Skandal

1142 Words
berjabat tangan memperkenalkan diri, dari jauh Judika udah melihat Ruby yang lagi salaman gitu sama orang asing. Enggak ngeliat siapa yang menja Masih di lawan bicara Ruby, sebab Judikan cuman bisa lihat punggungnya aja. Karena penasaran sama cowok yang lagi ngobrol sama Ruby sampai buat Ruby sengegesan gitu, Judika bangkit buat mastiin siapa cowok itu. Tapi, sayangnya tinggal beberapa langkah lagi dia sampai, cowok itu malah ngeloyor pergi tanpa nengok sedikitpun ke arah mereka lagi. Dia jadi kesel sendiri, karena saking penasarannya terus nanya sama Ruby yang malah di jawab dengan kalimat yang lebih ngeselin lagi. “Siapa, By? Temen lo?” “Gebetan baru gua.” Ngeselin, kan? Karena Judika tahu banget kalau Ruby ini enggak punya gebetan siapa-siapa. Orang setiap hari juga sama Judika terus mana ada gebetannya. Yaudah lah daripada makin kesal sama omongannya Ruby, Judika lebih milih ngambil makanan yang di bawa Ruby dan beranjak kembali duduk di kursinya. Sama seperti ritunitas malam minggu seperti biasanya, Ruby masih sibuk sama skripsinya yang belum selesai juga dan masih terus di revisi berkali-kali. Beda sama Judika yang udah lulus dan sekarang jadi asisten dosen, kerjaannya ya paling bantuin dosen aja sembari nyari sampingan ngejob jadi tukang foto di nikahan orang. Emang penghasilannya enggak besar dan muluk-muluk sih, tapi itu udah cukup buat menyambung hidup Judika kedepan sembari mikirin dia bakal melangkah ke arah mana buat masa depannya yang lebih baik. Judika ini sebenarnya anak orang kaya. Kaya banget. Kedua orangtuanya tinggal di bandung, katanya sih pengusahaan gitu di bandung. Tapi sampe sekarang Ruby belum pernah ketemu sama kedua orangtua Judika. Pernah sih ketemu, tapi cuman berpapasan doang waktu Judika wisuda. Dia juga punya dua orang kakak, kakak pertama cowok yang katanya tinggal di Boston, Amerika dan yang satu laki Cewek. Nah, kalau kakak ceweknya Judika bernama Astrid ini, Ruby kenal banget. Bahkan bisa di bilang Ruby ini udah kaya adik Astrid banget. Astrid bahkan pernah sampai ngomong sama Judika buat nikahin Ruby aja, dan bilang kalau Ruby jodoh yang cocok buat Judika. Namun, namanya Judika lelaki itu enggak mau mengotori persahabatan mereka dengan sebuah perasaan. Dia cuman takut perjalanan cinta mereka enggak semulus persahabatan mereka yang malah membuat keduanya renggang dan enggak bisa sama-sama lagi kaya sekarang. Judika takut banget sampai itu benaran kejadian. Makanya, dia cuman diem aja dan enggak nanggapi ucapan Astrid dengan jawaban apa-apa. “Gimana skripsi lo?” Judika mulai membuka pembicaraan. “Biasa lah suruh revisi lagi. Kayanya gua enggak bakal ikut sidang dua bulan lagi, deh.” “Loh kenapa bisa ngomong gitu?” Judika heran sama sahabat satunya ini. Kok, bisa sih punya mental ciut banget. Dikit-dikit nyerah, dikit-dikit pasrah kaya enggak ada gairah dan tekad buat hidup aja. “Abis skripsi gua udah bagus-bagus tetap aja di suruh revisi. Gua udah revisi sampe empat kali mana udah bab terakhir, tetap aja enggak di lolosin.” “Ya sabar atuh. Mungkin ini ujian lo buat lulus. Kita, kan enggak tahu gimana kedepannya nanti. Siapa tahu setelah revisi yang ini skripsi lo bakal di acc dosen. Lo bisa ikut sidang deh.” Benar juga ucapan Judikan, tidak seharusnya dia menyerah begitu saja apalagi mengingat perjuangan panjangnya yang tidak mudah hingga mencapai titik sekarang. “Aamiin deh semoga aja begitu. Gua udah capek banget kuliah, Jud pengen benaran kerja yang enggak Cuma part time. Lo tau sendiri gimana gaji pekerjaan part time.” Ya, Judika tau dan ngerasai banget kerja part time itu bagaimana. Capeknya sama seperti full time, tenaga yang di kuras pun sama. Tapi, gaji buat menyambung hidup itu yang beda jauh sama gajinya orang kerja full time. Ruby pengen cepat-cepat lulus supaya dia enggak ke pusingan muter otak buat nyari kerjaan bukan cuman untuk menghidupi dirinya aja tapi juga membayar uang kuliahnya yang setiap semester bisa mencapai angka sepuluh sampai lima belas juta itu. Maklum, dia yang udah enggak punya orangtua dan memiliki mimpi besar, mau enggak nyusahin kakak-kakaknya dan lebih memilih untuk berjuang sendiri. Keesokkan paginya, seperti yang sudah di rencanakan oleh Ruby, dia akan menyambangi salah satu bank terkenal di Jakarta yang rumornya bisa meminjamkan uang hanya bermodal kartu mahasiswa dan KTPnya saja. Uang semester yang nunggak membuat Ruby tidak punya pilihan lain selain meminjam uang ke bank. Tidak masalah untuknya jika harus mencicil tiap bulan dan di potong dari gajinya sebagai salah satu editor di perusahaan media masa anak cabang kompas media. Yang penting dia lulus dengan gelar sarjana sastra seperti impiannya. “Maaf banget mbak, sebulan kami hanya menargetkan 10 mahasiswa saja dan tidak lebih. Jika, mbak Ruby ingin mengajukkan pinjaman lagi bisa datang kesini kembali pada tanggal 8 bulan depan.” Sialnya, hari itu dia enggak dapat pinjaman seperti realita yang sudah dia bayangkan. Dengan langkah lunglai karena enggak dapat pinjaman, Ruby pun keluar dari bank tersebut. Karena ongkos buat pulang ke rumah tinggal sedikit dan cuman tersisa buat makan doang, alhasil Ruby memutuskan pulang dengan berjalan kaki. Sembari mencoba untuk menghubungi Judika minta di jemput seperti biasa. Ruby berjalan dengan kepala tertunduk lemah menelusuri trotoar jalan daerah Manggarai. Langkahnya terlihat begitu gontai, lemah tak bersemangat. Dan, ketika dirinya tiba di depan stasiun Manggarai, langkah kaki Ruby terhenti ketika melihat kerumunan warga yang sedang menggerubungi sesuatu. Ruby yang penasaran, melupakan kesedihannya dan bergegas pergi melihat apa yang sedang terjadi. Dan, betapa terkejutnya Ruby ketika melihat yang sedang di kerubungi oleh banyak warga adalah Reza, lelaki yang semalam ia temui di restoran bersama Judika. Lelaki itu sedang di kerumuni oleh para warga dengan ekspresi muka marah. Entah apa yang di lakukan Reza, tapi dari yang Ruby lihat Reza sepertinya sedang mendapat masalah. “Sudah gebukin saja ini cowok.” Begitu teriak salah satu warga memerintahkan yang lain untuk memukuli Reza. Ruby panik, meskipun dia tidak mengenal Reza secara pribadi tetapi dirinya kasihan dengan Reza yang sudah babak belur. Tanpa pikir panjang, Ruby meringsek masuk ke dalam kerumunan tersebut dan berusaha untuk menyelamatkan Reza. Dia mendorong tubuh para warga yang hendak mengeroyok Reza dan memeluk tubuh Reza untuk melindungi. “Tolong jangan main hakim sendiri. Jangan anarkis, kalian bisa melanggar hukum.” Begitu kata Ruby. “Kalian bisa bicara baik-baik, kan? Jangan mengeroyok seperti ini, jika dia mati bagaimana? Kalian pasti akan bertanggungjawab juga pada akhirnya.” “Alah enggak peduli!” Seorang warga berteriak membantah ucapan Ruby. “Dia ini sudah m***m dan berbuat zina di kampung ini. Ini sudah menjadi aib dan tidak bisa di biarkan.” “Benar.” “Bakar saja. Bakar!” Seru seorang lelaki yang di setujui semuanya. “Hey, jangan gegabah, Negara ini negara hukum.” “Alah memang kamu siapa, sih? Belain nih cowok sebegitunya.” Ruby bingung mau menjawab apa. Dia diam berpikir mencari jawaban atas pertanyaan salah satu warga. Hingga sentuhan tangan dari Reza membuat Ruby menolehkan kepalanya dan melirik Reza yang menatapnya dengan mata berbinar. Dengan tarikan napas panjang pun, Ruby berkata. “Saya istri lelaki ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD