Brahm merasa bahagia mendengar pengakuan Karina yang tidak ingin menunda mempunyai anak darinya. Satu langkah baik bagi Brahm, setidaknya Karina mulai membuka hatinya. Soal rasa cinta, biarlah hal itu berjalan seiring waktu. Hari-harinya dengan Karina kembali membaik. Perasaan lega bercampur bahagia karena tidak perlu lagi menutupi rasa bersalah yang terus membayangi dirinya sejak kasus perampokan disertai tabrakan itu. Seperti sore ini, Brahm sengaja memanggil Karina ke ruangannya. Karina yang sudah hafal dengan kelakuan mesuum suaminya selalu tertawa geli setiap kali sekretaris Brahm menghubunginya. Dan seperti biasanya, Karina selalu mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan suaminya sendiri. Tapi kali ini, reaksi Brahm sedikit berbeda. “Duduk!” Ucap Brahm dingin. Karina yang menerim

