Rumah Nina

1131 Words
Keynandra Alya Putri, memutuskan menikah di usia muda yakni 21 tahun dengan Novan Pratama yang 7 tahun lebih dewasa darinya. Kita tidak bisa menilai kesiapan seseorang untuk menikah dari segi umur bukan? bahkan masih banyak orang lain yang menikah di usia yang jauh lebih muda dari Alya. Hanya saja, mungkin Alya terlalu cepat mengambil keputusan. Karena nyatanya ia selalu merasa kebebasannya kini terengut setelah menikah. Terlebih lagi, banyak hal yang berbeda di dalam keluarga Novan yang tak bisa dicerna dalam otak gadis itu. Alya baru saja selesai mandi saat mendengar ponselnya berdering. Belum sempat ia menjawab, nada dering itu berhenti. Ia mengambil benda itu lalu melihat ada delapan panggilan tak terjawab dari masing-masing ke tiga sahabatnya. Ia melirik ke arah jam yang baru menunjukan pukul sembilan pagi. "Ini ngapain pada nelpon berjamaah pagi-pagi?" batinnya heran. Karena penasaran, ia memutuskan untuk menelpon balik Terry. Sembari merapikan handuk yang masih melekat, ia memposisikan kamera pada wajahnya. "Alya ...!" Bola mata gadis itu membulat sempurna bersamaan dengan kedua alis yang ikut terangkat saat muncul 2 orang wajah pria yang amat dikenalnya pada layar ponsel. Mereka begitu antusias meneriakan nama Alya. Hal itu sukses membuatnya agak terkejut. "Woi kampret malah bengong lagi loh." "Syok dia liat kita ngumpul gini." Ricky dan Terry Video Call berlatarkan ruang tengah di rumah Nina. Alya hafal betul tempat itu. Karena ia bahkan pernah menjadikan rumah Nina sebagai patokan bagaimana seharusnya membangun rumah. "Kalian lagi di rumah Nina? Kok nggak ajak ajak gue? Mana Ninanya. Ricky, kok lo nggak bilang-bilang balik dari Bandung. Kalian jahat banget sih," gerutu Alya. "Satu-satu donk nanya-nya anjirr. Nina di belakang, nggak tau lagi ngapain. Gue bukan jahat. Lu nya aja yang kebo, gue telpon dari tadi nggak di angkat angkat." "By the way, lo abis mandi ya. Seger banget. Abis ngapain lo semalem." "Biasa, penganten anget. Abis tepok tepok pramuka dia." "Iyalah emangnya kalian, jomblo mulu. Buruan kawin makanya." "Gua mah kawin dah sering kali. Nikah aja yang belom. Si Terry noh, masih perjaka nungguin lo. Belom bisa move on katanya." "Apaan sih Ric. Lo nggak jelas banget. Buruan pake baju nyusul sini. Sebelom Ricky ngiler liat lo andukan doank kaya gitu." "S*tan ! Udah ah. Makin nggak jelas nih si Terry. Gua tutup telponnya. Buruan nyusul." Dan dalam sekejap layar di ponsel Alya berubah menjadi wallpapernya bersama Novan. Begitu tahu kawannya kini sedang berkumpul, Alya tentu saja senang bukan kepalang. Setelah Alya dan Nina menikah mereka hampir tak pernah memiliki waktu berkumpul dengan personil yang lengkap. *** "Buset Ya, makin bohay aja lo sekarang, di kasih makan apa lo ama si Novan?" cecar Ricky begitu Alya datang. "Novan ... Novan! namanya Novan tapi lo mesti panggil dia Pak Novan. Jangan sok akrab lo. Dia lebih dewasa dari lo. Inget!" balas Alya. "Bilang aja tua. Sok sok an dewasa segala. Gue sama Terry lagi maen ps. Ayo cepet udah kangen banget pasti dia tuh," ajak Ricky kemudian. "T*i!" Ricky menarik lengan Alya begitu saja menuju ruang tengah. Alya mengedarkan pandangan. Memperhatikan seisi rumah Nina yang nyaman dan ya harus dia akui, cukup memukau. Tapi yang paling membuatnya iri adalah, ada begitu banyak foto foto bahagia Nina yang terpajang di sana. Bukan hanya Nina dan suaminya, tapi juga keluarga besar dari suaminya. Mereka tampak akrab. Sangat berbeda dengan Alya, yang sebelum pernikahan pernah di tentang karena usia yang masih muda. Atau mungkin itu hanya akal akalan sang mertua karena Novan menolak mentah-mentah wanita yang dijodohkan orang tuanya. "Alya ...!" Nina datang dari dapur bersama nampan berisi berbagai macam kue hasil buatannya sendiri. Ahh air liur Alya menetes melihat ada tiramisu besar tersaji di sana. Nina adalah lulusan sekolah Tata Boga terbaik. Dan tiramisu buatannya adalah salah satu makanan favorit bagi gadis itu. Nina meletakan nampan itu di atas meja, lalu memeluk Alya. Alya jadi geli sendiri merasakan perut Nina yang agak membesar dan membatasi tubuh mereka. "Coba muter dulu muter dulu." Nina memutar tubuh Alya, meneliti sahabatnya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, dengan tatapan yang takjub mungkin. Karena ada perbedaan yang amat kentara pada Nina. "Lo nggak banyak berubah. Malah makin kece. Aduhh lo liat gue deh. Makin lebar, gendut. Pusing banget tau nggak," keluh Nina dengan nada pura-pura putus asa. Itu sama sekali nggak membuat Alya bersimpati. Gadis itu justru merutuk dalam hati. "Nggak bersyukur banget sih Nina. Udah di kasih yang sempurna, masih aja ngeluh." Nina masih tetap menjadi gadis yang paling kalem di antara mereka. Hanya ada sedikit perubahan selain bentuk dan bobot tubuh tentunya. Sedang Ricky masih menjadi biang rusuh. Sepertinya, cap sebagai playboy badjingan masih menempel dengan kuat di dahinya. Salah satu hal yang sangat disayangkan Alya pada diri Nina adalah anak. Ia tak bisa memiliki anak, bukan karena sakit atau tak normal. Jawabannya hanya ada pada keluarga Novan. Ya, keluarga dari suaminya itu memang beda dari yang lain. "Gue bilang juga apa? Si Alya makin bohay," celetuk Ricky, tiba-tiba saja. "Berenti manggil gua kaya gitu ih. Jiji banget dengernya." Dan si sumber pembicaraan, rupanya tidak terima. "Ya masa gua bilang lo montok. Yang montok mah si Nina tuh," sahut Ricky lagi, tak mau kalah. Alya celingukan kembali mencari sesuatu yang kurang di antara mereka. Terry, ya! Sejak pertama datang ia belum melihat sosok pria yang memang pernah mengisi hatinya itu. "Ini kayanya si Terry emang nggak bisa move on dah. Dari tadi di toilet kagak kelar-kelar. Ck ck ck." Ricky berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Masa gue dateng dia malah ke toilet?" Alya mengerutkan kening. "Gue disini!" Tiba-tiba saja Alya merasakan tangan yang melingkar di perutnya dari belakang. Refleks gadis itu segera berbalik, dengan tangan yang masih memeluk tubuhnya. "Terry ..." Alya berjnjit dan membalas pelukan Terry. Ia melingkarkan tangannya di leher pria itu, sembari melompat-lompat kegirangan. Ricky menyerobot masuk di antara mereka, memisahkan kedua mantan pasangan itu. "Woi woi woi, yang baru balik dari Bandung tuh gue. Terry mah tiap hari juga nongol di Jakarta, ngapa malah dia yang menang banyak di peluk peluk ama si bohay," protes Ricky dengan kesal. Nina, Terry dan Ayla tertawa bersamaan. Hanya Ricky mungkin satu-satunya pengikat di antara mereka yang membuat persahabatan mereka tak sepi. "Ups, gua ampe lupa, udah peluk peluk bini orang." Terry melihat ke atas, berpura-pura tak bersalah. Alya menyikut perut pria itu hingga ia meringis. Nina mengajak mereka semua kembali duduk dan menyantap makanan buatannya. Sementara Terry dan Alya sesekali bertukar pandang. Terry dan Alya memang sempat menjalin hubungan karena merasa cocok satu sama lain, akan tetapi lama kelamaan mereka berdua sadar, saat itu menjadi sahabat adalah pilihan yang lebih baik. Nyaman dan cocok bukan berarti harus pacaran kan? Apalagi saat itu usia mereka masih amat muda. Cinta monyet itu pasti sudah biasa. Tapi nyatanya, sekarang mereka sudah dewasa. Alya sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang lebih cantik tentunya. Dan pandangan Terry terhadap Alya, mungkin sudah jauhberubah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD