Yuk Main Yuk

1152 Words
Pagi yang cerah mengawali kehidupan pasangan suami istri ini. Akan tetapi, cerahnya cuaca kali ini, tidak bisa menyamarkan suasana hati Alya yang masih juga mendung, karena masalah kemarin. Well, namanya juga manusia. Mereka tidak memiliki kekuatan super untuk melupakan rasa sakit hanya dalam satu hari. Gadis itu membawa secangkir kopi dari dapur untuk suaminya yang kini sedang duduk sambil memperhatikan gadget di tangannya. Pakaiannya sudah rapi, kemeja biru setengah lengan, dengan celana Chino hitam, cukup serasi untuk dijadikan fashion menuju kantor. Ia tidak suka menggunakan setelan jas berdasi, meski kebanyakan cliennya adalah pengusaha yang cukup memiliki nama. "Diminum, Mas. Kopinya," tawar Alya. Ia kemudian ikut duduk di samping pria itu. Matanya melirik jam dinding yang sudah menunjukan sekitar pukul tujuh pagi. "Makasih, De. Oiya kalau jadi, minggu depan Mas mungkin ada kerjaan di Bali," seru Novan. "Bali, Mas? wah asyik banget. Aku boleh ikut nggak?" pinta Alya dengan pandangan memohon. Mendengar nama Bali membuat pandangan Alya jadi berbinar-binar. Pulau Dewata adalah salah satu tujuan destinasi wisata yang menjadi impiannya sejak lama. Selama ini Alya hanya bisa menikmati keindahan pulau itu melalui layar virtual. Akan menjadi kesempatan yang bagus jika gadis itu bisa ikut pergi ke sana kali ini. "Aku di sana cuma tiga hari, De. Dan lagi, bukan buat liburan," jawab Novan. Wajah Alya langsung muram mendengar jawaban sang suami. Novan menyadari raut wajah istrinya yang menjadi tak bersahabat. Ia menghela nafas pelan, kemudian mematikan gadgetnya. Menyeruput kopi yang dibuat Alya dengan perlahan. Dan setelah selesai, pria itu mengalihkan perhatiannya pada sepasang mata yang kini berubah murung. "Kalau kamu ikut, Aku nggak bisa nemenin kamu di sana, De. Dan pikiranku nggak akan tenang, ngebiarin kamu pergi keliling sendirian," ujar Novan dengan lembut. Sepertinya, tidak ada pria manapun yang bisa sebegitu lembutnya bersikap pada seorang istri seperti Novan ini. "Jadi menurut Mas kalau aku ikut, aku cuma akan jadi beban aja?" tanya Alya dengan nada kesal. Ia memalingkan wajah sembari berbalik membelakangi Novan. Namun, beberapa detik kemudian, pria itu mendekat dan memeluk Alya dengan perlahan dan penuh kasih sayang. Mau tak mau, pertahanan Alya runtuh juga diperlakukan dengan manis oleh pria itu. "Nggak gitu juga, De. Gini aja, kamu doain semoga kerjaan Mas lancar. Kalau udah selesai, nanti Mas bakal kirim tiket. Dan kamu bisa nyusul ke Bali. Kan kalau kerjaanku di sana udah selesai, kita bisa liburan bareng tanpa ada gangguan. Gimana?" tawar Novan Alya berpikir sejenak, penawaran yang cukup bagus, mengingat Novan sangat mementingkan apapun keinginan Alya, selama masih berada di ambang batas kewajaran. Novan melepaskan pelukannya lalu berujar ... "Ya tapi, kalau kamu nggak mau nggak apa-apa. Mas bisa ajak Sasa ..." Novan melipat kedua tangannya di depan d**a dengan mata tertutup. Berlagak sombong, menunggu reaksi Alya, yang pastinya kebakaran jenggot. Dan tentu saja, apa lagi yang bisa terjadi pada seorang wanita jika suaminya justru akan mengajak wanita lain. Apalagi ini Bali loh ... Bali. Alya langsung berbalik dengan gugup. "Apaan ngajak ngajak Sasa segala. Big No ya Mas. Jangan berani-berani kamu ajak perempuan centil itu. Aku ikut! Tapi Mas harus janji sama aku. Begitu kerjaan selesai, Mas harus segera kirim tiketnya, biar aku bisa langsung nyusul ke Bali." Novan cekikikan melihat eksprsi Alya. Yang tidak diketahui Alya adalah, Novan memang sudah memesan tiket untuk gadis itu, bahkan sejak tadi malam. Semua, hanya karena ia ingin menghibur Alya yang dilanda suntuk berat karena ulah Ibundanya sendiri. Ia merasa perlu menyenangkan hati istrinya tercinta. "Ya udah. Kita udah sepakat. Jadi kalau gitu, aku berangkat dulu sekarang." Novan kembali meminum kopi di depannya, dan setelah itu mencium kening Alya. Gadis itu mengantar Novan ke depan rumah, ia berdiri di daun pintu, hingga pria itu benar-benar meninggalkan rumah. Setelah akhirnya Novan tak terlihat, barulah Alya berteriak kegirangan "Yeeesss! Akhirnya." Gadis itu segera menutup pintu lantas bergegas menuju kamar. Ia sudah tidak sabar lagi untuk menghabiskan waktu bersama kawan-kawannya. Celana Jeans pendek biru belel, dengan T-shirt putih tulang, membentuk tubuhnya dengan amat pas. Outer blasteran hitam dan putih, ditambah sepatu cats putih membuat tampilan gadis itu kian santai dan trendy. Sejujurnya, Alya selalu cocok mengguakan outfit apapun. Apapun yang dikenakannya selalu nampak pas dan cantik. Dengan tambahan tas slempang kecil yang hanya berisi ponsel, dompet dan beberapa alat touch up. Dan voila ... Alya sudah siap untuk berangkat. Mengingat jarak Taman Kota dan rumahnya lumayan jauh, ia harus berangkat dari sekarang, jika ingin menghabiskan waktu bersama Ricky dan Terry lebih lama lagi. Setelah memesan Taxi Online, Alya bergegas turun dari kamarnya yang berada di lantai atas kemudian menunggu di depan rumah. *** "Ki ... Ricky. Kiiiiii. Se*tan ni anak, susah amat sih dibangunin." Terry berkacak pinggang, setelah menggoyang goyangkan tubuh Ricky yang masih merebah dengan manja di atas ranjang. Ricky ini memang orang dengan tipe-tipe pelor akut alias nempel langsung molor. Biasanya Terry tidak akan mempermasalahkan hal ini. Akan tetapi, pikirannya tentang Alya yang pasti akan tiba lebih dulu di Taman Kota, membuatnya jadi was-was. Alya, adalah orang yang tepat waktu, bahkan selalu datang lebih awal jika membuat janji. Terry sendiri sudah bersiap dan hanya tinggal berangkat saja. Tapi mengingat janjinya untuk membawa Ricky, membuatnya urung untuk segera pergi. Karena sudah tak bisa berpikir lagi, Terry lantas mengambil sisa air mineral di atas meja, bekas minumnya semalam. Lalu tanpa berperikemanusiaan, dengan seenak jidat, ia mengguyur wajah Ricky dengan sisa-sisa kewarasan yang dimilikinya. "Astagfirullah, Ya Allah!" Ricky gelagapan dan terbangun dengan ekspresi yang kalang kabut. Seluruh wajahnya basah, berikut leher dan kausnya. Terry sebagai sahabat yang baik, dengan sigap mentertawakan kepanikan Ricky. Setelah mulai tersadar, ia menoleh pada Terry dengan wajah geram, dan siap menelan pria itu bulat-bulat jika saja bisa. "Lu ... lu tuh kampret banget sih!" Ricky berkata geregetan, sembari melemparkan bantal dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, sekuat apapun ia melempar, yang namanya bantal kan empuk. Tentu saja tidak akan berarti apapun. "Ha-ha-ha-ha abisan. Gua sampe putus asa cuma buat bangunin lo!" celetuk Terry. "Ya tapi nggak pake acara siram aer juga kampret. Ini gua kalau sampe jantungan gara-gara kaget, urusannya gimana coba Pe A." Ricky masih tetap kesal dan tidak terima. "Nggak penting. Yang penting sekarang lo siap-siap. Coba liat, ini udah jam berapa, Alya bentar lagi pasti bakalan nungguin kita, Ky," gerutu Terry. Ricky terkesiap antara lupa-lupa ingat. Efek bunga tidurnya belum hilang dengan sempurna. Karena di bangunkan dengan cara yang tidak normal, sepertinya sebagian nyawa Ricky yang terlepas belum kembali. "Ohh ... iya kah?" Ricky malah tampak agak linglung. Dengan jengkel Terry membuka lagi, tutup botol di tangannya, lalu mengambil ancang-ancang untuk menyiram pria itu kembali. Akan tetapi, dengan sigap Ricky mengangkat tangannya. "Oke oke. Stop! Gue mandi dulu sekarang. Enak aja maen siram-siram bae." Dengan malas, pria itu bangkit dari tempat tidur. Melakukan gerakan lamban yang diselingi menguap beberapa kali. Terry sudah sangat gemas, ingin menendang pan*tatnya barangkali. Akan tetapi di tahannya semua hasrat terpendam itu. Ia tidak ingin mood baiknya hari ini dirusak. Tidak ada yang boleh menggagalkan acara bermainnya dengan Alya untuk hari ini. Termasuk seorang Ricky.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD