Bab 09. Keterkejutan Keluarga

1043 Words
"Apa? Kamu akan menikah?" pekik Antonio, kakak laki-laki Sania. Dia begitu terkejut, saat adik perempuan bilang jika dia akan menikah. Bukan Anton mempermasalahkan niat baik adiknya, tetapi Sania malah akan menikah dengan pria beristri. Yang tak lain dan tak bukan adalah sahabatnya sendiri. Anton tak habis pikir, Sania seperti kehabisan akal yang mau saja dijadikan istri kedua. "Iya, aku mau Bang Anton merestui pernikahan kami," ujar Sania, membujuk Anton agar pria itu mau mengizinkannya. Anton mendengus kesal. Ingin rasanya berkata kasar. "Kamu benar-benar udah nggak waras, Sania. Susah payah aku menyekolahkanmu ke jenjang yang tinggi, kamu malah mau dijadikan istri kedua. Ditaruh di mana otakmu itu?" ketus Anton, emosinya meluap-luap. Tak terima ketika adik bungsunya akan dijadikan madu. Sebagai keluarga yang diamanatkan menjaga, tentu dia tidak akan setuju. Apa kata orang, jika tahu Sania orang ketiga dipernikahan sahabatnya. "Ayolah, Bang. Tolong restui dan izinkan aku kali ini saja. Aku sangat mencintainya, lagipula Mas Ashraf sendiri yang meminangku dan Yasmin pun sudah setuju. Apa yang berat dari itu?" tanya Sania, menganggap enteng masalah sebesar ini. Anton terkekeh sinis, mendelik tajam pada Sania yang sedang dimabuk cinta. Ternyata cinta membutakan segalanya. "Pikir pakai otak, jangan pakai dengkul! Kamu pikir mudah menjalani pernikahan seperti itu? Kenapa jalan pikirmu dangkal begit, Sania!" Anton yang sedari tadi menahan-nahan, mulai tidak bisa dikendalikan. Persetan jika perkataannya kasar, dia pikir ini adalah hal wajar. Bentuk perlindungan seorang kakak kepada adiknya. "Aku nggak mau tahu, Bang Anton harus mau menjadi waliku! Titik! Aku udah terlanjur cinta kepada Mas Ashraf, Bang," Sania makin menjelaskan. Anton ingin sekali memberikan pelajaran, pada pria itu. Pria yang malah membawa agama untuk kepentingan pribadinya. "Gue nggak suka punya ipar sok alim kayak dia! Saran gue, lo tolak dan jauhin pria seperti dia. Dia bukan pria baik!" Sania menyedekapkan tangan di depan d**a, sembari memberengut kesal. Lantaran Anton menentang. "Abang nggak berhak mengaturku, aku udah dewasa. Bukan anak kecil lagi, umurku juga sudah pas untuk menikah. Coba lihat diri Abang sendiri, bejatan mana Abang dengan dia." "Gue tahu gue bukan pria baik-baik, Sania. Tapi gue nggak pernah membawa agama semata-mata gak bisa nahan hawa nafsunya! Pria b******k seperti itu! Pria jelalatan!" maki Anton. "Bukankah Abang udah janji, bakalan nurutin apa yang aku mau. Sekarang aku mau menikah, Abang mau ingkar janji?" "Bakalan gue lakuin apapun demi kebahagiaan lo, terkecuali ini! Nggak sudi gue!" Sania jadi bimbang, memikirkan cara apalagi supaya dia bisa membujuk sang kakak agar mau menikahkannya. Sampai dia terpikirkan sebuah cara. "Abang suka Yasmin 'kan? Kesempatan bagus bagi kita memisahkan keduanya. Abang mendapatkan Yasmin, aku mendapatkan Ashraf. Adil, bukan?" *** Kabar pernikahan kedua Ashraf sudah terdengar, karena dia sudah memberitahukan kepada keluarganya untuk berkumpul. Ia ingin membicarakan hal ini secara langsung. Ingin sekali Yasmin, menentang. Apakah mungkin? Semua sudah terlanjur, Ashraf dan Sania akan menikah minggu depan. Mereka belum menikah saja membuat Yasmin sesak, apalagi jika keduanya sah. Yasmin tidak bisa membayangkan, apa yang terjadi nanti. "Kamu marah?" Ashraf bertanya, pada Yasmin yang hanya diam saja di atas sofa. Yasmin menunduk, sambil menghembuskan napas lelahnya. "Bagaimana jika aku nggak sanggup, Mas? Sakit sekali, melihat pria yang aku cintai menikah dengan sahabatku sendiri." "Andai kamu nggak hamil, Yasmin. Aku nggak bakalan menikah lagi, kekurangan itu ada pada diri kamu, Sayang. Bukan aku menyalahkanmu, aku masih kecewa akan hal itu." "Dan membalasku dengan cara seperti ini, Mas?" serobot Yasmin dengan cepat. Ashraf menyugar rambutnya kasar, ia berjongkok di hadapan Yasmin sembari memegang kedua tangannya. "Mas terpaksa, Sayang. Bukan semata-mata karena Mas mencintainya, hanya kamu, wanita yang aku cinta--" Yasmin menarik tangannya dan menggeser duduknya. "Kata-kata cintamu nggak berarti buatku, Mas. Kalau kalian menikah, apakah kalimat cinta itu akan Mas berikan padanya?" Pikiran Ashraf jadi semrawut, Yasmin tidak mau didekati olehnya. "Mas mohon, bertahanlah ... Mas janji, akan adil kepada kalian." Ah, perkataan Ashraf membuat Yasmin ragu. Dulu saja dia berkata tidak akan menduakan, tapi nyatanya, apa yang ia takutkan menjadi kenyataan. Secara tak sadar, Ashraf mengingkari janji pernikahan. Bukankah janji itu harus ditepati? "Jangan memberikan janji jika kamu ingkar, Mas. Buktikan saja jika memang kamu mampu. Bilamana kamu nggak adil, aku berhak memutuskan keputusanku sendiri!" tegas Yasmin, mulai meneguhkan mental agar dirinya bisa bangkit dari keterpurukan. Dia tidak mau menjadi lemah, apalagi menangisi dua sejoli yang sudah memberikan luka di hati. Sakit, sakit sekali. Untuk sekarang, sebisa mungkin ia bertahan sambil memikirkan cara agar dia bebas dari Ashraf. Ibarat burung terkurung dalam sangkar. Yasmin tidak mau, menambahkan kesakitan itu dengan melihat suami dan sahabatnya bersatu. Sungguh, dia tak mampu. 'Semoga aku bisa, melihat pernikahan kedua suamiku. Hari di mana kamu dan Sania bersatu, sedangkan aku? Apalah aku, hanya wanita malang yang hanya bisa diam,' batin Yasmin. Karena seluruh keluarga sudah datang dan berkumpul, mereka berdua bercengkrama sebelum memulai pembahasan penting. "Pengantin baru ke mana aja nih, semenjak udah nikah jadi nggak ingat rumah," kekeh Azrina yang sedang menimang anak perempuannya yang masih bayi. Yasmin dan Ashraf malu-malu. Membuat para orang tua terkekeh. "Udahlah, biarkan saja pengantin baru emang sedang hangat-hangatnya. Kamu juga dulu seperti itu lho, Neng," sahut Bu Rida. Hj. Nur memaksakan senyum, melihat wajah sendu putrinya. "Maklum, kita juga pernah begitu. Lagian Ashraf dan Yasmin masih muda, masih semangat-semangatnya," ujar Hj. Nur. "Benar juga, mumpung belum punya anak. Masih bebas. Kalau udah punya anak mah, bakalan bagi waktu sama anak dan suami," ujar Azrina. Membahas soal anak, Yasmin jadi terdiam dengan kebisuan. Ashraf merangkul pundaknya dan tersenyum. "Benar itu, kami masih ingin mencoba dahulu. Siapa tahu, kelak ada kabar bahagia, biar bisa punya anak kayak Teh Azrina," ujar Ashraf menimbrung. "Pasti punya, insyaallah. Asal terus kerja sama saja," Kini giliran Pak Rahmat yang menggoda anak dan menantunya. Membuat dua pengantin itu tersipu malu. "Kamu kenapa, Neng? Tumben lho diam saja," tanya Haji Usman pada putrinya. 'Ah, anda Abi tahu, aku nggak seceria itu. Aku hanya menyiapkan hatiku, untuk menerima semuanya,' batin Yasmin. "Kecepean dinas malam pasti tuh!" Azrina langsung mendapatkan pelototan tajam dari ibunya. "Teteh ini menggoda saja bisanya, Teh Azrin kali tuh yang begitu," timpal Ashraf. "Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Pak Rahmat. Ashraf langsung berubah serius, menatap ke arah keluarganya dengan tegang. "Aku mengundang kalian untuk datang karena ingin membicarakan sesuatu hal." "Bicaralah, kamu serius sekali. Ada apakah gerangan?" "Aku akan menikah lagi " Serempak, mereka semua langsung tersentak kaget. "A-apa?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD