Cinta Monyet

1245 Words
Terry mendadak gugup saat Alya duduk di sampingnya. Matanya terus saja melirik Alya berkali kali. Mungkin ini efek karena mereka hanya pernah bertemu di pernikahan Alya saat itu. Selebihnya ke empat personil geng itu hanya rutin saling mengabari keadaan lewat grup chat aplikasi si hijau. Alya sendiri mungkin belum sadar, saat Terry terus menerus memperhatikannya. Ia sibuk mendengarkan musik dan bernyanyi-nyanyi tak jelas di dalam mobil. Jadi, setelah Terry mengantarkan Ricky pulang lebih dulu, kini giliran ia mengantarkan Alya. "Seneng banget kayanya. Dari tadi nyanyi nyanyi terus," kata Terry, menanggapi sikap Alya hari ini. "Seneng lah. Udah lama nggak kumpul sama kalian. Lo tahu nggak? Gue tuh hampir nggak pernah keluar rumah. Bete banget. Tetangga gua juga jarang banget keluar. Kalau ketemu Nina, lo tahu kan. Dia orangnya kalem gitu. Kadang obrolan kita tuh lebih sering nggak nyambungnya. Gue ngomong apa, dia malah bales ke mana?" jelas Alya. "Oyah, kalau gitu kenapa kalian nggak pernah ngajak gue pas lagi ngumpul." "Emang lo mau, jadi kambing congek di antara emak emak yang udah pada nikah ini? Kalau tadi kan ada Ricky. Jadi kan lo ada temen." Mendengar nama Ricky, Terry jadi teringat akan sesuatu. Terry sempat mampir sebentar ke rumah Ricky dan meninggalkan Alya di dalam mobil tadi. Ricky juga sempat membisikan sesuatu yang membuatnya agak syok dan gila. "Alya sekarang cakep ya." "Iya iya cakep." "Lo yakin nggak kesemsem buat yang kedua kalinya sama dia." "Dia udah punya laki kali, lu jangan aneh aneh deh." "Alasan lo jomblo ampe sekarang apa coba?" "Ya belom nemu jodoh la s*tan. Lu aneh aneh aja dah." "Iya tapi sesudah lo putus ama dia, lo nggak pernah pacaran lagi kan." "Bangke ah." "Rumah tangga dia tuh nggak bahagia. Gua tahu itu." "Apaaan sih lo, udah kaya emak emak komplek. Rempong banget. Sok tahu lagi." "Gue bisa bedain kali. Mana cewek yang bahagia di atas kasur mana cewek yang cuma pura pura bahagia. Lo sekarang kan anterin dia pulang, nih. Ajak chek in, bikin hamil. Kelar!" Sontak Terry segera menoyor kepala Ricky sekeras mungkin, hingga tubuh Ricky terhuyung huyung hampir jatuh. "Emang s*tan tuh anak!" umpat Terry tiba-tiba saja. "Apaan, Ter?" Terry memaki tanpa sadar rupanya. Dan Alya jelas mendengar itu. Terry menggaruk kepalanya yang tak gatal, sembari tetap mengemudi. "Ahh, ehm itu nggak ada. Aku cuma lagi inget sesuatu aja," jawab Terry sekenanya. Alya tak mau ikut ambil pusing ia kembali bernyanyi. Memenuhi seisi mobil dengan suaranya. "Lo masih minum, ya?" Agaknya, beberapa hal masih membuat Terry penasaran. "Hah minum? ya masih lah. Minum kopi, s**u, air putih ..." "Lo pasti ngerti banget maksud gue bukan ke situ," potong Terry. Alya mengecilkan volume musik dan merubah posisi duduknya. Ia bersila, dan menyandar pada pintu mobil, menghadap Terry yang sesekali juga ikut menoleh padanya. "Nggak, sejak nikah gue nggak pernah kaya gitu lagi. Kalau ngerokok sih masih. Cuma frekuensinya sekarang berkurang." "Oyah? Bagus donk." "Iya, malah belom lama ini gue ketauan ama laki gua." Alya bicara dengan santai sembari mengerdikkan bahu. "Terus dia marah?" "Nggak, dia hampir nggak pernah marah sama apapun kelakuan gue. Tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya kalau habis ngelakuin kesalahan tuh kaya punya kekuatan sendiri gitu. Bikin gue nyesel tanpa sadar gitu." "Wah, beruntung banget lo ya." "Iya gue beruntung. Tapi akan selalu ada kekurangan dalam setiap keberuntungan." Alya memalingkan pandangannya. Raut wajahnya kini berbeda. Yang Terry tahu, raut wajah itu selalu ada jika Alya sedang bermasalah atau sedih. "Apa Ricky benar? Apa Alya memang nggak bahagia sama pernikahannya," batin Terry. "Ehh, berenti deh bahas soal gue. Sekarang ganti ke lo aja. Kenapa lo masih jomblo. Kalah telak lu ama Ricky. Jangan-jangan lo emang beneran belom bisa move on ya dari gue?" seru Alya dengan nada menggoda. "Hidihh pede gila. Kayak nggak ada cewek lain aja." Terry menjawab, sembari memutar pandangannya? "Masa?" "Yaiyalah," "Bodo, weeee." Alya menjulurkan lidahnya seraya mengejek Terry. Kemudian dia tertawa dengan lepas. Suara tawa Alya, terdengar macam lonceng merdu di telinga Terry. Entah karena selama ini dia tidak pernah menanggapi wanita lain, atau karena Alya justru memang pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Namun saat hubungan itu masih terjalin, bukan Terry yang menginginkan perpisahan. Sialnya sekarang Terry jadi berpikir lain. Apa yang dikatakan Ricky sedikit banyak mempengaruhi otaknya. Alya sekarang memang lebih cantik, dan sexy. "Arrekhhh Ricky s*tan!" umpat Terry dalam hati. *** Alya memperhatikan slide demi slide foto yang diambil saat di rumah Nina tadi. Tanpa sadar ia tersenyum. Sudah lama sekali ia hampir tak pernah tertawa lepas macam tadi. Gadis itu memainkan ponselnya sembari bersandar pada bantal di atas ranjang. Saat ini, gadis itu tengah menggenakan piyama satin bunga bunga berwana pink kalem. Novan pernah mengatakan ia menyukai saat Alya menggenakan baju dengan warna itu. Alya tengah menunggu Novan juga untuk tidur. Terbiasa tidur dalam ketiak suami, membuatnya tak akan bisa terpejam jika Novan belum datang. Ia hanya tinggal sendiri di dalam rumah yang sebenarnya cukup besar untuk ditinggali berdua saja. Komplek perumahannya juga agak sepi. Tetangga sekitar rumahnya juga hampir jarang keluar. Sesekali hanya akan ada Bibi yang membantu membersihkan rumah atau mencuci pakaian milik sepasang suami istri itu. Meski sepi, ini jauh lebih baik daripada ia harus tinggal bersama sang mertua. Ibu dari Novan itu memang menginginkan mereka berdua tinggal bersamanya. Tapi jelas Alya tak mau, tentu saja menghadapi mertua macam ibunya Novan itu akan sangat melelahkan. Karena wanita yang sudah tak lagi muda itu memiliki keajaiban sendiri. Meski begitu Alya tetap menghormatinya. Ia tetap tahu tatak ramah, melayaninya sepenuh hati saat beliau menginap. Meski dalam hati ia harus meneriakan kata sabar beribu-ribu kali. Novan baru saja kembali dari kamar mandi. Ia langsung melesak di samping istrinya dan menggunakan selimut. Alya dengan manja secara otomatis langsung menarik tangan Novan dan bersandar di dadanya. Ia masih tetap memainkan ponsel di hadapan Novan. Dan saat itu juga, Novan tertarik. "Kamu tadi dari mana De?" tanya Novan. "Dari rumah Nina Mas. Tapi kebetulan ada temen-temen SMA ku yang lain juga tadi." Alya mendekatkan ponselnya pada Novan lalu menunjuk satu persatu wajah kawannya sembari menyebutkan nama mereka. "Ini Nina, Terry dan ini Ricky. Mereka semua sahabatku dari SMA Mas." Novan hanya ber oh ria mendengar penuturan dari istrinya. Melenceng dari pembahasan, Novan mengingatkan Alya pada hal lain. "Oiya, De. Lusa ulang tahun Ibu. Kita nanti ke rumah ya." Alya terhenyak untuk beberapa saat. Rumah yang dimaksud Novan adalah rumah keluarga Novan, yang bagi Alya tak pernah menjadi keluarganya. Semua hanya terikat karena ada hubungan antara ia dan Novan. "Berarti Kakak-kakak kamu bakal ada di sana donk ya?" tebak Alya dengan malas. "Yaiya lah. Kan kita mau bikin acara syukuran buat Ibu, De. Kecil kecilan aja sih, cuma makan-makan keluarga aja." Alya menutup ponselnya dan tampak berpikir sejenak. Ia sudah sangat kenyang saat Ibu Mertuanya membanding bandingkan menantu kesayangan alias Kakak Iparnya yang pandai dalam segala hal saat beliau menginap di sini. Dan sekarang ia mesti bertemu langsung dengan si pemilik nama. Bisa makin muntah sepertinya. "Aku tahu hubungan mu sama ibu kurang baik, De. Tapi kita tetep harus menghormati orang tua. Nggak papa kan? Kali ini aja. Siapa tahu, dengan kita dateng, kamu kasih hadiah, Ibu bakal bersikap baik sama kamu," saran Novan. Tanpa pikir panjang, AIya hanya mengiyakan perkataan sang suami. Mesi di dalam hati, ia merasa agak keberatan. Bersikap baik karena di kasih hadiah? Sepertinya tak ada dalam daftar keinginannya. Alya menginginkan Ibu Mertua yang menyayanginya dengan tulus. Bukan semacam itu. Ia ingin Ibu Mertua layaknya milik Nina. Iya! Dan lagi-lagi Nina selalu menjadi patokan kebahagiaan yang harusnya menjadi miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD