Faris, Hansa, Fara

2189 Words
Tiga bulan kemudian.... -Han, nanti malem Fara mau dateng, kamu gak usah masak ya, beli makanan aja.- Begitu bunyi pesan milik Faris yang sedang dibaca oleh Hansa, Hansa masih mengumpulkan nyawanya. Ia baru bangun dari tidur pulasnya, matanya kini melirik jam yang ada di dinding kamarnya, jarum jam menunjuk ke angka empat. Sebentar lagi Faris pulang, batin Hansa. Hansa bergegas untuk mandi, ia mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Lima belas menit berlalu, Hansa keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai kaos putih polos kebesaran dan celana dalam berwarna hitam. Rambutnya masih basah, sesekali ia mengeringkannya dengan handuk kecil. Hansa keluar kamar, ia berjalan menuju dapur, membuka kulkas berharap ada cemilan yang bisa ia lahap ternyata  tidak ada makanan sama sekali, perutnya lapar meminta diisi. Ia melihat ke meja makan, hanya ada buah apel, terpaksa hanya itu yang bisa Hansa makan. Hansa duduk di depan tv, menyalakan tv sembari memakan buah apel tadi. Apa yang Hansa tonton? Kartun, ya, film anak-anak Cinderella. Hansa serius sekali, matanya menatap layar tv dan mulutnya sibuk mengunyah buah apel di tangannya. Sesekali ia tertawa, kadang kesal saat melihat ibu tiri Cinderella yang jahat, bahkan ia menangis saat melihat Cinderella mendengar kabar bahwa ayahnya meninggal. Sudah berulang kali Hansa menonton film ini, namun Hansa tak pernah bosan dan tetap saja terharu. Sampai bunyi bel apartemennya berbunyi dan mengusik konsentrasi Hansa. Hansa menaruh handuknya dan berjalan membukakan pintu. Faris pulang, Hansa tersenyum, rasanya sepi sekali saat tak ada Faris. "Mas," Hansa mengambil tas berisi laptop yang Faris bawa. "Kamu udah pesan makanan, Han?" Hansa tercekat, dia lupa. Dia belum memesan makanan, gara-gara film Cinderella ia jadi lupa pesan dari Faris. "Hehe, belum." Hansa bergegas menjauhi Faris, ia tahu Faris pasti akan mengomel. "Kamu gak baca pesan dari mas?" "Baca, tapi Han lupa, mas." "Kenapa bisa lupa?" Hansa menunjuk ke arah layar tv yang masih menyala. Faris mengikuti arah tunjuk Hansa, benar saja film kartun. "Pinter ya," "Ih mas, salahin tvnya kenapa pake nayangin itu kartun." Hansa membela diri. "Heh! Kan kamu yang nyalain tvnya, kenapa jadi nyalahin tvnya?" "Ya kan, bisa aja acaranya berita, kenapa harus kartun." Hansa masih mengelak, ia tidak mau diceramahi oleh Faris. Ia segera mengambil ponselnya dan memesan makanan untuk Fara. Hansa memesan seloyang pizza untuk mereka bertiga makan. Faris hanya menggelengkan kepalanya, Hansa memang seperti anak kecil. Tapi itu sudah biasa, itu adalah hiburan tersendiri bagi Faris, tingkah Hansa bisa membuat Faris merasa terlepas dari penatnya aktivitas yang ia jalani di kantornya. "Han, sebelum makanannya dateng kamu bikinin mas makanan gih, laper nih." Hansa yang sedang memainkan ponselnya langsung menaruhnya dan menghampiri Faris yang sedang duduk di meja makan. "Sayang mau makan apa?" Suara Hansa lembut dan menggoda. "Telor dadar gimana?" Hansa mengelus rambut Faris. "Gak bosen kamu masak telor terus? Mas aja nih yang makan rasanya bosen." Faris mengeluh, telur lagi telur lagi. Tiga bulan hidup dengan Hansa, makanan pokoknya setiap hari adalah telur dan telur. "Ya udah omlete gimana? Eh, gak ada sayur di kulkas, telor orak arik gimana?" "Bisa gak jangan telur terus?" "Ya ampun mas, itu telor juga variasi, telor dadar, telor mata  sapi, telor omlet, telor balado." Faris memutar bola matanya malas, pusing rasanya. "Ya tapi intinya itu telor semua, Han." "Ya tapi kan rasanya beda-beda." "Beda apanya? Sama aja telor. Udah terserah kamu mau masak apa, mas laper." "Ok, Han bikinin telor orak arik aja ya mas." Hansa tesenyum centil, lalu berjalan menuju dapur. Ia mengambil dua butir telur dan cabai dari dalam kulkas, menyiapkan mangkok dan teflon. Hansa mulai memotong cabai, "mas, mas lihat deh," Hansa menyuruh Faris untuk melihatnya memotong cabai menggunakan gunting. "Sumpah ya, Han heran sama orang-orang, kenapa coba mereka mesti ribet motong pake pisau, kalau pake gunting aja lebih gampang dan cepet." Hansa tersenyum menang, seolah menemukan penemuan terhebat di abad ini. "Heh! Kamu aja yang males itu mah," Faris menepuk p****t Hansa, ia baru sadar jika Hansa sedari tadi hanya memakai celana dalam. Tiba-tiba Faris menaruh kepalanya di pundak Hansa, berhubung Hansa lebih pendek dari Faris, Faris sedikit membungkuk. "By..." "Hmm apa mas?" Hansa masih melanjutkan kegiatannya memotong cabe. "By..." Faris melembutkan suaranya. "Iya mas sayang, kenapa?" Faris berbisik di telinga Hansa, "jangan lupa masaknya kasih garam biar ada rasa, ya." Setelah itu Faris berbalik dan melenggang pergi meninggalkan Hansa yang sedang memandangnya marah. "Maaaaas!!" Hansa melemparkan cabai utuh ke arah Faris, selalu saja Faris menjahilinya. Faris hanya tertawa terbahak melihat kekesalan Hansa. Rasanya benar-benar puas melihat Hansa marah dan mengomel. * * * "Mas, jadi nih." Hansa meletakkan sepiring nasi merah dan orak arik telor di atas meja makan. Faris yang sedang menonton tv segera menghampiri Hansa. "Tuh, aku bikinin bentuk hati," ujar Hansa sembari duduk di samping Faris. "Hati dari mana ya, mas? Perasaan gak mirip deh, dari atas gak mirip mas malah mirip benjolan. Dari samping apa lagi, hahaha..." Faris meledek hasil usaha Hansa. "Rese amat sih mas, udah Han masakin capek-capek juga," Hansa memonyongkan bibirnya. "Hahaha, iya iya, salut deh sama usahanya, sini peluk dulu." Faris merentengkan kedua tangannya. Hansa menatap Faris lalu memeluknya. "Makasih ya, sayang." Ujar Faris. Faris mengelus kepala Hansa yang sedang mengangguk di dalam pelukan Faris. Faris melepas pelukannya dan mulai memyendok nasi yang ada di piring. Suapan pertama sudah masuk ke dalam mulut, wajah Faris terlihat muram, sudah bisa di tebak masakan Hansa hambar padahal tadi ia sudah mengingatkan. Faris menatap Hansa sembari mengunyah makanan di mulutnya. "Kenapa mas?" Hansa bertanya polos. "Kamu pakein garam gak sih, by?" Hansa mengernitkan alisnya, "pake, mas. Kenapa?" "Yakin?" Hansa mengangguk, mengiyakan Faris. "Cobain," Faris menyodorkan piring nasinya ke arah Hansa. Hansa mencicipi telur yang ia buat. Satu suapan sudah masuk ke dalam mulutnya. "Perasaan tadi Han udah kasih garam, mas." "Gak ada rasa, mas kaya makan telor mentah tau gak." "Pffftt..." Hansa menahan tawanya. "Udah ah, kenyang." Faris menaruh sendok dan garpunya. Hansa merajuk, "iiiih gak ngehargain banget sih." Faris menatap Hansa lalu menyuap sesendok nasi lagi. "Di bilang gak enak gak ngehargain, mau di makan gak enak." Ujar Faris sembari memakan nasi. Hansa hanya tersenyum lalu mengerjapkan matanya. "You're going to eat it for the rest your life." Faris segera saja menggelang mendengar ucapan Hansa barusan. "Nih coba kamu makan masakan kamu terus kasih komentar." Faris menyuapi Hansa. "Hmmm it's so good." Ujar Hansa sembari mengunyahnya. "No! That so tottaly fake." Faris tertawa sebari menyangkal ucapan Hansa. "Kamu jangan bohong ya, by. Jelas-jelas gak ada rasa." Faris masih menyangkal saja. "Loh emang enak kok." Sedang asyik bercanda, bel apartemen berbunyi. Faris segera membukakan pintu. Mungkin itu Fara, tadi siang Fadhil menghubungi Faris memberitahu bahwa Fara akan menginap di apartemen Faris. Bukan Fara tapi pizza pesanan Hansa yang datang. Faris segera mengambilnya dan membayar tagihannya. "Kamu baik banget sih by kalo ama Fara, modus ya." Ujar Faris sembari menaruh Pizza di atas meja makan. "Fara di kasih Pizza, mas di kasih telor hambar." "Emang Han baik kan, mas? Kalo Han jahat, jangan kan telor hambar nasi juga gak Han siapin." Ledek Hansa sembari menjulurkan lidahnya. "Dasar istri kejam! Pulangkan saja aku pada orang tuaku." Faris mulai berdrama. "Apa sih mas, sono pulang!" Hansa menendang p****t Faris yang sedang berdiri di depan watafel. " aduh!" Faris memegang alat kelaminnya. Hansa menghampiri Faris, "eh? Mas kenapa?" Hansa khawatir. "Nih, nabrak ini." Faris menunjuk gagang pintu yang ada di hadapannya. Hansa tertawa mendengarnya, salah siapa Faris usil. "Malah ketawa. Sakit, gimana kalo gara-gara kejadian ini mas gak bisa melestarikan manusia dengan spesies yang ganteng dan bersahaja seperti mas ini." Hansa berhenti tertawa mendengar ucapan Faris dan menatap Faris. "Preet!!" "Awas ya kamu!" "Apa?" Hansa menjulurkan lidahnya. "Sini," Faris menarik pinggang Hansa dan mulai menggelitikinya. "Haha... ampun mas ampun." Mereka berdua asik bercanda di dapur, menertawakan tingkah masing-masing. Tiga bulan tidak terasa begitu lama. Setiap hari perasaan mereka semakin menumbuhkan rasa cinta dan takut kehilangan. Selama tiga bulan ini, setiap malam Hansa selalu tidur di dalam pelukan Faris. Bagi Hansa, lengan Faris adalah bantal terempuk. Tubuh Faris adalah guling yang sempurna untuk dekapannya. Dan pelukan Faris adalah selimut terhangat untuknya. "I love you, mas." "Love you too, by" Hansa menatap penuh mata Faris, "mas gak akan lepasin Han, kan?" "Kenapa kamu bilang gitu?" Hansa memeluk Faris kembali, ia menyembunyikan wajahnya di d**a Faris. "Han takut." Faris mengelus punggung Hansa, ia memberikan ketenangan pada lelaki kesayangannya itu. " cuma Han tempat pulang mas, gak ada yang lain. Cukup Han, gak ada yang lain." "Makasih mas." "Ya udah, sekarang pake celana. Bentar lagi Fadhil sama Fara dateng, jangan sammpe mereka mikir aneh-aneh." "Siap boss." Ujar Hansa sembari melepas pelukannya. * * * "Ra, kamu nanti tidur di kamar mas Hansa ya." Ujar Faris. Fara baru saja datang, tadi Fadhil hanya mengantar Fara sampai loby apartemen sehingga Faris dan Hansa harus menunggu di loby. "Sama mas Hansa?" Tanya Fara sembari memakan pizza di hadapannya. Faris menatap Hansa yang sedang memangku kepalanya sembari menperhatikan Fara. "Enggak lah, sendiri." Hansa menoleh ke arah Faris. Hansa hendak berkata namun sudah disalip Fara terlebih dahulu. "Terus mas Hansa tidur dimana? Fara kan takut tidur sendiri." "Mana ada, gak boleh laki-laki sekamar sama perempuan apalagi bukan muhrim. Mas Hansa tidur di kamar mas Faris, kita kan sama-sama laki-laki jadi boleh." Faris tersenyum menang. Hansa yang menatap Faris di sampingnya segera saja mencubit paha Faris. Sebenarnya setiap malam pun Hansa dan Faris tidur bersama, kamar Hansa hanya sebuah formalitas saja jikalau ibunya Faris main atau pun mampir ke apartemennya. "Curang! Gak ah, Fara takut, mas Hansa tidur sama Fara  , ya? Ya?" Fara merengek pada Hansa. Hansa yang menatapnya hanya memberikan tatapan canggung. Bagaimana pun tetap saja Hansa itu lelaki dewasa, dan Fara anak kecil yang sebentar lagi akan menjadi seorang gadis. Tidak mungkin Hansa tidur seranjang dengan Fara, ya meskipun Hansa tidak akan merasakan apa apa tetap saja itu risih bagi Hansa. "Kamu kan udah gede, Fa." Jawab Hansa. "Yah... tapi Fara takut mas." Hansa berpikir sebentar, "gini aja, mas temenin sampe kamu tidur abis itu mas pindah ke kamar mas Faris. Gimana?" Fara nampak kecewa namun setelah itu mengangguk setuju. Satu jam berlalu, mereka bertiga kini sedang menonton Film yang Fara bawa dari rumahnya. Hansa duduk di sofa panjang dengan paha yang dijadikan bantal oleh Fara. Faris duduk di lantai yang dialasi karpet di depan sofa yang Hansa duduki. Sebelum datang untuk menginap, Fara sudah memeberitahu Hansa bahwa ia punya film baru, tentu saja Hansa menyuruh Fara untuk membawa kaset itu untuk ditonton bersama. Film itu bercerita tentang seorang gadis yang bercita-cita menjadi seorang penari balet. Hansa dan Fara punya hobi yang sama yaitu menonton film kartun. Apa pun itu mereka akan menontonnya dan tertawa saat film itu lucu, lalu menangis saat adegannya mengharukan. Hansa menoleh ke arah Fara. Fara sudah tertidur pulas sembari memeluk telapak tangan Hansa. "Mas, " panggil Hansa pelan. Faris hanya menjawab seadanya sembari fokus ke layar tv. "Mas, adik kamu udah tidur nih, pindahin gih." Faris menoleh dan melihat Fara yang sudah terlelap. Faris segera beranjak dari duduknya, ia menggendong Fara dan memindahkannya ke kamar Hansa. Hansa mengikuti Faris di belakang, ia membukakan pintu kamarnya untuk Faris agar bisa masuk. Faris menidurkan Fara di ranjang dan menyelimutinya, sedang Hansa mengatur suhu ac di kamarnya. "Udah, ayo keluar." Faris menarik Hansa keluar. Lalu menutup pintu kamar Faris. "Mas, besok mesti belanja bulanan." Ujar Hansa sembari kembali duduk di sofa. Faris sekarang yang ganti tidur di atas paha Hansa. "Ya, besok hari sabtu, kita anter Fara pulang dulu terus baru belanja." "Hmmm..." jawab Hansa. Hansa sudah fokus lagi ke layar tv, berbeda dengan Faris, Faris sudah tidak menatap layar tv lagi. Wajahnya kini menghadap ke arah perut Hansa. Tangannya mulai masuk ke dalam banju Hansa, mengelus perut Hansa sebentar, rasanya hangat. Hansa belum bereaksi, ia tahu benar Faris sangat suka sekali memeluk perutnya. Tangan Faris kini beralih menuju p****g Hansa. Faris memilinnya, tubuh Hansa mulai bereaksi. Faris tersenyum puas. Ia bangun dari posisinya dengan masih memilin p****g Hansa. "Maas..." konsentrasi Hansa untuk menonton sudah buyar. Faris menarik pipi Hansa untuk menghadap ke arahnya, ia kemudian mencium bibir Hansa, perlahan namun pasti lidahnya mulai masuk, mencari lidah Hansa, lalu ia menghisapnya pelan. Dengan tangan Faris masih memutar-mutar p****g Hansa. "Mmmhhhh..." suara itu keluar dari mulut Hansa. Tangannya sudah ia gunakan untuk memeluk tubuh Faris. "Mmmmhhh..." Entah bagaimana. Sekarang tubuh Hansa sudah berada di atas pangkuan Faris. Bibir mereka masih saling menempel satu sama lain, saling menghisap satu sama lain. Hansa sedikit menggesekkan pantatnya di atas alat kelamin milik faris. "Aah..." Faris melepas ciumannya dan memeluk pinggang Hansa. Faris kini mencopot baju Hansa, perlahan ia menjilati leher Hansa dan mengecup-ngecup kecil di sana. Ah, Hansa menegang. Rasanya basah, geli, nyaman dan entahlah bagaimana mengatakannya. Tangan Hansa mengelus kepala Faris. Faris kini menjilati d**a Hansa, tanganya memutar-mutar p****g Hansa. Tak sabar, Faris segera melahap p****g Hansa, mengenyot sebentar lalu memainkannya dengan lidah basah miliknya. "Aahh... masshhh, aahhh..." Faris masih fokus pada p****g Hansa, dan Hansa masih menikmati sentuhan dari faris. Tangan Faris kini mulai menelusup ke celana Hansa. Faris mencari p****t montok milik Hansa. Faris meremasnya sembari mengenyot p****g Hansa. "Aaahh... mashhh ja-ngan di sinih," Faris tersenyum disela kegiatannya, ia segera mengeluarkan lengannya dan melepas p****g Hansa  dari mulutnya. "Kita ke kamar, Honey." Hansa hanya mengangguk sembari menatap sayu ke arah Faris. Faris bangun lalu menggendong Hansa. Hansa tersenyum lalu melumat bibir Faris. Mereka berciuman sembari berjalan menuju kamar Faris. Tbc....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD