Tanpamu, aku hanyalah sebuah lagu sedih,
We the kings- sad song
Tiga minggu kemudian,
Faris sedang sibuk memilah barang-barangnya yang akan dibawa ke apartemen. Sejak tiga hari yang lalu Faris sudah memindahkan barang-barangnya ke apartemen. Seminggu lagi Hansa akan datang ke Jakarta dan Faris mulai berbenah di apartemen.
"Bu, kayaknya lemari gak usah dibawa. Enggak akan muat di kamar Faris."
Otak Faris sedang mengukur kemungkinan besar kamarnya yang di apartemen, ibunya terus memaksa Faris untuk membawa lemari pakaian yang ada di kamarnya sekarang ini. Hemat, kata ibunya. Selagi masih bisa dipakai, kenapa harus beli yang baru. Itu adalah nasehat ibunya Faris. Bukan pelit, tapi hemat.
"Lagian, itu bisa dipakai Fadhil kalo udah nikah bu atau enggak di pake Fara kalo dia udah remaja pasti dia banyak baju." Faris masih tetap menolak, terlalu repot membawa lemari pakaian dengan empat pintu ke sebuah apartemen. Bisa-bisa kamarnya hanya untuk tempat satu lemari itu saja.
"Jaman Fara gede udah kuno mas lemari kaya gitu."
Fara yang sedang membantu Faris berbenah menimpali Faris dengan santainya, ya, Fara baru berusia 12 tahun, masih terlalu lama.
Faris tersenyum mengejek, "heh!!" Faris menoyor kepala Fara. " kamu itu udah masuk remaja Fara, masih mau manja-manja sama ibu? Hm?"
Fara mencibir ia memang terlalu dimanja oleh ibunya, tapi entah kenapa menurut Fara orang yang paling memanjakannya di rumah adalah Faris. Fara lebih merasa dekat dengan Faris. Maka dari itu, saat Fara pertama kali mendengar Faris akan pindah ia marah kepada Faris, selama seminggu Faris sama sekali tidak ditegur oleh Fara. Bahkan saat Faris mengajak berbicara pun, Fara hanya menjawab seadanya. Fara bilang, Fara akan kesepian. Fara tidak punya tempat curhat lagi, saat mendengar itu Faris hanya tersenyum. Faris sebenarnya tidak tega meninggalkan Fara sendirian, tapi in sudah menjadi keputusan. Toh sebentar lagi Fadhil akan menikah dan istri Fadhil pun akan tinggal bersama Fadhil di rumah orang tua Faris.
"Jadi ini sudah barang terakhir?"
Ratna menaruh sebuah koper besar berisi baju-baju Faris. Ratna pun sebenarnya merasa berat melepas Faris keluar dari rumah, bagaimanapun Faris adalah anak kesayangannya. Diantara Fadhil, Fara dan Faris. Faris adalah anak yang paling menurut terhadap Ratna. Apa pun yang Ratna inginkan pasti Faris akan lakukan.
"Iya bu, besok Faris pake mobil bapak ya biar muat bawa barang banyak. Nanti biar bapak pakai mobil Faris."
"Iya, terserah mas saja."
Faris sudah tidak sabar rasanya, apa yang ia tunggu selama setahun terakhir ini akhirnya terwujud juga. Ia akan bertemu dengan Hansa, kekasihnya. Begitu banyak hal yang sudah ingin Faris lakukan bersama Hansa. Hal pertama yang akan Faris lakukan adalah membawa Hansa untuk berkeliling kota Jakarta. Faris selalu bercerita bagaimana rusuhnya kota Jakarta, saat macet maupun saat hujan turun. Mengajak Hansa ke tempat yang selalu Faris kunjungi. Mengajak Hansa makan ditempat makan favorit Faris. Terlalu banyak list hal yang ingin Faris lakukan, dan itu semua akan Faris lakukan setiap hari karena Hansa akan tinggal bersamanya.
"Mas, woy! Kenapa mas Faris senyum-senyum sendiri?!"
Fara membuyarkan lamunan Faris.
Faris hanya mengacak rambut Fara, tidak mungkin dia bilang sedang membayangkan wajah Hansa yang begitu menggemaskan.
"Dasar stres!" Fara melempar bantal tidur yang sedari tadi ia gunakan untuk menopang dahinya.
Ratna hanya tersenyum melihat kedua anaknya yang sedang saling bercanda. Sebentar lagi Faris akan pergi, mungkin rumah tidak akan seramai ini lagi, batin Ratna.
* * * *
Satu minggu kemudian.
Inilah hari yang ditunggu Hansa, seminggu yang lalu ia sudah diwisuda. Dan besok ia akan berangkat menuju Jakarta, entahlah perasaannya campur aduk, antara senang karena ia akan bertemu dengan Faris atau sedih karena harus meninggalkan kedua orangtuanya.
Hansa sudah menyiapkan semuanya, satu koper besar berwarna abu-abu dan sling bag kesayangannya. Hansa gelisah, Hansa tidak bisa tidur. Malam itu ia benar-benar tidak bisa memejamkan matanya. Hansa melirik jam weker di atas nakas, di samping ranjangnya. Jarum jam menunjukkan pukul 00.21 itu sudah hampir pagi, dan Hansa belum bisa memejamkan matanya. Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi chat. Ia membuka kolom chat milik Faris. Hansa mengetikkan sesuatu di sana.
-mas?-
-udah tidur?-
-hehehe -
-maaf ganggu,-
-Han gak bisa tidur mas-
-mmmmaaass...-
Banyak sekali pesan yang Hansa kirimkan. Sampai sepuluh menit tidak ada respon dari Faris, ponsel Hansa masih tetap tidak menyala menandakan pesan masuk. Hansa gelisah, tubuhnya tidak bisa diam. Ia mencoba mencari posisi nyaman untuk tidur namun Hansa tetap merasa gelisah. Ia terlalu senang, ia merasa tidak sabar.
-kenapa honey?-
Pukul 02.05 pesan dari Faris masuk ke ponsel Hansa. Hansa baru saja akan memejamkan matanya, namun ia terjaga kembali setelah bunyi pesan dari Faris tadi masuk.
-I can't sleep mas... -
-hug me-
-sticker dua boneka yang saling berpelukan-
Hansa secepat kilat membalas pesan dari Faris.
Tok tok!
-kenapa honey?-
-mau mas telfon?-
Hansa membacanya, kemudian dengan cepat menggerakkan jemarinya di layar keyboard ponselnya.
-hmmm, gak usah, tapi pingin denger suara mas.-
--
Hansa tersenyum sambil menatapi layar ponselnya.
Tok tok!!
-voice note- You and i we're like fireworks and symphonies exploding in the sky~~
With you i'm alive like all the missing pieces
Of my heart they finally collide~~
So stop the time right here in the moonlight~~
Cause I don't ever wanna close my eyes~~
Without you I feel broke like i'm half of a whole
Without you I've got no hand to hold
Without you I feel torn like a sail in a storm~~
Without you i'm just a sad song~~
Hansa kembali membuka ponselnya, sebuah Voice note masuk. Hansa menekan tombol play dan mendengarkan suara Faris disana. Hansa tersenyum malu di buatnya. Faris benar-benar bisa membuat Hansa tersipu. Setelah selesai, Hansa segera mengetikkan pesan balasan untuk Faris.
-... Thank you mas -
Ponsel Hansa kembali berdering,
-sama-sama, by-
-sekarang bobok, besok kamu penerbangan pagi kan? Jangan sampe telat. I'm waiting for you, Baby-
Hansa, mengangguk sendiri membaca pesan yang baru saja ia terima dari Faris.
-okay, mas! I'm going to sleep... love you-
Tok tok!
-love you too, by-
Hansa menaruh kembali ponselnya di atas nakas setelah membaca pesan dari Faris. Benar, besok ia akan flight pukul 8.30. Dia harus istirahat, Hansa menarik selimutnya dan memejamkan matanya. Berharap hari gelap akan segera berganti dengan pagi yang cerah.
* * * *
Pukul 7 pagi Faris sudah bersiap-siap. Ia akan pergi menuju bandara untuk menjemput Hansa. Perjalanan dari Makasar ke Jakarta memakan waktu 1 jam 20 menit, dan perjalanan dari rumah Faris menuju bandara adalah 2 jam. Faris memutuskan untuk barangkat pukul 7.30 dari rumahnya.
Sepanjang perjalanan Faris tidak berhenti tersenyum. Rasanya pipinya sudah kaku, giginya sudah kering. Ia tidak menyangka jika hari ini, hari yang selalu diimpikan olehnya terjadi juga. Faris akan bertemu dengan Hansanya, ya Hansa miliknya. Faris benar-benar bahagia.
Hari ini jalanan seolah mendukung Faris. Benar-benar lancar, pukul 09.00 tepat Faris sudah sampai di bandara . Ia segera memarkirkan mobilnya. Faris segera turun dari mobilnya, ia sedikit berlari menuju terminal kedatangan untuk penerbangan Makasar-Jakarta. Entahlah, apa yang di rasakan Faris saat ini. Antara gerogi, senang, takut dan entahlah bagaimana menjelaskannya lagi. Faris kembali melirik jam di pergelangan tangannya, jarum jam sudah menunjuk kearah 9 lebih 55 menit harusnya Hansa sudah landing. Faris meremas tangannya, matanya kembali memeriksa, mencari sosok yang selama ini ia kagumi. Foto Hansa terpampang jelas di layar ponselnya. Tak lama seseorang muncul dari kejauhan. Dengan kemeja berwarna baby blue, celana jeans hitam panjang dengan sneakers Nike berwarna biru navy, nampak kerepotan dengan koper besar berwarna abu-abu yang sedang diseret dengan tangan kanannya, matanya sibuk mencari seseorang. Deg!! Matanya bertemu tatap dengan Faris yang sedari tadi memperhatikannya. Orang itu berjalan menghampiri Faris. Tangannya melambai ke arah Faris, bibirnya tersenyum menampilkan deretan gigi yang putih dan rapih, Lesung pipi di kedua belah pipinya menambah kemanusan senyum tang terukir dibibirnya. Faris menepuk pipinya, ia sedang tidak bermimpi bukan? Ini kenyataan bukan? Orang yang setahun terakhir ini hanya bisa ia lihat di layar ponselnya kini sedang berdiri di hadapannya.
"Ma-Mas Faris?" Hansa bertanya dengan ragu.
Faris menelan ludahnya dalam-dalam, bahkan Hansa lebih dari apa yang dilihat Faris di foto.
"Mas Faris, 'kan?" Hansa masih ragu.
Faris mengangguk sembari tersenyum, "iya, ini mas, by" Faris ragu, ia ingin langsung mendekap Hansa namun sesuatu menahannya. Tak disangka, Hansa lah yang pertama kali melakukannya, ia melompat ke arah Faris dengan begitu cepatnya.
"Mmmmaaaaasss," Hansa berteriak di dalam pelukan Faris.
Faris mendekap erat Hansa, ini benar-benar sebuah kebahagian. Yang dilakukannya selama ini tidak sia-sia. Semuanya terbayar impas dengan apa yang ia dapatkan sekarang.
Hansa melepas dekapannya dan memandang wajah Faris.
"Mas, kok kamu item?" Pertanyaan iseng namun menusuk bagi Faris.
"Heh! Situ yang keputihan punya kulit." Faris membalas dengan sarkas.
Hansa sejenak memeriksa tubuhnya, "hehe..."
Faris melepas dekapan Hansa lalu menaruh tangannya di pundak Hansa. "Baiklah adik kecil, sebaiknya kita segera pulang. Dan melanjutkan segala hal yang harus kita lakukan. " Faris tersenyum nakal. Banyak hal yang ingin Faris lakukan, ia menarik lengan Hansa untuk bergandengan bersamanya, serta menarik koper besar milik Hansa.
Kini mereka berdua sudah di dalam mobil, hening, canggung. Entah kenapa.
Faris diam-diam tersenyum lebar, melihat Hansa yang sedang menikmati pemandangan diluar dari balik kaca jendela mobilnya.
"Berapa lama perjalanannya?" Hansa menoleh, menatap Faris yang sedang menyetir mobil.
"Kalo gak macet, 2 jam nyampe, by." Faris tidak menyangka akan sekaku ini, padahal ia sudah mengenal Hansa selama setahun ini.
Hansa hanya mengangguk dan kembali melihat kearah luar jendela. Faris tanpa sadar mengelus kepala Hansa, Hansa menoleh dan tersenyum begitu manis. Jantung Faris serasa mau lepas, keluar dari tempatnya. Faris harus benar-benar kuat, ia akan mendapat senyuman itu setiap hari terhitung sejak hari ini.
Faris bahagia, benar-benar bahagia. Kehidupannya dengan Hansa akan dimulai sejak hari ini, Ia untuk Hansa dan Hansa untuknya. Welcome to Jakarta, my baby Hansa.
Tbc