Red

1112 Words
Kehilangannya seperti rasa sebuah warna biru yang tak pernah ku ketahui, merindukannya seperti gelapnya warna kelabu kelam, dan melupakannya seperti bertemu dengan seseorang yang tak pernah kutemui. But loving him was Red Taylor swift-Red Suara adzan subuh berkumandang, lelaki itu mengeratkan kembali selimut yang membungkus tubuhnya dari dinginnya suhu pendingin ruangan di dalam kamar. Lelaki itu, Faris Haqif Maulana, masih tertidur lelap sebelum adzan subuh membangunkannya. Faris sedikit bergumam, mungkin meminta waktu lebih untuk tidur kembali di pagi hari itu. Tapi tidak bisa, waktu memaksanya untuk segera bangun dan beraktifitas. Ia menguap, mengerjapkan matanya berkali-kali. Tangannya menggerayangi permukaan ranjang yang menjadi tempat beristirahat. Ia mencari sesuatu, sebuah benda kotak ajaib yang bisa membuatnya tersenyum, kesal atau bahkan marah seketika. Apalagi kalau bukan ponsel pintar kesayangannya. Setelah menemukan benda itu, Faris langsung membuka salah satu aplikasi chat yang akhir-akhir ini menjadi aplikasi favoritnya. -good morning mas.....- -bangun, jangan lupa sholat subuh- -i love You - Faris tersenyum, membaca rentetan pesan yang masuk di ponsel pintarnya itu. Tak lama jemarinya dengan lincah mengetikkan beberapa pesan di layar ponselnya. -iya, by, mas sudah bangun - Ponselnya kembali bergetar, -pinter, sholat dulu gih- Faris tersenyum sembari melempar kembali ponselnya  ke ranjang. Ia berjalan menuju kamar mandi, mencuci muka, menggosok gigi dan mengambil air wudlu. Setelah selesai beribadah, Faris kembali mengecek ponselnya. Ia kembali membuka pesan dari kekasihnya itu. -by, mas udah kelar nih... - Tak lama pesan balasan masuk ke ponsel Faris. -pinter, mmmaasss...... Han, mau mandi dulu, siap-siap kuliah ya... - -mas jangan lupa sarapan- Faris kembali tersenyum membaca pesan yang masuk di ponselnya, entahlah Faris tidak pernah bosan dengan semua pesan yang dikirim kekasihnya setiap pagi itu meskipun dengan ucapan yang sama. -iya gih by, mas juga mau siap-siap buat berangkat kerja. Love you...- Faris  benar-benar merasa bahagia. Ia ingat bagaimana dulu saat pertama kali ia bertemu dengan kekasihnya, ah... bukan bertemu, tapi menemukan. Karena Faris bertemu dengan kekasihnya melalui media sosial. Namanya Hansa Frananda Loki. Ia berstatus sebagai seorang mahasiswa di sebuah Universitas di Makassar. Usianya sekarang menginjak 20 tahun. Dia sedang menyelesaikan tugas skripsinya. Dan rencana Faris adalah mengajak Hansa untuk tinggal bersamanya. Membawa Hansa hijrah ke Jakarta, belum lama ini Faris membeli sebuah apartemen dari hasil kerja kerasnya, ia sudah merencanakan ini sejak saat bulan ke tiga ia menjalin hubungan dengan Hansa. Faris merasakan sesuatu yang berbeda, Hansa benar-benar mampu memahami Faris, meski Faris tahu hubungannya dengan Hansa tidak akan mungkin bersatu hingga ke jenjang pernikahan. Mereka berdua berbeda keyakinan, dan tentu yang terpenting adalah mereka berdua sama-sama laki-laki. Tapi Faris mengesampingkan itu semua, sekarang ia hanya ingin menikmati apa yang membuatnya bahagia. Tanpa harus menghawatirkan hal yang entah kapan akan terjadi. Faris mencoba untuk menjalani hubungan bersama Hansa dengan kesungguhan. Dan bukti kesungguhannya ialah dengan Faris membeli sebuah apartemen dan mengajak Hansa untuk tinggal bersamanya. Dua bulan terakhir ini Faris sudah mulai merenovasi sebagaian ruangan di apartemennya. Itu semua atas usul Hansa. "Mas, temenmu jadi dateng ke Jakarta?" Ratna, ibu Faris bertanya pada Faris yang sedang menikmati sarapannya. "Inshaallah jadi bu, dia cuma tinggal urusin wisudanya terus berangkat ke Jakarta." "Oh, masih lama? Terus apartemen kamu gimana? Sudah mulai rampung?" Faris baru saja menghabiskan jus tomat  di gelasnya,  " minggu depan bu, mungkin dia dateng ke Jakarta awal bulan. Apartemen sedikit lagi, tinggal bagian dapurnya bu." Faris kemudian membereskan piring kotor di meja makan bekas sarapannya. "Mas kamu gak nanya temenmu mau gimana model kamarnya, nanti dia gak betah kan kasihan jauh-jauh dari Makasar." Ratna memang terbilang orang yang cukup gampang khawatir, dia bahkan terlalu baik. Dia belum mengenal Hansa namun sudah yakin dan memeperbolehkannya untuk tinggal bersama Faris. Baginya yang terpenting Faris bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya. "Iya bu, ini Faris udah tanyain, kemarin dia udah ngasih tahu Faris. Ini juga Faris mau lihat ke sana. Mau cek apa yang kurang lagi." Faris sudah seperti pengantin baru saja, ia sibuk mengurusi ini itu hanya untuk menyambut Hansa. Faris ingin yang terbaik untuk Hansa, ia tidak ingin mengecewakan Hansa. Saat melakukan renovasi pun, Faris meminta pendapat Hansa,apa yang harus dirubah dan apa yang tidak perlu. Hansa dengan senang hati membantu Faris. * * * Seperti sekarang ini, Faris sudah berada di apartemennya. Faris memeriksa setiap ruangan yang masih dalam tahap finishing. "Pak kamar yang depan catnya udah diganti 'kan?  Sesuai sama yang saya minta kemarin? " Faris mengobrol dengan tukang yang sedang merenov apartemennya. Kemarin saat Faris memperlihatkan kamar Hansa kepada Hansa, Hansa sedikit kurang suka, ia tidak suka dengan warna catnya, ia menyuruh Faris untuk mengganti warna catnya. "Sudah mas, mas bisa cek sekarang. " Faris tersenyum lalu berjalan ke arah kamar yang dimaksud, ya, cat nya sudah dirubah. Ia kemudian mengambil ponselnya dan mengambil foto ruangan itu. -send picture- -honey, kamar kamu... - Faris tersenyum setelah mengirim pesan kepada Hansa. Ia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Ia kembali berjalan kearah dapur, memeriksa kitchen set yang kemarin ia pesan. Tiba-tiba ponselnya bergetar, -waaaah... maaaaasku Han suka mas, Han suka.- -makasih mas,- -Han baru pulang kuliah, hih! Capek mas. Dosennya gak jelas. Cuma ngurus-ngurus gak jelas ke kampus- Faris tersenyum, ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam menunjukan pukul 10.30, sudah waktunya Hansa pulang. -syukur deh kalo Han suka, mas takut gak cocok lagi.- -istirhat by,- -love you- Faris puas dengan jawaban Hansa, yang menyukainya. Ponselnya kembali bergetar, -ini Han lagi nonton tv, mas lagi di apartemen?- -Han gak sabar, pingin cepet ke Jakarta hihihihi - -love you too masku - Faris tersenyum, ia kembali mengetikkan pesan balasan di layar ponselnya. -mas juga gak sabar ketemu Han- -pingin cepet-cepet peluk Han hahahahahaha- -sambil.....- Faris menggantung kalimatnya, ia ingin  membuat Hansa tersipu malu. -mas ih!!! Hahahaha, Hansa sayang mas.- -sambil apa?!! - Faris benar-benar bisa gila hanya karena pesan dari Hansa. -mas lebih sayang lagi sama kamu, By.- -byyyyyyyyyyyy.... sambil remes p****t kamu.- -hahahahhaa- Faris tak berhenti tersenyum, ia sudah tidak perduli jika orang-orang di sekitarnya mennganggap Faris gila. -hahaha sini remes dede mas- -euuunghhh- -aaaahhhh- -hahahaha- Hansa suka sekali menggoda Faris, ia hanya perlu mendesah dan Faris akan seperti ikan hidup yang kekurangan air. -hadeh --" manusia, minta di perkosa mendadak nih- Faris gemas sendiri dengan tingkah laku Hansa. -hahahaha, jangan di perkosa, dedek kasih seutuhnya buat mas ikhlas lahir batin hahaha -hahahahhaha, massss Han pingin peluk.- Gigi Faris benar-benar sudah kering, -sticker dua boneka berpelukan.- -by, itu yang coklat pas dipeluk ekspresinya gak ngenakin- Pesan Hansa kembali masuk, -hahahha, itu kan kamu mas - -mas Han mau makan dulu, nanti chat lagi.- -Love You, honey- Faris menggelengkan kepalanya, ia benar-benar sudah jatuh ke dalam pelukkan seorang Hansa. -love you too, Honey.- Pikiran Faris hanya tentang Hansa, Hansa dan Hansa. Tidak ada lagi. Saat ini ia cukup bahagia dengan Hansa, tidak ada yang lain. Biarkan saja bagaimana waktu yang nanti akan membuktikan, bagaimana akhir hubungan mereka. Yang jelas saat ini Faris sedang memperjuangkan apa yang membuatnya bahagia. Jodoh atau bukan itu diluar kuasanya. Faris ingin membahagiakan  Hansa, hidup bahagia bersama Hansa. Hansa adalah tujuannya untuk saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD