Pekerjaan yang menumpuk rupanya sedang betah menjadi kawan sejati dari Terry. Waktu sudah hampir menunjukan pukul 10.00 malam. Sebenarnya, ini masih terbilang cukup siang, karena bila sedang di buru waktu, Terry bahkan bisa tidak tidur semalaman hanya agar pekerjaannya cepat selesai.
Ditemani Ricky yang saat ini bak jelangkung alias datang tak di jemput, pulang tak di antar, Terry masih berkutat pada layar komputer, mengedit beberapa bagian potret yang dirasa kurang cocok dengan seleranya.
Lebih tepatnya sih, Ricky tiba-tiba saja datang ke Studio. Seperti memiliki firasatnya tersendiri, Ricky menebak kalau Terry ada di studionya seorang diri. Dan ternyata, tebakannya tepat.
Studio milik Terry, sebenarnya adalah sebuah rumah yang di sulap menjadi tempatnya bekerja. Karena itu, fasilitas untuk hidup di tempat ini cukup lengkap, seperti dapur, kamar dan benda-benda standar lainnya.
Biasanya, Crew dari Studio Foto Terry juga seringkali, menginap dan menghabiskan waktu seperti di rumah sendiri. Akan tetapi, untuk hari ini, semua orang sepertinya sedang ingin tinggal di rumah mereka masing-masing.
"Gua laper nih. Di dapur lo ada apaan?" tanya Ricky, sembari mengelus-ngelus perutnya.
"Nggak tahu. Cek aja," ujarnya tanpa menoleh.
"Masa Tuan rumah nggak tahu apa isi dapurnya sendiri?"
"Gua nggak pernah ngisi dapur. Anak-anak tuh, yang biasa ngobrak-ngabrik. Lagian ..." Terry berbalik dengan cara memutar kursinya, menghadap pada Ricky yang tengah merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang seukuran tempat tidur.
"Lo, nggak usah kaya tamu gitu deh. Makan aja apa yang ada. Kalau nggak ada apa-apa, depan komplek juga banyak yang jualan," lanjut Terry dengan nada sedikit menggerutu.
"Yeeeee, sensi banget sih. Lagi Pms lu ya!"
Ricky beranjak dari sofa, dan mencoba untuk melayani dirinya sendiri. Terry berdecak kesal, antara sebal tapi tak bisa mengelak juga.
Ia memang sedang dilanda ragu. Kaos putih tipis, bersama celana boxer santai yang membalut tubuhnya malam ini, sangat bertentangan dengan hatinya yang ingin meronta-ronta.
Sampai saat ini, belum juga ada kabar dari Alya. Beberapa kali ia melihat app Whats up. Chat singkat yang sejak semalam ia kirimkan masih saja ceklis, dengan foto profile standar yang belum berganti pula. Tandanya nomor Whats up Terry masih di blokir. Begitu pula dengan telpon biasa. Sepertinya, Alya juga menambahkan nomornya pada daftar blacklist.
"Lo tuh kenapa sih Ya? kita baik baik aja sebelumnya," gumam Terry dalam hati. Pria itu menyugar rambutnya dengan gusar. Sejak mereka bertemu untuk pertama kalinya lagi saat acara Reuni, Alya sepertinya cukup merespon baik dengan segala tindakan Terry.
Berbalas pesan, telpon, sampai yang paling teranyar adalah saat mereka secara tidak sengaja bertemu di Mall. Menghabiskan waktu bersama, meski bukan dalam ruang lingkup berstatus kekasih. Terry yakin betul, jika Alya merasa nyaman saat tengah bersamanya. Tapi sekarang, kenapa?
Ricky kembali dengan dua buah mie instan dalam cup yang asapnya masih mengepul. Kawan yang baik memang, meski Terry sudah bersikap jutek, ia tetap ingat pada kawannya dan tidak makan sendirian.
"Nih ... buat lo," sodornya pada Teryy. Sebenarnya Terry ini sedang malas sekali untuk makan. Sungguh! Tapi melihat kawannya sudah berbaik hati. Mana berani ia menolak. Alhasil, di ambilnya juga benda itu.
"Heeeuuhh, baikkan gue? Coba lo pikir, dimana lagi lo bisa nemuin sahabat sejati kaya gue." Ricky kembali menuju sofa, sembari bekacak pinggang, membawa mie instan dalam cup tadi.
"Yaelah, tibang bikin mie aja sombong amat."
Terry baru saja, hendak menyuap mie menggunakan garpu plastik ke dalam mulut, akan tetapi tangannya berhenti bergerak begitu saja saat suara pesan masuk, dari aplikasi si hijau berbunyi. Ia berputar lagi, menghadap pada meja kerjanya, meletakan cupnya di samping keyboard. Lalu mengambil ponselnya di sisi lain meja.
Hatinya girang seketika, saat nama Alya muncul pada layar ponsel. Alya sudah membuka blokiran nomor Terry. Awalnya Terry ingin berteriak girang. Tapi urung, karena mengingat ada Ricky di dekatnya. Ia tidak ingin kalau sahabatnya itu tahu, bahwa nomornya sempat di blok. Pria itu pasti akan membuat kehebohan dengan bertanya tanpa henti.
Dalam pikiran Terry, sejak datang, Ricky sama sekali tidak membahas soal Alya, artinya tidak ada kejadian aneh yang menimpa pria itu, dan memang hanya Terry yang nomornya di Blok.
"Lo lagi Free nggak besok? Kita keluar yuk. Tadinya gue mau ajak Nina. Tapi orang bunting nggak bisa gue ajak aneh aneh. Bisa mampus gue di hajar lakinya. Lo bisa kan? Please bisa ya. Bales buruan, tapi nggak usah panjang-panjang. Cukup Yes Or No. Sekalian ajak Ricky juga ya. Ketemu di Taman Kota, jam 9.00 pagi. Biar waktunya agak lamaan. Laki gue kan pulangnya sore. Oke!"
Tanpa pikir panjang lagi, Terry segera mengetikkan tiga karakter, Y-E-S, dan pesan terkirim. Kali ini, pesan dari Terry langsung mendapat dua ceklis biru. Akan tetapi, setelah itu, Alya langsung offline. Pria itu mulai paham, ada hati orang lain yang sedang di jaga oleh Alya, yaitu suaminya.
"Lucu amat sih, dia yang ngirim chat panjang lebar, tapi gue yang dilarang bales panjang-panjang, " lirihnya.
"Apaan Ter?"
Rupanya, lirihan yang dikemukakan pria itu, tertangkap oleh pendengaran Ricky. Memang hanya samar-samar, tapi membuat Ricky penasaran juga.
Alya meminta agar Terry juga mengajak Ricky, tapi pikiran Terry justru berbelok. Kenapa harus bersama Ricky, kalau mereka bisa pergi berdua. Bukankah akan lebih menyenangkan, jika bisa menghabiskan waktu dengan istri orang. Terry hanya tinggal bilang pada Alya, Ricky sedang tidak bisa ikut.
Namun bagaimana jika nantinya Alya malah benar-benar bertanya dan Ricky menjawab, Terry tidak memberi tahu apapun. Bisa-bisa Alya malah marah. Sembari menghela nafas, Terry mau tak mau harus mengajak Ricky juga, dengan harapan pria itu akan menolak.
"Ini si Alya, besok ngajakin jalan, bareng lo juga. Mau bawa Nina, ribet katanya lagi bunting," jelas Terry panjang lebar.
"Seriusan. Ayolah, udah lama banget nggak keluar bareng," kata Ricky dengan semangat.
"Kampret. Malah beneran mau ikut segala." Jawaban Ricky berhasil membuat Terry menggerutu dalam pikirannya.
"Tapi dalam rangka apa nih, si Alya ngajak jalan segala?"
"Nggak tahu. Ya ... lagi gabut kali." Terry mengerdikan bahu. Padahal ia masih dalam posisi duduk membelakangi Ricky.
"Nah kan, apa gua bilang tempo hari. Alya itu nggak bahagia sama pernikahannya. Kalau dia bahagia, mana mungkin malah berani ngajakin kita jalan. Secara kita ini dua-duanya kan cowok. Ya kecuali kalau lo, lagi mau coba ganti burung jadi sarang burung."
"Kampret, omongan lu nggak mutu banget sih!"
Ricky cengengesan sembari terus mengoceh. Terry tidak berminat untuk mendengarkan. Tapi apa yang dikatakan Ricky, ternyata cukup masuk akal juga baginya. Benarkah Alya yang sejak dulu selalu ceria itu, justru tidak bahagia dengan pernikahannya. Akan tetapi ...
"Apa urusan gue coba?"