#votedulubarubaca
Hansa masih terpejam nyenyak di lengan Faris, memeluk tubuh Faris.
Faris menatap wajah Hansa sembari tersenyum, semalam Faris benar-benar membuat Hansa berkali-kali merasakan kegagahannya. Faris mendekat ke arah Hansa, mengecup bibirnya sebentar. "I love you, honey." Faris mengusap lembut pipi Hansa, merasakan halusnya kulit laki-laki kesayangannya itu. Faris melirik jam sebentar, suara adzan subuh sudah berkumandang. Faris kemudian beranjak dari ranjang, sebelum itu dia membenarkan selimut yang menutupi tubuh polos Hansa. Faris bergegas menuju kamar mandi, ia harus mandi 'besar' sebelum melakukan sholat subuh.
Sepuluh menit berlalu, Faris sudah keluar dengan rambut setengah keringnya dan handuk yang hanya menutupi setengah badan bagian bawahnya. Dilihatnya Hansa sudah tersenyum sembari duduk di atas ranjang dengan wajah khas bangun tidurnya dan n****e coklat muda yang terlihat jelas sekali. Faris berjalan menghampiri Hansa, ia duduk di tepian ranjang.
"Kok udah bangun?" Faris mengelus sayang pipi Hansa.
"Masnya ilang," Hansa mendekati Faris lalu memeluk Faris. Harum sabun tercium dari tubuh Faris, Hansa menghirupnya dalam-dalam.
Faris membalas pelukan Hansa, mengelus punggung Hansa, dan mengecup kepala Hansa. "Mas mau sholat, ini masih jam lima kurang, Han bobok lagi, gih."
"Hmmm, bentar lagi." Hansa mengeratkan pelukkannya. "Harum banget," Hansa menelusup ke arah ketiak Faris.
Sampai lima menit Faris masih mengelus punggung Hansa, suara dengkuran halus terdengar dari Hansa, sepertinya Hansa sudah terlelap tidur lagi. Perlahan Faris merebahkan Hansa kembali di ranjang, ia tidak ingin mengganggu istirahat lelaki imut kesayangannya itu. Mengecup keningnya sebentar, lalu membenarkan selimut yang menutupi tubuh Hansa.
Faris bergegas memakai baju, mengambil sarung dan peci. Ia menggelar sajadah, menghadap kiblat. Ia mulai menunaikan sholat.
Setelah selesai, Faris kembali merapikan sajadahnya, ia selesai menunaikan ibadahnya. Menaruh kembali peci dan sajadahnya ke dalam lemari. Faris masih memakai baju koko lengan pendeknya, berwarna abu-abu dan sarung tenun berwarna cokelat tua hadiah dari ibunya dulu, Faris kembali menghampiri Hansa. Hansa tidak tidur ternyata, ia sudah bangun lagi.
"Mas ganteng kalo lagi pake baju ini," ucap Hansa dengan suara paraunya khas bangun tidur.
Faris hanya tersenyum lalu mengangguk, ia tahu sekali itu. Hansa selalu memuji Faris jika melihat Faris memakai pakaian seperti itu, Hansa bilang Faris penuh dengan karisma dan jiwa ke-bapak-bapakannya sangat terlihat sekali. Faris mengelus Hansa yang masih memeluk lengannya. Menyalurkan rasa kasih sayangnya pada Hansa. Hansa benar-benar membuat Faris tidak berpaling pada wanita atau lelaki mana pun. Faris selalu merasa cukup dengan hanya Hansa seorang.
Ini Hari sabtu, Faris libur kerja. Rencananya Faris akan mengajak Hansa berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari. Hansa bilang persediaan di dapur sudah kosong, tidak ada apa-apa untuk di makan, kecuali mie instan. Hansa benci sekali dengan mie instan, karena mie instan bisa membuat perut Faris sakit. Dan otomatis itu akan membuat pekerjaan Hansa bertambah. Faris sakit pasti akan manja semanja-manjanya, melebihi bayi. Tentu saja Hansa tidak mau itu terjadi, tapi yang Hansa heran Faris masih tetap saja membeli mie instan dan menyimpannya di rumah. Kadang Hansa suka mengomel, dan membuang mie instan itu diam-diam. Lebih baik makan telur kalau menurut Hansa.
"Hari ini kita belanja bulanan, ya. Tapi kita anterin Fara pulang dulu, sekalian mampir dulu ke rumah ibu mas mau ambil sesuatu." Faris berucap sembari mengelus rambut coklat milik Hansa.
Ya, kemarin Hansa mengecat rambutnya dengan warna coklat, tentu saja terlihat semakin imut. Kulitnya yang putih dan warna rambutnya yang coklat serta mata sipitnya yang selalu tersenyum itu terlihat sangat Asian sekali. Bagaimana Faris saat pertama kali melihatnya? Tentu berbinar matanya, Faris tak henti-hentinya mengejek. Mungkin itu bentuk pujian, hanya saja Faris ingin menggoda Hansa dan membuat marah Hansa.
"Jam berapa kita pergi?" Hansa bangun dari tidurnya, ia duduk menghadap ke arah Faris.
Faris beranjak dari duduknya, berjalan ke arah lemari dan mengambilkan satu buah kaos miliknya. Ia kembali menghampiri Hansa lalu membuka lipatan kaos teesebut dan memakaikannya pada Hansa.
"Jam sepuluhan aja." Jawab Faris sembari memakaiak kaos di tubuh Hansa.
Hansa hanya mengangguk. "Makasih, mas." Tubuh Hansa kini audah tertutupi oleh kaos. Jangan sampai ada ronde di pafi hari., hanya karena tubuh mulus Hansa yang tak tertutup sama sekali. "Mas mau sarapan apa?" Hansa mengelus pipi Faris perlahan.
"Kita sarapan di rumah ibu aja, nanti mas bilang ibu suruh siapin makanan, kamu bikinin mas s**u aja."
Hansa tersenyum, lalu menarik telunjuk Faris dan menaruhnya di atas p****g miliknya. "Ini aja gimana?" Hansa sedikit menggoda.
Faris mengangkat sebelah alisnya, ia lalu menarik telunjuknya dan menggelitiki Hansa tanpa ampun. Hansa tertawa sembari meronta, mencoba melawan Faris namun apa daya Faris lebih kuat dan Hansa hanya bisa pasrah.
"Haha, ampun mas, ampun." Hansa masih tertawa geli dan memegangi lengan Faris yang tidak hentinya menggelitiki dirinya.
"Makanya jangan suka menggoda," Faris berhenti menggelitiki Hansa. Kini ia berbaring di samping Hansa yang sudah berbaring terlebih dahulu. Mereka berdua saling berhadapan. Faris memiringkan tubuhnya ke arah kanan dan begitu pun Hansa sebaliknya. Mereka saling menatap dan tersenyum. "Mas sayang, Han." Faris memainkan jemari Hansa, sedang matanya masih menatap Hansa.
"Han enggak," Hansa menggelengkan kepalanya.
Faris melotot lalu menggigit pelan jemari Hansa.
"Hahaha, iya, iya. Han sayang baaaaaangeeeeeeeet sama mas."
"Cari yang baru aaaaah ..."
"Ih mas!"
"Katanya enggak cinta," Faris kini yang berbalik menggoda Hansa.
"Kan bohong, Han cuma becanda." Hansa sudah ingin menangis saja.
Faris kemudian menarik pinggang Hansa untuk mendekat ke arahnya. Faris memeluk Hansa lalu menciumi kepala Hansa berkali-kali tanpa ampun.
* * *
Mobil Honda Hr-V merah milik Faris sudah terparkir di garasi. Faris, Fara dan Hansa baru saja sampai di kediaman orang tua Faris. Mereka bertiga langsung masuk ke dalam rumah, rumah sudah ramai. Fadhil sedang sibuk dengan peliharaannya, ikan-ikan koi di kolam kecil yang terletak di samping rumah. Ayahnya sedang menonton tv, dan ibunya sedang menyiapkan sarapan di dapur. Faris datang di saat yang tepat.
Sampai di dalam rumah, Faris segera menghampiri ibunya di dapur. Sedangkan Hansa sudah diculik oleh Fara dan di bawa ke kamarnya.
"Pagi banget mas, mau numpang sarapan?" Tanya ibu pada Faris sembari menyiapkan nasi goreng di meja makan.
Faris mengangguk cepat, "gak ada makanan di sana, jadi Faris bawa perut laper ke sini."
Ibunya nampak memeriksa sesuatu, sebentar ia melirik ke ruang tengah. "Hansa gak diajak, mas?"
"Ada, tuh dibawa Fara ke kamarnya." Faris memberi isyarat pada ibunya dengan kepalanya yang mengahadap ke arah kamar adik perempuannya itu.
Ibunya hanya mengangguk dan segera menyiapkan piring.
"Ris, lu jadi pegang proyek yang di Bogor?" Fadhil berjalan menghampiri Faris yang sedang duduk di meja makan.
"Jadi, bulan juni baru jalan."
Fadhil mengangguk paham dengan ucaoan Faris.
"Kamu panggil Fara sama Hansa gih mas. Sarapannya udah siap."
Faris segera beranjak, melakukan perintah ibunya. Faris berjalan menuju kamar Fara. Dengan tergesa Faris membuka pintu kamar Fara, dan lihat apa yang sedang dilakukan oleh Fara.
"Far ayo sara-" suara Faris terhenti melihat apa yang dilakukan oleh Fara.
"Mas kenapa gak ketok pintu dulu?" Protes Fara.
Faris segera masuk dan menghampiri Fara. "Far kamu apain mas Hansa? Kenapa jadi cantik gini?" Faris terkagum, Fara memaikan hijab di kepala Hansa. Fara bilang Hansa cantik saat memakai hijab.
"Cantikkan mas?" Tanya Fara.
Faris segera mengangguk sembari tersenyum lebar dan mengacungkan ibu jarinya di hadapan Fara.
Bagaimana Hansa? Dia sudah kesal, hanya saja dia tahan. Bagaimana bisa dia marah di sini, Hansa hanya tersenyum masam.
"Sono Far, makan dulu." Faris mengusir Fara dari kamarnya.
"Ayo mas Hansa," Fara hendak menarik lengan Hansa namun ditahan oleh Faris.
"Nanti mas Hansa keluar sama mas Faris, kamu duluan aja."
Fara tidak setuju, Fara cemberut, tapi bagaimana lagi. Kakaknya tidak akan bisa dilawan. Fara pergi ke dapur seorang diri.
Setelah memastikan Fara pergi dan pintu kamar tertutup, Faris menghamoiri Hansa yang sedang mencoba membuka kerudung kepala yang menempel di kepalanya. Faris segera berlari dan menahan lengan Hansa. "Tunggu dulu, Han."
Hansa menatap Faris, "kenapa mas?"
"Mas mau foto dulu." Faris mengeluarkan ponselnya. Dengan cekatan Faris memotret wajah Hansa. Satu jepretan, dua jepretan, tiga jepretan, sampai banyak jepretan.
"Cukup," Hansa mencopot kerudungnya dan berbalik hendak meninggalkan Faris. Hansa itu lelaki, kenapa Harus diperlakukan seperti perempuan. Baru dua langkah, kaki Hansa sudah berhenti. Pelukan hangat di punggung Hansa mengehentikan langkahnya. Hansa terdiam, hatinya yang sedang jengkel tiba-tiba saja sedikit melunak.
"Han marah?" Ucap Faris pelan sembari menaruh dagunya di pundak Hansa.
Hansa masih terdiam, mencoba menenangkan dirinya. Perlahan ia melepas lengan Faris yang sedang memeluknya, ia berbalik menatap Faris dengan masih menggenggam tangan Faris. "Mas," panggil Hansa pelan. Faris terlihat menyesal, ia hanya membalas tatapan Hansa tanpa menjawab panggilan Hansa. "Han gak suka, Han bukan perempuan. Kalo mas mau nyari yang cantik, mas cari perempuan bukan laki-laki. Walaupun Hansa seorang bottom, Hansa masih tetap seorang laki-laki." Hansa mencoba menjelaskan perlahan. "Jadi perlakuin Hansa kaya laki-laki."
Faris hanya mengangguk dengan rasa bersalah di hatinya, Faris tahu mungkin Hansa tersinggung, benar kata Hansa, dia laki-laki dan tidak ada laki-laki yang mau disamakan dengan perempuan atau kasarnya dikatai banci.
"Han sayang mas." Hansa maju mencium pipi Faris.
Faris mengangguk lalu memeluk erat Hansa. "Maafin, mas."
"Udah ayo sarapan, Han laper." Hansa melepas pelukan Faris lalu mengusap pipi Faris perlahan. Mereka berdua berjalan menuju dapur untuk sarapan bersama keluarga Faris.
* * * *
"Yang biru aja, by." Faris menarik keranjang dorong berwarna biru, sedangkan Hansa sudah berjalan lebih dulu dengan keranjang berwarna merah muda.
"Ya udah mas satu, Han satu." Jawab Hansa santai.
"Kamu mah boros, by."
"Ya udah, makanya ini aja udah."
Faris mengalah, mengikuti Hansa dari belakang.
"Kemana dulu?" Tanya Faris. "Cemilan ya, by?" Mata Faris masih melirik ke sana kemari.
"Jangan aneh-aneh, cari yang penting dulu. Tuh mas detergen." Hansa menunjuk ke salah satu rak yang berisi berbagai macam merek sabun cuci pakaian. Hansa memilih sebentar.
"By, lama amat milihnya. Bukannya sama aja." Faris menggerutu.
"Beda, punya mas kan mesin cuci pintu depan." Mata Hansa masih melihat satu persatu jenis sabun cuci pakaian yang ada di hadapannya.
Faris menatap malas sembari memainkan ponselnya. Ia menyerahkan semua kebutuhan rumahnya pada Hansa. Hansa sudah selesai dengan urusan sabun cuci pakaian, kini ia mencari sabun lantai dan sabun cuci piring. Kini Faris yang memilih, Faris pikir lebih menghemat waktu.
"By, yang mana?" Faris menunjukan dua buah sabun cair pembersih lantai dengan aroma lemon dan apel. Tangan Hansa menunjuk pada tangan kanan Faris yang memegang sabun dengan aroma rasa apel.
"Kamu mau ini? Kalo gitu mas mau yang ini." Faris menaruh sabun yang ada di tangan kirinya pada keranjang belanjaan dan menaruh kembali sabun yang ada di tangan kanannya pada rak.
Hansa yang melihatnya hanya melotot tak percaya dengan tingkah Faris, hobi sekali memancing amarah Hansa.
Mereka sudah selesai berbelanja keperluan dapur, kini Faris dan Hansa berjalan menuju rak cemilan.
Dengan cekatan Faris mengambil biskuit coklat kesukaannya, keripik kentang, serta beberapa batang coklat kesukaannya dan kesukaan Hansa. Hansa hanya diam sembari mendorong trolly di belakang Faris. Faris hobi sekali berbelanja.
"Udah lengkap, by?"
Hansa mampak memeriksa sebentar ke dalam trolly belanjaannya dan mengangguk pada Faris. Kini mereka berjalan menuju kasir untul membayar belanjaan mereka.
Setelah selesai, mereka berdua keluar dari pusat perbelanjaan dan berjalan menuju parkiran. Faris menaruh barang belanjaan ke dalam bagasi mobi dan Hansa masuk ke mobil terlebih dulu. Ia duduk di kursi depan penumpang. Hansa sudah memakai sabuk pengamannya, menunggu Faris untuk segera masuk. Sepuluh menit berlalu, kenapa Faris lama sekali? Hansa mengecek ke arah belakang, pintu bagasi sudah di tutup lalu kenapa Faris tidak segera masuk? Hansa kembali melepas sabuk pengamannya, ia keluar dari mobil hendak menghampiri Faris. Samar terdengar seseorang sedang mengobrol, Hansa semakin mendekat, ia mencoba memanggil Faris, "mas kok lama bang-" ucapan Hansa terpotong, ah ... Faris sedang mengobrol dengan seseorang. Seorang perempuan. Memakai hijab, nampaknya sangat akrab. Siapa dia? Batin Hansa.
Tbc