Rumah Novan

1420 Words
Alya berlalu meninggalkan Novan dan Ibu Nindy dari ruang tengah. Ia pergi ke dapur dengan niat untuk membantu Ke dua Kakak Ipar perempuannya. Sama seperti Alya, mereka juga berstatus sebagai menantu. Akan tetapi, Alya kerap kali merasa jika Ibunda dari Novan ini, selalu membeda-bedakan dirinya hanya karena dia adalah menantu paling bungsu. Sementara itu Novan duduk berdua bersama Ibunya di ruang tengah. Lebih tepatnya duduk sembari melihat anak-anak kecil yang bermain dengan riang. Ke dua Abang dari Novan sedang pergi entah ke mana, mungkin mereka tengah berkeliling, mengenang masa kecil di rumah ini. "Ibu, tolonglah, jangan selalu berlebihan sama Alya," keluh Novan tiba-tiba. Ibu Nindy memutar pandangannya. Merasakan jemu karena menurutnya Novan belum juga sadar, Ibu Nindy ingin sekali Novan berpisah dengan Alya. Meski Ibu Nindy ini sudah bisa dikatakan sepuh, tapi jangan dikira beliau seperti nenek-nenek tua tak berdaya yang jalannya harus di tuntun. Beliau adalah member aktif dari club senam Ibu-Ibu sosialita. Makanan yang dikonsumsinya juga selalu terjaga dengan baik, ia tidak pernah meminum air putih kurang dari 2 liter setiap harinya. Bahkan Ibunda dari Novan ini hampir tidak pernah sakit. Karena Itu, Ibu Nindy selalu tampak awet muda. "Ibu nggak berlebihan. Justru istri kamu aja yang kekanak kanakan. Harusnya kamu itu cari istri yang bisa urus kamu, bukan malah sebaliknya," gerutu Ibu Nindy. Novan menarik nafas dalam-dalam. Ini bukan pertama kalinya, ia berusaha agar Ibu Nindy tidak selalu menyalahkan Alya dalam segala hal. Ia tahu, surganya ada di bawah telapak kaki Ibu, tapi ia juga berhak menegur jika apa yang dilakukan Ibunya ini adalah salah. "Kalau Novan yang diperlakukan seperti itu, sama orang-tuanya Alya gimana? Apa Ibu terima?" tanya Novan, meminta pendapat Ibunya. "Tuh kan, kamu kalau udah ngomongin soal Alya pasti ngelawan," sanggah Ibu Nindy. Gemas juga lama-lama Novan ini. Sepertinya, obrolan sekilas ini tidak akan berpengaruh banyak. Karena itu, Novan kemudian lebih memilih untuk pergi sejenak, daripada ia harus menjadi anak durhaka karena menahan kesal. Sementara itu, Alya di dapur tengah berbaur dengan Rania dan Syila. Kedua orang Kakak Ipar yang sifatnya saling bertolak belakang. Rania adalah Kakak Ipar pertama yang cukup menerima kehadiran Alya. Dia tidak pernah ikut campur dalam segala sesuatu yang bukan menjadi urusannya. Tapi juga bukan orang yang terlampau cuek sehingga mampu untuk membuat masalah. Berbeda dengan Syila, Kakak Ipar yang ke dua bagi Alya ini, orang yang cukup nyinyir dan sombong, hobinya pamer juga bermuka berdua. Dia ini pandai sekali bicara terutama di depan Ibu Mertuanya. Padahal tak jarang Syila ini mengeluh jika sedang berada di belakang IBu Nindy. Seperti sekarang ini. Alya dan Rania tengah sibuk menyiapkan makanan yang hampir selesai. Sementara Syila sendiri malah sibuk dengan gadget di tangannya. "Ibu tuh sebenernya ribet banget ya. Pake acara masak-masak segala. Padahal kan lebih cepet delivery. Nggak perlu repot, apalagi kotor-kotoran segala. Kalau takut nggak pada punya uang, Aku bayarin semuanya juga nggak masalah," gerutu Syila. Rania memutar pandangan jengah, sementara Alya juga cuek bebek tak menanggapi perkataan iparnya tersebut. Merasa tak ada yang menggubris, atau memberi perhatian. Syila bicara sendiri, untuk menarik perhatian Rania dan Alya. "Oiya, aku beliin Ibu kado tas limited Edition loh. Untung aja, Mas Indra nggak pelit. Sebenernya Ibu juga nggak akan ngerti, tas yang bagus itu kaya apa. Tapi ya, jangan mentang-mentang orang tua, kita sampai ngasal buat ngasih hadiah." Alya mendekati Rania yang tengah memindahkan Ayam dari penggorengan di atas piring saji. Gadis itu berbisik, di telinga ipar pertamanya. "Mbak Syila kesurupan ya. Dari tadi ngomong sendiri mulu," bisik Alya pada Rania. "Hushhh, biarin aja. Jangan ditanggepin! Nanti malah ikutan gila. Ini kamu bawa ke meja makan ya," ujar Rania seraya menyerahkan piring pada Alya. Alya lantas berjalan melewati Syila, namun langkahnya mendadak terhenti saat Ipar keduanya itu mendadak bertanya. "Eh ... Alya, kalau kamu ngasih hadiah apa ke Ibu? Jangan bilang cuma ngasal ya?" Alya menoleh, dan memasang senyum manis yang memuakkan. Ingin sekali ia menyumpal mulut wanita di hadapannya ini, tentu saja kalau bisa. Tapi sayangnya, dia sedang tidak ingin mencari masalah. Apalagi Syila adalah menantu kesayangan Ibu Nindy. Alya menelan ludah pada tenggorokannya seraya berkata l. "Sempak warna-warni," jawab Alya seraya mengibaskan rambut lurusnya yang hanya sepanjang bahu. Syila menghentakkan kakinya dengan kesal. Rania menahan tawa, melihat tingkah Alya yang cenderung lebih suka melawan. Orang macam Syila ini kalau dibiarkan memang toxic banget. Alya sampai di meja makan lalu meletakan piring berisi ayam goreng yang dibawanya dari dapur tadi. Masih tersisa sedikit makanan lain untuk dibawa. Tapi ia merasa amat malas untuk kembali ke dapur, kemudian bertemu dengan Syila kembali. Jadi dia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar mengelilingi rumah. Kalau Rania butuh bantuan, biarkan saja ia memaksa Syila untuk bergerak. Rumah Novan ini terbilang sangat luas. Tiga kali lebih luas daripada rumah yang ditempati novan dan Alya saat ini. Hanya Rania yang bertahan tinggal di sini bersama dengan suaminya yaitu Arga. Arga adalah Kakak pertama dari Novan lalu kemudian di susul oleh Indra, alias suami dari Syila. Alya berjalan memutar, dan menemukan kolam renang dengan pantulan air berwarna biru jernih, yang membuat matanya sejuk. Ini sangatlah lebih baik daripada ia harus berada di dapur dan beradu mulut dengan Syila. Gadis itu membuka pintu, kemudian berjalan mendekat menuju tepi kolam. Ia berjongkok di depan kolam renang lalu mencelupkan tangannya pada air yang dingin akan tetapi menyejukkan, lantas memainkannya berulang kali. Tanpa ia sadari, ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi. Orang itu mendekat pada Alya perlahan-lahan lalu tiba-tiba saja. "Daaarrr ..." Seberkas tangan menyentuh bahu Alya, membuatnya terkejut seraya berteriak. "Waaaa ..." Hampir saja gadis itu akan terjatuh ke dalam kolam di depannya, akan tetapi dua buah tangan kekar yang membuatnya terkejut dengan sigap melingkar pada pinggang Alya dan menariknya dengan cepat. Bukannya terjatuh ke depan dan tercebur ke kolam, kini Alya malah terjengkang ke belakang. "Aadduuhh sakit," ringis Alya sembari memegangi pinggangnya. Padahal yang seharusnya sakit adalah pantatnya. Karena p****t adalah bagian tubuhnya yang lebih dulu jatuh dan mengenai lantai. "Aduhh, untung aja, masih sempet." Mendengar suara yang tak asing di telinganya, Alya berbalik. Rupanya benar, ternyata Novan lah, penyebab sekaligus penyelamat insiden yang baru saja ia alami. "Ihhh Mas Novan. Ngapain sih pake ngagetin segala. Udah tahu di pinggir kolam juga," gerutu gadis itu. "Apa sih, De. Aku kan cuma iseng. Aduhh kamu sekarang berat ya. Padahal, harusnya tadi ku biarin aja kamu nyebur. Nggak akan tenggelem juga kan, pasti ngambang." Alya langsung mengangkat tangannya dan memukuli Novan begitu saja. Akan tetapi Novan bukannya merasa sakit. Ia justru tertawa, dengan tenaga Alya yang tentu saja tidak ada apa-apa nya. "Ha-ha-ha udah donk, De. Kamu nih! Nanti kalau Mas sakit gara-gara kamu, siapa yang mau kerja coba. Kamu kan jajannya banyak." Alya berhenti, lalu memasang wajah cemberut andalannya. Novan selalu gemas melihat Alya yang seperti ini. Tanpa diminta, wajah Novan mendekat lalu tiba-tiba saja ... Cup ... Satu ciuman kecil membekas pada bibir Alya. Meski telah setengah tahun menikah. Alya masih saja belum terbiasa dengan kebiasaan suaminya yang selalu melakukan hal tiba-tiba. Ia terdiam dan kaku, padahal hanya sebuah ciuman. Maka dari itu, Alya hampir tidak pernah bisa menolak apapun perlakuan Novan di atas ranjang. "De ... tuh kan. Kebiasaan deh. Harus aku terus yang ngajarin kamu dimanapun. Coba sekali-kali itu kamu yang maju duluan, ajak main, aku nggak akan nolak. Meski di sini sekalipun," goda Novan. Alya mengerjap, kadang Novan bisa terdengar sangat lembut, kadang juga bisa menjadi sangat dewasa dan bijaksana, kadang juga bisa menjadi lelaki nakal yang membangkitkan gairahnya. Alya hanya belum pernah tahu, bagaimana marahnya seorang Novan Aditama dan berharap tidak akan pernah tahu. "Yang bener aja Mas. Kamu sih nggak akan apa-apa. Tapi aku? bisa habis aku sama Ibumu Mas," keluh Alya. Novan terkekeh geli, ia kemudian mengulurkan tangan dan membantu Alya untuk berdiri. "Ya udah, kita tunda dulu buat yang ini. Tapi janji nanti malem ya, atau di dalem mobil nanti juga boleh. Kayanya, kita belum pernah main panas-panasan di dalem mobil kan?" kata Novan seraya menggoda Alya lagi. Wajah Alya memerah, Alya mudah sekali terang*sang bahkan hanya dengan kata-kata. Meski merasa malu, ia harus mengakui, bahwa Novan membuatnya berpikir dan ingin tahu bagaimana rasanya bercinta di dalam mobil. "Oke stop. Tunda dulu imajinasinya ya. Jangan sampe, aku nelanjangin kamu di sini. Kita ke ruang makan sekarang ya De. Kayanya semua udah beres deh." "Yang lagi ngehayal itu lagian siapa coba?" Alya berjalan mendahului Novan dengan acuh hanya untuk menyembunyikan rasa malunya. Novan tahu itu. Tapi ia tidak akan menegurnya, baginya memliki istri yang manja dan lucu seperti Alya ini, adalah sebuah kebahagian versi dirinya sendiri yang tidak akan pernah bisa di mengerti oleh orang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD