“Karinda Wulandari, sekarang aku tahu kapan pernah mendengar namamu.” Meira berucap menyeringai tawa setelah mendapatkan informasi terbaru tentang asal usul Karina. Sebuah kartu jackpot tentang kelemahan Brahm sudah berada dalam genggaman tangannya. “Betapa menyenangkan melihat Brahm menderita sekali lagi karena ditinggalkan oleh wanita yang lama dicintainya. Huh! Kamu bilang dulu mencintaiku, Brahm. Nyatanya posisi kita tidak ada bedanya, hanya saja aku tidak semunafik dirimu yang menyimpan cintamu serapat mungkin. Munafik kamu, Brahm!” Ditangan Meira memegang sebuah foto lama sebuah keluarga kecil, juga sebuah foto acara pemakaman. Awalnya Meira tidak mengerti dengan siapa yang berada di dalam foto tersebut, namun setelah mendengar informasi yang didapat barulah ia mengerti tarikan ben

