Setelah puas bercengkrama, bersembunyi di balik selimut, saling melumat bibir di akhir pergulatan panas mereka. Karina mempunyai kebiasaan menyentuh bagian-bagian di wajah Brahm dengan jari telunjuknya. “Thank you.” Ucap Brahm dengan senyumannya. “Buat?” “Karena kamu yang selalu bisa buat aku gila dengan semua bagian tubuh kamu ini.” Ucap Brahm sambil meremas gunung kembar istrinya dengan gemas. “Ah! Ih Brahm! Sakit, jangan kenceng gitu.” “Habis aku gemes.” “Suatu hari, semua ini akan memudar, tubuh aku juga akan berubah saat punya anak dan menua. Apa kamu masih gemes?” Brahm mengecup kening Karina dengan lembut, turun ke pucuk hidung kemudian berakhir dengan melumat bibir manis itu. “Tidak akan pernah. Kalau satu hari perut keset roti aku ini jadi roti gembul gimana? Masih sayang?”

