"Bangsawan Slosom meminta perjodohan dengan cucu saya," nenek Lona terlihat panik sekali.
"Cucumu Lia? Hahaha apa hubungannya dengan kami?" Erin menyilangkan tangannya di dada.
"Cari mati dia! Bangsawan bangsawan apaan? Beraninya mengaku bangsawan di negara ini!" Violet berdiri dan mengangkat tangannya sambil mengeluarkan energi sihir di tangannya.
"Tenanglah Violet!" Noe.
____
"Waduh aku kebablasan." Saat aku bangun, kami berdua masih telanjang dan Lia masih tidur sambil memelukku dengan erat.
"Woh iya, koin kemarin." Aku lupa menaruhnya di mana, aku lihat di sekelilingku tapi tidak terlihat. Saat aku ingin berdiri, kakiku mengenai sesuatu.
Crikk.. Ternyata kantong koin itu ada di pojokan kasur.
"Al ada apa?" Lia terbangun karena suara berisik dari sekantong koin.
"Ini, ternyata kemarin ayahmu negosiasi dengan paman Robert dan aku dibayar koin." Sambil aku ambil kantong koinnya dan saat aku buka, ternyata isinya ada 40 koin perak dan 1 koin emas.
"Banyak sekali!" ucap Lia saat ikut melihat isinya.
"Benarkah? Berikan kepada ayahmu kalau dia sudah pulang." Aku kaitkan kembali kantong koinnya lalu aku berikan pada Lia.
"Bukannya ini milikmu?" Lia tidak mengambilnya.
"Berkat ayahmu yang negosiasi dan juga aku berniat membantu mereka bukan karena imbalan, aku juga tidak membutuhkan nya. Anggap saja sebagai bayaran karena sudah membantuku selama ini,"
"Lagian kau sudah kami anggap seperti keluarga sendiri, jadi tidak usah sungkan,"
"Baguslah kalau begitu, karena sudah dianggap keluarga, berikan koin ini kepada nenek atau ayahmu." Aku ulurkan lagi padanya, Lia diam beberapa saat sambil mencerna perkataanku.
"Hmm baiklah." Lia ambil koinnya lalu ditaruhnya di atas meja.
"Ayo mandi!" ajakku.
"Gendong aku." Dengan manja, Lia merangkulkan tangannya di leherku.
"Manja sekali!"
"Karena kau, aku jadi capek sekali. Masih terasa perih juga, padahal aku baru pertama kali dan kau mainnya berlebihan!" Memasang muka cemberut sambil meraba selangkangannya.
"Salah sendiri menggodaku, lagi pula tadi malam tidak aku lanjutkan lagi karena kamu sudah kecapekan!" aku naikkan nada bicaraku karena tidak mau disalahkan.
"Sepertinya satu atau dua wanita saja tidak akan cukup untukmu." Dengan pandangan sinis ke arahku.
____
Saat sarapan aku baru ingat tentang kota sihir dan akademi sihirnya.
"Lia, apa kamu tahu tentang kota sihir Mala?"
"Ibukota negara ini, ada apa memangnya?" Lia menghentikan sarapannya.
"Sepertinya aku tertarik ingin ke sana," ucapku, membuat Lia bereaksi kaget.
"Kau ingin pergi meninggalkan aku?" Matanya terlihat sayu saat memandangku.
Waduh benar juga, setelah apa yang aku lakukan tidak mungkin pergi begitu saja.
"Hahaha bercanda, jangan terlalu dipikirkan. Kalau ingin ke sana ya pergilah, aku yakin kamu tidak semudah itu melupakanku." Ekspresinya berubah, Lia ketawa lepas sambil menggodaku.
"Kamu bilang 'pergilah' itu bukan sindiran kan?" Aku melihat Lia dengan serius.
"Beneran Al, lagi pula kamu punya sihir teleport kan? Tidak perlu setiap hari, tapi setidaknya bisa kemari dengan mudah kan?" terang Lia untuk meyakinkanku.
"Kalau aku mendapat wanita lain bagaimana?" Aku berniat menggodanya tapi jawabannya malah tidak terduga.
"Silahkan saja, asal tidak melupakanku, dia harus mau menjadi yang ke-dua." Sambil mengacungkan dua jari.
"Jadi maksudmu aku boleh memiliki wanita lain?"
"Begitulah, kau tau? Orang-orang hebat di negara ini memiliki banyak sekali istri dan aku yakin kau akan menjadi salah satunya." Lia malah dengan santainya memberikan contoh sambil meneruskan sarapannya.
"Kalau ingin pergi sebaiknya tunggu nenek pulang, nenek lebih tau lokasinya karena pernah ke sana." Sambil mengarahkan sendoknya menuju mulutku untuk menyuapiku.
"Letaknya jauh kah?" ya memang aku berniat pamit lah, masa seenaknya pergi.
"Kurang tahu, makanya tunggu nenek dulu,"
____
Beberapa hari kemudian, nenek pulang ke rumah dan segera aku tanyakan.
"Apa nenek tau sesuatu tentang kota sihir Mala?" padahal nenek baru saja masuk rumah, aku langsung saja menanyakannya.
"Oh iya, kebetulan sekali ada yang ingin saya katakan kepada tuan Al." Nenek menarikku untuk duduk di ruang tamu.
"Ada apa nek?"
"Akademi penyihir sedang membuka peserta didik baru dan pendaftaran terakhir hari ini pukul 10," berbicara tergesa-gesa.
"Tiga jam lagi ini jadinya?"
"Dengan teleport, Tuan Al tidak kesulitan ke sana kan?"
"Teleport bisa digunakan kalau aku pernah ke sana maupun tempatnya terlihat. Selain itu tidak bisa,"
"Tenang saja tuan, akan saya jelaskan rutenya." Lalu aku dijelaskan arahnya oleh Nenek Lona.
"Baiklah nek, kalau begitu aku harus segera berangkat." Aku segera berdiri setelah paham apa yang nenek instruksikan.
"Eh sekarang!?" Lia kaget.
"Ya mau kapan lagi?" Aku mendekati Lia.
"Tidak persiapan?"
"Bawa apa? Kamu? Kan aku tidak punya apa-apa di sini,"
"Ehehehe ya sudah, hati-hati ya." Lia terlihat berat mengatakannya, kedua tangannya dia taruh di belakang tubuhnya.
Aduh, aku harus bagaimana ini?
"Hati-hati tuan Al," ucap nenek.
"Lia aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik." Sambil aku kecup dia, ya setidaknya ini bukan perpisahan.
"Kamu juga." Lia berusaha tersenyum.
Sesuai instruksi dari nenek Lona, aku teleport ke bukit yang berada di samping desa ini. Pegunungan Smabor ternyata tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Langit saat ini sangat berawan, jadi aku gunakan mata tembus pandang tapi masih belum terlihat juga. Penglihatan jarak jauh hingga ratusan kali lipat baru mampu terlihat pegunungan itu.
"Waduh terlihat sih terlihat, tapi saking jauhnya jadi kecil sekali, untung mataku spesial." Aku mencari tempat paling tinggi dari pegunungan Smabor. Saat aku teleport, ternyata pegunungan bebatuan yang tinggi dan lumayan curam. Pegunungan ini benar-benar sangat tinggi, aku dapat melihat hamparan awan di bawah. Suhu di sini sangat dingin, bahkan puncak gunung telihat ditutupi oleh gletser es.
Duarrr..
Ledakan terjadi, entah dari mana ada bola api yang mengarah kepadaku. Dengan cepat aku aktifkan penghalang, namun walau bisa menghalau apinya, tapi aku tetap terhempas dari lereng bukit.
"Dasar manusia rendahan! Berani-beraninya memasuki wilayah kami." Dwarf itu mengangkat kampak besar yang ukurannya menyamai tubuhnya.
Ternyata ada 4 dwarf (kurcaci) yang menaiki wyvern (seperti naga namun hanya memiliki 2 kaki dan ukurannya lebih kecil). Aku yang posisi terjatuh untung saja sebelum sampai ke tanah, aku segera teleport di atas punggung wyvern. Sebelum menyadari keberadaanku, langsung aku tendang dwarf itu. Setelah berhasil menendang satu dwarf, segera aku teleport ke wyvern lainnya dan aku lakukan hal yang sama. Pada dwarf yang ketiga, dia berhasil menangkis seranganku dan dengan cepat aku berpindah ke dwarf yang ke 4 dan berhasil aku jatuhkan. Untung saja mereka semua tepat di atas gunung, jadi tidak jatuh sepertiku.
"Sialan!" umpat dwarf yang gagal aku jatuhkan, dia melompat ke arahku sambil mengangkat kampak besar. Serangan dwarf itu mengenai wyvern yang jadi pijakanku. Serangannya sangat kuat, hingga memotong tubuh wyvern itu. Padahal ukuran wyvern sebesar kuda, tapi benar-benar terpotong menjadi dua.
"Wuihh bisa mampus aku kalau terkena serangan itu." Bersyukur sekali aku bisa menghindar.
Nama dia Elraw, dengan kekuatan fisiknya jauh lebih tinggi dari Paman Bob tapi kecepatannya lebih lambat. Wyvern yang masih terbang, aku gunakan untuk pijakan agar kota Lamris terlihat lebih jelas dan juga untuk menutupi arahku berteleport.
"Uhh selamat! Semoga saja mereka tidak tahu kalau aku pergi ke sini, lagi pula jaraknya sangat jauh. Ehh tunggu dulu, untuk datang kemari berarti aku ngalang jauh banget. Lebih dari 2x jarak kota Lamris dan desa nelayan dalam garis lurus!?" (Ngalang tidak bisa diterjemahkan, artinya mirip menjauh, harus melewati tempat yang lebih jauh).