"Aduhh langsung panas pipiku," ucapku, Nia benar-benar menamparku sekuat tenaga, untung saja Nay langsung mengusap-usap pipiku. "Rasakan tamparan maut nona Nia!" Noa mengangkat tangan Nia yang digunakan untuk menamparku. "Ehh kotanya hilang?" Aku lihat ke arah kota, seluruh kota tertutup kabut kecuali pohon besar di tengah kota. Karena posisi rumah ini berada di atas bukit paling tinggi, jadi terlihat seperti di atas awan. "Setiap pagi kabut selalu tebal di sini." Nay menarikku menuju pojokan kolam, pemandangan terlihat lebih jelas dari sini. Seperti biasa, dia segera memeluk lengan kiriku sedangkan Violet di lengan kananku. "Beginilah cara kami menghilangkan penat, kamu harus berendam setiap pagi dengan kami," Noa. "Woh, ramai juga yang naik ke tangga." Aku melihat ke sisi kanan, ada

