Saat aku balik badan, terlihat pemandangan kota yang sangat indah, rasanya seperti di dalam game mmorpg. Rumah-rumahnya masih terbuat dari kayu namun memiliki 3 sampai 5 lantai. Pada lantai pertama, digunakan untuk toko dan lantai di atasnya untuk ditempati. Aku berada di menara istana kerajaan, tepat di depan istana ada jalan yang terbuat dari paving semen. Jalan itu lurus sampai ujung tembok tinggi yang mengelilingi kota. Kerennya lagi, jalan itu langsung menghadap pegunungan yang di tengah-tengahnya ada pohon besar. Pohon itu tingginya hingga menyentuh awan, sebagian daunnya ada di awan dan batang pohonnya besar sekali.
"Oh jadi itu pohon suci yang dikelilingi pegunungan Goromo?"
Di halaman kerajaan, ada puluhan prajurit yang berlalu lalang. Tidak hanya prajurit manusia saja, namun ada beberapa ras Elf yang melintas dan terlihat lebih disegani. Jumlah sihir dari para elf itu sangat banyak dan untuk para prajurit, kekuatan fisiknya masih lebih sedikit dibandingkan paman Bob. Karena masih ada cukup waktu, aku yang penasaran memutuskan untuk melihat-lihat kota ini sebentar. Aku teleport di luar gerbang kerajaan, memastikan agar tidak diketahui orang lain. Tidak ada penjagaan di gerbang kerajaan, mungkin saja karena sudah berada di bawah kekuasaan negara yang notabenenya lebih kuat, jadi tidak perlu khawatir terjadi peperangan antar kerajaan yang masih satu negara.
Sepanjang jalan utama ini, tepat di samping kanan dan kiri ada toko-toko yang menjual berbagai macam barang. Walau belum terbuka semuanya, tapi ada toko baju, makanan, perhiasan, dan juga senjata. Sebagian besar warganya berjalan kaki, namun ada juga yang memakai kereta kuda, tapi kebanyakan kereta hanya untuk mengangkut barang. Dari yang aku lihat, mayoritas penduduknya adalah manusia, tapi ada juga demihuman. (setengah manusia)
Tidak ada yang menarik perhatianku selain para Elf tadi. Langsung saja aku teleport lagi menuju atas pegunungan Goromo, udara di pegunungan ini sangat sejuk dan bukan dingin seperti gunung Smabor. Saat aku berbalik melihat ke sisi hutan di pinggiran gunung, sensorku mendeteksi adanya penjagaan yang ketat. Hampir di berbagai titik ada para elf dan serigala yang besarnya hampir menyamai Segawon. Berbeda dari para werewolf yang memiliki kekuatan fisik yang tinggi, para serigala ini malah memiliki energi sihir. Dari penampilan, werewolf memiliki bulu coklat dan badan kekar sedangkan serigala ini memiliki bulu abu-abu dan tebal.
"Tuan, Selamat datang di kota sihir Mala." Demon yang di desa Pontang itu tiba-tiba muncul dan langsung menundukkan kepala di hadapanku. Kali ini dia sama sekali tidak mengeluarkan auranya, bahkan terlihat seperti manusia biasa. Karena kaget, aku langsung dalam posisi menyerang dan mengaktifkan penghalang.
"Tenang saja tuan, saya tidak akan menyerang,"
"Kenapa kau tau aku di sini?" Sambil aku lepaskan penghalangku.
"Saya juga tau saat tuan diserang oleh para dwarf kerdil itu, lalu berada di menara istana Lamris," entah kenapa dia terlihat kesal saat menyebut para dwarf.
"Jadi, kau memata-mataiku?"
"Maaf tuan, saya hanya memastikan keselamatan tuanku,"
"Baiklah kalau begitu, antar aku menuju akademi sihir!" Aku berbalik badan mengarah ke pohon besar itu. Dari pandanganku tidak terlihat adanya kota, hanya akar besar yang menyebar ke mana-mana.
"Maaf tuanku, saya ada urusan, saya permisi." Lalu dia menghilang begitu saja.
"Menakutkan sekali orang itu, kenapa dia memanggilku tuan sih? Dah lah yang penting tidak membahayakan diriku,"
Akar pohon besar itu memenuhi seisi kota dari ujung pegunungan ke ujung yang lainnya dan hanya tersisa sedikit saja yang terbuka. Segera aku teleport ke lahan kosong tepat di samping pohon besar itu, ternyata di sini adalah taman kota.
"Wah untung saja di taman ini sedang sep..." Aku tercengang setelah membalikkan badan dan melihat bangunan di sekitar.
"Heeehhh serius ini? Anjir kota metropolitan di dunia sihir? Elf? Demihuman? Wohh!"
Menakjubkan melihat mereka semua dengan latar belakang kota metropolitan. Walau tidak ada kendaraan, namun pembangunan ini luar biasa.
Gedung-gedung walau tidak lebih dari 5 lantai namun dengan bangunan permanen berdinding kaca, lalu kafe dan restoran di pinggir jalan. Luas kota ini sekitar 50km² dan jumlah penduduk yang aku rasakan ada puluhan ribu jiwa. Kota yang lebih kecil dan lebih sedikit penduduknya daripada kota Lamris, namun modernisasi di sini amat terasa.
___
Ruang pengamatan kota Mala
Ruangan untuk mengawasi seisi kota, ada layar besar di ruangan itu yang menampilkan gambar sudut-sudut kota. Di ruangan ini ada beberapa peri dan elf yang berjaga dan diawasi langsung oleh sang Ratu Peri.
"Yang mulia, ada reaksi dari penghalang kota, namun penghalangnya malah menjadi jauh lebih kuat," Amanda seorang peri dengan tubuh kecil sekali.
"Tidak perlu khawatir!" Nia.
[Ada reaksi dari barier kota,] Nia mengabari Ratu lainnya menggunakan telepati.
[Iya, Al sekarang berada di tengah kota,] Nay yang berada di ruang penghalang. Di dalam ruangan ini ada sebuah pedang yang terbuat dari berlian asli. Pedang Sukmo, pedang yang digunakan untuk wadah energi sihir. Seluruh energi sihir yang mengalir di kota Mala berasal dari pedang ini. Dari penghalang, fasilitas teleportasi dan lampu yang berasal dari sihir.
[Demon itu juga sudah mengabari kalau Al di sini,] Erin berada di ruang tahta.
[Kalian pantau saja dulu,] Noe sedang mengamati latihan pasukan Elfit (Elf elite) yang berada di bawah hutan pinus.
[Aku juga merasakan energi tuan Al!] Violet berada di atas ranting paling tinggi bersama dengan Noa.
___
Suasana jalanan ini tidak asing sekali, nah iya seperti suasana alun-alun kota jogja ditambah dengan jalan Malioboro. Hiasan di sekitar jalannya, lalu lampu taman yang khas itu persis sekali. Aku juga mencium aroma yang tidak asing bagiku, aroma jajanan pasar yang umum di Jogja. Aku lihat ada toko yang dikerumuni orang yang memakai seragam rapi, mungkin saja para murid dari akademi sihir. Benar saja, saat aku datangi ternyata penjual lupis, getuk dan klepon. Aku ikut mengantri untuk membeli jajanan itu, satu keping koin emas yang diberi Lia, dapat kembalian 9 lembar uang bernilai 10 tiap lembarnya dan 7 koin perunggu.
"Wohh, berarti 1 koin emas bernilai 100 mata uang Danirmala dan perunggu bernilai satu. Hmm tunggu dulu, aku beli 3 macam jajanan dan kembalian masih sebanyak itu? Satu keping emas bisa buat biaya hidup berapa hari di sini?"
Aku semakin yakin kalau ada reinkarnator selain aku di sini dan masih tidak habis pikir, kenapa murah sekali biaya hidupnya atau karena nilai emas yang tinggi. Mirip seperti kerajaan Lamris, di kota ini juga ada jalan lurus dari pohon besar yang berada di tengah kota menuju ke arah bukit yang berada di samping gunung berapi. Ada tangga menuju ke arah bukit itu dan di atasnya ada satu rumah berukuran sedang. Walau hanya 2 lantai, namun dengan gaya minimalis modern. Bagian luar rumah itu ada pemandian air panas yang langsung dari kamar.
"Wow terbuka sekali, ini memanjakan mata para pengintip." Karena penasaran, aku langsung teleport ke sana. Saat aku berbalik badan dan melihat ke arah kota, ternyata pemandangan sangat indah sekali.
"Idaman sekali rumah ini, ohh itu akademi sihir tepat di bawah tangga ya?"
"Siapa kamu!?" teriakan dari seorang cewek yang sangat cantik, entah kenapa hatiku berdetak kencang dan suhu badanku terasa panas walau udara di sekitar sangatlah sejuk.
Tiba-tiba aku berada di samping gunung berapi itu, ternyata dia lah yang memindahkan aku ke sini. Tempatnya luas dengan bebatuan dan ada sungai yang mengalir di samping hutan.
"Maafkan saya karena masuk rumah orang seenaknya," aku berusaha memberi penjelasan.
Tanpa menjawab, dia langsung menyerangku dengan panahnya. Untung saja dapat ditangkis dengan penghalang milikku, namun dia terus menyerangku. Aku terus mengaktifkan barier itu sambil berteleport untuk menghindari serangannya. Sempat aku rasakan aura dari demon tadi di pinggir hutan.
"Aku baru ingat, iblis itu memanggilku tuan tapi saat aku terdesak begini dia tidak menolongku. Ehh dia tadi katanya melihatku saat diserang oleh dwarf, aku jatuh pun cuma dia tonton," batinku.
"Bisa-bisanya ngelamun saat bertarung!" cewek tadi terlihat marah.
"Dengarkan dulu penjelasan dariku, aku tidak berniat jahat." Sambil melambaikan tanganku.
Karena kesal tidak ditanggapi, aku langsung teleport tepat di depannya dan langsung aku pegang tangan dan panahnya.
"Dengarkan dulu perkataanku!"
Dia meronta dan membuat mukanya tepat berada di depan mukaku, aku mencium bau yang sangat wangi dari tubuhnya. Parasnya sangat cantik, terlihat masih seperti umur 19-an tahun, kulit putih mulus, payudara yang cukup besar dengan telinga Elf dan rambut putih pony tail menambah kecantikan. Beberapa detik kami berdua terdiam mematung dan saling kontak mata. Karena terpesona dengannya, tanpa sadar aku melepaskan tangannya. Saat menyadari tangannya terlepas, dia langsung menendang perutku. Dengan reflek aku terbungkuk dan langsung saja dia pukul tengkukku hingga membuatku tak sadarkan diri.