Brahm memutar tubuh Karina agar ia dapat menatap manik mata Karina mencari kebenaran di dalam sana. Masih diliputi perasaan bersalah, Karina menunduk. Dagunya terangkat oleh paksaan jemari Brahm agar menatap dirinya. “Jadi kamu cemburu?” “Ngak!” Kemudian berusaha memalingkan wajahnya sambil merengut. Tapi sia-sia karena Brahm mendekap wajahnya kali ini dan ia tidak dapat mencari alasan lagi. “Memangnya dia bilang apa?” “Kamu baca sendiri aja.” “Ngak. Maunya kamu yang kasih tahu, kan kamu sudah membacanya.” Mendengus kalah, Karina mendelikkan matanya menatap tajam. “Katanya sekarang kamu itu jadi barisan suami takut istri. Gitu!” Melihat wajah Karina semakin merona, membuat Brahm semakin senang menggodanya. “Terus, kenapa mesti kamu yang marah. Biarin saja dia mau bilang apa. Lagipul

