bc

Wanita Bayaran CEO

book_age18+
45
FOLLOW
1K
READ
campus
addiction
like
intro-logo
Blurb

Profesinya menjadi seorang editor di anggap tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup apalagi membayar biaya kuliah yang jumlah tidak kecil, membuat Ruby Oleena di tuduh menjadi simpanan pengusaha tua yang perutnya buncit tapi banyak uang. Dia menjadi korban bullying kampus yang kadang menguji mental dan kesabarannya.

Hingga dia bertemu dengan seorang duda tampan kaya raya bernama, Reza Hartanto yang membuat hidup Ruby jungkir balik. Reza yang sedang kesusahan karena paksaan dari kedua orangtuanya untuk menikah meminta bantuan Ruby untuk menjadi kekasih pura-puranya dengan imbalan yang cukup untuk membiayai kuliahnya hingga lulus.

Namun masalah muncul ketika sebuah fakta mengejutkan terungkap tentang siapa identitas asli Reza. Seketika membuat Ruby di ambang kebimbangan.

“Jadi selama ini lo pacar abang gua? Jadi benar berita tentang lo yang jadi simpanan om-om itu.” Tatap Judika, sahabat sekaligus lelaki yang Rubi sukai sejak lama.

chap-preview
Free preview
Pertemuan Pertama
Seperti kebanyakan anak muda ibukota lainnya, malam minggu adalah ritual yang cocok untuk Ruby dan Judika untuk menikmati malam tenang tanpa perlu memikirkan numpuknya tugas kuliah. Biasanya sih, dua sahabat yang sudah enggak terpisahkan itu bakalan ngabisin malam minggu dengan keliling Jakarta sampai malam banget, terus nyari pom bensin yang antriannya panjang buat lama-lamain waktu di jalan, sebelum habis itu mereka nongkrong di kafe biasa di kawasan Blok M buat sekedar mesan kopi brown sugar atau americano kaya anak muda hits ibukota. Sedikit agak random memang dan lebih kebuang-buang waktu, sebenarnya kedua manusia yang menyebut diri sebagai manusia penuh keajaiban tapi sedikit kurang pintar itu cuman lagi ngirit duit saja. Keliling Jakarta tanpa ngeluarin duit buat makan dan minum. Maklum anak indekos yang punya duit cukup makan sebulan dan selalu makan indomie rebus soto setiap akhir bulan sampai orangtua mereka ngirimin duit lagi buat mereka menyambung hidup. Berawal dari pertemuan tiga tahun silam waktu Ruby daftar jadi mahasiswa baru di salah satu unniversitas swasta ibukota. Waktu itu, dia daftar seorang diri ke kampus dan enggak sengaja ketemu Judika yang waktu itu sudah menjadi senior kampus tapi enggak lulus-lulus. Pertemuan mereka ini bisa di bilang kaya mujizat dan takdir yang sudah di rencanakan banget sama Tuhan. Selesai mengurus berkas pendaftaran kuliah, Ruby yang niatnya keliling kampus malah enggak sengaja kegebok bola basket yang lagi di mainin sama Judika. Semenjak kejadian itu mereka kaya Galih dan Ratnah versi kampus “takdir telah berbuat” terbentuk lah jalinan kisah kasih persahabatan yang bertahan sampai sekarang. Memang belum lama-lama banget sih, tapi setidaknya selama tiga tahun saling mengenal, mereka berdua sudah klop banget kaya amplop sama perangko. Kemana-mana selalu berdua. Pasti kalau ada Judika di situ ada Ruby, juga sebaliknya. Mereka banyak melewati suka duka bersama menjadi seorang sahabat. Mulai dari kematian ibu Ruby yang membuat Ruby down dan buat kuliahnya mandek di tengah jalan, sampai pernah satu titik Ruby menyemangati Judika buat selesaikan skripsi dan sidang dalam waktu dua bulan doang. Mungkin dari sana, banyak hal yang sudah mereka lewatkan membuat tali persahabatan mereka makin menjadi erat. Meskipun enggak bisa di pungkiri namanya dua orang teman cewek dan cowok yang sudah dekat banget bakalan punya perasaan lebih dari sekedar sahabat. Dan itu terbukti bagaimana perasaan Ruby kepada Judika. Ruby sudah lama banget suka sama Judika, mungkin dari pertama kali mereka bertemu waktu kepala Ruby kegebok bola basket punya Judika. Tapi, Ruby enggak mau nyatain perasaannya sama Judika, kalau di tanya sama Mita teman indekos Ruby selalu menjawab dengan jawaban yang sama. “Susah, Ta. Gua enggak bisa bedain mana perasaan cinta dan perasaan sekedar sahabat. Dia sudah terlalu deket sama gua, dan gua takut kehilangan dia kalau gua ungkapi perasaan gua.” Susah sih jadi cewek memang, kalau cewek suka sama cowok enggak bisa langsung bilang, bisanya cuman nunggu doang. Takut di bilang murahan, dan enggak punya harga diri. Apalagi cowoknya teman deket sendiri, waduh takut banget malah bikin pertemanan ancur. Dan, Ruby enggak mau hal itu terjadi sama dia dan Judika. “Kalau seandainya Judika juga suka sama lo gimana? Elo, kan enggak tahu perasaan orang bagaimana. Jangan pesimis dulu kali, coba kalau enggak di coba mana kita tahu.” “Elo enak ngomong begitu. Kalau dia juga punya perasaan yang sama, sama gua tapi ternyata enggak malah bikin jarak di antara gua sama dia yang ada. Enggak deh, mending gua diem nyiapin hati kalau suatu saat nanti dia ngenalin seseorang yang berhasil mengisi hatinya.” Dan memang benar sampai sekarang, Ruby enggak pernah sekali pun mencampur adukan urusan hatinya dengan persahabatannya sama Judika. Dia tetap bersikap biasa saja layaknya sahabat, masih ngumpul setiap malam minggu buat jalan-jalan enggak jelas sampai tengah malam, atau tiap hari di antar jemput Judika sudah kaya abang ojek online. Ruby tahu itu hanya akan bertahan untuk sementara sampai suatu hari nanti Judika dapatin pacar baru dan enggak akan bisa bareng-bareng lagi sama Ruby setiap hari. Tapi setidaknya, sekarang Ruby bisa menikmati waktu bersama Judika itu dengan baik. Merekam segala momen-momen indah bersama yang mereka lewati tanpa sedetik pun enggak rela Ruby lupakan. “Jadi mau mesen apa?” Tanya Ruby kepada Judika yang baru saja sampai di kafe tempat biasa mereka nongkrong. “Kaya biasa saja.” “Yaudah, lo cari tempat biar gua yang mesen di kasir, ya.” Jempol tangan Judika terjulur. Dia langsung meluncur mencari tempat duduk yang nyaman buat mereka berdua. Maklum, kalau malam minggu kaya gini biasanya kafe rame banget sama anak muda yang nongkrong, pacaran, atau sekedar numpang Wifian dengan berbekal beli air mineral sama roti bakar keju cokelat. Ya, sebenarnya itu juga sama yang di lakuin Ruby dan Judika sekarang, sih. “Mbak, mau pesan roti bakar cokelat keju satu, singkong keju satu, sama kopi americano dua.” Kan, mereka berdua mah enggak bakal jauh-jauh dari dua makanan dan satu minuman itu. Ya, karena memang kedua menu itu adalah menu paling murah kafe ini. Dan setelah selesai mesen dan bayar, Ruby segera meluncur menghampiri Judika yang sudah duduk di pojokan tempat duduk yang dialaskan pohon gede sambil main hp. Tapi, bego banget memang sikap ceroboh Ruby yang sampai sekarang masih mendarah daging dan enggak bisa hilang. Tanpa sengaja, waktu jalan mau nyamperin Judika, dia nabrak cowok tinggi banget sampai membuat barang yang di bawa cowok berkemeja putih dengan lengan di gulung itu jatuh semua. “Ya ampun, maaf banget ya, kak. Saya enggak sengaja.” Ruby sudah jongkok buat membantu cowok itu ngeberesin barang bawaannya. Sumpah dia malu dan enggak enak banget. “Is okey, saya juga jalan enggak liat karena sibuk dengan hp saya.” Suara serak dan gede milik cowok itu membalas perkataan Ruby. Setelah barang-barangnya sudah rapih semua, dia bangkit yang di susul sama Ruby. “Sekali lagi maafin saya, kak.” Dia menudukkan kepalanya, meminta maaf lagi karena merasa kalau dia yang salah. Ceroboh jalan enggak liat-liat. Tapi, tiba-tiba sebuah tangan kekar menyentuh bahu Ruby. Dia seketika langsung menenggadahkan kepalanya yang membuat Ruby akhirnya ngeliat bagaimana bentuk dan rupa cowok yang dia tabrak. Sialnya, seakan dunia Ruby berhenti berputar, suara gaduh kafe dan alunan musik romantis yang di bawakan oleh band kafe berhenti semua, tak ada suara-suara apa pun yang dia dengar kecuali suara cowok di depannya memanggil dia dengan sebutan “Neng”. Ganteng banget, kaya Ben Affleck waktu muda. Eh, enggak deh lebih mirip sama Andrew Garfield. Gumam Ruby dalam hati. Ngeliat, Ruby yang melongo kaya orang kesambet setan kuburan, cowok bermata cokelat itu mengguncang-guncang bahu Ruby. Memastikan jika, cewek ini benaran enggak kesambet setan kuburan. Ya, kali Ruby kesambet setan kuburan, ngeri banget kesannya. “Neng, enggak apa-apa, kan.” Muka internasional bahasa lokal kayanya cocok di sematkan buat cowok ini. Muka bulenya ini keren banget, tapi logat sunda yang melekat sama bahasanya berhasil membuat Ruby ingin menyembur ketawa. Lucu, kaya youtuber bule asal australia yang pasih banget ngomong bahasa jawa. Tapi, kali ini, bule versi sundanya. Lucu dan ajaib. Tapi, yang lebih lucunya lagi, Ruby malah jadi ikutan kebawa logat sunda waktu balas pertanyaan cowok di depannya. Padahal jelas-jelas, Ruby bukan orang sunda dan dia enggak bisa ngomong bahasa sunda. “Enggak apa-apa.” “Atuh beneran, kamu teh enggak kenapa-kenapa?” “Sumpah, saya enggak apa-apa.” “Maafin saya atuh sekali lagi, saya benaran enggak sengaja nabrak kamu.” “Enggak apa-apa, btw nama aa teh saha?” “Nama saya Reza. Nengnya sendiri namanya saha?” “Ruby.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kali kedua

read
223.1K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
23.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.4K
bc

TERNODA

read
204.5K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook