Bab 11. Ijab Qobul Kedua

1047 Words
Sesampainya di lokasi, Ashraf dan Yasmin turun dengan berpegangan tangan erat. Tempat pernikahan akan diselenggarakan di salah satu masjid besar di kota Jakarta. Tak banyak tamu undangan yang hadir, hanya beberapa anggota inti saja. Akad nikah diadakan secara sederhana, tidak dengan resepsi. Karena keluarga Ashraf ini orang berada, mereka membesarkan maharnya. Ashraf dapat merasakan, telapak tangan Yasmin begitu dingin di genggaman. "Tersenyumlah, Sayang. Aku sangat gugup, meski ini bukan pertama kali. Tetaplah di sisiku," bisik Ashraf, mengusap kepala Yasmin yang berbalut hijabnya. Alhasil, Yasmin memaksakan senyum. Dia tidak boleh terlihat terpuruk dan lemah, walau orang tahu, ada kesedihan dan keterpurukan tergambar di wajah paripurna itu. "Semoga kamu selalu bahagia, Mas. Hari ini aku ikhlaskan kamu menikahi sahabatku. Mungkin ini teguran buatku, lewat patah hati karena aku terlalu mencintaimu. Sehingga aku lupa, bahwa rasa cinta pada makhluk nggak boleh melebihi rasa cinta pada Sang Pencipta," ujar Yasmin, menarik napas dalam-dalam, membuangnya secara perlahan dan mengeratkan pegangan. Seulas senyum simpul terbit di bibir Ashraf yang tegang dan gugup, kendatipun rasa gugup ini berbeda saat pertama kali meminang Yasmin. "Istriku yang shalehah, semoga Allah senantiasa memberimu kebahagiaan, Sayang," ujar Ashraf. Yasmin memejamkan mata, merasakan kecupan di kening istrinya. "Aamiin, semoga rasa bahagia nggak melenakan pada urusan dunia yang sementara." 'Termasuk denganmu, aku sadar bahwa kamu bukanlah milikku. Kamu hanyalah makhluk yang Allah titipkan untukku. Nggak seharusnya aku menaruh harapan besar padamu, Mas. Padahal kutahu, konsekuensinya adalah kecewa,' batin Yasmin. Masa bodo dengan orang-orang yang menunggu, sepasang suami istri itu menghabiskan waktu. Sebelum akhirnya Ashraf menjadi milik orang lain. "Pak Ashraf, mari masuk ke dalam. Acara akan segera dimulai!" Dengan hati yang penuhi luka, Yasmin mengantarkan Ashraf pada dia yang akan menjadi istri kedua dan menjadi madunya. Air mata itu menggenang di matanya, ia tahan, bukan waktu yang tepat bagi Yasmin untuk menumpahkan tangisan. Ia berusaha setegar yang ia bisa, tetap saja ia lemah dengan perasaannya. Atensi semua orang tertuju, pada Yasmin dan Ashraf yang baru datang. Ada keluarga mereka juga yang hadir, di pelaminan, sudah ada Sania yang tengah duduk manis. Dia begitu cantik dengan balutan kebaya putih modern dan rambutnya yang disanggul. "Pergilah, Mas. Aku akan bergabung dengan yang lainnya. Doakan aku, semoga Allah menguatkan hatiku melihat kebersamaanmu dengan sahabatku." Yasmin berbisik pilu, tepat di samping sang suami sebelum pergi pada keluarga yang menanti. Semua orang merasa iba, meski senyum terlukis di bibir Yasmin, wanita muda itu menyimpan dan memendam seribu luka yang dirasa. Hj. Nur menghampiri Yasmin yang mulai menangis, air mata yang ia tahan-tahan menganak sungai. "Sabar, Neng. Insyaallah menjadi ladang pahala, semoga kamu diperluas rasa sabar dan ikhlasnya. Bukankah kamu tahu, Allah nggak akan membebani seorang hamba di luar batas kemampuannya? Anggap saja ini ujian bagimu, semoga kamu mampu. Umi akan selalu ada di sisimu." Tak banyak kalimat yang bisa Hj. Nur sampaikan, selain doa dan dukungan pada putri semata wayang yang sedang direjam ujian pernikahaan. Ijab qobul pun dimulai, ketika para saksi mengucapkan kata 'sah' saat itu juga jiwa Yasmin terguncang hebat. Harus merelakan berbagai suami mulai hari ini. "Um-umi ... ak-aku ke toilet sebentar." Yasmin membekap mulut, menahan isakan dan berlalu meninggalkan area pernikahan. Melihat Yasmin pergi, Ashraf menunduk dengan dihantui perasaan bersalah. "Mas, kok bengong? Senyum dong. Kan kita udah resmi jadi pasangan suami istri. Makasih, Mas. Aku senang sekali," ungkap Sania dengan wajah berseri-seri. Tanpa peduli, pada sahabat yang sudah ia sakiti. *** Perasaan Yasmin hancur berkeping-keping. Ada banyak duri yang menusuk hati sehingga ia merasakan nyeri luar biasa. Yasmin menarik kakinya, melangkah meski ia tak mampu menahan bobot tubuhnya. Pikirannya begitu campur aduk, sebagai wanita yang makhluk perasa, harusnya dia tahan saja agar tak dianggap lemah. Yasmin berlari dan duduk di belakang masjid. Dia menangis terisak-isak, sambil memegangi dadanya yang terus berdenyut pilu. 'Sakit, Tuhan! Baru saja mereka menyandang status baru. Rasanya aku tak mampu melanjutkan pernikahanku,' batin Yasmin. Ia sengaja menghindar dari keramaian, agar kesedihan yang ia rasakan tidak diketahui orang. Padahal mereka semua tahu dan salut, pada Yasmin begitu tegar menyaksikan. Beruntung ada tempat sepi, supaya memberi ruang pada Yasmin yang memang ingin sendiri. "Oh Allah ... maafkan aku yang selalu mengeluh, padahal sudah banyak nikmat yang Engkau berikan padaku," isak Yasmin, dengan deraian air mata menjatuhi pipinya. "Aku tahu, nggak mudah bagi kamu berbagi suami dengan madumu." Suara bariton pria terdengar di telinga. Cairan bening yang mengalir, ia tepis secara kasar dan menahan isakan agar tak lolos. "Bang Anton?" panggil Yasmin, melihat seorang pria rapih dengan tuxedo yang melakat di tubuh kekarnya. Dia kakaknya Sania, selama berteman Anton memang sering melihat Yasmin selalu bersama Sania. "Jika adikku punya salah padamu, sebagai perwakilan ... tolong maafkan dia. Aku juga nggak ngerti, kenapa Sania mau menikah dengan pria beristri." Anton mendekat, duduk di samping Yasmin, wanita itu memberi jarak. "Tanpa dia meminta maaf pun aku udah memaafkannya, Bang. Harusnya aku berterima kasih, kehadiran Sania bisa menutupi segala kekuranganku sebagai seorang istri," ujar Yasmin suara serak sehabis menangis menyentil perasaan Anton. Anton tahu, jika Yasmin sedang berbadan dua dari pria yang tidak dikenal. Jujur dia kaget, perempuan sebaik Yasmin bisa diperlakukan tanpa kemanusiaan. "Kamu perempuan hebat, Yasmin. Kalau aku jadi kamu. Mungkin langsung kugampar dia, sayangnya dia adikku. Aku harus mengalah dengan sikap keras kepalanya," ujar Anton. Dia juga tidak setuju dan belum ikhlas, bahwa Ashraf menjadi adik ipar. Terlepas dari dia suami orang, bisa saja pria itu akan membuat wanita yang dicintai dan adiknya terluka. Yasmin sendiri sudah menenang. "Entahlah, Bang. Aku menganggap diriku ini begitu lemah, padahal di luar sana banyak yang mengalami ujian susah. Astagfirullah ... manusia kadang lupa, jika diberi nikmat malah abai pada yang memberi nikmat," ujar Yasmin. Obrolan keduanya tertangkap, oleh Ashraf yang kelimpungan mencari Yasmin. Ternyata dia sedang asik berduaan bersama pria, tak lain adalah kakak iparnya. "Yasmin!" panggil Ashraf, nadanya terkesan datar dan dingin. "Mas Ashraf?" Yasmin bangkit, kaget ketika Ashraf menyusul. "Aku mencarimu dari tadi, malah berduaan dengan pria lain. Bukannya aku udah bilang, tetap di sisiku," tutur Ashraf. 'Tapi aku tak mampu, itu akan membuat sakit di hatiku bertambah,' batin Yasmin, hanya bisa mengungkapkan dalam hati saja. Ashraf menarik Yasmin dan membawa sang istri pergi menjauh dari Anton. "Aku nggak sengaja ketemu Bang Anton, Ma—" "Nggak sengaja apaan sampai sibuk berduaan? Kalau kamu tahu itu salah, harusnya kamu menghindar, Sayang. Bukan malah melanjutkan obrolan, apalagi ditempat sepi seperti tadi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD