Yuk Main Yuk 2

1113 Words
Terry memarkirkan mobilnya di sisi jalan Taman Kota. Tempat yang semasa sekolah sangat sering dijadikan tongkrongan oleh empat sekawan tersebut. Tidak banyak yang berubah, hanya tatanannya saja yang semakin hijau dan rapi. Alya sudah lama sekali tidak pergi ke sini setelah lulus SMA. Agak heran juga menurutnya di jam-jam yang masih tergolong pagi, sudah banyak orang yang berkunjung. Mata Alya berkeliling mencari salah satu gazebo yang biasanya menjadi spot favoritnya untuk duduk. Ricky dan Terry sudah sampai di Taman Kota. Ricky memilih untuk tetap diam di dalam mobil. Karena sejujurnya, matanya masih berat untuk terbuka. Selain itu, sejak terbiasa tinggal di kota Bandung, udara Jakarta menjadi terdengar mengerikan di telinga pria yang biasa selengean itu. Panas, berdebu, padahal ya ... tidak seburuk itu juga. "Ter ...!" Alya berteriak, begitu melihat sosok jangkung Terry yang celingukan, menggenakan jaket jeans biru belel yang senada dengan celana pendeknya. Kok bisa samaan ya? Udah kaya janjian. Ia melambaikan tangan lantas mendekat, menghampiri Terry. Terry terpukau dengan kehadiran Alya. Bukan tanpa sebab, kalau hanya karena cantik itu sih sudah biasa. Yang paling membuatnya bengong adalah, adegan di mana saat mereka masih bersama kini seperti terulang lagi. Dulu, Alya biasa menunggunya di sana. Dengan seragam putih abu, mereka pernah menjalin sebuah hubungan erat yang sangat di sayangkan, hanya tinggal sebuah kenangan. Perasaan Alya sudah mati dan menganggap semuanya biasa saja. Namun lain halnya dengan Terry yang hingga saat ini, masih menyimpan rasa berkedok sahabat. Jika saja Alya tidak buru-buru menikah. Mungkin saat ini, Terry akan dengan terang terangan mengejar cinta Alya kembali. "Lo tuh ya! Ihhhh bikin gua gemez tau nggak," seru Terry dengan geram. Pria itu mengacak-ngacak rambut Alya dengan gemas. Gadis itu tak terima, ia menepis tangan Terry, akan tetapi di selingi dengan tawa renyah yang membuat pria di hadapannya terpukau. "Ha-ha-ha gemes kenapa sih?" tanya Alya kemudian. "Lo ngilang gitu aja. Dan semua akses yang berhubungan sama gue Lo blokir. Tapi Ricky nggak tuh. Kenapa coba?" gerutu Terry. Merasa perlakuan Alya tak adil padanya. Alya memutar pandangan. Bagaimana ya, cara menjelaskan kalau Terry bisa saja mengundang kecurigaan Novan, meski Alya tidak menganggapnya serius sama sekali. "Mau ribut di sini atau di jalan aja? Waktu gue nggak banyak nih, Ter." Alya mengalihkan topik pembicaraan. Mau tak mau, Terry menurut juga. Daripada waktunya untuk bersenang-senang malah terbuang percuma. Lebih baik ia segera membawa Alya pergi. Pria itu menarik tangan Alya begitu saja, tanpa meminta persetujuan. Mereka jadi tampak seperti sepasang kekasih di mata semua orang, karena berjalan bergandengan tangan. Terry tidak tahu, kenapa perasaan ini muncul lagi setelah sekian lama. Sesutu yang dikiranya sudah hilang. Dan hari ini, terasa berbeda. Sesampainya di mobil, kehadiran Alya di sambut heboh oleh Ricky. Terry mengambil kembali posisi di balik kemudi. Ricky ada di bangku depan, sementara Alya ada di bangku ke dua sendirian. "Untung gue masih di Jakarta. Bulan depan gue udah harus balik ke Bandung nih. Kalian beruntung karena gue jadi malaikat di sini," Ricky berujar. "Di mana-mana orang ke tiga itu demit. Nggak ada yang jadi malaikat segala," sergah Terry sembari menyalakan mesin mobil. Lalu berfokus melihat spion untuk memundurkan mobil. "Nih tangkep ...!" Ricky melemparkan sebungkus Rokok pada Alya. Akan tetapi tak berhasil di tangkapnya. Gadis itu lantas merunduk, mengambil benda yang jatuh. "Jangan pura-pura di depan kita lah. Gue tahu lo lagi gabut," tambah Ricky lagi. membuat Alya mendelik. Namun gadis itu tetap mengambil benda di tangannya. Mematik korek api, lalu membuka kaca jendela mobil. "Jadi gue nggak perlu sungkan lagi ya, ngabisisin isi dompet kalian berdua," seru Alya, seraya membuat hisapan pertama. "Kalau itu, tanya sama Terry aja deh. Kan dia bosnya sekarang," Ricky menggerak gerakkan alisnya menatap Terry. Alya tidak terlalu peduli juga dengan apa yang akan mereka bahas. Yang saat ini ada dalam pikrannya hanyalah bebas. Akhirnya, ia punya satu hari di mana ia tidak perlu pura-pura jadi wanita lemah. Tidak perlu memaksakan senyum jikalau hatinya tengah gundah. Mobil mulai melaju, meninggalkan area pelataran taman kota. "Jadi guys, kita mau ke mana nih?" tanya Terry, ia melambatkan laju mobil, sebelum mendapat jawaban. "Ke Dufan aja gimana?" usul Ricky. "Dufan? ngapain ke dufan?" tanya Alya. "Lo kan mau ngilangin suntuk. Di dufan, lo bisa teriak-teriak sambil naik wahana. Daripada lo teriaknya di sini. Dikira orang gila entar," jelas Ricky. Yang mendengar, hanya manggut-manggut sembari mengiyakan dalam hati. Alya bukan membutuhkan tempat sepi untuk menenangkan diri. Dia memerlukan sebuah tantangan yang bisa memacu adrelin. Mengingat hidupnya bersama Novan di rumah sudah terlalu lurus. Sepertinya, Dufan adalah tempat terdekat yang bisa dijangkaunya. Mengingat waktu yang ia miliki tak cukup banyak. "Oke. Gue ambil jalan ke dufan. Sekarang!" Terry mengambil jalan memutar, kemudian ikut berbaur dengan kendaraan lain yang mungkin saja, memiliki tujuan sama. Terry memacu gas mobilnya dengan kecepatan penuh menyalip setiap kendaraan dengan santai. Alya tampak menikmati semilir angin kencang dari luar kaca jendela yang mengalahkan Ac mobil. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil yang tak terima karena telah di salip ikut menyusul. Alya menengok ke belakang dan menyadari ada yang mengejar mereka. Mengikuti setiap jalur dengan cermat dan terkendali. "Ter, kayanya Lo bikin masalah deh," ujar Alya, sembari mendekat. Terry melihat pada kaca spion sementara Ricky menoleh ke belakang. Ke dua pria itu justru tersenyum. Jalanan di depannya cukup lenggang dan sangat mendukung untuk mengadu kecepatan. Ke tiga manusia di dalam mobil itu, seperti di hadapkan pada dejavu kala mereka masih muda dan suka bersenang-senang. "Alya, lo nggak keberatan kan?" tanya Terry. "Of course. Gue siap jadi penonton," ujar Alya dengan penuh semangat. Mendapat persetujuan, Terry dengan secepat kilat menembus jalanan, membuat daun-daun kering yang berada di jalanan tersapu lalu terbang. Bagai angin yang siap merobohkan apa saja di depannya. Tak mau kalah ... Mobil di belakangnyapun ikut menyusul. Dan harus Terry akui, seseorang di balik kemudi mobil itu cukup lihai. Sampai akhirnya bisa menyusul Terry dan kawan-kawan. Pria di balik mobil itu membuka kaca jendela, lalu mobil mereka berjalan beriringan. Tepat saat pria itu melihat ke arah Alya, yang tengah menghisap kembali rangkaian nikotin berasap di antara jemarinya yang lentik. "Apa lo liat-liat," ujar Alya dengan galak. Pria itu tersenyum sinis sembari mengernyitkan dahi. Terry sudah akan tancap gas lebih dalam lagi sebelum akhirnya Alya mengacungkan jari tengahnya pada pria itu, seraya berkata "Fu*ck you!" Kendaraan Alya, Terry dan Ricky melesat. Meninggalkan lawannya di belakang. Mereka tertawa-tawa dengan senang. Hilang sudah predikat menantu lembut nan baik hati di kening Alya. Berganti dengan Alya yang dulu. Alya yang ceria, berani dan tidak takut pada apapun. Namun gadis itu tidak peduli. Tujuannya hari ini kan memang hanya untuk bersenang-senang. Lagipula tidak akan ada yang tahu dengan kelakuannya hari ini. Kamu tidak boleh setengah-setengah dalam membahagiakan diri sendiri. Karena hanya kita sendirilah yang tahu, bagaimana caranya bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD