Drama selesai dan sore kini mulai berganti malam. Alya sedang menunggu Novan yang tengah pergi ke toilet di pinggir kolam renang, tempat di mana mereka sempat bercengkrama tadi. Ia hanya sendiri menatap jernihnya air yang sedang tenang. Sementara anggota keluarga yang lain berada di dalam sana.
Rasanya begitu malas untuk berbaur di antara orang-orang yang tidak menyukaimu. Berteman sepi, gadis itu tenggelam dalam lamunannya sendiri saat kembali melihat insta story milik sahabatnya yaitu Nina. Tampak ia dan keluarganya sedang makan di salah satu Restaurant mewah dengan sangat bahagia. Ia di kelilingi oleh Suami juga Ibu Mertuanya yang baik hati.
"Cih ... pamer." Rasa iri dan dengki seperti mulai menelusup kembali dalam hati dan pikirannya.
Apa yang di posting oleh Nina, sangat berbanding terbalik dengan keadaan Alya yang sejatinya penuh dengan sindiran tak kasat mata. Rasa lelah mulai melingkupi hatinya yang perlahan merapuh. Di saat seperti ini, bibirnya terasa amat kecut. Ia ingin sekali menghisap sebatang rokok, mendengarkan dentuman musik yang keras, membiarkan semua kekesalan dalam hatinya meluap. Akan tetapi, tentu saja ia tidak bisa.
Sesaat kemudian, suara langkah seseorang tertangkap oleh pendengarannya. Alya berbalik, lalu mendapati Ibu Nindy yang datang mendekat. Gadis itu memaksakan seutas senyum yang harus tampak setulus mungkin, meski ia sudah mulai muak.
"Di mana Novan?" tanya Ibu Nindy.
"Mas Novan lagi ke kamar mandi Bu," jawab Alya sehalus mungkin. Bicara dengan Ibu Nindy itu udah kaya ngomong sama guru BK. Salah sedikit kelar dah.
"Kamu masih pake KB kan?" tanya Ibu Nindy kemudian.
Alya mengerutkan kening, ini bukan yang pertama kali Ibunda dari Novan ini menanyakan soal program Keluarga Berencana Alya. Ia tahu apa alasannya. Ini sudah enam bulan lebih, sejak Alya dan Novan menikah. Tapi Ibu Nindy masih beriskeras agar Alya tidak melepaskan KB nya.
"Iya Bu. Masih kok. Kenapa?" balas Alya.
"Ya baguslah. Pokoknya inget, ya. Kamu nggak boleh hamil dulu. Umur kamu itu masih muda, ngurus suami aja belum bener, ditambah punya anak, makin nggak ke urus aja Novan nantinya."
Penuturan Ibu Nindy itu lebih terdengar seperti "Saya nggak sudi punya cucu dari kamu," dalam pendengaran Alya.
"Kamu juga harus inget, kalau semua yang Novan punya itu berasal dari keluarga ini. Pokoknya, sebelum keuangan kalian lebih baik. Kamu belum boleh punya anak. Titik," tutur Ibu Nindy dengan tegas.
"Masa bodo. Emang gue pikirin. Sialan! punya mertua kok rese banget sih," gumam Alya dalam hati. Namun, semua itu hanya bisa ia pendam di dalam hati. Bisa terjadi perang dunia jika Alya benar-benar mengutarakannya. secara terang-terangan.
"Baik Bu, Alya paham," jawabnya dengan lembut.
Benar, Alya paham sekali, kalau itu bukanlah satu-satunya alasan, mengapa Ibu Nindy melarangnya memiliki anak dalam waktu dekat. Ibu Nindy ini masih bersikeras untuk menjatuhkan namanya. Jika Alya akhirnya memiliki anak, tentu akan lebih sulit lagi untuk memisahkan Alya dari Novan.
"Tegang amat, lagi pada ngobrolin apa sih. Udah mau saling ngobrol itu kan bagus. Sekarang tinggal di kurangin aja hal-hal yang bikin tegangnya," ujar Novan yang tiba-tiba saja datang mencairkan suasana.
"Ibu mau ngurusin cucu-cucu Ibu dulu di depan." Ibu Nindy meninggalkan Novan dan Alya di pinggir kolam. Novan mendekat pada istrinya yang sepertinya masih merasa geram.
"Apapun yang diomongin Ibu jangan di ambil hati ya."
Alya melirik tanpa ekspresi. Sepertinya, untuk memaksakan seutas senyumpun, Alya sudah tidak mampu.
"Kita pulang sekarang ya Mas!" pinta Alya.
"Ehm ... kamu yakin?"
Alya mengangguk dengan cepat. Berada lebih lama lagi di tempat ini, bisa membuatnya semakin gila, atau sekurang-kurangnya, perlu seorang psikiater. Baiklah, Novan juga sepertinya tidak memliki pilihan.
"Kalau gitu kita pamit dulu sama yang lain ya," pinta Novan, seraya menggenggam tangan istrinya, lalu membawa Alya kembali ke dalam rumah.
***
Apakah saat seorang wanita menikah, ia sudah tidak boleh memikirkan kebahagiaannya sendiri lagi. Apakah setelah menikah, prioritas utamanya kini hanya bertumpu pada kebahagiaan suami dan Ibu mertuanya saja?
Alya sejujurnya ingin sekali cuek dengan hal itu. Sama seperti janji yang telah mereka ikrarkan, saling menjaga, saling mengasihi, saling menuntun, saling memberikan suport, dan bukan untuk saling menyakiti.
Alya dan Novan memang tidak saling menyakiti. Akan tetapi, sikap mertua Alya, kadang membuat gadis itu tak habis pikir. Keluarga Alya memperlakukan Novan dengan sangat baik. Jika mereka tahu sikap Ibu Nindy terhadap Alya adalah seperti demikian, maka mereka tidak akan tinggal diam tentunya.
Hanya saja, Alya bukanlah tipe orang yang suka, jika masalahnya tersebar. Ia lebih memilih untuk menyimpannya rapat-rapat selama ia masih bisa menahan sabar.
Pelampiasan sesaatnya mungkin hanya sebatang rokok, atau mungkin sebotol minuman barangkali. Tapi setelah menikah, ia sudah bertekad untuk tidak lagi menyentuh air yang memabukkan itu.
Beberapa saat kemudian, nama Terryandi Agustira mendadak muncul di benaknya. Pria itu, tidak menghubungi Alya seharian ini. Mulai kemarin malam, Alya memblokir kontak Terry pada ponselnya. Bukan tanpa sebab, ia melakukan semua ini. Setelah pertemuan mereka saat Reuni di rumah Nina, komunikasi mereka sudah hampir tergolong tak wajar juga.
Setiap waktu, Terry selalu menghubunginya. Awalnya, Alya tidak merasakan dampak apapun. Akan tetapi, setelah tahu Novan melihat mereka di Mall kemarin, rasanya Alya mulai takut ini akan berpengaruh pada keadaan rumah tangganya.
Namun, di saat seperti ini, ia justru memikirkan rencana lain. Bagaimana jika ia bertemu dengan Terry besok. Setidaknya di depan Terry, dia tidak perlu menahan rasa kesalnya. Ia bisa melampiaskan apapun yang ada dalam benaknya.
Tidak seperti sekarang. Novan memang suaminya, pria itu juga selalu berusaha untuk mengerti pada setiap apapun yang menjadi masalah buat Alya. Namun sekarang, masalah yang di deritanya justru berasal dari keluarganya sendiri
Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara gamblang, mengingat Novan juga pasti sangat menyayangi keluarganya. Pertanyaan dalam benaknya yang kalut, membuatnya meragu. Kenapa, dulu dia mengambil keputusan secepat ini untuk menikah. Sementara ia, masih ingin bebas.
"De, Mas jadi bingung nih harus ngapain kalau kamunya kaya gini terus?" kata Novan. Ia melirik pada Alya, yang kini juga telah mengalihkan perhatiannya.
Gadis itu berbalik, melihat pada Novan. Memasang senyum setulus mungkin yang bertolak belakang dengan hatinya.
"Aku nggak apa-apa Mas. Ini kayanya masuk angin deh aku," ujarnya sembari memijat pelipis dahi. Meski sebenarnya ia pusing, jelas bukan hanya karena masuk angin.
"Nanti begitu sampai di rumah, kita langsung istirahat ya. Atau kamu mau beli sesuatu dulu. Yang pedes pedes barangkali?"
Kebiasaan Alya jika sedang pusing adalah memakan makanan pedas yang bisa membangkitkan selera dan moodnya. Terbukti, karena setelah memakannya, keringat bercucuran di sertai semangat yang ikut memanas. Akan tetapi karena kali ini alasannya berbeda. Alya menggelengkan kepalanya.
"Nggak Mas, aku mau pulang aja ya. Pengen istirahat. Udah mau malem juga. Mas harus tidur, kan besok kerja," tolaknya dengan halus. Novan mengerdikkan bahu, seraya berkata.
"Ehm ... its oke."
Novan tak lagi memperpanjang masalah. Ia tahu istrinya kini sangat lelah. Perempuan itu harus istirahat dengan baik malam ini, atau diselingi dengan pijatan yang panas mungkin?