You and I

1540 Words
Berada di pelukanmu mengajarkanku, Tentang arti kenyamanan kesempurnaan cinta Kesempurnaan cinta-Rizky Febian Kalau kebahagiaan bisa diukur mungkin kebahagiaan milik Faris saat ini tak terhingga. Rasanya seperti sesuatu yang tidak nyata. Dulu Faris selalu tidak percaya, apa itu hubungan jarak jauh. Apakah hubungan seperti itu layak untuk di perjuangkan? Bukankah hubungan seperti itu hanya akan mempermainkan perasaan dengan segala kata-kata bualan yang keluar hanya untuk sekedar saling membahagiakan? Waktu, mungkin waktu yang membuat Faris berubah. Waktu yang mempertemukan Faris dengan Hansa. Dan waktu itu pula yang menciptakan 'kita' di antara Faris dan Hansa. Mereka ditakdirkan untuk bersama dalam sebuah kisah yang bernama kisah cinta. * * * Rintik hujan yang mengguyur kota Jakarta di sore hari itu seolah menjadi lantunan pengantar tidur untuk Hansa. Ia masih terlelap di kamar barunya. Sepulang dari bandara, Hansa langsung  beristirahat. Mungkin ini tidur siang ternyenyak di sepanjang hidupnya. Bagaimana tidak, sekarang ini Hansa tidur di pelukan Faris. Seperti yang mereka berdua bayangkan ketika hanyansaling bertukar pesan lewat sebuah aplikasi. Mereka berdua tidur di kamar Hansa. Faris memeluk erat Hansa, sedangkan Hansa bersembunyi di d**a Faris. Faris tebangun dari tidurnya. Matanya mengerjap berkali, diliriknya lengan kanannya di sana ada Hansa yang sedang tertidur pulas. Tangan kiri Faris terangkat, ia mengelus pelan rambut Hansa. Sebentar tersenyum lalu mengecup pipi Hansa pelan. Tangannya kini beralih ke wajah Hansa. Faris mengelus pelan pipi putih mulus milik Hansa dengan ibu jarinya. Bibir Faris tidak berhenti tersenyum. Ia menatapi wajah Hansa dengan teliti. Memperhatikannya pelan-pelan. Ini baru hari pertama ia bersama Hansa bagaimana dengan besok, lusa dan seterusnya, ah ... hidupnya pasti akan lebih manis dari rasa madu. "Malaaaam maass ..." Hansa mengeratkan pelukannya di tubuh Faris, Faris kembali tersenyum, ah, Hansa benar-benar sesuatu. "Masih jam 5 sayang, kok, malam, sih? Faris mengelus pelan punggung Hansa. Nafas hangat Hansa mengenai permukaan kulit Faris. Rasanya ada sensasi tersendiri. "Sayang?" Faris kembali memanggil Hansa. Faris masih setia mengelus punggung Hansa, sedang Hansa masih tertidur lelap di pelukan Faris. Faris kini berhenti mengelus punggung Hansa dan mengeratkan pelukannya kembali. Dulu, Faris terbiasa dengan kesendirian. Menunggu dan terus menunggu. Berharap datang seseorang untuk melengkapi kisah hidupnya. Perempuan? Ya, Faris masih suka perempuan. Mereka terlalu sering datang, silih berganti mengisi kekosongan di hati Faris dan semuanya hanya meributkan bagaimana untuk membahagiakan dirinya sendiri dengan materi yang dimiliki oleh Faris. Apa itu yang dinamakan kebahagiaan? Setia? Ada yang setia, tapi akhirnya membandingkan dengan yang lain. Sedangkan perbandingan itu adalah sebuah tingkat bullying yang lebih parah dari apa pun juga. Bagaimana tidak, ketika sudah berusaha tapi hasilnya hanya dibandingkan dengan yang lain bahkan tidak dihargai sama sekali. Atau terkadang para perempuan itu menghianati dengan berbagai macam alasan? Dan begitulah akhir kisah cinta Faris sebelum dengan Hansa. Bertahun ia rajut cinta bersama kekasihnya, nyatanya ia harus tersalip oleh temannya sendiri, yang jelas tingkat materinya mampu membahagiakan perempuan itu lebih dari seorang Faris. Putus asa? Jelas Faris putus asa. Rasanya dia benar-benar terkhianati oleh kekasihnya dan temannya sendiri. Saat itu Faris butuh pelampiasan, pelampiasan untuk perasaannya yang kecewa terhadap semuanya. Hingga suatu kali ia bertemu dengan Hansa di sosial media. Awalnya hanya bermain-main, Faris berniat mempermainkan Hansa. Faris tidak pernah menganggap serius, namun ternyata Faris yang jatuh sendiri ke dalam permainan yang ia buat. Tak disangka Hansa memberikan kenyamanan, memberikan perhatian yang Faris tidak pernah dapatkan dari seorang wanita yang hanya mementingkan materi. Faris terjatuh ke dalam pesona Hansa. "Mas kenapa?" Hansa terbangun, Hansa melepas pelukannya dan memandangi Faris yang sedang tersenyum menatapnya. Faris tersadar dari semua pikirannya, ia kembali ke dunia nyata yang saat ini seperti mimpi. "Gak, ayo bangun. Nanti malam kamu di undang ibu ke rumah." Faris menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, beranjak dari ranjang. Hansa mengerjap, ia belum siap bertemu dengan orang tua Faris. Rasanya terlalu gugup. Hansa menarik selimutnya kembali hingga menutupi bagian atas kepalanya. Otaknya masih mencerna ucapan Faris barusan, mencari alasan agar tidak perlu pergi menemui mereka. "Kenapa?" Faris sudah kembali duduk di tepian ranjang, menarik selimut yang menutupi wajah Hansa. Tangannya mengelus lengan milik Hansa. "Mas, enggak bisa ya kalo kita perginya besok atau lusa?" "Kenapa emangnya?" Hansa merubah posisinya, ia bangun lalu duduk bersilah menghadap Faris. "Mas, Han masih capek." Hansa berucap dengan suara manjanya, berharap Faris mau mendengarkan. Faris tersenyum lembut, "ya udah, mas kabarin ibu deh, bilang kalo kamu masih capek." Faris menyaut ponselnya yang ada di atas nakas. Jemarinya mulai mengotak-atik layar ponselnya. "Tunggu," Hansa mengambil ponsel Faris tiba-tiba. "Loh?" "Pasti ibu udah masak, pasti ibu udah siap-siap. Kalo Han gak dateng, gak enak. Pasti dikira gak sopan." Hansa mengomel sendiri, lalu menyembunyikan wajahnya di bantal yang sedang ia gunakan untuk menopang kedua lengannya. Faris kembali tersenyum melihat tingkah Hansa. "Iya loh, kamu itu calon menantu. Yang baik dikit gitu kalo sama ibu mertua," Faris sengaja meledek Hansa. "Maaaaaas ih! Resek!" Hansa melempar bantal yang sedang ia gunakan untuk bersembunyi. "Bukannya Han jahat, Han belum siap." "Hahahaha, sayang kamu itu cuma mau disuruh makan malam. Kenapa harus takut coba?" "Ya tapi kan-" Hansa menunduk. "Tapi apa?" Faris memotong ucapan Hansa, ia menggenggam kedua tangan Hansa. "Percaya sama mas, ibu enggak galak. Lagian mas enggak bakal biarin Han sendirian. Ok, sayang?" Hansa mendongakkan kepalanya, menatap wajah Faris yang sedang tersenyum mencoba meyakinkan dirinya. Hansa mengangguk lalu memeluk Faris. Faris menyambut pelukan Hansa, mengusap kepala Hansa perlahan, memberikan kepercayaan pada Hansa. "Sekarang kamu mandi, ini udah mau jam 6. Bisa-bisa kita telat." Faris melepas pelukan Hansa. Hansa mengangguk, mengiyakan perintah Faris. "Mas mandi, kamu mandi jadi biar cepet." Faris sudah berjalan menuju pintu, sampai Hansa menghentikan langkahnya. "Mas?" Faris manoleh, "kenapa?" "Gak... mandi bareng aja?" Senyum nakal jelas terukir di bibir Hansa. Hansa mencoba menggoda Faris. Faris berdecak pinggang. "Ck! Yang ada kamu habis, Han. Gak bakal bisa ketemu ibu." Faris keluar dari kamar Hansa secepat mungkin sebelum ia berubah pikiran. Bagaimana Hansa? Hansa tertawa puas, dia benar-benar suka menggoda Faris. * * * * Tiga puluh menit berlalu, Faris sudah siap. Ia sedang mencari jam tangannya di kamar. Tiba-tiba suara Hansa bergema keseluruh penjuru apartemen. "Mas...maaaaas... mas Faris!" Faris segera keluar kamar dan menghampiri Hansa di kamarnya. Faris meneliti ruangan namun tak ada Hansa. Rupanya Hansa masih di dalam kamar mandi. Faris mengetuk pintu kamar mandi Hansa. Tok! Tok! "Kamu manggil mas, Han?" "Iya mas, Han lupa enggak bawa handuk." Faris menggeleng mendengar alasan Hansa, benar-benar kekasihnya ini. Mandi pun lupa membawa Handuk. "Dimana handuk kamu, honey?" "Masih di dalam koper mas," Hansa masih berteriak dari dalam kamar mandi. Faris membuka koper milik Hansa dan mulai mencari handuk milik Hansa. Hansa terlalu rapih, lihatlah sampai baju satu lemari pun bisa Hansa masukan ke dalam koper. Faris menggeleng heran. Banyak sekali baju yang Hansa bawa. Faris mengambil handuk dan segera menyerahkannya kepada Hansa. Faris kembali mengetuk pintu kamar mandi Hansa. Tok! Tok! "Honey, ini handuknya." Tangan Hansa yang masih basah terulur kearah luar mengambil handuk yang Faris ambilkan. Faris kembali berjalan menjauh dari kamar mandi, ia bercermin di depan cermin yang ada di samping ranjang Hansa. Ia merapikan bajunya, tadi Faris tidak sempat untuk berkaca, suara Hansa yang manja sudah memanggilnya untuk mengambilkan handuk. Saat sedang asyik berkaca, pintu kamar mandi terbuka, dari pantulan kaca Faris dapat melihat Hansa yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi, dengan hanya handuk menutupi setengah tubuh bagian bawahnya. Faris menelan ludah melihat tubuh Hansa. Sedang Hansa terlihat kaget. "M-mas! Mas ngapain masih di kamar Han?" Hansa menutupi tubuh atas bagian depannya dengan kedua lengannya. Faris gugup, namun ia coba untuk menyembunyikannya. "Loh? Kan tadi kamu yang panggil mas, Han." "I-iya, tapi kan Han udah dapet handuknya." Faris hendak berbalik badan menghadap ke arah Hansa, "Stop! Jangan gerak mas! Aaahh!! Mas, Hansa belom pake baju! Aaah...!!" Faris rasanya ingin tertawa, Hansa sedang merengek sambil menghentakkan kakinya di lantai. Kelakuannya benar-benar manja seperti anak kecil. "Mas, kenapa ketawa bukannya keluar." Hansa menyadari jika dirinya sedang ditertawakan oleh Faris. Sambil menutupi tubuhnya dengan lengan Hansa berjalan mendekati Faris, Hansa menarik lengan Faris dan menyuruh Faris untuk keluar, namun sayang telapak kaki Hansa masih setengah basah, Hansa terpeleset dan terbanting ke lantai. Tangannya masih menarik Faris, Hingga Faris jatuh tepat diatas Hansa. "Huwaaa...!!!" Hansa berteriak, untung ada karpet yang cukup tebal di atas lantai kamarnya, tapi tetap saja sakit rasanya. Apalagi tubuh Faris ada diatasnya. "Aw! Mmaas!" Hansa merengis. Faris panik, "Han? Kamu gak apa-apa?" "Sakit mas punggung sama p****t Han." Hansa kembali merengek. Faris masih panik, tapi ia kemudian tersenyum melihat wajah lucu Hansa yang sedang memanyunkan bibirnya. Entah ide darimana Faris tiba-tiba mencium bibir Hansa. Hansa kaget, tangannya mencengkram lengan Faris. Awalnya hanya kecupan biasa, namun Faris menggoda Hansa. Hansa membuka mulutnya. Faris mulai melumat bibir bawah Hansa, menghisapnya pelan memberi kenikmatan untuk Hansa. Kini lidahnya bermain didalam mulut Hansa, bertaut dengan lidah Hansa. Faris benar-benar menikmati ciuman itu, bahkan Hansa sudah melenguh, memejamkan matanya meresapi ciuman Faris, tangannya kini memeluk leher Faris. "Mmmmhhhh ..." itu suara Hansa. Faris tersenyum menang disela-sela ciumannya , ia kemudian melepas ciumannya secara tiba-tiba. Faris sengaja menggoda Hansa. "Bangun ah," Faris melepas lengan Hansa di tengkuknya. "Mas ih!!" Hansa kesal rasanya. "Kita bisa telat. Ayo bangun pake baju, honey!" Hansa kesal rasanya, kenapa Faris sengaja mempermainkannya. Hansa bangun sembari mengomel. "Ssstt... kamu jangan ngomel Han, imutnya nanti ilang." Faris sudah berdiri dan hendak keluar kamar. "Bodo!" Faris terkekeh, rasanya puas sekali. Sedang Hansa masih mengomel sembari memakai baju. "Lihat ya, pembalasan lebih kejam daripada tidak membalas!!" Tbc.... 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD