnya dalam hati."
***
Tok ... tok ... tok
Suara ketukan pintu membuat konsentrasi Novan buyar seketika. Ia tengah memeriksa semua berkas dan kebutuhan lain yang akan dia bawa menjelang kepergiaannya menuju Bali.
Pt. Aditama adalah perusahaan design and build yang dibangun Novan bersama kawannya.
Berawal dari hobinya yang sejak kecil suka menggambar, ditunjang kecerdasan serta latar belakang yang kuat, membuat Novan bisa mengambil jalan mulus untuk mendirikan perusahaan impiannya.
Saat ini, kawan alias partner dari Novan sendiri sedang sibuk dengan urusan pribadi, hingga menghibahkan seluruh wewenangnya pada Novan. Alhasil, Novan sih memang kerepotan. Tapi nanti, akan ada saat giliran di mana Novan yang membuat kawannya itu merasakan bagaimana repotnya menghandle beberapa project seorang diri.
"Masuk ...!" jawab Novan dari dalam ruangannya.
Nampak pintu terbuka lalu Sasa kemudian masuk begitu saja. Gadis dengan pakaian non formal tapi sopan itu, mendekat pada meja kerja Novan.
Kantung kertas kecil berisi sekotak bekal makan siang, di bawanya pada si Bos, yang melihatnya maju dengan ragu-ragu.
Novan memang tidak membuat peraturan ketat di kantornya. Apalagi hanya soal pakaian. Asalkan sopan, dan tidak mengundang omongan orang, menurutnya sah-sah saja. Ia lebih suka melihat karyawannya santai dan nyaman. Karena itu akan berpengaruh pada hasil kerja mereka.
"Pak Novan sudah makan siang?" tanya Sasa. Umur mereka berdua tidak terpaut terlalu jauh. Tapi jelas Alya lebih muda lagi daripada Sasa. Novan melihat apa yang ada dalam genggaman Sasa. Ia tahu maksud dan arah tujuannya. Akan tetapi, pria ini berpura-pura polos.
"Belum. Memangnya kenapa?" balas Alya.
Seperti mendapatkan pencerahan pandangan Sasa langsung berbinar di buatnya. Lantas, gadis itu meletakan barang bawaannya di atas meja.
"Ini Pak, tadi pagi saya masak lebih. Udah agak dingin awalnya. Tapi udah saya angetin di Pantry. Barangkali, Bapak mau nyicip," tawar Sasa.
Novan tersenyum. Belum apa-apa, gadis itu sudah tersipu lebih dulu. Sasa tahu betul bosnya ini sudah memiliki istri. Tapi setiap berpapasan dengan Novan, melihat sikap lembut namun tegasnya pada orang lain, serta pembawaan dirinya yang selalu cocok di manapun, membuatnya semakin lama semakin kagum. Sebuah rasa kagum yang kian berkembang menjadi cinta.
Meski ia tidak secara terang-terangan menunjukan perasaannya, Sasa selalu mencoba untuk memberikan perhatian-perhatian kecil yang justru luput dari pengetahuan Alya. Berharap jika suatu saat nanti, Novan akan memandangnya dengan sedikit berbeda.
Novan menegakkan duduknya, yang semula bersandar pada kursi. Membuka kotak bekal milik Sasa, membuat harum aroma masakan gadis itu tercium. Novan harus mengakui, kalau Sasa ini pandai memasak. Ini juga bukan yang pertama kali, ia mendapatkan bekal makanan dari karyawan perempuan.
Tapi sepertinya, Novan juga perlu meluruskan beberapa hal, agar tidak terjadi kesalah pahaman. Beruntung sekali Alya, memliki sosok suami sempurna, yang tidak ingin menyakti hati istrinya sedikitpun. Meski kesempatan terbuka lebar.
"Wanginya harum banget nih. Pasti enak, kaya biasanya," puji Novan.
Wajah Sasa merona, terutama pada bagian tulang pipi. Dia merasakan malu dan tersanjung yang bercampur menjadi satu dalam waktu yang bersamaan.
"Ini saya terima ya. Karena saya lagi laper juga nih kayanya," ujar Novan.
Makin meleleh saja hati gadis itu. Akan tetapi, Sasa baru saja akan menyuarakan aspirasinya saat Novan kemudian berlanjut ...
"Tapi, lain kali nggak usah gini lagi ya. Nanti semua orang bisa salah paham, apalagi kalau keseringan. Saya anggap ini hanya sebatas kebaikan Karyawan pada atasannya oke."
Bagai menaiki wahana yang kini tengah dinikmati oleh Alya dan Terry. Hati gadis itu semula ikut bersama tubuhnya, terbang di atas awan. Namun dengan tiba-tiba ...
Wussshhhh
Ia melesat jatuh dengan kecepatan super, meninggalkan hatinya ya masih berada di atas. Sementara tubuh itu tak juga bertemu dengan dasarnya.
"Baik Pak ... Kalau gitu saya permisi." Sasa berpamitan untuk pergi dengan agak ragu dan kecewa.
"Tolong jangan di ambil hati. Sekali lagi terima kasih ya," kata Novan.
Sasa mengangguk lalu meninggalkan ruangan Novan. Pria itu sebenarnya sangat menyayangkan ekspresi wajah Sasa yang tampaknya kecewa berat. Tapi ia juga tidak ingin membuat gadis itu menaruh harapan lebih.
Lagipula, ia yakin sekali. Rasa sesal ini hanya tersedia untuk sementara. Besok semuanya akan kembali seperti biasa. Novan akan lebih menyesal lagi jika ia harus membuat Alya kecewa apalagi sampai berpaling.
Seluruh hidupnya saat ini, hanya tentang gadis itu. Novan tidak tahu pasti kapan itu terjadi. Tapi ada satu hal yang selalu diingat juga diyakininya. Hari di mana ia melihat seorang gadis berseragam Putih Abu berada di jalanan. Menorehkan satu buah sejarah, yang membuatnya tahu, kalau cinta bisa berasal dari mata, lalu turun ke hati. Tanpa memandang perbedaan umur.