"Oke tahan. Satu ... dua ..."
Klik ...
Terry melihat hasil gambar dari kamera yang menggantung di lehernya. Merasa kurang puas, tangan pria itu kembali terangkat, kemudian memberikan isyarat sekali lagi pada objek fotonya yaitu sepasang muda-mudi yang kini tengah menjalani sesi foto prewed.
"Satu ... dua ..." Terry kembali mengambil gambar beberapa kali, lalu menyeka keringat di sekitar dahinya.
"Break dulu setengah jam ya," teriak Terry pada Crew yang membantunya. Sepasang kekasih yang tengah melaksanakan Foto Prewed itu bernafas lega. Mereka menuju stand untuk beristirahat sejenak, begitupun dengan Terry.
Ia melangkah sembari melihat hasil fotonya yang cukup memuaskan. Sejak beberapa tahun ini, nama Terryandi Agustira sedang naik daun sebagai Photographer muda yang tidak hanya berbakat dalam bidang seni.
Selain pandai memotret, pria yang berumur 22 tahun ini, juga pandai memasak. Ia sering kali memotret hasil masakannya dan mengunggahnya pada akun i********:. Alhasil, namanya mulai melambung sebagai selebgram muda tampan, dengan followers yang cukup menjanjikan.
Berbagai endorse turut serta menambah hasil pundi pundi rekening yang jumlahnya tak sedikit. Alhasil dalam waktu yang relatif cepat, pria yang mulai digandrungi banyak cewek ini bisa memiliki studio foto sendiri.
Muda, tampan, berbakat, dan sukses. Tentunya bukan hal yang sulit bagi Terry untuk mendapat wanita idaman hati.
Namun sesukses apapun namanya saat ini, tetap saja belum mampu untuk mengubah pribadinya yang menyandang status single. Dia nggak masalah dengan semua itu. Karena hingga saat ini, sepertinya belum ada wanita yang bisa menarik perhatianya lebih dari gadis itu. Siapa lagi kalau bukan Alya.
Sembari break, Terry iseng membuka notifikasi email yang belum sempat dibukanya saat ia sibuk memotret.
Pt. Aditama Building. Salah satu perusahaan penyedia jasa desain dan project pembangunan yang kini sedang berkembang, bermaksud membuat janji dengan Terry.
Waw, agak terkejut juga. Ia jarang mendapatkan tawaran pekerjaan selain sebagai Photographer biasa, atau endorse produk tertentu. Mendapat janji dengan salah satu perusahaan dengan prospek yang akan meningkat. Tentu tidak bisa dilewatkan begitu saja.
Mendapat kabar bahagia membuatnya teringat pada Alya. Biasanya, Alya adalah orang yang paling senang dan memberikan suport atas pencapaian yang di dapat oleh Terry.
Terry menekan speed dial yang langsung terhubung pada nomor Alya. Ia mendekatkan ponsel pada telinganya. Namun yang terjadi. Nomornya tak juga tersambung. Ini agak aneh bagi Terry, karena Alya mendadak hilang sejak hari di mana ia mengantar Alya berkeliling Mall. Alias kemarin.
***
Hari yang cerah, untuk jiwa yang sepi. Kira-kira mungkin begitulah isi hati Alya saat ini. Ia melihat kembali setiap sosok bayangan identiknya pada cermin. Mungkin hampir seharian ini ia sibuk memilah baju hanya untuk pergi ke rumah Ibu mertuanya. Ibunya Novan itu sangat sensitif, seperti cewek yang kena Pms setiap hari. Alya tidak bisa sembarangan untuk memilih pakaian karena Ibu mertuanya ajaib sekali.
"Ibu nggak suka, istrimu bajunya kebuka kaya gitu."
"Ibu nggak suka, Alya pake baju kaya gitu, gerah liatnya."
"Ibu nggak suka dia pake segala macem apa itu di rambutnya. Coba liat iparmu itu, selalu perfect nggak pernah neko-neko. Kalau nikah sama anak yang baru gede ya begitu."
Dan berbagai macam cemoohan lainnya. Novan adalah anak bungsu dari tiga bersaudara di mana semuanya adalah laki-laki. Akan tetapi memang Novanlah yang paling dekat dengan Ibunya sendiri di bandingkan Kakak-kakaknya.
"De, udah siap?" Novan baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu tampak lebih santai hari ini.
Alya mengembungkan pipinya, sembari berputar di hadapan sang suami kemudian berkacak pinggang.
Dress hitam polos tanggung sepanjang betis, dengan kerah dan ikat pinggang, yang membuat lekukan tubuhnya berbentuk namun tetap kalem dan tidak nampak sexy. Harusnya, penampilan ini sudah cocok buat Alya.
"Ngapain sih kamu malah muter-muter segala?" tanya Novan dengan heran.
"Hiiissshh ini loh Mas. Aku pake ini menurutmu gimana? Nora nggak sih?" tanya Alya merendah.
Ia selalu saja merasa kehilangan kepercayaan diri jika akan menghadapi keluarga Novan. Kadang heran juga, kok bisa ada seorang Novan, pria baik hati yang sabarnya nggak ketulungan, terselip di antara keluarganya yang super duper nyinyir.
"Aku ini nggak ngerti fashion, De. Bagiku, asal yang kamu pake itu masih kelihatan sopan, ya it's fine? Kamu akan tetap cantik."
Hati Alya meleleh dibuatnya. Padahal apalagi sih kurangnya Novan, baik, perhatian, sabar, ganteng, kaya pula, tapi itulah dia. Terlalu sempurna acap kali membuat kita seperti membutuhkan sesuatu yang baru. Seperti tantangan misalnya.
Namun jangan salah, sabarnya seseorang yang pendiam, akan menjadi boomerang tersendiri bagi si penggoda kesabaran.
"Berangkat sekarang, atau aku bisa tidur dulu nungguin kamu dandan?"
Alya tersenyum, seperti merasakan sindiran halus. Akan tetapi ia tidak marah, karena memang begitulah adanya. Novan kerap kali dibuat pusing dengan waktu jika Alya sudah mulai larut dalam make upnya. Gadis itu berjalan mendekat, lalu mengapit tangan suaminya. Mereka berjalan beriringan keluar dari kamar.
Setelah menitipkan kunci pada Bibi yang sedang membersihkan rumah. Novan segera melesat meninggalkan perumahan yang agak lumayan sepi tersebut. Jakarta cukup renggang hari ini untuk ukuran jalan yang biasanya macet parah.
Jarak menuju tempat tujuan mereka, sebenarnya tidak terlalu jauh juga. Hanya saja, kawasan pabrik yang mereka lewati akan menghambat perjalanan, jika tidak melakukan perhitungan jam yang tepat terlebih dahulu.
Saat tiba di rumah masa kecil Novan, sudah ada mobil lain yang terparkir. Artinya Kakak pertama Novan sudah tiba di sana lebih dulu. Begitu masuk ke dalam rumah, Novan dan Alya di sambut oleh beberapa keponakan mereka yang masih kecil dan lucu. Alya menggendong salah satunya kemudian menghampiri Ibunya Novan alias Sang Mertua Legend.
"Happy birthday Bu. Semoga Ibu panjang umur, sehat selalu ya," ucap Novan sembari memeluk Ibunya.
"Iya Van. Makasih ya," seru Ibu Nindy seraya mengusap punggung anaknya. Kini bergantian Alya yang mendekat. Gadis itu menyalami Ibunda Novan lantas memeluknya juga.
"Selamat ulang tahun ya Bu. Semoga panjang umur, sehat selalu dan semakin cantik ya Bu," doa Alya setulus hati. Tapi yang di doakan sepertinya salah menangkap maksud kebaikan dari menantunya tersebut.
"Kamu kok doanya kaya gitu. Orang yang sudah sepuh kaya Ibu ini mana bisa makin cantik. Yang ada makin keriput. Mbok ya kalau ngedoa itu jangan aneh-aneh."
Baiklah, Alya menggaruk tengkuk belakang leher yang sesungguhnya tidak gatal. Itu hanyalah reflek setiap kali ia merasa gugup atau sedang berbohong.
"Mba, mu lagi pada di dapur ,susul dulu sana. Ini Arsya biar Ibu yang pegang. Adduuh sini-sini sayang. Sama nenek ya." Ibu Nindy mengambil anak berusia 2 tahun itu dari gendongan Alya. Alya lantas menuruti perintah Ibu Mertuanya setelah meminta izin pada Novan terlebih dahulu.
Novan sendiri sudah hampir kehabisan akal. Bagaimana agar Ibu Nindy tidak selalu bertentangan dengan istrinya itu. Ayah Novan sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Semua orang berkata kalau di antara ketiga anak Ibu Nindy, Novanlah yang paling mirip dengan Almarhum Ayahnya.
Sejak kecil Ibunda dari Novan memang over protektif pada Novan karena dia anak bungsu. Terlebih lagi setelah Ayahnya meninggal. Ibu Nindy ini seperti tidak rela untuk melepas anaknya. Alasan Ibu Nindy kurang menyukai Alya, katanya karena gadis itu masih terlalu muda dan belum mengerti apa-apa, juga tidak bisa di andalkan untuk mengurus suami.
Novan juga menolak saat tiba-tiba Ibu Nindy meminta agar Novan membatalkan rencana pernikahannya dengan Alya, karena beralasan sudah terlanjur menjodohkannya dengan orang lain.
Padahal Novan yakin sekali, kalaupun dia menikah dengan wanita lain, Ibu dari Nindy tetap akan tidak menyukai wanita tersebut. Pada intinya, Ibu Nindy ini hanya belum rela anak bungsunya beranjak dewasa. Tapi bagaimanapun juga, Novan harus mengerti. Ibunya sudah mulai sepuh, dan semakin bertambah usia sepuh seseorang, maka pikirannya juga akan semakin kembali seperti anak-anak.