"Mas Nov ..."
Langkah Alya beserta panggilannya pada Novan terhenti begitu saja. Alya langsung cemberut dan memasang muka muram. Ia baru saja membuka pintu ruang kerja suaminya dan langsung disuguhi pemandangan yang cukup mencengangkan.
Novan tengah berjongkok bersama dengan Seorang wanita yang sebenarnya ia kenal. Sasa namanya, rekan kerja atau bawahan dari Novan. Tangan mereka saling bersentuhan di atas tumpukan kertas yang berserakan.
"Alya ..." panggil Novan.
Novan tampak agak terkejut. Buru-buru ia dan Sasa bangun, meski kertas yang berserakan itu belum sepenuhnya terambil.
Baiklah, Alya bukan anak kecil. Melihat keadaan yang berantakan, sudah pasti ada adegan benda jatuh terlebih dahulu sebelumnya. Ia juga percaya, Novan adalah tipe laki-laki yang tidak gemar macam-macam.
Akan tetapi berbeda dengan wanita yang berada di hadapannya itu. Alya kerap kali memergoki Sasa tengah menatap Novan dengan pandangan yang berbeda. Well, bukan hal yang aneh kan kalau saat ini ia tampak agak kesal.
"Saya permisi dulu, Pak," ujar Sasa. Gadis itu melangkah meninggalkan Ruangan Bosnya. Lalu sempat menyapa Alya, yang di balas senyuman sinis nan muak oleh gadis itu.
Alya menutup pintu, lalu menghampiri suaminya itu. Ia meletakan tas hasil belanjanya di atas meja. Setelah menatap Novan tanpa berkata apa-apa, ia berjongkok lalu memunguti sisa-sisa kertas yang berserakan itu.
"Loh, sayang kamu ngapain sih." Novan kemudian ikut berjongkok lagi, memandangi istrinya yang masih cemberut.
"Alya, pasti salah paham," keluh Novan dalam hati.
"Aku bantu beresin kertas-kertas ini loh, Mas. Tapi kok kamu nggak megang tanganku, seperti kamu megang tangannya," kata Alya dengan datar. Gadis itu tetap memunguti sisa kertas yang bertebaran hingga selesai.
"Hah, kamu ini apaan sih, De?" tanya Novan dengan heran.
Mereka berdua kini sama-sama berdiri. Alya memalingkan wajah. Novan mengambil kursi putar yang ada di belakang meja. Membawanya mendeketi Alya. Ia meraih bahu istrinya lalu memaksanya untuk duduk.
"Ayo duduk dulu!" pinta Novan.
Alya mau tak mau, akhirnya menurut dan masih memalingkan wajah, berusaha untuk mempertahankan mode juteknya. Akan tetapi ia tak bisa bertahan saat Novan malah berjongkok lagi, dan kali ini justru ada di hadapannya. Tangannya bertengger di atas lutut gadis itu, menahan agar ia tetap tegak dan tidak harus terlalu berada di bawah.
"Mas minta maaf ya. Kamu pasti salah paham. Tadi itu Sasa nggak sengaja ngejatohin kertas-kertas yang ada di meja. Aku cuma bantu dia buat beresin semuanya," jelas Novan pada Alya.
Novan berbicara dengan sangat lembut. Alya agak terpengaruh, rasa kesalnya juga mulai luluh. Akan tetapi, ia kembali kesal mengingat tangan Novan dan Sasa yang sempat saling tumpang tindih.
"Terus tangannya. Kenapa coba harus kaya gitu?" protes Alya lagi.
"Ya nggak sengaja, De. Mas baru mau narik tangan, pas kamu buka pintu. Kamu jangan nyamain adegan tadi sama yang di film-film donk," bantah Novan lagi.
Alya mendesah pasrah. Kadang ia memang merasa kalau pikirannya terlewat kekanak-kanakan. Novan tak sengaja menyentuh tangan Sasa dan ia sudah merasa begitu kesal. Padahal dia sendiri malah berkeliling Mall bersama Terry. Meski tak sekalipun Terry dan Alya saling bersentuhan fisik.
"Iya, iya. Ya udah ah, ayo berenti. Masa bos duduknya di bawah," celetuk Alya. Novan akhirnya bangun lalu menarik kursi lain di hadapan Alya.
"Jadi habis dari mana tadi?" tanya Novan tiba-tiba.
"Aku habis beli kado buat Ibu di Mall. Makanya langsung ke sini. Mau bikin kejutan niatnya. Eh malah aku yang kaget."
"Oh ya? Sama siapa," tanya Novan lagi. Alya berpikir dan menimbang-nimbang sejenak.
Haruskah ia memberitahu pada Novan kalau ia pergi bersama Terry. Tapi bagaimana kalau nantinya Novan marah, karena baru saja saat melihat cuplikan adegan sekilas ini, Alya sudah merasa kesal. Mungkin untuk hari ini, Alya akan berpura-pura mandiri dulu.
"Nggak sama siapa-siapa kok.
Sendirian aja," jawab Alya sesantai mungkin.
"Ohh. Kasian banget sih istriku ini. Coba kalau tadi telpon, aku bisa kok temenin kamu sebentar, soalnya tadi Aku juga ada di mall. Ketemu clien."
Kening Gadis itu mengkerut. Novan tahu semuanya. Secara kebetulan, Novan juga berada di tempat yang sama. Ia melihat keberadaan istrinya bersama Terry, akan tetapi enggan mengungkapnya secara langsung. Namun mendengar istrinya berbohong justru memicu pertanyaan lain dalam hati. Jika tidak terjadi apapun, harusnya Alya tidak perlu takut kan?
Alya memalingkan wajahnya. Merasa tak enak hati, karena kekesalannya dengan adegan yang dilihatnya tadi, tidak sepadan dengan waktu yang telah ia habiskan bersama Terry.
"Kok kamu jadi diem gitu De?''
"Ehmm, aku ..."
"Dia, temenmu yang namanya Ricky kan?" tanya Novan. Wajah Alya yang semula berpaling langsung menghadap pada Novan.
"Terry Mas, bukan Ricky."
"Iya, aku tahu. Aku cuma mau tahu reaksimu aja. Nggak usah panik. Jadi ... aku harus gimana sekarang biar istriku ini kapok?"
Novan lalu berdiri dan merunduk, tangannya bertumpu pada sisi kanan dan kiri Alya. Gadis itu berada dalam perangkap suaminya sendiri. Novan tersenyum miring, melihat telinga serta pipi istrinya yang merah. Pria itu sudah hafal betul apa yang dirasakan oleh Alya dalam keadaan seperti.
Alya meremas pinggiran kemeja flanel kotak-kotaknya. Aroma parfum tak asing milik suaminya seakan membangkitkan gelenyar aneh dalam dirinya.
"Ma ... Mas jangan kaya gitu. Ini di kantor. Nanti kalau karyawan mu tiba-tiba masuk gimana."
"Siapa orang yang berani masuk tanpa mengetuk pintu ke sini kecuali kamu," ujarnya seraya mendekat. Alya berusaha agar terlihat tetap tenang, tatkala wajah mereka kini semakin tak berjarak, hanya dalam sekali gerakan, bibir mereka akan bertaut. Akan tetapi sebelum itu terjadi.
Tok ... tok ... tok
"Permisi Pak, boleh saya masuk." Suara Sasa yang meminta izin untuk masuk ke dalam ruangan itu, membuyarkan semuanya.
Alya menahan senyumnya. Novan merasa geram, ia maju dan mengecup bibir Alya sekilas. Pria itu kembali berdiri lalu duduk pada kursi di depan Alya lagi.
"Masuk Sa ..." teriak Novan. Gadis itu membuka pintu perlahan, membuat Novan dan Alya menoleh bersamaan.
"Maaf Pak, ada tamu," kata Sasa.
"Tunggu lima menit lagi, nanti saya ke depan."
Sasa mengangguk dan pergi dari ruangan Novan. Alya lantas berdiri, sembari mengambil kembali belanjaan yang ada di atas meja.
"Kalau gitu aku pulang aja ya Mas," pamit Alya kemudian.
"Kamu ke sini bukannya mau nungguin Mas pulang? ehmm, nggak mau lanjutin yang tadi?"
"Ihhh orang lagi ada tamu juga. Kita ketemu di rumah aja ya."
Novan maju, menunduk, lalu mencium kening istrinya dalam beberapa detik.
"Oke. Aku nggak bisa anter kamu, De. Nggak papa kan?"
"Iya. Tapi inget ya Mas. Jaga jarak sama ..."
"Iya-iya aku paham."
Alya keluar dari ruangan Novan setelah berpamitan. Gadis itu sempat melempar senyum dengan terpaksa pada Sasa yang tengah duduk di belakang meja kerjanya. Cepat atau lambat, Sasa ini bisa saja menjadi ancaman untuk kelangsungan pernikahan Alya dan Novan.
Sampai di ruang tunggu, pandangannya menangkap sesuatu yang tak asing. Pria yang nampaknya adalah tamu dari Novan itu, tengah duduk di sofa. Alya merasa seperti pernah melihat pria itu sebelumnya. Tapi entah di mana. Gadis itu tidak mau ambil pusing, ia memilih untuk tetap berjalan meninggalkan kantor Novan.