Satu kelegaan terpancar di wajah Brahm ketika dua orang wanita yang dicintainya saling mengobrol walaupun jarak memisahkan. Meskipun baru bertemu, Bianca merasa nyaman berbicara dengan Karina begitu juga sebaliknya. Malahan kini Brahm merasa menyesal mengenalkan Karina pada sang mama terlalu cepat. Dirinya merasa tersisih karena tidak diberi kesempatan bicara oleh Bianca bahkan ponsel Brahm direbutnya, berjalan masuk ke dalam kamar. Dr Edward yang melihat kelakuan wanita yang pernah dipujanya dulu hanya berdecak tawa terutama melihat wajah kesal Brahm. Dihampirinya Brahm yang sedang berdiri melihat kelakuan sang mama, menegurnya sambil menepuk bahu Brahm. “Mereka sepertinya akan jadi sahabat dekat. Kamu beruntung sekali, Brahm.” “Yes, I am. Semoga keberuntunganku menular sama Om.” Ucap

