Yasmin membereskan mukena dan sajadah, lalu menyimpannya. Ia sudah bersolek dan memakai pakaian malamnya karena Ashraf yang meminta.
Di atas ranjang, Ashraf tersenyum nakal melihat penampilan Yasmin yang menantang. Jika dibandingkan, Yasmin menang dalam segala hal.
Melihat wajah senang sang suami, Yasmin malah menjadi sedih. Apakah dia bahagia jika Yasmin mengizinkannya menikahi Sania?
"Besok, panggillah Sania ke sini. Aku mengizinkan kamu menikah dengan dia. Mungkin ini yang terbaik untuk kita dan mungkin ini juga ... ujianku," ujar Yasmin, tutur katanya selalu lembut, hal yang paling Ashraf suka.
Ashraf tersenyum. Meraih sebelah tangan istrinya yang putih dan mulus, kemudian mengecupnya dengan lembut.
"Terima kasih, Sayang. Besok aku dan Sania akan membicarakan pernikahan," tutur Ashraf.
Yasmin hanya bisa mengangguk dengan pelan. Meski hatinya tetap sakit. Kendati demikian, dia tidak mungkin menumpahkan tangisan dan memperlihatkan kesedihan di hadapan suaminya.
Setelah Yasmin pikir, apa yang dia rasakan tidak akan mengubah keputusan suaminya.
"Ya, Mas. Jangan lupa, bicarakan dengan kekuargamu dulu. Soal keluargaku, biarlah menjadi urusanku."
Yasmin berpikir, ingin segera pulang dan mencurahkan isi hatinya kepada kedua orang tua. Siapa tahu dia mendapatkan arahan, agar dia kuat menjalani semua ini.
"Jangan memberitahu kedua orang tuaku soal kamu, Yas. Aku belum bisa menemukan cara agar mereka menerima. Bersabarlah, jangan banyak pikiran."
Semua keluarga belum ada yang tahu, soal Yasmin sedang mengandung, keduanya masih menutup rapat.
"Aku malah berpikir. Jika terus terang lebih baik, aku siap menerima risikonya, Mas. Apalagi kehamilanku nanti akan membesar, mereka akan curiga."
"Tapi nggak sekarang, tunggulah beberapa saat. Aku harap mereka nggak tahu yang sebenarnya."
Belum sanggup, mendapat kebencian yang akan Yasmin dapat. Seperti halnya bangkai, mau disembunyikan akan tercium juga.
Mungkin sekarang aman, tidak tahu jika nanti. Yasmin harus mempersiapkan diri. Yasmin diam, saat bibir Ashraf sudah mengecupi setiap inci tubuhnya.
Meski enggan, Yasmin diam dan pasrah saja apa yang akan suaminya lakukan.
"Tidurlah, meski kita belum bisa berpetualang, bukankah seluruh tubuhmu halal aku sentuh, Sayang?" bisik Ashraf, membuat Yasmin merona.
Ia patuh, membaringkan tubuhnya di samping suami dan menjadikan lengannya sebagai bantalan. Sebelum Ashraf menikah lagi, keduanya ingin menghabiskan waktu di kamar ini.
"Aku nggak bakalan tanggung jawab, bagaimana kalau kamu nggak bisa menahan diri, Mas?" bisik Yasmin, menjambak surai hitam suaminya dengan spontan ketika pria itu menggilai tubuhnya.
Ashraf terkekeh pelan. Menggemaskan, melihat wajah Yasmin yang tampak khawatir. "Pasrahkan saja tubuhmu kepadaku malam ini, Nona."
"Aku mau muntah, Mas. Mual rasanya." Yasmin menghindar, ketika bibir Ashraf akan menyambar benda kenyalnya.
Pria itu nelangsa, dengan wajah memelas karena Yasmin terbirit-b***t meninggalkannya. "Apakah bayi itu nggak suka kepadaku? Malah mual di saat aku sedang menggilai istriku."
Di dalam kamar mandi, Yasmin tak langsung kembali. Tetapi termenung di hadapan cermin. Ia meringis, ketika semua tubuhnya hampir dipenuhi tanda cinta dari suaminya.
"Kejadian itu seperti mimpi buruk bagiku. Siapa yang ingin berada di posisi itu. Kupikir kamu bisa menungguku, ternyata nggak. Aku harus mengusut, siapa pria yang sudah melakukan hal keji ini padaku. Tentunya tanpa sepengetahuan Mas Ashraf," gumam Yasmin.
Menerka-nerka adegan saat dirinya pergi ke Apartemen. Menginap karena waktu itu banyak tugas, berhubung jarak rumah dan kampus jauh. Yasmin menyewa satu kamar, naasnya, ia dijebak oleh seseorang yang tidak ia tahu identitasnya.
***
Yasmin tahu, jika poligami itu boleh. Tetapi kenapa Ashraf dan Sania tidak menanyakan kepadanya, soal siap atau tidaknya? Yasmin tahu diri, bahwa kesalahan ada pada dirinya. Ia tidak mampu, menjadi istri sholehah yang bisa menyenangkan suaminya.
Kendatipun, jika ada Sania. Mungkin wanita bisa memberikan apa yang tidak bisa dia berikan. Nafkah batin.
Harapan Yasmin sebelumnya semoga Ashraf mampu menahan dan menjaga pernikahannya, tapi semuanya pupus dan sirna ketika dia membawakan seorang madu ke rumahnya.
"Aku tahu masalahmu, Min. Mas Ashraf udah menceritakannya kepadaku. Jujur ... aku sedih, kenapa kamu nggak cerita kepadaku soal ini? Tapi aku nggak bisa memaksa kamu," ujar Sania dengan perasaan tak menentu.
Walau dia mencintai Ashraf, tidak bisa bohong jika dia merasa bersalah kepada Yasmin. Hanya wanita itu yang selalu ada dan mengerti dirinya sejak dulu. Tapi apa balasannya? Madu dibalas racun.
Yasmin jadi berpikir. Sedekat apa hubungan keduanya sampai-sampai Ashraf menceritakan hal itu kepada Sania.
"Berat kukatakan, San. Sejak kejadian itu aku nyaris bunuh diri. Aku nggak tahu, siapa pelakunya. Kali ini, aku ikhlas kamu menikah dengan suamiku. Semoga kamu bisa membahagiakannya, karena aku merasa gagal, San," ujar Yasmin ekspresinya berubah datar.
Ia tidak tahu harus berkata apa dan berbuat apa. Hati dan pikirannya sudah kacau balau, tenaganya juga sudah terkuras terlalu lama menangisi takdir ini.
Ashraf hanya bisa menyimak, obrolan dua orang sahabat yang begitu dekat. Dari wajah tenang Yasmin, ada kesedihan tersirat di sana.
"Semoga aku bisa membantumu mengusut sang pelaku, agar kamu mendapatkan keadilan nantinya," ujar Sania.
Sikap Sania yang menjadi teman baiknya, justru malah sedikit memuakkan di mata Yasmin. Ada perasaan kesal, yang tidak bisa dia ungkapkan dan dia pendam sendirian.
'Dia terlihat bahagia akan menikah dengan suami sahabatnya, Mas Ashraf pun tenang. Haruskah aku mundur saja?' batin Yasmin.
"Semoga saja, terima kasih, San. Kamu memang sahabat baikku. Jika Sania mampu menjalankan tugasnya sebagai istri, Mas Ashraf bisa menceraikanku." Yasmin menegaskan.
Ashraf menegang, tidak suka jika Yasmin membawa perpisahan disetiap bahasan ini.
"Nggak bakalan pernah aku melepaskan kamu, Yasmin. Lagipula Sania paham, apa yang terjadi padamu," sergah Ashraf.
Dalam sekejap, perasaan haru itu lenyap. Mendengar kalimat terucap dari bibir suaminya, Yasmin tidak habis pikir.
Dia tidak ingin melepaskannya, di satu sisi ia tetap menikahi Sania untuk menemani setiap malamnya. Apa tidak egois?
"Jangan egois kamu, Mas. Mungkin awal-awal akan tentram saja, tidak tahu ke depannya akan seperti apa. Daripada Sania yang terluka, lebih baik aku mundur saja."
Urat-urat di rahang Ashraf mengeras, menatap datar pada Yasmin yang tak mempedulikan peringatan suaminya.
Dia bisa menerima, dia juga punya hak untuk memutuskan pergi atau bertahan.
Sania menggenggam tangan Yasmin, kemudian menitikkan air matanya. Tangisan bahagia, karena dia akan menikah dan menjadi madunya.
"Kamu nggak perlu mundur, Min. Kita bisa mengurus suami kita sama-sama. Aku akan biarkan Mas Ashraf bermalam denganmu, jika kamu sudah melahirkan nanti. Bukankah kita ini sahabat? Aku harap dengan ini, kita semakin dekat," papar Sania.
Perut Yasmin tergelitik mendengar perkataan Sania yang terkesan tidak tahu malu mengatakan itu. Ashraf juga, dia seperti pengecut yang hanya diam saja.
"Aku nggak yakin, hubungan kita bakalan baik-baik saja setelah ini, Sania. Mengingat kita punya suami yang sama, apa kita bisa mengontrol rasa cemburu kita? Dan apakah setelah kalian menikah nanti, kita akan berada di atap yang sama?" Yasmin lagi bertanya.
Ashraf dan Sania saling menatap, kemudian mengangguk. "Iya, kita akan tinggal bersama di sini," balas Ashraf.
Ya Tuhan ... mereka dengan kompak memutuskan, tanpa menyertakan Yasmin dalam hal ini.
Sakit, sakit sekali rasanya ketika ia merasa tak dianggap. Seolah-olah hatinya terbuat dari baja, sehingga Ashraf dan Sania tidak memikirkan perasaannya.