Cuaca cukup terik siang hari ini. Alya berjalan menuju pintu Mall sembari mengernyitkan dahi setelah turun dari Taxi, karena saking panasnya suhu udara di sekitar. Akan tetapi rasa lega segera menjalar ke seluruh tubuh, begitu ia masuk ke dalam Mall tersebut. Di jam makan siang seperti sekarang ini, ada banyak pengunjung dengan setelan formal, yang pastinya tengah mencari tempat untuk istirahat.
Alya cukup santai hari ini. Menggenakan atasan tank top hitam, dengan outer kemeja flanel hitam putih juga celana jeans biru belel serta kacamata yang bertengger di atas kepala. Alya sama sekali tidak nampak seperti wanita yang sudah memiliki seorang suami. Akan tetapi, apa yang mau di kata? Alya kan memang masih muda.
Sebelum mulai berburu barang, Alya sempat mampir ke salah satu food curt terdekat untuk membeli minuman. Suasana di luar Mall, rupanya cukup membuatnya dehidrasi.
Gadis itu berdiri mengantri dan menjadi pusat perhatian, karena beberapa orang di depannya adalah laki-laki. Nada dering ponselnya berbunyi saat ia sedang mengelilingkan pandangan. Nama Terryandi tertera di layar ponselnya.
"Hallo Ter?" sapanya pada telpon.
"Lo lagi di Mall?" tanya Terry.
"Ehmm, kok Lo tahu sih?"
"Pake baju kotak-kotak sama tas item kan?" tebak Terry.
Alya mengernyitkan dahi, ia celingukan melihat ke samping juga ke belakang. Curiga kalau yang di maksud memang tengah berapa di tempat.
"Lo lagi gentayangan dimana?"
"Liat ke kiri arah jam 8."
Gadis itu segera mengikuti arahan Terry, ia masih berusaha memerhatikan sekelilingnya dengan seksama, hingga pandangannya dan pria itu bertemu. Lelaki jangkung dalam balutan kemeja putih dan celana jeans. Ia menggulung setengah lengan bajunya yang panjang, hingga memperlihatkan tato berbentuk burung elang yang nampak keren dan macho.
Pria itu melambaikan tangannya pada Alya. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menutup telpon. Ia memasukan benda itu ke dalam tas, kemudian kembali melihat pada antrian di depannya yang sudah mulai maju.
Seorang pria di depannya berbalik lalu dengan sopan memintanya untuk maju lebih dulu.
"Silahkan. Ladies first," ucapnya dengan ramah, diselingi senyum yang manis. Alya menggaruk lehernya yang tak gatal, lalu membalas senyumnya dan maju ke depan begitu saja.
"Tipe-tipe cowok kaya Mas Novan nih. Baik, sopan. Tapi pasti garing banget," ujarnya tanpa sadar dalam hati.
"Ice Capuccino satu, Jus Strawberry satu. Bungkus ya," pinta Alya pada pelayan wanita yang sedang berjaga. Dalam hitungan menit, pesanannya telah selesai. Ia menyerahkan uang cash, lalu saat berbalik dan sempat kembali memberikan senyum pada pria yang telah memberikan antriannya dengan suka rela.
Terry masih menunggu di tempat yang sama, ia bersandar pada salah satu tiang besar di Mall. Alya datang menghampiri pria itu. Lalu menyodorkan Ice Capuccino tepat di depan wajahnya hingga menutupi ponsel yang sedang Terry mainkan.
Ia menoleh pada Alya sambil mematikan ponselnya lantas mengambil cup berisi Ice Capuccino tersebut.
"Thanks ya, tahu aja gue lagi haus."
Alya masih ingat betul kalau Terry ini suka sekali dengan Ice Capucinno. Karena itu, saat mellihat Terry, ia langsung terpikir untuk memesan minuman kesukaan mantan kekasihnya tersebut.
Bagi Alya itu hanyalah bentuk dari perhatiannya sebagai kawan. Karena pada dasarnya memang sudah tidak ada lagi perasaan apapun dalam diriya sejak dulu, apalagi setelah mengenal Novan alias suaminya sekarang.
Namun lain orang, lain pula hatinya. Melihat Alya yang ternyata masih ingat dengan kesukaanya, membuat Terry merasakan sesuatu yang sulit untuk di jelaskan.
"Lo lagi ngapain? Kok bisa tahu gue ada disini?" tanya Alya setelah menyeruput Jus Strawberry hingga tersisa setengah lagi. Gadis ini pasti amat dehidrasi.
"Abis nyari sesuatu aja sih. Tadinya mau langsung keluar. Ehh mendadak liat Emak-emak pake baju kotak-kotak lewat. Kayanya mubazir aja gitu kalau nggak digodain dulu. Aadduuhh ..." Terry meringis.
Alya menyikut perut Terry sambil merengut. Pria itu tertawa kecil, melihat bibir wanita di sampingnya yang maju.
"Lo sendiri disini ngapain? Novan kemana?" tanya Terry balik.
"Mas Novan ... bukan Novan," protes Alya. Tak suka saat ada seseorang yang dengan sembarangan memanggil nama suaminya seenak jidat.
"Lah, bininya kan elo, ngapain gua yang manggil Mas mas?"
Alya mendesah pasrah. Ia kemudian meminum kembali Jus di dalam genggamannya. Dan kini benar-benar hingga habis tak bersisa.
Terry sudah tak heran lagi, Alya kalau soal urusan makan dan minum itu memang cepat, dan nggak ada kalem-kalemnya.
"Soo?" ulang Terry.
"Mertua gue, alias Ibunya Mas Novan, mau ulang tahun gitu. Gue mau cari kado," jelas Alya.
"Ohh, mau gue temenin?" tawar Terry.
"Emang boleh? Lo nggak buru-buru?"
Terry melihat pada jam tangannya lantas mengangkat sebelah alisnya.
"Nggak masalah sih," ujarnya sembari mengerdikkan bahu.
"Ayo kalau gitu," ajak Alya pada Terry.
Alya dan Terry kini berjalan berdampingan untuk memasuki kawasan Mall lebih jauh lagi.
Dari kejauhan, seorang pria dengan tatapan dingin tengah melihat ke arah dua kawan yang lebih mirip sebagai pasangan kekasih itu.
"Pak ... Pak. Pak Novan!"
Novan mengerjap beberapa kali, mendengar namanya di eluhkan.
"Jadi bagaimana Pak Novan, kita langsung kembali ke kantor atau ..."
"Kantor," jawabnya sembari melangkah lebih dulu. Membuat gadis di sampingnya heran.
"Pak Novan kenapa ya?" tanyanya dalam hati, kemudian ikut menyusul langkah kaki bosnya yang lumayan panjang.
***
"Mama nanyain lo tuh," ucap Terry saat mereka kini ada di salah satu toko perhiasan.
Mungkin ini adalah tempat terakhir yang di datangi Terry dan Alya, setelah beberapa kali keluar masuk Toko dan tidak menemukan apapun yang bisa dibawa pulang.
Pilhan terakhir jatuh, saat Terry berkata akan membantunya memilihkan cincin, gelang, atau kalung sebagai hadiah untuk Ibu Mertua dari Alya.
"Terus?" jawab Alya.
Alya tidak terlalu menanggapi apa yang di katakan Terry, karena matanya sibuk menjelajah. Ibu Mertua dari Alya ini sangat unik dan teliti.
Unik dalam artian tidak bisa di tebak apa maunya, seleranya, apalagi suasana hatinya. Alya kerap kali jadi bahan semprotan Ibunya Novan, jika mood nya sedang anjlok. Tapi berhubung Alya adalah orang yang cuek. Kadang malah Ibu mertuanya yang di buat mati gaya setelah memarahi Alya. Karena Alya tidak menunjukan pengaruh yang berarti.
"Ya, gue bilang aja Alya udah nikah. Jadi nggak bisa ngajak ke rumah sembarangan," ujar Terry.
"Coba lihat yang itu ya Mba," tunjuk Alya pada salah satu gelang. Pelayan toko lantas mengambilkan apa yang diminta Alya dengan segera.
"Setelah bertahun-tahun, nyokap lo baru nanyain gue sekarang?" tanya Alya tanpa menoleh. Dan Terry tidak memberikan jawaban.
Alya mengangkat gelang tersebut, lalu memperhatikannya dengan baik. Sepertinya, gadis itu akan menentukan pilihannya sekarang.
"Ini bagus nggak menurut lo?" Alya menunjukan gelang yang dipilihnya pada Terry.
Pria itu hanya mengangguk untuk kesekian kalinya. Terry sudah mengeluarkan aspirasinya sejak tadi, tapi agaknya tidak ada satupun dari pendapatnya yang diterima oleh Alya. Karena itu, Terry pasrah dan merasa ...
"Bodo amat lah."
Alya nampaknya juga sudah mulai lelah. Ia kemudian meminta pelayan toko untuk membungkus perhiasan tersebut tanpa memikirkan apapun lagi.
"Mama mendadak inget Lo, waktu gue bilang mau reunian sama temen lama." Tiba-tiba saja Terry memberikan jawaban atas pertanyaan Alya semula.
"Oh ... salam aja deh kalau gitu buat Tante Nadia. Eh abis ini lo mau balik kan, gue nebeng ke kantor Mas Novan ya."
Dalam hati, Terry sebenarnya keberatan. Bukan karena ia malas mengantar Alya. Akan tetapi, pria itu hanya malas dengan tujuan gadis itu. Tapi Terry juga merasa tidak enak jika menolaknya.
"Iya. Iya nanti gue anterin."
"Yeeey, makasih ya Ter."
Alya tampak senang, sementara Terry kini berusaha agar tampak biasa saja di hadapannya. Semua ini gara-gara masa lalunya. Andai saja Alya bukanlah cinta pertamanya, mungkin ceritanya akan menjadi lain.
"My Firts love, and my firts kiss," seru Terry dalam hati. Sembari memandangi senyuman gadis itu.