Keindahan di Pagi Hari

1376 Words
"Ehh tunggu dulu!" "Tapi tuan." Membalikkan badannya menghadap ke arahku namun tidak berusaha melepaskan tanganku. "Duduk dulu, dengarkan aku!" "Maaf tuan." Violet duduk kembali. "Aku lanjutkan ceritanya, di sana aku sempat melawan dan ada wyvern yang terluka, tapi para dwarf sama sekali tidak ada yang terluka," "Kalau belum diberi pelajaran, izinkan saya yang melakukannya." Violet memotong pembicaraan lagi sambil berdiri, aku tarik dia di pangkuanku dan aku peluk erat. Posisinya membelakangi aku, jadi tangannya bisa aku pegangi. "Licik! Kenapa Violet saja yang dipeluk?" Erin berdiri sambil menggebrak meja. Aku baru sadar kalau di sini ada banyak pelanggan yang memperhatikan kami, segera aku lepas pelukanku. "Kan kemarin kamu sudah menghisap darah tuan Al banyak sekali, gantian lah!" Violet malah membalikkan badan sambil memelukku erat. "Pokoknya nanti aku mau lagi!" Erin duduk lagi sambil menyilangkan tangannya di dada. "Mau membunuhku ceritanya?" "Kok reaksimu santai-santai saja sih saat mengetahui kami semua Ratu?" Erin mengalihkan topik pembicaraan. "Erin, jangan keras-keras!" Violet menengok ke arah Erin. "Sudah aku buat penghalang dari tadi kok," Erin "Kenapa aku tidak merasakannya?" Violet melihat sekelilingnya. "Entah, Al lanjutkan ceritanya!" Erin lupa kalau dia sudah mengalihkan pembicaraan. Dia langsung kaget dan kesal saat menyadari malah merusak rencananya sendiri. "Sampai mana tadi?" padahal aku benar-benar sudah lupa. "Itu wyvern terluka," jawab Violet dengan polosnya, sambil masih memelukku erat. "Nah iya, pas aku teleport bareng Violet di sana, ada jejak darah merah. Padahal yang aku lihat sebelumnya, darah wyvern itu warnanya hijau," "Ahh mungkin perasaanmu saja itu, karena phobia darah." Erin menyuapiku. "Iya tuan, sepertinya tuan salah lihat." Violet kembali duduk di bangkunya dengan tenang. "Masa sih?" Sambil mengunyah makanan. ____ Setelah selesai ngopi dan kenyang, kami berkeliling kembali, kebetulan kami melihat ada seorang cewek yang sedang diganggu oleh para Elf. "Anak itu berulah lagi!" Erin kesal. "Kamu kenal?" "Ramon, anak dari salah satu pemimpin pasukan Elf," Erin. "Cantik-cantik ya anak baru angkatan ini." Ramon memegang dagu cewek yang bernama Sasa itu. Plakk.. Tamparan keras mengenai muka Ramon. "Sampah!!" Teriak Sasa dengan muka yang geram sekali. "Uhhh, jangan kasar begitu dong," ucap Gabril salah satu Elf yang bersama Ramon. "Sepertinya kau memang perlu ikut dengan kami, pasti akan kami beri yang enak-enak kok." Ramon menarik Sasa dengan paksa. "Hei para pengecut! Jangan beraninya mengganggu cewek!" Datang seorang laki-laki, dia langsung melepaskan tangan Ramon dari Sasa. "Ahahaha lihatlah cecunguk ini, ingin menjadi pahlawan rupanya?" Ramon memegang kerah dari pemuda yang bernama Anton itu dan diangkatnya dengan mudah. "Hahaha tidak tahu dia kalau kami siswa terbaik di akademi," ucap Hart, dialah yang terkuat dari ke-4 Elf itu. Sedangkan Ramon malah jadi yang terlemah. "Ramon, cepat selesaikan!" Dugo menepuk pundak Ramon. Baakk.. Anton menendang Ramon tepat di pelipisnya, ke-3 Elf langsung menyerang Anton saat melihat Ramon terhuyung. Karena perbedaan kekuatan dan jumlah, tentu saja Anton dihajar oleh Elf tadi. Mungkin kalau satu lawan satu masih memungkinkan Anton untuk menang. "Mampus!" Ramon terlihat puas sekali melihat kawannya memukuli Anton. Tiba-tiba dalam hitungan detik, ke-4 elf tadi terlempar semua. Ternyata ulah Violet, dengan cepat dia berpindah di dekat mereka lalu menendangnya hingga terpental mengenai tembok. "Violet mengerikan sekali ternyata, tapi kenapa tidak dari tadi?" "Hahaha dia yang terkuat di antara kami semua," Erin "Kalau di biarkan bisa mati semua itu Elf." Aku mendekat ke arah Violet, namun segera dicegah oleh Erin. "Tenang saja, aku sudah memanggil Noe." Violet mendekati mereka satu-satu, kemudian diangkat dan dilempar lagi, untung saja Noe segera berteleport di depan Violet dan para elf itu. Noe membawa seorang Elf, dia tendang tepat di hidungnya hingga membuatnya mimisan. "Yang mulia." Semuanya berlutut termasuk aku Violet dan Erin. "Sampai kapan kau akan membiarkan kelakuan buruk anakmu itu?" Noe berjalan mendekati Elf tadi dan lagi-lagi dia tendang. Lam, seorang Elf dengan kekuatan yang sangat besar baik sihir maupun fisiknya namun tidak berdaya di hadapan Noe. 140 ribu jumlah sihir dan 70 ribu kekuatan fisiknya. "Maaf yang mulia, cewek di sana itu yang tiba-tiba menghajar kami." Ramon berlari menuju ayahnya dan bersujud di depan Noe sambil menunjuk ke arah Violet. "Jangan kau kira aku tidak mengetahui apa yang terjadi!" Noe mengeluarkan auranya yang meluap-luap. "Maaf, saya tidak bermaksud seperti itu yang mulia," ucap Ramon. "Perbaiki sikap anakmu itu! Atau akan aku jadikan samsak untuk latihan para Elf!" Noe memperingatkan mereka. "Baik yang mulia, akan saya didik anak ini lebih baik lagi," Lam. "Aku tidak perduli! mau kalian ranking teratas atau anak siapapun. Kalau membuat masalah lagi, aku pastikan kalian dikeluarkan. Tidak hanya dari sekolah, namun dari kota ini juga!" Noe melihat ke arah kawanan Elf itu. "Baik Yang Mulia," mereka semua ketakutan. "Kalian baik-baik saja?" Noe mendatangi Anton dan Sasa. "Sungguh suatu kehormatan bisa bertemu Ratu Elf," Anton masih berlutut. "Berkat yang mulia, kami tidak apa," Sasa. Noe menyembuhkan luka Anton menggunakan sihir penyembuh. "Terima kasih banyak yang mulia," Anton terlihat segar kembali tanpa adanya luka sedikitpun. "Nikmati waktu kalian di kota ini." Noe pergi meninggalkan kami. "Terima kasih banyak atas bantuannya, aku Sasa Rockholm." Menyalami Anton dan juga kami. "Aku Anton Araves." Ikutan menyalami kami namun tidak dihiraukan oleh Violet. "Aku Erin Fallmoer, ini Violet Fallmoer dan dia Aldho Alfina." Menggantikan Violet sambil menunjuk ke arahku dan Violet. "Oh maaf tuan putri kerajaan Lamris!?" Sasa menundukkan kepala diikuti Anton. "Panggil nama saja, tidak usah terlalu formal." Erin mengangkat pundak Sasa. "Baik, terima kasih banyak," Sasa "Putri Violet kuat sekali, bahkan mengalahkan para elf tadi dengan satu tendangan," Anton kagum dengan Violet. "Ayo kita pulang tuan!" Tanpa menjawabnya, Violet hanya menarik tanganku pergi. "Sampai nanti." Erin melambaikan tangan. "Sampai nanti." Mereka berdua membalasnya. "Kenapa tadi Noe muncul tanpa topeng?" tanyaku penasaran. "Di mata orang lain pakai kok," Erin. "Lalu kenapa kalian menggunakan identitas putri Lamris dan Aldho nama siapa?" "Benar juga, seharusnya kita ganti pakai nama Alfina." Erin mengusulkan ide sambil memeluk tanganku dan Violet mengangguk tanda menyetujui. "Aldho nama tuan di dunia ini," "Di dunia ini kamu pakai nama itu, kan sama saja bisa dipanggil Al," Erin ____ Karena sekolah masuknya masih seminggu lagi, mereka menyuruhku tetap di sini. Aku dipaksa untuk tidur di kamar mereka, namun saat mereka semua sudah tidur, aku teleport menuju kamar asrama milikku. Teleportasi berhasil, namun Violet masih tetap di sampingku, padahal pelukannya di lenganku sudah aku lepaskan. "Tuan, kenapa pindah ke sini?" Violet terbangun tanpa terlihat mengantuk sama sekali. "Itu, ee mau ke toilet," jawabku bingung. "Kan di kamar kita ada toilet," "Toilet apaan pakai dinding kaca transparan!" ucapku kesal. "Darling kenapa ke sini?" Nia menyusul kemari dan terlihat mukanya sangat mengantuk. Dia berjalan mendekatiku, aku kira ingin memelukku, tapi ternyata tertidur, untung saja jatuh di pelukanku. Saat akan aku rebahkan di kasur, dia malah memelukku erat. Dengan terpaksa aku berguling agar posisi dia tidur di atasku. Sedangkan Violet segera tidur kembali di sampingku. "Sayang." Ternyata Nay juga menyusul kami dan segera mengambil posisi di sisiku yang lainnya. Sekarang aku diapit ke-tiga cewek cantik ini dan mereka semua adalah Ratu dari negeri ini. Menyadari semua kenyataan itu membuatku pusing, lebih baik aku menikmati saja semua ini daripada pusing tujuh keliling. ____ Mimpi jatuh lagi? Kok air lautnya hangat? Ohh ini bukan mimpi! Ternyata aku diceburkan ke dalam kolam air panas. Saat aku muncul ke atas air, terlihat mereka semua di depanku tertawa dengan puasnya. "Kalian menculikku!?" "Hahaha." Masih saja mereka tertawa terbahak-bahak. "Salah siapa meninggalkan kami saat tidur, Weeek." Noe menjulurkan lidahnya. "Aku kok telanjang? Kelakuan kalian!" Aku merasakan di tubuhku sudah tidak ada kain sehelai pun. "Tentu saja, masa berendam air hangat masih memakai baju." Erin menyipratkan air tepat di hidung dan mulutku. Aku susah nafas dibuatnya, mereka semua panik dan berdiri. "Wohh indah sekali." Saat aku usap air yang ada di mukaku, terlihat dada indah mereka berayun bebas. Dengan puting kecil merah muda dan cup yang besar pada si kembar, Violet yang sangat pas sekali dengan ukuran tubuhnya. Tapi tidak dengan dada milik Erin, dia tepos mau bagaimana lagi. "Tentu saja, di sini tempat terbaik untuk melihat sunrise," ucap Nia dengan bangganya. "Bagus kan bagus kan!?" Noa mendekatiku. "Ehh? Ohh iya, bagus sekali sunrise nya." Aku melihat ke ujung pegunungan, tepat di antara pemandangan air terjun dan pohon besar. Cahaya sang mentari pagi, bersinar di antaranya. "Hahh!? Mesum!" Nia menampar pipiku menyadari apa yang aku pikirkan sebelumnya, dia langsung berendam kembali. Mukanya memerah dan menatapku sinis, tapi saat aku tatap balik, dia langsung memalingkan pandangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD