Dengan keterdiaman dan kegundahan, Yasmin hanya bisa berperang dengan isi kepala. Ditemani oleh para keluarga, Yasmin duduk bersama mereka. Menyaksikan Ashraf dan Sania tampak mesra ketika sesi pemotretan. Sengaja ia membuang pandang, agar d**a dan jiwanya tak terguncang. Yasmin hanya bisa melirih dalam diam. "Kalau kamu nggak kuat melihat mereka, lebih baik pulang saja. Teteh juga mau pulang ini," bisik Azrina, mengusap pundak adik iparnya yang bungkam seribu bahasa. Azrina jadi ikut mengiba, melihat wajah Yasmin yang tak ceria. Sebagai sesama wanita, Azrina tahu bagaimana perasaannya. Andai dia bisa, sudah ia tentang keputusan adik bungsunya itu. Namun apalah hak dia? Ia rasa, tak etis jika ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan hanyalah men

